共有

Kau Harus Pulang!

作者: Nona Lee
last update 公開日: 2026-08-19 17:47:49

"Kau pikir aku buta, Reynard? Oh.. atau kau memang sudah menganggap ayahmu ini mati?!"

Suara Tuan Richard memecah keheningan ruangan dengan nada yang rendah namun tajam, seolah menyayat udara yang dingin di ruang tamu. Pria tua itu tidak beranjak dari kursinya, matanya yang tajam tetap terkunci pada wajah putranya.

Reynard tetap berdiri tegak, menyilangkan tangan di dada dengan raut wajah yang sedatar tembok. "Ayah, ini rumahku. Ada urusan apa Ayah datang tanpa memberitahuku?"

Tuan Richard m
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
dia calon mantumu tuan. wkwkwkwk
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Kau Harus Pulang!

    "Kau pikir aku buta, Reynard? Oh.. atau kau memang sudah menganggap ayahmu ini mati?!" Suara Tuan Richard memecah keheningan ruangan dengan nada yang rendah namun tajam, seolah menyayat udara yang dingin di ruang tamu. Pria tua itu tidak beranjak dari kursinya, matanya yang tajam tetap terkunci pada wajah putranya. Reynard tetap berdiri tegak, menyilangkan tangan di dada dengan raut wajah yang sedatar tembok. "Ayah, ini rumahku. Ada urusan apa Ayah datang tanpa memberitahuku?" Tuan Richard mendengus kasar. "Urusan? Kau bertanya apa urusanku? Sean alergi kacang, dia masuk rumah sakit, dan kau tidak memberitahuku sepatah kata pun! Kemarin, anak buahku melapor jika cucuku berjalan pincang karena jatuh di sekolah, dan lagi-lagi, aku harus tahu dari orang lain, bukan dari kau ayahnya!" Di dapur yang berjarak cukup jauh, Alina yang sedang menyiapkan teh hanya bisa diam mematung. Ia mendengar setiap kata yang terlontar, hatinya mencelos saat mendengar suara kemarahan Tuan Richard yang me

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Kenapan Tante Pukul Papa?!

    "A-apa?! Siapa yang memukul Papa?!" Alina melotot sempurna. Kedua matanya membulat besar menatap Sean yang masih berdiri dengan posisi berkacak pinggang di depannya. Rasa kaget dan bingung bercampur menjadi satu di wajah wanita itu, membuatnya mendadak salah tingkah. "Sean... Tante tidak pernah memukul Papa! Siapa yang mengajari Sean bicara begitu?!" seru Alina cepat, memprotes tuduhan tak berdasar itu dengan wajah yang mulai merona merah. Sean tidak menurunkan kedua tangannya dari pinggang kecilnya. Bocah itu menyipitkan mata, menatap Alina dengan sok curiga. "Papa yang bilang tadi! Kata Papa, Tante Alina memukul Papa gara-gara Papa membuat Sean menangis semalam!" Alina seketika menolehkan kepalanya tajam ke arah Reynard yang masih berlutut di dekat meja makan. Pria berkuasa itu kini sudah berdiri tegak. Bukannya merasa bersalah atau membantu meluruskan kesalahpahaman, Reynard justru tak sanggup lagi menahan tawanya. Tawa renyah nan lepas menyembur begitu saja dari bibirnya,

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Sean, Papa Minta Maaf

    "Janji apa? Saya tidak pernah merasa berjanji apa pun pada Tuan," cetus Alina pelan, berpura-pura lupa. Wanita itu mengalihkan pandangannya, enggan menatap ketajaman manik mata Reynard. "Lagipula, untuk apa saya berterima kasih pada lelaki pemarah yang suka membentak anak kecil?" Mendengar ucapan menohok itu, Reynard seketika menghentikan aksinya. Pria itu menghela napas panjang, lalu perlahan duduk tegak di sisi ranjang. Wajah tegapnya menyiratkan rasa bersalah yang amat sangat. "Alina, tolonglah... Jangan seperti ini," panggil Reynard dengan nada memohon, kembali memegang lembut jemari wanita itu. "Saya tahu saya salah. Lalu saya harus bagaimana agar kau tidak marah lagi padaku, hm? Katakan, apa yang harus saya lakukan?" Alina ikut mendudukkan dirinya, merapikan pakaiannya yang sedikit kusut seraya menatap Reynard tajam. "Tuan tidak perlu melakukan apa pun untuk saya. Tapi kalau Tuan benar-benar merasa bersalah, Minta maaf pada Sean! Anak itu sangat ketakutan semalam gara-gara Tu

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Duda Mesum!

