Share

Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi
Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi
Author: Crystal K

Bab 1

Author: Crystal K
Aku telah tidur dengan pria yang paling ditakuti di Kota Yana sebanyak 999 kali selama lima tahun. Namun malam ini, dia bilang aku hanyalah sebuah alat dan tugasku berikutnya adalah memilih hadiah sambutan untuk tunangannya.

Setengah jam yang lalu, Damon muncul di apartemenku. Seperti setiap malam selama lima tahun terakhir, dia mandi, lalu menghampiriku dengan hasrat yang sudah begitu kukenal, menghantamkan tubuhku ke jendela besar dari lantai ke langit-langit, sementara lampu-lampu kota di bawah sana berubah menjadi kabur.

"Aku menginginkanmu, Nora."

Aku tenggelam dalam ciumannya yang penuh hasrat dan dorongan-dorongannya yang kasar.

Bahkan setelah mandi, dia masih berbau darah. Aku tahu dia baru saja menyingkirkan seorang pengkhianat dalam keluarga.

Aku tidak peduli. Dia itu memang monster, raja dunia mafia Kota Yana dan aku sangat memujanya.

Dalam cahaya redup, jari-jarinya menelusuri bekas luka yang menonjol di bahuku. Luka itu kudapat saat menyelamatkannya dari serpihan kaca yang beterbangan akibat sebuah ledakan.

"Masih sakit?" bisiknya, sambil mengecup bekas luka itu.

"Sudah nggak, Damon. Demi kamu, semua itu sepadan ...." Aku terengah menyebut namanya di sela napas yang terputus-putus.

Dulu aku pikir ini dongeng. Aku yang tidak lebih dari seorang yatim piatu dan kutu buku bisa menjadi orang kepercayaannya. Senjatanya. Hadiah miliknya.

Kalau saja aku bisa menikah dengannya ... aku pasti akan sangat bahagia.

Tepat saat pikiran itu terlintas, dia menarik diri dariku dengan satu getaran terakhir.

"Aku datang untuk bilang, minggu depan ada makan malam keluarga," katanya sambil mengembuskan asap rokok. Matanya menatapku dari balik asap tipis itu.

Jantungku berdegup kencang.

Inikah saatnya? Mungkin akhirnya dia siap. Malam ini dia meniduriku dengan jenis hasrat yang berbeda, buas dan sangat bergairah.

"Aku akan siapkan, Damon." Aku meraih kemejanya. "Apa perlu aku jelaskan soal pengiriman di Pantai Barat? Atau ...."

"Nggak." Dia memotong ucapanku. Suaranya sedingin es. "Bianca akan ada di sana. Itu pesta pertunangan kami."

Bianca. Putri mafia dari keluarga yang menguasai jalur pelayaran.

Aku membisu. Kemeja itu terlepas dari jariku dan jatuh ke lantai. "Bertunangan? Kukira itu cuma rumor ...."

"Bukan rumor. Ini bisnis," kata Damon santai. "Dan kamu aset paling andal yang kumiliki. Aku butuh kamu menyiapkan hadiah untuk Bianca. Dia suka Van Gogh. Pilihkan yang asli dari galeri milikmu untuknya."

Dia ingin aku memilihkan hadiah untuk wanita yang akan mencuri kehidupanku?

Mataku memanas oleh air mata. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak meninggikan suaraku. "Damon, aku kira lima tahun ini .... Aku kira kita lebih dari ...."

"Lebih dari apa?" potongnya, dengan tatapan mengejek yang begitu kukenal. "Aset? Nggak, Nora. Kamu ciptaanku yang sempurna. Aku mengajarimu segalanya. Cara bersikap anggun, cara menjadi kuat, cara menangani pekerjaan kotorku. Tapi kamu lupa satu pelajaran terpenting. Sebuah ciptaan nggak bermimpi. Dia patuh."

Wajahku seketika pucat.

"Soal lima tahun terakhir itu ...." Dia berhenti sejenak, jeda yang terasa seperti seumur hidup. "Anggap saja perawatan. Senjata harus tetap diasah agar berguna, 'kan? Entah kupakai di kantor, atau di ranjang."

Aku menarik karpet menutupi tubuh telanjangkku, berusaha menemukan sisa-sisa harga diri.

"Kalau aku bilang nggak?"

Damon melangkah mendekat dan berlutut. Jarinya mencengkeram daguku, ibu jarinya mengusap bibirku. Sentuhan yang dulu membuatku gemetar kini hanya membuatku mual.

"Jadilah anak baik." Suaranya lebih dingin dari lantai di bawahku. "Jangan lupa siapa yang membantumu keluar dari hidupmu yang menyedihkan itu."

