Share

Bab 2

Penulis: Crystal K
Keesokan paginya, aku pergi ke galeri.

Tentu saja bukan untuk memilih hadiah bagi Bianca. Aku datang untuk menyelesaikan satu pekerjaan terakhir. Memulihkan satu-satunya bagian dari ibuku yang masih kumiliki. Sebuah potret dirinya.

Damon telah menarik berbagai koneksi untuk mendapatkannya kembali dari sebuah pegadaian yang hampir bangkrut dua bulan lalu.

Aroma terpentin menarikku seperti kail, menyeretku kembali lima tahun ke belakang.

Saat itu, aku hanyalah mahasiswi seni yang miskin, seorang yatim piatu yang bekerja sif di kedai kopi demi membayar uang kuliah.

Di sela waktu, aku melukis, bermimpi suatu hari mengadakan pameran galeri milikku sendiri.

Kemudian suatu hari, seorang jalang kaya dari kampus menyiramkan kopi panas ke proyek tugasku yang terakhir.

"Ups," ejeknya. "Sesuatu yang menyedihkan seperti ini nggak akan pernah dipajang di galeri. Aku cuma membantumu membuang sampah."

Aku mencoba melawan, tetapi teman-temannya mengepungku dan mereka menamparku.

Saat itulah Damon muncul. Dia belum menjadi monster seperti sekarang. Waktu itu dia mengenakan setelan mahal buatan tangan. Seorang dewa yang tersesat di sisi kota yang salah.

Dia hanya lewat, sedang berbincang soal pameran seni, tetapi dia berhenti.

Dia tidak menyentuh wanita itu. Dia hanya menatapnya. Satu tatapan dingin yang mengerikan. Keesokan harinya, keluarganya menghilang dari Kota Yana.

Aku pikir dia ksatriaku. Dia memberiku pekerjaan di galerinya, sebuah kesempatan untuk berada di sekitar seni yang selama ini hanya bisa kuimpikan dari kehidupan kumuh.

Tiga bulan kemudian, saat aku bekerja lembur, beberapa pria dari keluarga rival menjebakku. Mereka mengira aku cuma wanita yang ditiduri Damon, cara mudah untuk mempermalukan bos baru di wilayah itu.

Damon datang. Kali ini, dia bukan seorang pria sejati. Dia iblis yang keluar langsung dari neraka. Tanpa kata, tanpa negosiasi. Hanya kekerasan.

Aku melihatnya mematahkan lengan pemimpin mereka dengan tangan kosong. Setelah pertarungan berdarah itu, kami berhasil kabur.

Malam itu, dia melempar tubuhku yang masih gemetaran ke dalam mobil sportnya. Dia memacu mobil hingga 190 kilometer per jam. Deru mesin menenggelamkan jeritanku.

"Takut?" tanyanya. Mobil itu berhenti di tepi tebing. Satu tangannya di setir, tangan lainnya mengusap bibirku.

"Damon, tolong berhenti ...."

"Nggak mau. Kamu harus mengingat perasaan ini." Matanya liar, nyaris gila. Adrenalin dari pertarungan penuh darah itu membangunkan gairahnya.

Dia meniduriku di sana, di tepi jurang, dengan mesin mobil yang masih berderu. Itu bukan cinta. Itu penaklukan, tergantung di antara kematian dan kenikmatan yang begitu tajam hingga terasa seperti rasa sakit.

"Kamu milikku, Nora," katanya sambil menggigit leherku saat dia mencapai puncak.

Kring.

Bunyi lonceng toko menarikku kembali ke masa kini.

Aku menoleh. Seorang perempuan berdiri di ambang pintu.

Bianca Elora.

Dia mengenakan gaun putih, kalung mutiara berkilau di bawah cahaya lampu. Dia bukan datang untuk berbelanja di sini. Aku bisa melihatnya dari matanya. Dia datang untuk menandai wilayahnya.

"Jadi ini pelukis kecilnya Damon?" ucapnya, menilaiku dari atas ke bawah seperti aku adalah sebuah barang. "Katanya kamu pandai memperbaiki barang-barang lama."

Dia melangkah ke potret ibuku.

"Sayang sekali barang lama itu begitu nggak berharga," ujarnya sambil menyeringai. "Katanya lukisan menyedihkan ini satu-satunya yang tersisa bagimu. Satu-satunya penghubung dengan masa lalumu yang menyedihkan."

Tanganku mengepal.

"Jangan menatapku seperti itu," kata Bianca, mengeluarkan ponselnya dengan senyum jahat. "Ini idenya dia."

Dia melakukan panggilan video. Layar menyala menampilkan wajah Damon. Dia duduk di vila Keluarga Elora. Aku bahkan bisa melihat ayah Bianca di latar belakang.

"Nora." Suara Damon terdengar dari pengeras, acuh tak acuh. "Tunjukkan loyalitasmu pada calon ratumu. Hancurkan lukisan itu. Lakukan sendiri."

Darahku terasa membeku.

