Share

Bab 6

Author: Flower
Entah sudah berapa hari berlalu, yang kuingat hanya para penjaga mengantar makanan dua kali, dan matahari di balik jendela kecil itu terbenam dua kali.

Hari ini, satu kotak nasi kembali dilempar masuk.

Aku tidak menoleh, karena dua kali makanan sebelumnya hanyalah roti kering yang susah ditelan, bahkan air yang diberikan pun keruh.

Kalau memakan itu, mungkin aku tidak akan bertahan sampai hari ketiga.

"Cepat ambil!"

Penjaga itu berkata ketus padaku.

"Hari ini kamu dapat tambahan."

Baru saat itu aku menoleh, dan melihat di dalam kotak makan memang ada tambahan daging ikan.

Naluri tubuh membuatku tak bisa menahan diri, aku maju dan segera melahapnya dengan rakus. Melihat keadaanku yang tergesa-gesa, penjaga itu tak bisa menahan tawa mengejek.

"Apa pantas disebut Nyonya Guskar, hidupmu sekarang bahkan lebih menyedihkan daripada aku, seorang bawahan."

Aku tidak menggubris ejekannya, hanya berfokus makan.

Aku harus hidup, hidup sampai saat Zevan datang menyelamatkan diriku, yang lain tidaklah penting.

Tiba-tiba, di dasar kotak makan aku menemukan secarik kertas.

[Kakak, aku dan Adriano akan menikah loh.]

Siapa yang menyiapkan makanan sederhana ini sudah jelas tanpa perlu dikatakan.

Aku menatap kalimat itu dengan lama, lalu dengan santai melemparkannya ke samping dan melanjutkan memakan sisa makanan.

Clarissa sebenarnya tidak perlu bersusah payah memancing emosiku semenjak kehidupan sebelumnya di saat aku ditinggalkan mati di salju.

Aku sudah tidak lagi menaruh harapan pada Adriano.

Mereka menikah, kapan pun menikah, semua itu tidak ada hubungannya denganku.

Reaksiku dengan cepat sampai ke telinga Clarissa. Kudengar dia marah besar sampai menghancurkan semua barang yang bisa dihancurkan di rumah.

Keesokan harinya, pintu sel dibuka, Clarissa berdiri di depanku dengan penuh kesombongan.

Luka kecil di perutnya sudah sembuh hanya dalam dua hari, wajahnya merona, jelas dirawat dengan sangat baik.

Dia menarikku keluar.

"Kamu harus menyaksikan sendiri pernikahanku dengan Adriano, melihat bagaimana dia memberiku cinta yang tak pernah kamu miliki."

"Kami mengundang para tokoh ternama dari berbagai kalangan. Dia akan mengumumkan di hadapan seluruh dunia bahwa aku adalah kekasihnya."

"Sedangkan kamu, istri resminya hanya di atas nama, cuma pantas berdiri jauh dan menatap kebahagiaan kami."

Aku mendengarkan dengan tenang, tanpa berkata apa-apa.

Diam-diam kubuka obrolan Zevan dan membagikan lokasiku.

Bisa keluar dari sel juga bagus, agar nanti melarikan diri nanti akan lebih mudah.

Hanya saja aku menduga Adriano tidak tahu aku diam-diam dibawa keluar oleh Clarissa, karena aku pernah mendengar penjaga menerima telepon.

Dari seberang terdengar suara dingin yang familier, "Dia masih nggak mau makan?"

Penjaga itu mengiakan, Adriano menghela napas. "Sifatnya memang keras."

"Teruskan kirim makanan yang dia suka."

"Oh ya, lukanya ... dokter sudah diam-diam mengobatinya?"

...

Adriano mengatakan banyak hal, seolah-olah sangat peduli padaku.

Namun di dalam hati aku paham, dia mungkin hanya takut aku benar-benar mati.

Lagi pula, perhatiannya juga tidak sepenuhnya tertuju padaku, pernikahan ini sangat terburu-buru.

Hari itu, seluruh keluarga memusatkan perhatian pada pernikahan ini. Bahkan mereka yang sedang menjalankan tugas pun kembali membantu.

Keluarga itu belum pernah seramai ini, mereka dengan ramah memanggil Clarissa "Nyonya Guskar."

Nama yang di kehidupan sebelumnya selalu kuimpikan.

Kecuali Ajudan Ferran, dia hanya sesekali menyebutnya tanpa sengaja.

