เข้าสู่ระบบ"Katakan di mana Alina, Andri! Jangan main-main denganku!" bentak Reynard dengan suara memburu, mempererat cengkeramannya pada kerah kemeja lelaki di hadapannya. Andri sama sekali tidak menyurutkan pandangannya. Tidak ada sedikit pun raut takut di wajahnya. Ia justru menyunggingkan senyum sinis yang sarat akan penghinaan. "Untuk apa Tuan tahu keberadaan Alina? Supaya Tuan bisa membawanya kembali ke rumah neraka ini?! Agar dia bisa ditampar dan dihina lagi oleh keluarga Tuan?!" "Aku tidak pernah membiarkan siapapun menyakitinya!" tegas Reynard dengan rahang mengeras. "Kemarin aku sedang bertugas di luar kota! Ponselku rusak karena kecelakaan di lokasi proyek! Aku tidak tahu apa yang terjadi di rumah ini!" Andri tertawa hambar, sebuah tawa yang meremehkan. "Alasan! Mau Tuan ada di luar kota, mau ponsel Tuan hancur berpotong-potong, faktanya Alina ditinggalkan sendirian menghadapi amukan ayah Tuan! Tuan bilang Tuan mencintainya? Tapi jangankan membahagiakan, melindungi dia dari keluar
"Mba! Di sekitar sini tadi ada lihat wanita dengan ciri-ciri tinggi sedang, rambut panjang bergelombang, pakai gaun simpel warna pastel tak?" tanya Reynard setengah berteriak pada seorang penjual angkringan di pinggir jalan raya. Pedagang itu menyipitkan mata, lalu menggeleng pelan. "Tidak ada, Mas. Dari tadi jalanan sepi, cuma mobil-mobil lewat saja." "Terima kasih," pamit Reynard singkat, langsung kembali masuk ke dalam mobilnya dengan napas terengah-engah. Pria itu mengacak rambutnya frustrasi. Sudah dua jam lebih ia membelah pekatnya malam, menyusuri setiap sudut jalan raya yang menghubungkan rumah utamanya dengan area perkotaan. Ia bahkan sudah mendatangi rumah kontrakan lama Alina yang dulu pernah disewa wanita itu, namun tempat itu sudah gelap gulita dan terkunci rapat dari luar. Tetangga sekitar pun mengaku tidak melihat keberadaan Alina sejak sore tadi. Ke mana lagi ia harus mencari? Ponselnya rusak, nomor kontak Alina tidak bisa dihubungi dari ponsel cadangan mobil, d
"Jaga mulut Ayah! Alina bukan wanita murahan!" bentak Reynard dengan suara menggelegar, memecah keheningan basement parkiran rumah sakit yang remang-remang. Pria itu mengusap sudut bibirnya yang pecah dan berdarah dengan punggung tangan, lalu menatap Tuan Richard dengan pandangan penuh amarah yang menyala-nyala. "Ayah tidak punya hak sedikit pun untuk menghina Alina dengan kata-kata serendah itu! Apalagi sampai menampar dan mempermalukannya di depan Sean!" Tuan Richard terkekeh sinis, menyilangkan kedua tangannya di dada seraya menatap putra tunggalnya dengan tatapan penuh penghinaan. "Tidak punya hak, katamu?! Aku ini ayahmu, Reynard! Aku yang membesarkanmu, membangun kerajaan bisnis ini, dan memastikan namamu dihormati di mana-mana! Dan kau... dengan mudahnya menukar kehormatan keluarga ini demi seorang wanita cacat yang sudah dibuang mantan suaminya?!" "Alina bukan barang buangan, Ayah!" tegak Reynard, melangkah satu piksel mendekati sang ayah hingga jarak mereka tersisa sangat
"Buka pintunya sekarang, atau kupatahkan tanganmu!" Suara bentakan Reynard menggema keras di depan ruang kontrol CCTV rumah utama. Petugas keamanan berbadan tegap itu gemetar hebat, tak berani membangkang majikan mudanya yang tampak seperti kesetanan dengan napas memburu dan rahang yang mengeras. Pintu besi itu terbuka. Tanpa membuang waktu, Reynard memborong masuk, menggeser tubuh operator secara kasar. Jemarinya yang gemetar memutar balik rekaman video beberapa jam lalu, tepat di hall utama rumah mereka. Layar monitor berkedip, menampilkan rekaman jernih beresolusi tinggi tanpa suara. Namun, gambar bisu itu justru terasa sepuluh kali lebih menyiksa. Mata Reynard membelalak sempurna, menyaksikan bagaimana Tuan Richard berdiri menakutkan di hadapan Alina. Ia melihat Alina yang ketakutan, lalu... PLAK! Tangan ayahnya melayang keras menghantam pipi wanita yang sangat dicintainya hingga tubuh lemas itu terhuyung. Tak berhenti di situ, rekaman menampilkan Tuan Richard yang mengambil s
"Minum dulu air hangatnya, Al. Tenangkan dirimu," ucap Andri pelan seraya menyodorkan segelas teh manis hangat ke hadapan Alina yang terduduk lesu di atas kasur tipis rumah kontrakannya. Alina menerima gelas tersebut dengan jemari yang masih bergetar hebat. Uap tipis membumbung tinggi, menimpa wajahnya yang pucat dengan bekas memar kemerahan di pipi kanan yang makin membiru. Ia menyesap cairan manis itu perlahan, mencoba mengusir rasa dingin dan ngilu yang masih membelenggu dadanya. Andri menarik kursi plastik kecil, duduk berhadapan dengan sahabatnya. Mata pria itu menatap nanar kondisi Alina yang begitu mengenaskan. "Sekarang coba cerita pelan-pelan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu? Kenapa Tuan Richard sampai setega itu padamu?" Alina menundukkan kepalanya dalam-dalam, air matanya kembali menetes menyatu dengan teh hangat di dalam gelas. "Tuan Richard... beliau sudah tahu semuanya, Ndri. Beliau tahu kalau aku dan Reynard punya hubungan spesial..." "Tahu dari mana
"Richard! Ada apa ini?! Kenapa rumah ramai sekali?!" Suara Nyonya Ella terdengar nyaring begitu kakinya melangkah melewati pintu utama. Tangan kanannya menenteng beberapa tas belanjaan barang brand mewah. Namun, senyum di wajah cantiknya seketika luntur tatkala telinganya menangkap suara tangisan histeris yang sangat ia kenali dari arah ruang tengah. Nyonya Ella melangkah tergesa-gesa. Matanya membelalak sempurna menyaksikan pemandangan kacau di hadapannya. Sean, cucu kesayangannya, sedang menangis sesenggukan seraya mengepalkan tangan mungilnya. Memukul-mukul paha dan lutut Tuan Richard yang sedang duduk di sofa sembari memegangi kepalanya yang tampak pening. Di atas lantai marmer, lembaran uang ratusan ribu berserakan tak beraturan bagai sampah tak berharga. "Richard! Apa-apaan ini?! Kenapa ada banyak uang berhamburan di lantai?!" tanya Nyonya Ella dengan nada panik, melempar tas belanjaannya ke sembarang tempat. Mendengar suara sang nenek, Sean langsung berbalik. Dengan mata se