"Jangan buat aku mengulanginya," katanya, memutar wiski di gelasnya. Nada suaranya adalah nada yang biasa dia gunakan untuk memberi perintah pada anjing-anjingnya. "Atau aku akan menyuruh anak buahku membakarnya. Sekalian dengan galerinya."

Aku menatap wajah pria yang kucintai selama lima tahun.

Demi bisnis. Demi sebuah kesepakatan. Dia akan memaksaku memadamkan cahaya terakhir dalam hidupku dengan tanganku sendiri.

"Kenapa? Kamu bisu?" ejek Bianca. "Sepertinya 'ciptaan' Damon nggak sepatuh itu ya."

Aku menarik napas dalam-dalam, menahan air mata, lalu tersenyum.

Aku menatap Damon lewat layar. "Baik," kataku datar. "Akan kulakukan seperti kemauanmu."

Dengan tatapan kemenangan Bianca dan pandangan dingin Damon yang mengawasiku, aku mengambil pisau palet.

Alat untuk menciptakan seni, kini berubah menjadi bilah algojo.

Aku menggoreskan pisau itu ke wajah ibuku.

Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Dengan setiap sayatan, aku bukan hanya merobek kanvas. Aku memutus benang cinta terakhir yang kumiliki untuknya.

Bianca menutup panggilan, merasa puas. Dia mendengus dan berbalik pergi. "Pastikan kamu membersihkan ini. Aku nggak mau tempat-tempat Damon dikotori sampah seperti ini."

Bunyi sepatu haknya menghilang menjauh.

Aku sendirian. Aku tidak menangis. Aku hanya berlutut di atas reruntuhan masa laluku, memungut potongan-potongannya. Satu per satu. Seperti sedang mengubur jenazah. Sama seperti saat aku mengubur ibuku.

Ponselku bergetar.

[ Datang ke rumah aman malam ini. Aku terluka. Aku butuh kamu. ]

Aku menatap pesan itu, pada perintah santainya. "Aku butuh kamu."

Dulu, aku pasti akan mengabaikan segalanya, lalu berlari ke sisinya, siap menerima peluru lagi untuknya.

Tapi sekarang, menatap tanganku yang berlumuran cat merah, pria yang membuat jantungku berdebar selama lima tahun terasa seperti orang asing sepenuhnya.

Dia tidak terluka. Dia hanya perlu memastikan anjingnya masih terikat tali.

Aku berdiri dan membuang lap yang basah karena cat ke tempat sampah.

"Aku bakal ke sana, Damon," bisikku pada ruangan kosong.

Ini terakhir kalinya aku akan membalut lukamu.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 9

    Sudut Pandang Nora:Aku tahu siapa pengirimnya.Tidak ada orang lain yang pernah melihat lukisan aslinya dari jarak sedekat itu. Tidak ada orang lain yang tahu apa arti lukisan itu bagiku.Aku tidak membakarnya. Sebaliknya, aku menyimpannya dengan hati-hati, bukan karena aku terharu, melainkan karena itu adalah sebuah pengingat.Tak peduli sesempurna apa pun salinannya, itu tak akan pernah menjadi yang asli. Sama seperti kami. Kami tak akan pernah bisa kembali.Selama setahun berikutnya, hadiah-hadiah itu terus berdatangan. Perhiasan, lukisan-lukisan ternama, barang antik, bahkan sebuah galeri seni utuh.Masing-masing bernilai fantastis. Masing-masing kukirim kembali tanpa pernah dibuka. Yang tak bisa kukembalikan, kubakar.Di taman, aku membuat api unggun dari surat-suratnya. Api menerangi langit malam. Sebuah kremasi bagi gadis yang dulu pernah menjadi diriku."Membakar masa lalu lagi?" tanya Liam, memelukku dari belakang."Nggak," jawabku sambil menyandarkan tubuh ke dadanya. "Aku c

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 8

    Sudut Pandang Damon:"Damon!" Bianca berlari keluar. "Kamu ... kamu akhirnya datang. Aku tahu kamu nggak akan membiarkan perempuan jalang itu ...."Dia mengenakan jubah sutra putih, rambutnya berantakan. Jelas baru bangun dari tempat tidur.Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya mengangkat pistol dan mengarahkannya tepat ke kepalanya."Berlutut.""Apa?" Bianca terpaku di tempat. "Damon, kamu gila?""Aku bilang, berlutut!"Letusan senjata memekakkan telinga. Peluru itu hanya menggores telinganya sebelum menancap ke dinding di belakangnya.Bianca menjerit dan ambruk ke lantai."Aku tahu segalanya tentang kamu dan Viktor," kataku sambil melangkah mendekat. "Perselingkuhan tiga tahun itu. Penculikan palsu. Rencana untuk membunuh Nora.""Aku ... aku nggak tahu apa yang kamu bicarakan ....""Masih pura-pura?" Aku menyeringai dingin sambil memutar rekaman di ponselku.Suara Bianca sendiri menggema di ruang tamu."Viktor, ikuti rencana. Lebih baik kalau perempuan jalang itu mati. Tapi kalau tern

