FAZER LOGINDavin sampai beranjak dari duduknya saat menerima kabar kalau lokasi Ayunindya sudah ditemukan. Rasanya dia sudah tak sabar untuk bertemu istrinya itu.“Aku akan ke sana sekarang. Tunggulah aku di situ!” jawab Davin penuh semangat.“Pak, sebaiknya jangan sekarang,” sahut Adit di seberang telepon.Kening Davin berkerut dalam. “Apa maksudmu?” “Pak, apa Bapak lupa selama ini Bu Ayu selalu menghindar? Aku takutnya setelah Bapak menemui Bu Ayu tiba-tiba, tahu-tahu Bu Ayu lari!” jelas Adit.Davin langsung terhenyak. Dia baru menyadari ucapan Adit memang benar. Bisa saja Ayunindya minggat lagi. “Tapi aku sangat ingin bertemu dengannya dan bagaimana dengan anakku?” lirih Davin yang kini benar-benar seperti orang yang kehilangan semangat. “Aku tahu Pak. Kita akan cari jalan keluarnya. Aku sempat mengambil beberapa foto dan mungkin Bapak mau melihat fotonya.”“Tentu saja. Kirim fotonya sekarang. Dan sewa orang yang bisa memantau Ayu dua puluh empat jam. Aku tidak mau kehilangan istriku lagi!
Ayunindya menonton potongan video yang viral. Cantika yang sedang digiring dari mobil tahanan menuju gedung persidangan. Lalu Davin yang didatangi wartawan dan ditanya-tanya.“Apa benar Bapak membatalkan pertunangan dengan Nona Cantika? Bukankah kalian digadang-gadang akan menikah dan menyatukan dua perusahaan kalian?” “Tidak benar. Pertunangan itu hanya kabar angin. Saya sudah menikah, istri saya namanya Ayunindya. Tapi Cantika sudah menculik istri saya. Sampai hari ini saya sedang mencari istri saya,” jelas Davin di kamera wartawan.“Bapak sepertinya sangat mencintai istri Bapak?” tanya wartawan lagi.“Tentu saja. Saya sangat mencintai istri saya. Bagi siapa pun yang menemukan keberadaan istri saya, maka saya akan memberikan hadiah yang besar. Seratus juta rupiah!” ungkap Davin serius.“Wah menarik sekali, Pak. Ke mana harus menghubungi Bapak?” tanya wartawan lagi.“Langsung ke staff saya. Adit!” Adit kemudian memberikan nomor yang bisa dihubungi apabila ada yang melihat atau mene
Davin segera menelepon pengacaranya untuk membantu Bobby. Dan akhirnya Bobby ditemani pengacara dan juga beberapa penjaga untuk melaporkan kasusnya. “Aku ingin bertemu Cantika dulu,” pinta Bobby saat ada di kantor petugas. “Apa kamu yakin?” tanya Davin.“Ya. Aku ingin dia lihat mahakarya dirinya yang membuat aku seperti ini. Dan aku ingin dia sulit tidur malam ini!” ungkap Bobby terlihat matanya berkilat dendam.“Baiklah, aku tunggu di sini. Aku akan mengantarkan kamu ke tempat yang aman biar Papa Cantika tak menemukan kamu!” “Oke, terima kasih. Aku sebentar saja!” Davin hanya melihat Bobby yang akhirnya kembali masuk ke dalam kantor petugas. Dia bisa memahami kenapa Bobby begitu dendam pada Cantika. Dia bahkan tak bisa bayangkan rasa sakitnya saat terjadi kebakaran itu. Apalagi sampai kehilangan seluruh anggota keluarga.“Hii… Cantika benar-benar mengerikan. Entah kenapa aku bisa menyukainya dulu,” gumam Davin merutuki dirinya sendiri.Sementara itu di ruangan lain, Cantika tert
Davin terus berlari hingga suara klakson mobil dan motor bersahut-sahutan di jalan. Orang-orang berteriak kesal pada Davin yang menyeberang sembarangan. Tapi Davin tak peduli. Dia yakin tidak salah orang.“Davin!” teriak Puspita ketakutan dari jendela mobil. Dia masih ingat saat Davin kecelakaan dan dirawat di rumah sakit dengan luka di kepala. Dia tak mau itu terjadi lagi. “Pak, cepat susul!” pekik Puspita pada sopirnya.“Iya Bu!” angguk sopir yang malah memilih menyeberang lewat jembatan penyeberangan. Berbeda dengan keinginan Puspita.Sementara Davin sudah masuk ke halaman rumah sakit. Napasnya terengah-engah. Dia berlari sangat kencang padahal tubuhnya baru saja pulih. “Aku yakin tidak salah lihat. Tadi yang keluar dari mobil angkot sambil membawa bayi pasti Ayu!” gumam Davin terus berlari mencari. Davin hanya melihat dari samping. Tapi postur tubuh dan wajah dari samping, Davin yakin kalau itu adalah Ayunindya, istrinya. Kaki Davin tiba-tiba berhenti saat masuk ke dalam lobi
Puspita masih bengong. Dia masih syok saat mendapatkan fakta yang sangat jauh berbeda dari yang dia tahu selama ini. “Jadi Cantika pernah hamil dari pria lain?” tanya Puspita sekali lagi. Dia butuh diyakinkan berkali-kali.“Iya Ma!” Puspita langsung menangis. “Kenapa dia tega sekali dengan Mama. Padahal Mama sangat percaya dengannya.”Davin memilih diam. Adit dan Kenzo hanya saling pandang. Mereka merasa tak pandai menghibur. Sementara tangis Cantika makin kencang saja. “Pak, kita harus segera masuk. Cantika sudah sampai dari tadi di kantor petugas,” bisik pengacara pada Davin.“Baiklah!” angguk Davin.Diam-diam Davin pergi dengan pengacara dan yang lainnya. Meninggalkan Puspita di mobil bersama sopir.Masuk ke dalam kantor petugas, Davin bisa melihat Cantika yang tertunduk lesu di kursi kayu. Rambutnya hanya dicepol asal. Tanpa riasan wajah dan mata yang sembab. Belum lagi tangannya yang diborgol. “Davin! Kamu pasti datang buat lepasin aku kan? Tolong aku Davin, aku tidak mau di
Cantika terus menjerit di mobil. Dia minta dilepaskan. Tangisnya kencang sampai membuat petugas geleng-geleng kepala. Namun mobil tetap terus melaju ke kantor petugas.Mama Cantika dengan tangan gemetar menelepon ke nomor Davin. Tapi nomor Davin tak bisa lagi dihubungi. “Biar aku telepon Puspita. Dia harus tanggung jawab dengan kelakuan putranya!” putus papa Cantika langsung menelepon mama Davin.“Apa? Cantika ditangkap?” suara Puspita di telepon juga terdengar kaget. “Jadi kamu tidak tahu apa yang dilakukan oleh putramu?” suara papa Cantika terdengar geram dan sarat emosi.“Sungguh aku tidak tahu!” Puspita refleks geleng-geleng kepala meski orang tua Cantika tidak akan tahu.“Minta anakmu itu tarik laporannya atau aku akan tarik semua investasiku di perusahaan kalian!” ancam papa Cantika.“Tentu saja. Cantika akan bebas. Tapi apa penyebab Cantika bisa dibawa petugas? Bukankah motifnya harus jelas?” tanya Puspita penasaran.“Kami tidak tahu. Tanya saja putramu itu!” amuk papa Cantik