Persiapan pernikahan berlangsung cepat. Dalam satu hari, Clarissa mencoba belasan gaun pengantin, masing-masing bernilai fantastis.

Melihat kegembiraan di matanya, aku hanya merasa semua ini lucu.

Melihat aku tetap tak tergerak, Clarissa tampak tidak senang, lalu tiba-tiba teringat sesuatu dan tersenyum kecil. "Pura-pura tenang? Biar kamu tahu satu hal lagi, sebenarnya anak yang hilang hari itu sama sekali bukan anak Adriano."

"Keluarga mereka sangat ketat soal pewaris, daripada nanti ketahuan, lebih baik hilang sekarang saja."

"Aku harus berterima kasih padamu, kakakku yang baik."

Pupil mataku mengerut.

Jadi begitu, semuanya akhirnya masuk akal.

Tanpa sadar aku menyentuh perutku.

Entah suatu hari Adriano akan tahu kebenaran itu atau tidak, bahwa satu-satunya anaknya dibunuh oleh tangannya sendiri.

"Nggak perlu terima kasih, aku doakan kamu selalu bahagia."

Aku tersenyum dan berkata pada Clarissa. Dia memaki, bertanya apa otakku sudah rusak, lalu tidak lagi menghiraukan aku.

Aku bukan gila, hanya saja semua ini sudah tidak penting.

Sementara itu, di peta lokasi, Zevan tampak makin mendekat.

Aku akan segera pergi.

Baik Clarissa maupun orang tuaku yang melahirkan dan membesarkan diriku akan berpisah selamanya.

Tak lama kemudian, tibalah hari pernikahan. Aku melihat ke arah pintu masuk lokasi upacara.

Adriano bersandar di pohon, mengisap rokok satu demi satu, terlihat murung.

Aku menduga dia masih tenggelam dalam duka kehilangan anak.

Wajar saja, bagaimanapun sejak saat itu dia tidak mungkin lagi memiliki anak.

Namun jika dia tahu hari itu aku juga keguguran, akankah dia bersedih sedikit untukku?

Kupikir tidak, dia hanya akan menyalahkan aku karena tidak mengatakan apa-apa, karena tidak melindungi anak itu.

Memikirkan hal ini, aku bahkan merasa bersyukur anak itu pergi lebih dulu.

Dengan ayah yang tidak mencintai dan penuh hasrat menguasai seperti itu, hidupnya pasti sulit bahagia.

Aku menarik kembali pandanganku dan masuk ke dalam. Di tengah jalannya upacara, tiba-tiba terdengar suara gemuruh.

"Itu helikopter!"

Semua tamu berseru kaget, Clarissa juga menatap Adriano dengan gembira. "Kak Adri, ini kejutan yang kamu siapkan untukku?"

Adriano menatap helikopter itu, sorot matanya seketika mendingin. Dia hendak bicara, tetapi tiba-tiba melihat uang kertas beterbangan dari bawah helikopter.

Para tamu berseru kaget. Sementara itu, Ajudan Ferran bergegas mendekat. "Ketua, jangan khawatir, ini hadiah pernikahan yang dititipkan Keluarga Senatra."

"Keluarga Senatra?" Adriano tertegun. "Zevan?"

Ajudan Ferran mengangguk.

Adriano mengepalkan tinju, kilatan niat membunuh melintas di matanya.

Ini adalah wilayah kekuasaannya, tetapi orang itu bisa menembus semua pertahanan, jelas kekuatannya tidak bisa diremehkan.

Dan menebar uang terang-terangan seperti ini, baginya bukan ucapan selamat, melainkan provokasi!

"Sayang, jangan cemberut dong, hari ini 'kan pernikahan kita."

Clarissa berkata manja.

Wajah Adriano sedikit melunak. Dia berkata pada Ajudan Ferran, "Perketat penjagaan, jangan biarkan apa pun masuk lagi."

Tak heran itu Adriano, selalu teliti dan bertindak tegas.

Sayangnya dia salah menghitung satu hal, memang tak ada lagi yang bisa terbang masuk, tetapi helikopter ini bisa terbang keluar.

Membawa diriku beserta harapanku, terbang jauh menuju masa depan.

Helikopter mendarat di puncak bukit.

Zevan perlahan keluar dari pintu kabin.

Melihat kedua tanganku yang dibalut perban dan tubuhku yang lemah, sorot matanya segera menggelap.

Detik berikutnya, dia mengangkatku dengan satu tangan, lalu melangkah perlahan menuju helikopter.

