Beranda / Rumah Tangga / Bukan Gadis Biasa / Bag 05. Keributan di Cafe.

Share

Bag 05. Keributan di Cafe.

Penulis: Rizuma Iori
last update Terakhir Diperbarui: 2021-08-15 11:14:01

»»»»

   Bolos adalah hal biasa bagi Cia. Tetapi, pagi ini, setelah perkelahiannya dengan cowok bernama Yejun, Cia malas keluar. Mood untuk membolosnya jadi berkurang, alhasil, Cia memilih untuk tidur di kelas, dengan membaringkan kepalanya di atas meja.

   Saat guru datang, Cia masih terlelap dalam tidurnya, hingga sang guru yang baru saja masuk segera mendekati Cia. Guru itu menggeleng pelan, lalu memukul pelan kepala Cia dengan buku paket di tangannya.

"Kamu ke sekolah niat belajar apa niat tidur!" Tegur sang guru. Cia yang tidurnya terganggu dengan malas bangun sambil menguap.

"Apa sih, Pak! Ganggu aja!" Cia mengucek sebelah matanya, dan saat itu, tatapannya beradu dengan manik mata hitam milik seorang gadis yang berdiri di depan kelas.

"Hari ini, kita kedatangan murid baru!" Guru laki-laki bernama Firman itu berjalan kembali ke arah mejanya. "Silahkan perkenalkan diri kamu!"

"Terima kasih, Pak!" Gadis dengan kuncir kuda itu tersenyum dengan semangat. "Hallo semua, Nama gue Azkian Nayla, biasanya di panggil Kian, salam kenal semua. Semoga kita bisa berteman!"

"Ogah! Aduh!" Cia terpekik saat sebuah sepidol mendarat persis di keningnya. Pak Firman yang melemparnya.

"Hargai teman sekelas kamu, Elcia!" Cia memutar bola matanya.

"Ya, Pak!"

"Ya sudah, kalau begitu, Kian kamu boleh duduk di samping Cia!" Cia melotot. Dengan sengaja mengangkat satu kakinya dan menginjak bangku di sebelahnya.

"Sorry, Pak. Bangkunya udah penuh." Tolak Cia songong. Firman menatap kesal Cia.

"Cia! Cepat turunkan kaki kamu!" Sang Guru mendekat dengan marah.

"Ya, elah Pak. Kan masih banyak kursi kosong  kenapa harus duduk di sebelah gue sih!"

"Sudah! Kamu diam saja. Dan kamu juga belum mengumpulkan tugas yang bapak berikan! Mana tugas kamu!"

"Iya, Pak. Tenang aja, udah gue kerjain kok!" Cia mengambil sebuah buku dari dalam tasnya, lalu memberikannya pada Firman.

"Bagus, yang lainnya. Kumpulkan setelah tiga hari!"

"Iya, Pak!" Semua berucap kompak.

"Nah, Kian. Kamu boleh duduk!" Cia menurun kan kakinya. Kian yang canggung akhirnya duduk di sebelah Cia. Jantungnya berderu kencang, sepertinya, dia akan mendapat masalah lagi!

»»»»

   Bel istirahat baru saja berbunyi, Cia tanpa membereskan bukunya ingin bergegas pergi. Namun, tiba-tiba Kian bertanya sesuatu padanya.

"Maaf, Cia ... boleh nggak kalo gue ikut sama lo. Gue nggak kenal siapa-siapa, dan kayaknya yang lain udah pada sibuk sama urusan mereka!" Seisi kelas yang masih tersisa menatap Kian terkejut. Bagaimanapun, si anak baru itu berani menatap Cia, bahkan berbicara lebih dulu padanya. Di sekolah ini  yang berani bicara lebih dulu pada Cia itu hanya dua jenis, yaitu Guru dan Dava, si Kakak yang tak di anggap.

    Cia tersenyum sinis, menatap Kian yang masih duduk di kursinya, sedangkan dirinya sudah berdiri. Cia mencondongkan tubuhnya pada Kian, menatapnya dalam lalu, tiba-tiba menggebrak meja yang ada di hadapan Kian. Membuat siswi baru itu terkejut bukan main. Bukan hanya Kian yang terkejut, beberapa murid yang masih tersisa di kelas juga sama terkejutnya.

