LOGIN"J-Jadi, Tuan benar-benar mau menagih hukuman taruhan itu sekarang?!" Alina mendongak kaku, berusaha sekuat tenaga mempertahankan sisa-sisa pertahanannya di sudut konter dapur. Posisinya masih terkunci rapat di antara kedua lengan tegap Reynard yang kokoh. Reynard terkekeh rendah, mengusap pelan dagu ramping Alina yang bergetar halus. "Tentu saja. Seorang pengusaha tidak pernah melupakan tagihan piutangnya, Alina. Apalagi kau sendiri yang menyetujui taruhan ini." "Tapi... tapi hukumannya apa, Tuan?" bisik Alina cemas, matanya berkedip-kedip gelisah. "Tuan tidak bakal minta hal yang aneh-aneh, kan?" Reynard mengulas senyuman miring yang misterius dan sarat akan intrik, lalu perlahan mundur satu langkah untuk memberi celah bernapas bagi wanita di hadapannya. "Hukumannya akan saya sampaikan nanti," bisik Reynard dengan suara bariton rendah yang begitu seksi. "Di kamar utama... saat Sean sudah tidur lelap." "E-Eh?!" Belum sempat Alina memprotes atau melontarkan pertanyaan balasan,
"T-Tuan Rey...?" Gumam lirih dari bibir Alina yang bergetar seketika memotong suasana hangat di dalam dapur. Suaranya terdengar sumbang, sarat akan rasa terkejut dan sesak yang mendadak menghimpit dadanya. Reynard dan gadis cantik berambut cokelat itu kompak menoleh serentak ke arah pintu. Tangan tegap Reynard yang tadi hampir menyentuh pipi sang gadis seketika terhenti di udara. "Alina? Sudah selesai bersiap-siap?" tanya Reynard datar, menurunkan tangannya santai tanpa ada raut panik sedikit pun di wajah tampannya. Gadis cantik itu justru mengulas senyum teramat manis, matanya berbinar ramah menatap Alina. "Wah, ini Mba Alina pengasuhnya Sean, ya? Halo, Mba! Aku Natasha, sepupunya Mas Reynard!" Alina membeku di tempatnya, matanya membelalak kaget. "S-Sepupu...?" "Iya, Mba! Aku baru sampai lima belas menit yang lalu dari Bandung," kekeh Natasha renyah sembari membuang seekor nyamuk kecil yang baru saja ditepuk Reynard dari dekat telinganya. "Mas Rey ini menyebalkan sekali, nepuk
"M-Memancing apa?! Tuan Reynard jangan bicara sembarangan, ya!" Wajah Alina seketika memerah padam bagaikan udang rebus. Tangan rampingnya dengan gesit merapatkan kemeja tebal milik Reynard yang menyelimuti tubuh basahnya, menutupi lekuk tubuh yang tadi sempat terekspos. Jantungnya berdegup gila-gilaan, tak berani menatap langsung iris mata abu-abu sang CEO yang jaraknya begitu dekat. "Sean! Ayo kita naik ke vila sekarang, Sayang! Hari sudah makin sore, nanti Sean masuk angin!" seru Alina buru-buru, setengah berdiri sembari berpura-pura sibuk memanggil anak asuhnya demi mengalihkan suasana yang mendadak teramat intim tersebut. "Yah... kok sudah selesai sih mandi air sungainya?" keluh Sean mengerucutkan bibirnya. Namun, bocah itu tetap menurut dan berjalan menyusuri tebing rumput menuju bangunan vila bersama Alina dan Reynard. Akan tetapi, kekacauan ternyata belum berakhir di sana. Begitu sampai di lantai atas dekat kamar mandi, Sean tiba-tiba menahan tangan Alina dan mulai merenge
"Tante Alina! Cepat ke sini! Ada ikan kecil warna perak!" Teriakan riang Sean menggema di antara tebing batu perbukitan, memecah kesunyian sore di tepi sungai. Bocah mungil itu mengepakkan kakinya di air jernih, tertawa lebar saat cipratan air mengenai kemeja putih yang dikenakan Alina. Alina ikut tertawa renyah, melipat sedikit ujung celana pendeknya lalu menyeburkan kedua kakinya ke dalam sungai yang dingin menyegarkan. "Mana ikannya, Sean? Wah, lincah sekali dia!" "Itu di dekat batu besar! Papa, ayo tangkap ikannya!" panggil Sean, melambaikan tangannya pada Reynard yang masih berdiri di pinggir air. Reynard menelan ludahnya yang terasa kering, melangkah mendekati mereka. Sepasang mata abu-abunya tidak bisa dipalingkan sedikit pun dari sosok wanita di hadapannya. Tawa lepas Alina, binar matanya yang diterpa sinar matahari sore, serta ketulusannya saat mengusap pipi Sean yang kecipratan air benar-benar melumpuhkan pertahanan sang CEO. *Rasa ingin memiliki ini... sungguh gila,* b
"T-Tuan Reynard! Tuan gila ya?!" Alina melotot sempurna, menatap majikannya yang masih mengulas senyum miring tanpa dosa. Suara gemericik angin perbukitan di luar vila bahkan kalah bising dengan degupan dadanya yang menggila lantaran taruhan konyol tadi. "Kenapa berteriak, Alina? Nanti Sean dengar," bisik Reynard santai, membawa dua koper mereka melangkah masuk melintasi pintu kayu jati vila yang megah. "Ayo masuk, luar dingin." Sean yang baru saja melangkah masuk langsung berteriak girang melihat interior vila bernuansa kayu hangat itu. "Wah! Bagus sekali! Tante Alina, Sean mau lihat kamar Sean!" "I-Iya, Sayang. Ayo Tante antarkan," sahut Alina buru-buru menuntun Sean menuju lorong kamar anak. Kamar khusus Sean berukuran sedang, berhias pernak-pernik kartun kayu dan satu tempat tidur empuk. Sean langsung melompat ke atas ranjang sembari tertawa heboh sendirian, sibuk menjelajahi setiap sudut kamar barunya. Setelah memastikan Sean aman, Alina melangkah menyusuri koridor unt
"C-Cemburu?! Tuan bercanda ya?!" Alina refleks menepis pelan tangan Reynard yang bersandar di sandaran kursi. Wajah wanita itu seketika membara merah padam, panas sampai ke ujung telinganya. Ia buru-buru memalingkan wajah ke luar jendela, berpura-pura sangat sibuk merapikan tatanan rambutnya yang sama sekali tidak berantakan. "Saya cuma... cuma heran saja!" lanjut Alina gugup, beralih menatap ujung sepatunya sendiri. "Tuan itu pengusaha sukses, tampan, kaya raya. Sangat tidak cocok kalau mengobrol akrab dengan wanita biasa seperti saya di depan umum. Lebih pantas berpasangan dengan wanita kelas atas seperti Ibu Victoria tadi." Reynard yang melihat kepanikan luar biasa dari pengasuh anaknya justru semakin terkekeh puas. Pria tegap itu tidak kembali memutar tubuhnya ke depan, melainkan makin mencondongkan wajahnya ke celah di antara dua kursi depan, mendekati Alina di kursi belakang. "Benarkah hanya itu alasannya?" bisik Reynard dengan nada suara rendah nan menggoda, sepasang mat