Dia berdiri dan pergi, meninggalkanku sendirian di lantai. Aku mendengar langkah kakinya menjauh, lalu bunyi klik pintu kamar tidur. Aku terhuyung masuk ke kamar mandi sambil menangis. Wanita di cermin itu tampak kacau, matanya liar penuh kepedihan.

Air panas menghapus sisa kehangatan Damon, tetapi tidak mampu membersihkan rasa malu dan putus asaku.

Lima tahun. Selama lima tahun, aku mengira aku adalah wanitanya. Ternyata, aku hanya senjata yang diasahnya agar tetap tajam.

Aku mengambil sebuah ponsel terenkripsi dari panel tersembunyi di dinding.

Tiga tahun lalu, di sebuah lelang perhiasan, Damon mengirimku untuk menangani seseorang yang berasal dari Rasia yang mulai menjadi masalah. Namanya Liam Valdana. Saat aku menodongkan pistol ke punggungnya, dia sama sekali tidak terlihat takut. Dia hanya tertawa pelan dan menyelipkan ponsel ini ke tanganku.

Dia berbisik, "Burung cantik di sangkar emas selalu bermimpi untuk terbang. Saat tuanmu mematahkan sayapmu, hubungi aku. Aku akan memberimu langit."

Dulu kupikir dia gila. Sekarang, dia satu-satunya harapanku.

Dengan jari gemetar, aku mengetik pesan.

[ Aku terima tawaranmu. Tiga hari. Keluarkan aku dari Kota Yana. ]
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 9

    Sudut Pandang Nora:Aku tahu siapa pengirimnya.Tidak ada orang lain yang pernah melihat lukisan aslinya dari jarak sedekat itu. Tidak ada orang lain yang tahu apa arti lukisan itu bagiku.Aku tidak membakarnya. Sebaliknya, aku menyimpannya dengan hati-hati, bukan karena aku terharu, melainkan karena itu adalah sebuah pengingat.Tak peduli sesempurna apa pun salinannya, itu tak akan pernah menjadi yang asli. Sama seperti kami. Kami tak akan pernah bisa kembali.Selama setahun berikutnya, hadiah-hadiah itu terus berdatangan. Perhiasan, lukisan-lukisan ternama, barang antik, bahkan sebuah galeri seni utuh.Masing-masing bernilai fantastis. Masing-masing kukirim kembali tanpa pernah dibuka. Yang tak bisa kukembalikan, kubakar.Di taman, aku membuat api unggun dari surat-suratnya. Api menerangi langit malam. Sebuah kremasi bagi gadis yang dulu pernah menjadi diriku."Membakar masa lalu lagi?" tanya Liam, memelukku dari belakang."Nggak," jawabku sambil menyandarkan tubuh ke dadanya. "Aku c

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 8

    Sudut Pandang Damon:"Damon!" Bianca berlari keluar. "Kamu ... kamu akhirnya datang. Aku tahu kamu nggak akan membiarkan perempuan jalang itu ...."Dia mengenakan jubah sutra putih, rambutnya berantakan. Jelas baru bangun dari tempat tidur.Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya mengangkat pistol dan mengarahkannya tepat ke kepalanya."Berlutut.""Apa?" Bianca terpaku di tempat. "Damon, kamu gila?""Aku bilang, berlutut!"Letusan senjata memekakkan telinga. Peluru itu hanya menggores telinganya sebelum menancap ke dinding di belakangnya.Bianca menjerit dan ambruk ke lantai."Aku tahu segalanya tentang kamu dan Viktor," kataku sambil melangkah mendekat. "Perselingkuhan tiga tahun itu. Penculikan palsu. Rencana untuk membunuh Nora.""Aku ... aku nggak tahu apa yang kamu bicarakan ....""Masih pura-pura?" Aku menyeringai dingin sambil memutar rekaman di ponselku.Suara Bianca sendiri menggema di ruang tamu."Viktor, ikuti rencana. Lebih baik kalau perempuan jalang itu mati. Tapi kalau tern