"Lo sok deket banget ya, sama gue!" Cia terkekeh. "Jangan karena gue ijinin lo duduk di samping gue, terus lo pikir kita itu temen. Jangan mimpi!" Cia kembali berdiri, menendang kursi sebelum pergi dari kelas. Kian yang masih terkejut, tak bisa berkata apa-apa. Apa yang terjadi dengan sekolah ini, kenapa siswi macam Cia masih boleh masuk ke sekolah. Padahal, seharusnya, Cia di keluarkan saja. Apa mungkin, Cia adalah anak pemilik sekolah, atau anak donatur terbesar di sekolah(benar), maka dari itu, guru pun membiarkan siswi semacam Cia masuk ke sekolah? Tidak masuk akal!

»»»»

   Malam penuh hentakan di dalam mobil mewah milik Cia. Musik berputar dari dalam mobil miliknya, semakin malam, semakin menjadi. Itulah Elcia, si gadis yang suka dunia malam. Jangan berpikir negatif, Cia memang menyukai dunia malam. Tapi, bukan berarti dia wanita malam. Dia hanya menyukai keramaian yang ada ketika malam menjelang. Kadang, kesunyian kala larut menjemput.

    Cia memarkirkan mobilnya di parkiran cafe yang dekat dengan Castroom tempat itu terlihat cukup ramai. Gadis itu tertarik untuk berhenti sejenak sekedar untuk meminum satu atau dua gelas latte. Setidaknya, dia harus menenangkan pikiran yang sudah mulai berantakan. Tepat setelah memarkirkan mobilnya, Cia keluar dan baru menyadari bahwa mobil yang terparkir di samping mobilnya itu mirip seperti mobil miliknya. Bukan hanya warna, type dan juga bentuknya. Tapi, plat nomor dan juga kaca gelap yang berstiker mahkota queen itu benar persis seperti miliknya. Cia melihat sekeliling dan memutuskan untuk masuk ke dalam cafe. Ramai dan berisik, Cia mengamati para pengunjung yang hadir, dan di sanalah dia. Si pembawa mobil tanpa ijin yang beberapa hari lalu telah menyerempet mobilnya.

    Cia tampak murka, bukan karena mobilnya yang di bawa tanpa ijin. Tetapi, dari apa yang dia lihat saat ini, sudah pasti, Yejun yang membawa mobil itu pasti bersama dengan gadis yang ada di sampingnya. Dengan gerakan cepat, Cia mendekat dan langsung menggebrak meja. Kegaduhan yang dia buat menjadi pusat perhatian bagi para pengunjung lain. Yejun dan seorang gadis juga dua cowok lainnya tampak terkejut.

"Atas ijin siapa lo bawa mobil gue!" Cia menatap Yejun tajam. Gadis dengan mata sipit yang ada di di samping Yejun itu berdiri, menantang Cia yang tengah mengibarkan bendera perang.

"Maksud kamu apa?" bentak gadis itu yang tampaknya belum begitu fasyih berbahasa Indonesia. Cia terkekeh pelan, mendorong bahu gadis itu dengan satu tangan, dan itu sudah membuat si gadis kembali duduk di kursinya.

"Gue nggak ada urusan sama lo!" Cia kembali menatap Yejun. Yang di tatap justru diam tanpa minat, lagi pula, yang membawa mobil itu bukan dirinya, melainkan dua sahabatnya yang keras kepala.

"Bos!" Cia menoleh. Seorang cowok dengan rambut sedikit gondrong berlari mendekati Cia, "bos, lo ngapain, lo kenal mereka?" tanya cowok itu.

"Gue nggak kenal!"

"Kalo lo nggak kenal, jangan bikin ribut, Bos!" Cia melirik cowok gondrong itu, lalu menggeleng pelan.

"Balikin mobil gue!" Cia mengulurkan tangannya. Yejun melirik kedua sahabatnya.

"Kasih ke dia!" Perintahnya. Salah satu dari cowok itu mengulurkan sebuah kunci pada Cia.

"Sialan! Siapa yang ganti gantungan kuncinya!" Cia menatap tajam Yejun.

"Itu gue!" Salah satu cowok mengaku. Cowok dengan wajah ganteng bak aristoteles itu berdiri dari duduknya, menyugar rambutnya ke belakang menggunakan tangan.

