MasukWaktu dan tempat dipersilakan... kalau rame aku balik lagi
Abra baru saja keluar dari kamar mandi. Ia menyeringai kecil saat mendapati drama di layar belum juga selesai, padahal ia di kamar mandi sedikit lebih lama dari biasanya. “Sayang,” panggilnya. Namun yang ia dapatkan hanyalah tatapan tajam Serayu. “Mas Abra tadi ketemuan sama dr. Ara?” tanyanya langsung. “Ngobrol?” Langkah Abra sempat tertahan. Keningnya berkerut, kemudian ia mendekat. “Iya, tadi ketemu…” “Saya nungguin Mas sampai ketiduran,” pangkas Serayu, suaranya naik setingkat. “Mas malah ketemuan sama dokter itu?” “Sayang…” “Jahat banget sih,” rajuk Serayu. Matanya berkaca-kaca. “Sayang, dengerin dulu…” “Nggak mau dengar,” sergah Serayu kesal. Ia meraih remote, mematikan televisi, lalu berbaring membelakangi Abra. Selimut ditariknya menutup seluruh tubuhnya. Abra berusaha membujuk istrinya, tapi Serayu terus menolak bicara. Diacuhkan, Abra menghela napas panjang. Kehabisan akal karena tak diizinkan bicara, ia meraih ponselnya. Seketika wajahnya mengeras memb
Sementara itu di rumah sakit, Abra akhirnya keluar dari ruang operasi malam sudah pekat saja. Ia sedang bertukar pesan dengan Serayu yang memamerkan hidangan malam itu. Serayu mengambil alih dapur dari Bibi sengaja ingin memanjakan suaminya.Sudut bibir Abra terangkat tipis. Ia membalas pesan singkat itu mengatakan akan segera pulang, lalu menyimpan ponselnya di saku jaketnya. Tadi ia sudah meminta Aksa lebih dulu meninggalkan rumah sakit.Langkahnya baru beberapa meter menuju area parkir seketika sebuah suara lembut memanggil namanya.“Dokter Abra.”Abra menoleh. Wajahnya tetap datar meski mengenali sosok yang berdiri tak jauh darinya. Ia hanya mengangguk singkat, sekadar membalas sapaan tanpa bersuara.“Masih ingat saya, kan?” tanya wanita itu, kini berdiri di sampingnya.Abra tidak menjawab pertanyaan itu, hanya mengangguk saja. “Ryan sudah pulang sejak tadi,” katanya datar.Ara tertawa kecil, mememarkan lesung pipinya yang membuat wajahnya makin cantik. “Saya tidak sedang mencari
“Dokter Sedanu?” “Twin?” Keduanya terkejut bersamaan, mata mereka membulat dengan ekspresi yang nyaris serupa. Sepersekian detik kemudian, Serayu tersenyum. Senyum yang entah bagaimana berhasil menggetarkan hati Sedanu. Usai menuntaskan PPDS, Sedanu baru beberapa bulan mengabdi di rumah sakit ini. Ia tak menyangka, di antara hiruk pikuk rutinitas barunya, ia justru bertemu dengan wajah ini lagi. “Kenal?” tanya Amran heran menatap keduanya bergantian. “Oh, jelas. Ini playboy cap kapak. Semua cewek kenal dia,” canda Amran disusul tawa yang lain. Sedanu hanya menggeleng malas. Sejak bergabung di rumah sakit ini, memang banyak perempuan yang mendekatinya setelah identitasnya terbuka sebagai bagian dari keluarga besar yang namanya cukup disegani di dunia kedokteran. Namun tak satu pun yang benar-benar mampu menarik hatinya. Itu pula alasan ia memilih tidak melanjutkan karier di rumah sakit milik keluarga Abra, meski punya bagian di sana. Ia tak ingin disangka menumpang nama besar kelua
Serayu duduk di depan meja rias memoles wajahnya tipis. Sementara Abra menatap istrinya dengan tatapan tak suka. “Mau tugas apa mau ngapain kamu?” tanya Abra sinis. Hari ini akhirnya tiba, hari pertama internship yang sudah lama Serayu tunggu. “Ayo, Mas. Saya sudah siap,” ajaknya sambil meraih lengan suaminya yang berjalan sedikit malas. Serayu sudah rapi mengenakan setelan intern. Wajahnya tampak tegang, gugupnya tidak bisa disembunyikan. Tangannya berkali-kali merapikan name tag. Di sampingnya, Abra mengemudi dengan santai, meski sesekali matanya melirik ke arah istrinya yang gelisah. “Waktu koas dulu kamu se-excited ini juga?” tanya Abra sinis. Serayu mengerutkan kening, berpikir sejenak. “Iya… iya juga sih.” “Sih?” ulang Abra, tidak puas. “Maksudnya deg-degannya sama, Mas,” jawab Serayu. Abra tetap saja tidak puas dengan jawaban istrinya. Mobil yang dikemudikan Abra akhirnya berhenti tepat di depan rumah sakit. Serayu menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, lalu b
“Siapa, Mas?” tanya Serayu begitu Abra masuk ke dalam mobil. “Serius sekali.” Abra tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kaku, lalu mengusap puncak kepala kesayangannya. Setelah itu, ia pun menyalakan mesin mobil. “Kita berangkat sekarang ya,” katanya, jelas sekali mengalihkan pembicaraan. Serayu menangkap hal itu. Ia tahu suaminya sengaja menghindar, tapi memilih diam. Jalan yang Abra pilih terasa lebih jauh, berputar dan sedikit memakan waktu. Lampu-lampu kota berderet seperti garis samar di balik kaca jendela. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah restoran yang tidak terlalu ramai. Abra melangkah lebih dulu, memilih meja yang agak jauh dari pintu utama. “Di sini saja, Sayang,” sarannya. Serayu duduk dan langsung membuka buku menu, matanya menyapu daftar hidangan. Di seberangnya, Abra justru sibuk dengan ponselnya. Wajahnya serius, membuat alis Serayu mengernyit. Tak lama kemudian, ponsel itu berdering. Abra sontak berdiri. “Sayang, tunggu di sini sebentar ya. Saya terima
Ara menyentuh pelipisnya, jari-jarinya sedikit gemetar meski napasnya sudah jauh lebih teratur dibanding beberapa menit lalu. “Dok… bisa ke RS Husada saja?” pintanya pelan, suaranya terdengar lebih stabil. “Saya sudah lebih baik. Di sana ada kenalan saya.” Abra melirik sekilas, memastikan perempuan itu benar-benar sadar dan tidak tampak semakin lemah. Ia mengangguk tanpa banyak tanya. Dalam pikirannya, yang penting perempuan itu mendapat penanganan medis secepatnya, di mana pun tempatnya. “Baik,” jawab Abra singkat. Ia membelokkan setir, mengubah arah menuju RS Husada. Tidak ada niat lain, semua ia lakukan semata karena refleks seorang dokter yang melihat orang lain terluka. Di tempat lain, di sisi jalan yang mulai lengang, Serayu duduk sendirian di halte. Ia sudah mencoba memesan taksi online berkali-kali, tapi lucunya tidak ada yang menerima pesanannya Ia menghela napas kesal, menengadah sebentar menatap langit yang berubah keemasan. “Kok bisa nggak lewat sih…,” gumamnya lir