Aku mencengkeram kerah bajunya. "Kebaikan hari ini, di masa depan pasti akan kubalas."

Dia menatap ke depan, suaranya tenang, "Baik, akan kutunggu."

Saat baling-baling helikopter terus berputar dan terangkat ke udara, hatiku akhirnya mengendur.

Kulihat ke bawah, ayahku sudah menggandeng Clarissa melangkah ke karpet merah.

Adriano berdiri di seberang, menunggu pengantinnya.

Ayah menyerahkan tangan Clarissa ke tangan Adriano, Clarissa berkata pelan, "Aku bersedia."

Pendeta menoleh ke Adriano. "Apakah mempelai pria bersedia menikahi Nona Clarissa?"

Angin makin kencang, aku tak lagi bisa mendengar suara mereka.

Aku mengembuskan napas panjang, menatap matahari yang makin dekat.

Matahari terasa hangat, dan aku pun berlari menuju kebebasan.

Adapun semua yang ada di bawah sana, itu sudah menjadi masa lalu.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Lagi Nyonya Sang Ketua   Bab 15

    Pada hari Adriano diusir dari keluarganya, aku melepaskannya.Sebelum berpisah, dia menatapku dalam-dalam."Nita, kamu masih terlalu berhati lembut.""Kamu membiarkanku hidup, itu sama saja dengan memberiku kesempatan untuk merebutmu kembali."Aku mencibir dalam hati, tetapi wajahku tetap tenang.Zevan sama sekali tidak menutupi niatnya, wajahnya muram. "Kamu tak akan punya kesempatan."Begitu kata-kata itu keluar, dia mengeluarkan pistol di tangannya dan mengarahkannya ke Adriano.Sama seperti saat Adriano dulu mengarahkannya kepadanya.Namun Zevan tidak membunuhnya.Dia hanya menembakkan dua peluru, satu mengenai lengan kiri, satu lagi mengenai lengan kanan.Darah menyembur deras, Adriano kesakitan hingga jatuh berlutut."Dia nggak menyiksamu karena hatinya baik. Tapi aku berbeda, aku selalu membalas dendam."Kemudian menurut cerita para penjaga, Adriano yang berlumuran darah kembali ke gerbang keluarga, tetapi sama sekali tidak ada yang mengenalinya.Dia menyibakkan rambutnya yang k

  • Bukan Lagi Nyonya Sang Ketua   Bab 14

    Hari ketiga Adriano ditahan, dia tetap tidak mau makan.Aku tahu, dia sedang bertaruh, bertaruh bahwa aku tidak tega membiarkannya mati.Dia bertaruh dengan benar, memang aku tidak ingin dia mati.Bukan karena aku masih peduli padanya, melainkan karena aku lebih menghargai kehidupan daripada dirinya.Terlebih lagi, balas dendam yang konyol ini sudah merenggut nyawa banyak orang tak bersalah.Karena itu, aku sendiri yang membawa makanan ke sel untuk menemuinya.Baru beberapa hari tidak bertemu, dia sudah terlihat jauh lebih kurus dan lelah.Saat itu aku tiba-tiba ingin tertawa, baru beberapa bulan berlalu, alurnya sudah terulang kembali.Hanya saja kali ini, dia di dalam, aku di luar."Makanlah."Aku melempar kotak makan ke depannya.Dia meliriknya sekilas lalu memalingkan wajah, menolak.Aku menghela napas, mengambil garpu di lantai, lalu mengarahkannya ke pergelangan tanganku. "Kalau kamu nggak makan, aku akan menusukkannya."Detik berikutnya, garpu di tanganku segera dirampas."Kamu

  • Bukan Lagi Nyonya Sang Ketua   Bab 13

    "Lepaskan aku! Aku mau pergi menyelamatkannya!"Ajudan Ferran memelukku erat-erat. "Nyonya, sudah terlambat, kalau Anda pergi ke sana hanya akan menemui jalan kematian!"Aku menangis sambil berteriak, suaraku hampir serak. Akhirnya aku memegangi perutku sambil meringkuk kesakitan.Ajudan Ferran buru-buru memasukkan diriku ke dalam mobil, tetapi api sudah menyebar terlalu ganas."Sial!"Mobil mengerem mendadak di pinggir jalan.Aku sudah kesakitan sampai tidak bisa bergerak. Dengan suara pelan aku berkata, "Pergilah, jangan urus aku lagi."Belum sempat dia membuka mulut, seseorang sudah mendorongnya ke samping. "Kamu pergi dulu, aku yang akan melindunginya."Itu Adriano.Bagian bawah kemeja putihnya sudah hangus terbakar, wajahnya juga penuh darah serta jelaga hitam."Tapi, Ketua ....""Aku sudah bilang, cepat pergi!"Ajudan Ferran menatap kami dalam-dalam, lalu berbalik pergi.Adriano mengangkatku dengan memeluk pinggangku, berlari menuju pegunungan di kejauhan.Keringatnya menetes ke