"Selera lo rendahan!" Cia melempar kunci mobilnya pada si gondrong yang tadi memanggilnya Bos, "urusan gue sama lo belum kelar!" Cia menunjuk wajah YeJun dengan marah, menendang meja, membuat minuman yang ada di atasnya tumpah berantakan. Gadis yang duduk di samping Yejun berdiri karena terkejut.

"Oppa! wae geunyang gamanhi iss-eo!(kenapa kamu hanya diam saja!)" rajuknya, merujuk pada Yejun yang hanya diam memperhatikan kepergian Cia.

"jib-ega.(pulang sana.)" Yejun memilih pergi dari cafe tersebut. Park Serim, gadis asal korea itu tampak cemberut dan kesal. Baru kali ini, ya baru kali ini Yejun mengusir dirinya. Dan dia tidak suka itu!

««««

To be Continue ....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bukan Gadis Biasa   Bag 78. Sepupu?

    ****** Dava sedang menuang air dingin saat dia tak sengaja melihat Cia dan Gevin sedang bercanda di ayunan bersama, Dava bahkan melihat Cia sempat tertawa dan keduanya mulai serius kembali. Entah kenapa, melihat Cia yang seperti itu, membuat Dava juga merasa senang. Walaupun ada rasa tidak rela, karena dirinya dan Cia baru dekat beberapa bulan terakhir, dan kini, Cia sudah harus menikah. Dava jadi tidak rela Cia harus menikah muda."Ngapain Dav!" Sean datang saat sedang mengobrol dengan Kevin di sofa ruang tengah, Sean merasa haus dan ke dapur untuk mengambil air minum, dia justru melihat Dava sedang melamun melihat ke luar jendela."Enggak, tuh liat mereka, gue jadi sedih aja!" Sean ikut melihat keluar, Gevin tengah bersandar pada bahu Cia. "Kok sedih, kan harusnya lo seneng?" Dava terkekeh pelan."Gue seneng kok." Sean semakin tidak mengerti, tapi dia tidak bertanya lebih lanjut. Karena melihat raut Dava yang tampaknya enggan untuk membahasnya juga. "Mereka mau di biarin

  • Bukan Gadis Biasa   Bag 77. Marriage Proposal.

    *****"Saya, akan menerima lamaran ini." Gevin hampir tidak percaya dengan apa yang di dengar nya. Cia menerima dirinya? Benarkah! Semua orang yang mendengar itu tampak senang dan bahagia. Terlebih Bernard dan Gevin sendiri. Radith tersenyum menatap putrinya yang duduk di sampingnya."Sebelum itu, saya akan memberikan beberapa syarat!" Radith angkat bicara. Gevin masih tidak percaya dengan semua ini, diapun terus tersenyum sambil mendengarkan ucapan calon Ayah mertuanya. "Yang pertama, setelah menikah, Cia akan tetap tinggal di rumah ini sampai dia lulus kuliah, dan Gevin harus ikut tinggal di rumah ini!" Cia terkejut, dia juga tidak tau jika Radith akan memberikan persyaratan seperti itu."Itu bukan masalah, benarkan Boy!" Bernard menatap Gevin sambil menepuk pundak nya. Lagi pula, Bernard tau Cia pintar, dia yakin lulus kuliah bisa lebih cepat. Gevin mengangguk setuju."Syarat yang kedua ..." Radit menatap Gevin dan Cia bergantian lalu menjawab dengan suara lugas."Saya tidak mau,

  • Bukan Gadis Biasa   Bag 76. I Always Behind You.

    ******"Siang Om, Tante." Sapa Cia sambil tersenyum ramah. Gevin bahkan tampaknya lupa cara mengedipkan matanya, hingga Kevin yang duduk di sebelahnya menepuk bahunya pelan, barulah Gevin tersadar."Itu Cia!?" Sean berbisik penuh penekanan. ini kali pertama Sean melihat Cia dengan balutan dress layaknya gadis seusianya, atau pada umumnya. Karena biasanya, Cia selalu memakai kaus atau jaket kulit dengan celana jeans. Sedangkan Gevin, ini kedua kalinya dia melihat Cia dengan dress. Pertama kali, Gevin bahkan tak ada niat sedikitpun untuk mendekati Cia, walau saat itu dia tertarik dengan body goals milik gadis itu. Tapi kebetulan Gevin sedang berpacaran dengan seorang model pada saat itu, jadi Gevin tidak tertarik juga untuk mendekat. Namun sekarang, Gevin yakin seratus persen, bahwa dulu dia bodoh. Dia sangat bodoh karena mengabaikan gadis secantik dan manis seperti Cia ini. Bernard tanpa sadar berdiri dan bersalaman dengan Cia. Tentu Cia kaget atas respon dari rekan bisn

  • Bukan Gadis Biasa   Bag 75. Pertemuan Pertama.