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 7

    Sudut Pandang Damon:Delapan belas jam kemudian, aku berdiri di depan kediaman Keluarga Valdana di luar Moska.Salju turun tanpa henti. Suhu mencapai -20 derajat Celsius.Aku tidak merasakan dinginnya. Api di perutku cukup panas untuk melelehkan tanah beku sialan ini."Damon Vindaya," ujar salah satu penjaga Rasia dalam bahasa negaraku dengan sempurna. "Pak Liam sudah menunggumu."Alih-alih menjawab, aku hanya mengikuti mereka masuk.Tempat itu seperti benteng, kastel dari es dan batu. Aku tidak datang untuk berkeliling. Aku datang untuk merebut kembali apa yang menjadi milikku.Di aula utama, Liam duduk di sofa kulit, segelas vodka di tangannya. Rambutnya pirang, matanya biru. Setelan hitam yang dijahit sempurna membungkus tubuhnya yang proporsional.Namun, Nora tidak ada."Di mana Nora?" Aku langsung ke intinya."Pak Damon," kata Liam tenang sambil meletakkan gelasnya. "Kamu datang jauh-jauh. Nggak mau minum dulu?""Aku nggak datang untuk basa-basi." Aku menarik pistol. "Serahkan dia

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 6

    Sudut Pandang Damon:Di ruang kerjaku?Aku langsung berdiri, mataku menyapu setiap sudut ruangan."Di mana tepatnya?""Aku ... aku nggak tahu. Sinyalnya menunjukkan posisinya tepat di atasmu, Bos."Kali ini aku benar-benar membongkar seluruh ruangan. Meja kerja, lemari arsip, rak buku. Setiap jengkal kucari.Sepuluh menit kemudian, aku berdiri di depan brankas yang tersembunyi di balik panel dinding. Jariku gemetar saat memasukkan kode.Kodenya 1015. Hari ulang tahunnya.Pintu baja tebal itu terbuka tanpa suara. Isinya kosong. Uang sudah tidak ada. Berkas-berkas lenyap. Bahkan paspornya juga raib.Namun, di rak paling bawah, ada sebuah cip kecil seukuran beras, bernoda darah kering.Cip pelacak yang kutanam di bawah kulitnya. Alat kepemilikan, bukan perlindungan. Hanya dia dan aku yang tahu kode brankas ini.Artinya ...."Dia selamat," ucapku lirih.Rasa lega menghantamku begitu keras sampai lututku nyaris goyah. Kemudian, amarah menyusul.Dia bukan hanya hidup, dia sempat kembali. Ke

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 5

    Sudut pandang Damon:Aku berhasil membawa Bianca kembali. Bayarannya adalah Nora."Kerahkan semua orang!" teriakku pada Marco. "Cari Viktor!"Dua jam kemudian, kawasan dermaga berubah jadi lautan api.Satu per satu, semua markas Keluarga Kastan di Kota Yana kubakar habis.Aku mematahkan leher Viktor dengan tanganku sendiri, menatap nyawanya lenyap perlahan dari matanya.Kepuasan balas dendam itu hanya bertahan beberapa menit. Begitu asap menipis, amarah ikut memudar, menyisakan kekosongan di tempat jantungku seharusnya berada."Marco," kataku sambil menyeka darah dari tangan. "Kirim orang untuk mencari Nora.""Baik, Bos.""Pakai semua sumber daya. Rumah sakit, kamar jenazah, tim SAR." Suaraku bergetar. "Temukan dia."Hari pertama. Tidak ada apa-apa."Bos, kami sudah menyisir radius 80 kilometer sepanjang pantai," lapor Marco hati-hati. "Nggak ada tanda-tanda Bu Nora.""Terus cari.""Baik, Bos."Aku duduk di kantor dengan sebotol wiski yang tak sanggup kuminum. Setiap kali memejamkan ma

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 4

    Pesta itu berakhir hampir tengah malam."Nora, antar kami ke dermaga," kata Bianca sambil bergelayut di lengan Damon. Suaranya sarat perintah penuh kepuasan. "Aku ingin merasakan angin laut bersama Damon. Membicarakan bulan madu kami. Bertiga saja."Damon tidak membantah. Seulas kerutan melintas di wajahnya, nyaris tak terlihat. Kemudian, dia mengangguk.Tanganku gemetar menggenggam kunci mobil. "Sudah larut," kataku kaku. "Pelabuhan nggak aman.""Apa? Kamu mempertanyakan keputusanku?" Damon akhirnya menoleh padaku, matanya sedingin es. "Atau asistenku tiba-tiba nggak mampu melakukan tugas sederhana seperti menyetir?"Aku memejamkan mata, menelan kata-kata, amarah, segalanya."Aku ambil mobilnya dulu."Malam di pelabuhan sangat sunyi. Tak ada apa pun selain debur ombak yang menghantam pantai dan bunyi klakson rendah kapal kargo di kejauhan.Aku memarkir mobil dekat titik pandang, memperhatikan lewat kaca spion saat Bianca meringkuk manja di pelukan Damon."Indah sekali," katanya, senga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status