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 7

    Sudut Pandang Damon:Delapan belas jam kemudian, aku berdiri di depan kediaman Keluarga Valdana di luar Moska.Salju turun tanpa henti. Suhu mencapai -20 derajat Celsius.Aku tidak merasakan dinginnya. Api di perutku cukup panas untuk melelehkan tanah beku sialan ini."Damon Vindaya," ujar salah satu penjaga Rasia dalam bahasa negaraku dengan sempurna. "Pak Liam sudah menunggumu."Alih-alih menjawab, aku hanya mengikuti mereka masuk.Tempat itu seperti benteng, kastel dari es dan batu. Aku tidak datang untuk berkeliling. Aku datang untuk merebut kembali apa yang menjadi milikku.Di aula utama, Liam duduk di sofa kulit, segelas vodka di tangannya. Rambutnya pirang, matanya biru. Setelan hitam yang dijahit sempurna membungkus tubuhnya yang proporsional.Namun, Nora tidak ada."Di mana Nora?" Aku langsung ke intinya."Pak Damon," kata Liam tenang sambil meletakkan gelasnya. "Kamu datang jauh-jauh. Nggak mau minum dulu?""Aku nggak datang untuk basa-basi." Aku menarik pistol. "Serahkan dia

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 6

    Sudut Pandang Damon:Di ruang kerjaku?Aku langsung berdiri, mataku menyapu setiap sudut ruangan."Di mana tepatnya?""Aku ... aku nggak tahu. Sinyalnya menunjukkan posisinya tepat di atasmu, Bos."Kali ini aku benar-benar membongkar seluruh ruangan. Meja kerja, lemari arsip, rak buku. Setiap jengkal kucari.Sepuluh menit kemudian, aku berdiri di depan brankas yang tersembunyi di balik panel dinding. Jariku gemetar saat memasukkan kode.Kodenya 1015. Hari ulang tahunnya.Pintu baja tebal itu terbuka tanpa suara. Isinya kosong. Uang sudah tidak ada. Berkas-berkas lenyap. Bahkan paspornya juga raib.Namun, di rak paling bawah, ada sebuah cip kecil seukuran beras, bernoda darah kering.Cip pelacak yang kutanam di bawah kulitnya. Alat kepemilikan, bukan perlindungan. Hanya dia dan aku yang tahu kode brankas ini.Artinya ...."Dia selamat," ucapku lirih.Rasa lega menghantamku begitu keras sampai lututku nyaris goyah. Kemudian, amarah menyusul.Dia bukan hanya hidup, dia sempat kembali. Ke

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 5

    Sudut pandang Damon:Aku berhasil membawa Bianca kembali. Bayarannya adalah Nora."Kerahkan semua orang!" teriakku pada Marco. "Cari Viktor!"Dua jam kemudian, kawasan dermaga berubah jadi lautan api.Satu per satu, semua markas Keluarga Kastan di Kota Yana kubakar habis.Aku mematahkan leher Viktor dengan tanganku sendiri, menatap nyawanya lenyap perlahan dari matanya.Kepuasan balas dendam itu hanya bertahan beberapa menit. Begitu asap menipis, amarah ikut memudar, menyisakan kekosongan di tempat jantungku seharusnya berada."Marco," kataku sambil menyeka darah dari tangan. "Kirim orang untuk mencari Nora.""Baik, Bos.""Pakai semua sumber daya. Rumah sakit, kamar jenazah, tim SAR." Suaraku bergetar. "Temukan dia."Hari pertama. Tidak ada apa-apa."Bos, kami sudah menyisir radius 80 kilometer sepanjang pantai," lapor Marco hati-hati. "Nggak ada tanda-tanda Bu Nora.""Terus cari.""Baik, Bos."Aku duduk di kantor dengan sebotol wiski yang tak sanggup kuminum. Setiap kali memejamkan ma

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 4

    Pesta itu berakhir hampir tengah malam."Nora, antar kami ke dermaga," kata Bianca sambil bergelayut di lengan Damon. Suaranya sarat perintah penuh kepuasan. "Aku ingin merasakan angin laut bersama Damon. Membicarakan bulan madu kami. Bertiga saja."Damon tidak membantah. Seulas kerutan melintas di wajahnya, nyaris tak terlihat. Kemudian, dia mengangguk.Tanganku gemetar menggenggam kunci mobil. "Sudah larut," kataku kaku. "Pelabuhan nggak aman.""Apa? Kamu mempertanyakan keputusanku?" Damon akhirnya menoleh padaku, matanya sedingin es. "Atau asistenku tiba-tiba nggak mampu melakukan tugas sederhana seperti menyetir?"Aku memejamkan mata, menelan kata-kata, amarah, segalanya."Aku ambil mobilnya dulu."Malam di pelabuhan sangat sunyi. Tak ada apa pun selain debur ombak yang menghantam pantai dan bunyi klakson rendah kapal kargo di kejauhan.Aku memarkir mobil dekat titik pandang, memperhatikan lewat kaca spion saat Bianca meringkuk manja di pelukan Damon."Indah sekali," katanya, senga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status