  • Bukan Lagi Nyonya Sang Ketua   Bab 12

    Dengan demikian, aku dan Zevan pun menetapkan hubungan pacaran.Hal ini dengan cepat menyebar ke seluruh perkemahan, bahkan anak-anak kecil di bangsal perawatan akan tersenyum sambil memanggil Zevan "pacar Dokter Yuanita".Sepertinya dia sangat menyukai sebutan itu, setiap kali mendengarnya dia selalu tampak bangga.Hidup kembali berjalan seperti biasa.Sedangkan Adriano, sejak keributan hari itu, dia menghilang.Kupikir setelah anak itu tiada, dia akan menyerah. Tak kusangka, tiba-tiba dia teringat bahwa di antara kami masih ada pernikahan yang hanya sebatas formalitas.Dia mencari pengacara dan memanggilku pulang.Dengan tegas aku menyerahkan dokumen perceraian kepada pengacaranya.Menurut sang pengacara, saat dokumen perceraian itu sampai ke tangan Adriano, dia sangat murka.Dia mengatakan dokumen itu palsu, karena dia sama sekali tidak pernah menandatanganinya.Bahkan dia sampai menyewa ahli grafologi terbaik, tetapi hasilnya membuktikan bahwa itu memang tanda tangannya sendiri.Hu

  • Bukan Lagi Nyonya Sang Ketua   Bab 11

    "Apa?"Tubuh Adriano seketika menegang.Dia segera menunduk dan menatap perutku yang memang tampak sangat rata."Ng ... nggak mungkin ...." Dia bergumam dengan kepala tertunduk, matanya merah sampai seperti berdarah. Detik berikutnya dia mencengkeram bahuku dan mengguncangnya dengan gila."Bagaimana mungkin anak itu sudah nggak ada? Jangan-jangan, jangan-jangan kamu sendiri yang menggugurkannya? Yuanita, kamu sebegitu membenciku?"Mendengar teriakannya yang hampir tak terkendali, rasa jijik di mataku makin dalam."Aku yang menggugurkannya?""Anak ini, dibunuh olehmu, oleh ayahnya sendiri.""Nggak ada satu pun anak di dunia ini yang bisa bertahan dari hari-hari di dalam sel tahanan."Adriano tertegun.Aku melewatinya dan berjalan ke arah Zevan. "Bisakah kamu menggendongku di punggung untuk kembali, aku sudah nggak bisa berjalan."Zevan tertegun sejenak, lalu tersenyum dan mengangguk, tetapi dirinya tidak menggendongku di punggung, melainkan mengangkatku dalam pelukan.Adriano segera men

  • Bukan Lagi Nyonya Sang Ketua   Bab 10

    Sudut pandang Yuanita:Akhirnya aku tiba di Negara Darviso.Dulu aku memilih tempat ini, bukan hanya karena di sini tidak ada pengaruh kekuasaan Adriano.Juga karena ini adalah impianku sejak dulu, aku ingin menjadi seorang dokter medan perang.Setelah menikah dengan Adriano, dia melarangku keluar bekerja, karena orang lain bisa mendekatiku untuk mengancam dirinya.Meskipun aku bukan lulusan fakultas kedokteran, selama bertahun-tahun mengikuti Adriano terjun dalam baku tembak, demi melindunginya dan melindungi diriku sendiri, aku belajar banyak pengetahuan medis dasar.Selama beberapa tahun ini, aku telah melihat banyak orang mati di hadapanku.Ada gembong narkoba yang keji, juga ada warga sipil tak bersalah yang ikut terseret.Setiap kali melihat mereka tumbang di depanku, hatiku selalu terasa sangat perih.Inilah salah satu hal yang paling membedakanku dengan Adriano.Dia tidak punya perasaan terhadap hal-hal ini, karena seorang Ketua Geng tidak boleh berhati lembut. Dia harus dingin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status