ANMELDEN"Mas... barang siapa yang kau belikan perhiasan mahal ini?" Suara Alina terdengar bergetar hebat saat meletakkan selembar struk pembelian dari toko perhiasan ternama di atas meja makan. Pagi itu, Bagas yang sedang menikmati kopi hitamnya mendongak, menatap selembar kertas itu lalu beralih menatap Alina dengan sorot mata penuh cemooh. "Kau membongkar-bongkar kantong jasku?!" bentak Bagas seraya menggebrak meja makan hingga cangkir kopinya terguncang. "Kau ini paranoid sekali, Alina! Mau jadi mata-mata di rumah sendiri, hah?!" Alina mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik roknya. "Paranoid kata Mas Bagas?! Parfum wanita manis di jasmu, pesan mesra pukul dua pagi di ponselmu, dan sekarang nota perhiasan ini... Mas Bagas selingkuh, kan?!" Bagas tertawa mengejek, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dengan keangkuhan yang meluap-luap. "Kalau iya aku selingkuh, memangnya kenapa?" tantang Bagas tanpa ada sedikit pun rasa bersalah. "Kau mau menyalahkanku?! Cermin rumah ini kuran
"Dimana... dimana anak saya, Dokter...?" Suara itu terdengar teramat parau, hampir tenggelam oleh bunyi monoton alat pemantau detak jantung di sudut ruangan. Alina perlahan membuka matanya yang amat berat. Kesadarannya baru saja kembali secara bertahap pasca pengaruh obat bius total menghilang. Perut bagian bawahnya terasa sangat nyeri, bagaikan diiris-iris oleh ratusan sembilu, namun rasa sakit fisik itu lenyap seketika berganti dengan kecemasan yang membakar dadanya. Dokter wanita yang berdiri di samping ranjang menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak sanggup menatap binar mata penuh harapan dari wanita muda yang baru saja melintasi gerbang kematian itu. "Ibu Alina... Harap tenang dahulu..." bisik Dokter dengan nada suara bergetar menahan duka. "Anak saya... anak laki-laki saya mana, Dok?!" jerit Alina mulai histeris. Ia berusaha menegakkan tubuhnya, mengabaikan rasa nyeri yang luar biasa pada jahitan bekas operasi caesar di perutnya. "Kenapa saya tidak mendengar suara tangisanny
"Kau ini emosional sekali, Alina! Begitu saja sampai menjerit-jerit seperti orang kesurupan!" Marni tertawa hambar, sebuah tawa meremehkan yang amat menyakitkan telinga. Wanita paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepalanya seraya mengibas-ibaskan tangan di udara, seolah beban penderitaan yang baru saja diluahkan oleh anak kandungnya hanyalah sebuah keluhan manja tanpa arti. "Ibu bilang begitu saja...?" bisik Alina dengan suara bergetar heboh, air matanya menetes makin deras membasahi pipinya yang kusam. "Alina ini baru saja keguguran untuk kedua kalinya, Bu! Dua kali! Rahim Alina dikuret, tubuh Alina rasanya mau hancur, dan tidak ada satu orang pun di rumah ini yang peduli! Kenapa... kenapa ibu dan semua orang menyepelekanku seolah-olah bayi yang mati di perutku ini tidak ada harganya?!" Napas Alina memburu, dadanya naik turun menahan gumpalan rasa sakit hati yang terlanjur membuncah hebat. Dua kali kehilangan calon buah hati di usia yang baru delapan belas tahun, tanpa ada satu pu
"Tante Alina... Tante Alina kenapa menangis...?" Suara cicitan polos Sean memecah keheningan ruang tengah rumah kontrakan. Bocah kecil itu baru saja terbangun dari tidur siangnya, mengucek kedua matanya yang masih sembap. Di sampingnya, Alina terbaring menyamping di atas karpet tebal. Wajah cantiknya pucat pasi, kedua alisnya bertaut rapat seolah sedang menahan rasa sakit yang amat sangat, dan air mata terus mengalir deras membasahi bantal busa tanpa henti. Siang itu, sepulang sekolah, Alina dan Sean memang sangat bersemangat memasak ayam goreng tepung dan saus keju bersama. Kerusuhan kecil di dapur membuat keduanya kelelahan hingga akhirnya tertidur pulas di ruang tengah. Namun, di balik tidur lelapnya, alam bawah sadar Alina mendadak ditarik paksa mundur ke masa lalu, ke lorong waktu yang penuh dengan kenangan berdarah dan rasa sakit yang tak pernah benar-benar sembuh.Beberapa tahun yang lalu... "Dasar perempuan tidak berguna! Cuma menjaga kandungan saja kau tidak becus!" Suara
"Sean, beri salam dulu pada Kakek, Nak." Suara Alina terdengar amat lembut, berusaha mengikis ketakutan yang mendadak menyelimuti tubuh mungil di sampingnya. Dengan jemari yang masih bergetar, Sean perlahan maju satu langkah, menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan pria paruh baya bertongkat kayu mahoni itu. "S-Selamat pagi... Kakek..." cicit Sean teramat lirih. Richard Dirgantara menatap cucu tunggalnya sejenak. Sorot matanya yang tadinya amat dingin perlahan melunak tipis. Pria paruh baya itu mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala Sean dengan gerakan kaku namun sarat akan rasa sayang yang terpendam. "Selamat pagi, Cucuku. Masuklah ke dalam kelas sekarang, belajar yang rajin," ujar Richard dengan suara berat dan berwibawa. "Iya, Kakek..." sahut Sean cepat. Bocah itu melirik Alina sekilas, mendapatkan anggukan menenangkan dari pengasuhnya, lalu melangkah setengah berlari menuju pintu area sekolah. Setelah sosok mungil Sean menghilang di balik koridor, Richard memutar
"T-Tuan... a-apa maksud Anda?" Alina tersedak ludahnya sendiri. Pertanyaan Reynard yang sangat tiba-tiba itu menghantam telinganya dengan efek yang sama mematikannya dengan petir di siang bolong. Kedua matanya mengerjap tak percaya, menatap pria di hadapannya yang kini berdiri dengan jarak yang terlalu intim. "Tinggal di sini?" lanjut Alina dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba menstabilkan napasnya yang mendadak memburu. "Tuan, saya... saya hanya pengasuh. Jika saya tinggal di sini, apa kata orang? Tetangga-tetangga saya itu mulutnya bukan main tajamnya. Saya janda, Tuan. Status saya saja sudah cukup membuat mereka betah bergosip setiap pagi. Jika saya pindah ke rumah pria kaya dan tampan seperti Anda... reputasi saya bisa habis dalam semalam." Reynard, yang sejak tadi menatap lurus ke arah Alina, sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Tangan pria itu perlahan terangkat, jemarinya yang hangat menyentuh pipi Alina dengan sentuhan lembut namun tegas. "Kenapa harus peduli de







