LOGINKelakuan ipar yang di luar nurul, membuat Nessa semakin muak! Pasalnya, Mila adik dari sang suami terus saja minta dibayarin barang-barang Co miliknya. Sekali dua kali, okelah. Namun, permintaan itu terus terjadi secara berulang kali. Sedangkan Nessa juga punya kebutuhan, meskipun belum ada anak di antara mereka! Dapatkah Nessa keluar dari keluarga yang terus merongrong minta hartanya itu?! Ataukah, Nessa memilih untuk berpisah dan menemukan jodohnya tentu dengan orang yang lebih tepat? Terlebih, ada seorang Direktur yang sedari dulu memang mencuri perhatiannya. Merebut Hati Sang Direktur, akan membawa Nessa jauh pada kehidupan yang tidak ia duga sebelumnya.
View MoreMHSD (9)POV Arfan**"Sudah dua hari kita menggembel di kontrakan sempit ini, Arfan!" Aku menghela nafas panjang, siapa sangka ternyata perkiraanku salah! "Mana yang katamu bilang, kalau si Nessa bakalan datang mengemis. Jangankan datang, menelponmu pun dia jelas tak sudi!"Rahangku mengeras. Tangan mengepal kuat, ada apa dengan, Nessa? Tak biasanya dia begini, dulu kalau lagi ada masalah. Apapun bentuknya, dia yang akan lebih dulu meminta maaf. Mengalah, demi kami tetap bersama.Sekarang? Kenyataan apa yang sedang kuhadapi?!"Ini semua gara-gara ulah kalian! Segala pamer kemesraan di depan Nessa, begini kan jadinya?!" Ucapan Ibu, bukannya membantu malah semakin membuatku runyam!Kulirik ponsel mahalku, bahkan Nessa juga yang membelikannya. Semua permintaanku akan dia kabulkan, dia jelas kecintaan. Sebucin itu sama aku, tapi, aku yang bodoh!"Mas, aku lapar!" rengek, Milla. Dengan tampilannya yang makin lusuh, dulu aku menikahinya karena dia menarik.Wajahnya tak secantik dulu, bany
MHSD (8)**Aku pulang dengan rasa lelah, bukan hanya fisik tapi, batin! Rentetan chat dari Mas Arfan, tak ada satupun yang kubalas. Bahkan telpon darinya pun tak ingin kuangkat, hubungan pasutri seperti apa yang sedang kita jalani ini?Suara gelak tawa dari arah ruang tengah, kudengar sangat menggelegar. Membuat dada bertambah panas, kupikir mereka akan jera!Netraku membulat, melihat kedekatan Mas Arfan dan Mila yang tak biasa. Mila yang sedang tiduran di atas paha suamiku, apa-apaan ini?!Mereka tampak intim, jatohnya bukan seperti adik kakak!Dan suaminya pun, tampak sibuk memainkan game dengan cemilan yang bekas plastiknya berhamburan!"Mas!" Semua mata menatapku dengan ketus, padahal aku yang punya rumah. Aku yang berhak, bahkan sangat bisa aku mengusir semuanya saat ini juga!Mila masih tiduran di pangkuan suamiku, begitu manja. Dan yang di sekitarnya biasa saja, seakan hal ini sudah biasa dilakukan."Kupikir kamu bakalan nginep di kantor, kepincut Direktur kaya itu!" Tangank
MHSD (7)**"Mematikan telpon pada saat orang belum selesai bicara, itu bukan sebuah tindakan yang sopan!" Aku meneguk ludah, berdiri tegak di hadapan Direktur. Mati aku!"Siap, salah, Pak. Itu, a-nu ....""Anu kenapa? Kamu mau cari alasan apa?" Bicara begitu, Direktur sambil memasukan satu tangannya pada kantung sisi kanan. "Ya itu, tadi saya lagi di jalan. Nyetir sendiri, jadi takut nggak fokus. Jelas keselamatan nomor satu dong, Pak. Bukan begitu?" "Banyak alasan! Kan kamu bisa pake earphone!" "Nggak kebawa, Pak. Tadi buru-buru." Banyak tanya banget sih, Direktur!Harus banyakin sabar, Ness. Demi sesuap nasi, ingat ada suami juga yang harus dinafkahin. Malah kebalik kan!"Suami kamu nggak kerja?" Aku mendongak, untuk apa Direktur bertanya itu?"Nganggur, Pak. Sudah beberapa bulan ini," kataku, yang jadi malu."Ya cari kerja dong, usaha. Bukan malah tambah nyusahin kamu!" Aku tersenyum getir, harusnya dia ngomong langsung sih sama Mas Arfan. Bukan sama aku!"Bukannya saya mau n
MHSD (6)**Aku pulang dengan tubuh yang lelah, kerjaanku kembali bertambah dengan hadirnya Cassie di kantor. Sepertinya setelah ini aku harus mencarikan orang, untuk mengurus anaknya Direktur itu. Gila aja, aku yang harusnya fokus kerja malah harus momong anak juga!Dahiku mengernyit, suara-suara bising terdengar begitu menusuk di ruang tengah. Ada tamukah? Kenapa aku nggak tahu?!"Ibu? Mila?!" Aku meneguk ludah, pemandangan macam apa ini?! "Ada apa ini, Mas? Kok, kamu nggak bilang kalau Ibu akan datang?"Bukan hanya Ibu dan Mila, Mas Arfan juga ikut serta memboyong suaminya Mila! Apa-apaan sih ini?"Memangnya kenapa, Nessa? Kamu nggak suka kalau Ibu nginep di rumahmu yang gedongan ini?"Hah, apa? Mereka mau nginep? Yang bener aja sih?!"Aah, Ibu mau nginep? Mila juga sama suaminya?" Aku pura-pura polos, kaget dan bingung."Ya iyalah, orang rumah Ibu disita." Netraku membulat, plot twist apalagi sih ini?"Udahlah, Nessa. Kamu jangan pelit! Rumah kamu ya rumah Arfan juga, anak Ibu.
Merebut Hati Sang Direktur (3)**"Sepet banget liat muka Direktur kita," ucap Reina sembari berjalan menuju kantin."Udah biasa itu, kenapa juga masih dibahas?" Aku tak mau ambil pusing, yang penting kerjaan beres gaji lancar."Ya iya sih, Nes. Padahal dia itu cakep pake banget, tinggal ditambahin
Merebut Hati Sang Direktur (2)***"Tadi Ibu bilang, katanya kamu nggak usah hadir di acara tujuh bulanannya Mila!"Degh!Apa-apaan ini?!"Ibu terlanjur kecewa sama kamu, Nes. Sebagai menantu kamu dinilai nggak bisa membahagiakan hati mertua!" Aku meneguk ludah, apakah aku berkewajiban membahagiaka
Merebut Hati Sang Direktur (5)***"Masih sore, udah tidur aja kamu, Mas." Aku mengendikan bahu, ia tampak membelakangiku. Capek kali ya, abis acara tujuh bulanan? Pasti badan remuk, mungkin acaranya lebih mirip ke pesta nikahan kalau aku nggak salah nebak."Kasihan aku sama Ibu, abis acara bukann
Merebut Hati Sang Direktur (4)***"Oh really? First time loh, anaknya Pak Direktur mau diatur begitu." Reina tampak antusias, usai mendengar penuturanku pagi ini."Maybe, dia lagi capek aja nggak sih? Kemarin tuh aku cuma ngasih makanan yang dia suka, terus aku juga nggak banyak omong. Takut diany












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.