    "Iya, Tuan. Saya paham," sahut Alina singkat, nada suaranya amat dingin dan ketus. Wanita itu melangkah mundur, menarik paksa jemarinya dari genggaman Reynard tanpa niat sedikit pun untuk menatap mata pria di hadapannya. "Alina, tunggu—" Reynard panik, melangkah maju berusaha menahan gerakan Alina. "Saya mau pulang ke kontrakan," potong Alina tanpa memandangnya, merapikan letak pakaiannya yang agak kusut. "Tugas saya menjaga Sean untuk hari ini sudah selesai. Permisi, Tuan." Melihat Alina yang bersikap begitu acuh dan hendak berbalik pergi, rasa panik mendadak melingkupi dada Reynard. Pria berkuasa itu dengan cepat melangkah lebar, memotong jalan Alina lalu merengkuh tubuh mungil wanita itu ke dalam pelukannya. Ia memeluk Alina begitu erat, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher sang kekasih. "Alina, tolong... jangan seperti ini," bisik Reynard penuh penyesalan, suaranya bergetar lirih. "Saya minta maaf. Demi Tuhan, saya sangat menyesal atas kata-kata kasar saya tadi." Ali

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Kau Hanya Pengasuh!

    "Tuan Reynard, cukup! Jangan membentak Sean seperti itu!" Suara Alina melengking memecah keheningan ruang tengah. Wanita itu bergerak secepat kilat, memasang badannya tepat di depan Sean yang sudah bergetar ketakutan. Alina menatap lurus manik mata Reynard dengan sorot mata membara sama sekali tidak ada rasa takut, meski pria di hadapannya adalah majikannya sendiri. Sean yang menyembunyikan wajahnya di belakang pinggang Alina mulai sesenggukan, tangannya mencengkeram erat rok kain yang dikenakan pengasuhnya. Reynard melangkah satu maju, dadanya kembang kempis menahan emosi yang membakar kepalanya. "Alina, menyisilah! Jangan ikut campur saat saya sedang mendidik anak saya!" "Mendidik Tuan bilang?!" serkas Alina tak kalah tajam, suaranya naik satu oktaf. "Membentak anak kecil yang sedang kesakitan dan ketakutan itu bukan mendidik, Tuan Reynard! Itu cuma melampiaskan emosi Tuan!" "Alina!" bentak Reynard dengan nada rendah yang amat menakutkan, urat-urat di lehernya menegang taja

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Terjatuh Dari Meja

    "Sean kenapa, Bu Chika? Kenapa kakinya sampai pincang begini?" Suara Alina bergetar hebat saat berlutut di atas tanah, memegang erat kedua bahu kecil Sean yang gemetaran. Matanya yang berkaca-kaca menyapu seluruh tubuh bocah itu, sebelum akhirnya terhenti pada pergelangan kaki kanan Sean yang mulai membengkak. Bu Chika menghela napas panjang seraya memegang lembut punggung Sean. "Maafkan saya, Mbak Alina. Tadi saat jam pelajaran terakhir, Sean terjatuh saat sesi belajar... dia memanjat naik ke atas meja kelas." "Naik ke atas meja?!" Alina melotot sempurna. Matanya membulat besar, sebuah campuran antara kaget, marah, dan bingung yang amat sangat. Tatapan matanya yang biasa begitu lembut dan penuh kehangatan, seketika berubah tajam dan penuh penekanan. "Sean... kenapa sampai naik-naik ke atas meja? Kan tempat duduknya di kursi, untuk belajar, bukan untuk dipanjat," tegur Alina dengan suara yang ditahan agar tidak terlalu keras di depan umum. Melihat raut wajah Alina yang tidak sel

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status