    ******* Mobil mewah milik keluarga Knowles tampak memasuki halaman luas sebuah rumah besar. Tepat pukul 1 lebih 34 menit, rombongan dari keluarga Knowles sampai di kediaman keluarga Cia. Setelah mobil terparkir, tampak seorang wanita cantik keluar lebih dulu, diikuti seorang pria yang langsung berjalan disamping nya. Mereka adalah pasangan suami istri sekaligus orang tua dari Gevin Knowles, pemeran utama dalam acara penting hari ini. Setelah pasangan itu, Kevin keluar dari mobil lain bersama Sean. Benar sekali, Sean memang diminta untuk ikut datang oleh Bernard semalam. Lagi pula, Sean memang sudah di anggap seperti anak sendiri di keluarga itu. Jadi Sean memutuskan untuk ikut di saat acara yang akan di adakan hari itu."Loh, Gevin mana?" Sean bertanya saat dirinya sudah keluar dari mobil dan tak melihat Gevin yang seharusnya bersama kedua orang tua nya. "Ada, Vin!" panggil Bernard sambil menatap mobil yang didalam nya ada Gevin, mereka memang berngakt dengan mobil ya

  • Bukan Gadis Biasa   Bag 74. Apa Kalian Akan Bertahan?

    ***** Di malam sebelum Gevin berniat melamar Cia esok harinya. Di rumahnya, Sean datang sendirian, dia sudah mendengar berita tentang Gevin yang akan menikah, tentunya dia tau dari Angga yang kebetulan juga memang mengenal Sean, karena mereka dulu juga sering bermain bersama sewaktu kecil. Saat sampai di rumah Gevin, Sean melihat Gevin sedang di nasehati oleh Ayah dan Ibunya. Kevin ada di ruangan itu juga, tidak dengan Levin, Sean tau bagaimana watak saudara-saudara Gevin. Kevin yang pendiam tapi sangat perhatian, atau Levin yang manja dan juga ceroboh. Sean sudah dekat dengan keluarga Gevin semenjak dirinya masuk ke TK yang sama dengan Gevin. Bahkan Sean sudah di anggap seperti anak dari keluarga itu. Bukan hanya itu saja, Gevin kadang juga iri terhadapnya karena kedua orang tuanya lebih perduli pada Sean di banding dirinya. Itu membuatnya kesal kadang, tentunya saat mereka masih kecil, setelah dewasa, Gevin sudah tidak memperdulikannya lagi hal-hal semacam itu."

  • Bukan Gadis Biasa   Bag 73. Sebuah Permintaan.

    ****** Pagi-pagi sekali, Dava terbangun karena sebuah ketukan di depan pintu kamarnya. Dengan malas, cowok itu membuka mata dan melihat siapa gerangan yang mengganggu tidurnya. Dia terkejut saat membuka pintu, Cia berdiri di hadapannya. Cia tampak diam dengan wajah datar seperti biasa, pakaiannya masih sama seperti kemarin, gadis itu juga tampak sedikit berantakan, Dava langsung berpikir, apa Cia semalaman tinggal di jalanan? "Cia!?" tentu saja Dava kaget melihat Cia pulang dengan keadaan yang sedikit kacau itu. Walau biasanya Cia juga berpenampilan kacau, tapi pagi ini terlihat lebih kacau dari biasanya. Matanya bahkan tetlihat sangat kelelahan, apa dia tidak tidur? "Gue mau ngomong sama lo." Cia tak berekspresi, seperti orang lain sedang menguasai tubuhnya. Tatapannya lurus menatap Dava yang menjadi sedikit panik, karena biasanya jika Cia sudah serius seperti itu, pasti akan ada sesuatu yang terjadi. "Masuk dulu Ci," ucap Dava sambil menggeser tubuhnya agar Cia bisa masu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status