Share

Bab 4

Author: Crystal K
Pesta itu berakhir hampir tengah malam.

"Nora, antar kami ke dermaga," kata Bianca sambil bergelayut di lengan Damon. Suaranya sarat perintah penuh kepuasan. "Aku ingin merasakan angin laut bersama Damon. Membicarakan bulan madu kami. Bertiga saja."

Damon tidak membantah. Seulas kerutan melintas di wajahnya, nyaris tak terlihat. Kemudian, dia mengangguk.

Tanganku gemetar menggenggam kunci mobil. "Sudah larut," kataku kaku. "Pelabuhan nggak aman."

"Apa? Kamu mempertanyakan keputusanku?" Damon akhirnya menoleh padaku, matanya sedingin es. "Atau asistenku tiba-tiba nggak mampu melakukan tugas sederhana seperti menyetir?"

Aku memejamkan mata, menelan kata-kata, amarah, segalanya.

"Aku ambil mobilnya dulu."

Malam di pelabuhan sangat sunyi. Tak ada apa pun selain debur ombak yang menghantam pantai dan bunyi klakson rendah kapal kargo di kejauhan.

Aku memarkir mobil dekat titik pandang, memperhatikan lewat kaca spion saat Bianca meringkuk manja di pelukan Damon.

"Indah sekali," katanya, sengaja mengeraskan suara. "Kita bisa ke sini tiap bulan untuk kencan, 'kan?"

"Asal kamu suka," jawab Damon datar, meski aku menangkap nada kesal di baliknya.

Tiba-tiba, suara desis statis memenuhi mobil. Sistem komunikasi dan GPS mati total. Darahku seakan-akan membeku. Pengacau sinyal, kelas militer.

Dalam sekejap, pintu-pintu mobil dipaksa terbuka. Enam pria berpakaian hitam mengepung kami, pistol berperedam teracung.

Damon bergerak secepat kilat, menarik Bianca ke belakangnya. Tangannya yang lain meraih pinggang, lalu berhenti saat menemukan sarung pistolnya kosong.

Untuk pertama kalinya, aku melihat keterkejutan di wajahnya.

"Cari ini ya, Damon?" Suara pemimpin mereka rendah dan serak. Dia mengangkat pistol milik Damon.

Aku mengenal suara itu. Viktor. Putra Kasman. Psikopat terbesar di Edea.

Tatapan Damon beralih tajam ke Bianca, penuh kecurigaan dan amarah.

Namun, Bianca hanya menjerit, memainkan peran korban yang ketakutan. Pada detik berikutnya, jarum tiba-tiba menusuk leherku. Tudung hitam disarungkan ke kepalaku.

Saat aku membuka mata lagi, aku berada di atas kapal kargo tua yang terbengkalai. Aku dan Bianca tergantung di dua sisi haluan kapal. Di bawah kami, air yang gelap dan dingin bergejolak.

Tali memotong pergelangan tanganku, perih seperti terbakar.

Damon menghilang.

"Sudah sadar?" Viktor menyalakan cerutu. "Bagus."

Dia mengeluarkan ponsel satelit dan menelepon.

"Damon, bisa dengar aku? Anak buahku sudah mengantarmu kembali ke kediamanmu. Gimana rasanya berada di sisi yang diculik?"

"Apa maumu, Viktor?" Suara Damon terdengar dari pengeras, tenang dan berbahaya.

Aku kenal nada itu. Ketenangan sebelum dia membakar dunia.

"Aku ingin kamu menderita." Viktor tertawa. "Pernikahan Keluarga Vindaya dan Keluarga Elora memberimu seluruh Pantai Timur. Ancaman bagi keluargaku. Jadi, aku akan menghancurkannya."

Dia berjalan di antara aku dan Bianca, mengangkat dagu kami bergantian dengan laras pistol.

"Sekarang kamu harus memilih. Kerajaan bisnis masa depanmu, putri Keluarga Elora ...." Tatapannya beralih padaku, dia menyeringai jahat. "Atau ... hewan peliharaan setiamu yang pernah menahan peluru untukmu?"

Jantungku berdetak kencang, campuran ngeri dan secercah harapan yang memuakkan.

Jangan bodoh, Nora, kataku pada diri sendiri.

Dia sudah memilih Bianca. Dia memilih kesepakatan itu. Kamu sudah melihat betapa kejamnya dia.

Namun, semua kenangan itu, lima tahun itu, caranya mengecup bekas lukaku, dan tatapan matanya saat memasangkan cincin itu ....

Semuanya berputar di kepalaku, menolak untuk menghilang.

Bagaimana jika ... bagaimana jika ... di hatinya, aku berbeda?

Aku menggigit bibir begitu keras sampai berdarah. Aku tidak akan menangis, aku tidak akan memohon. Aku menunggu kata-katanya menjadi vonis terakhirku. Aku berharap ... dan aku ketakutan.

"Lepaskan mereka berdua." Suara Damon tegas dan mantap. "Jalur senjata Wesa. Dermaga Noren. Semuanya milikmu."

Itu harga yang tak pernah dia tawarkan pada siapa pun.

Jantungku berdetak kencang.

Sebelum Viktor sempat menjawab, Bianca menjerit histeris. "Damon! Apa yang kamu katakan?!" teriaknya ke ponsel. "Kita berdua? Ini pilihan! Kamu mempertaruhkan kesepakatan keluarga kita demi dia?"

"Diam, Bianca." Suara Damon dingin. "Aku yang menangani ini."

"Menangani?" Dia tertawa keras, nyaris gila. "Kamu sedang ragu! Kamu ragu demi seekor hewan peliharaan sialan! Damon, biar kuingatkan, ayahku ada di telepon ini. Seluruh keluargaku menyaksikan apa yang kamu lakukan."

Kata-katanya seperti air es, memadamkan nyala kecil harapan di dadaku.

"Hari ini, kamu harus memilih antara aku dan aliansi kita ...." Dia berhenti sejenak, kata-katanya kejam. "Atau kamu berperang dengan Keluarga Elora demi jalang kecil itu. Lihat apa yang tersisa darimu setelah kami pergi."

"Dengar itu, Damon?" Viktor tertawa, menikmati setiap detiknya. "Tunanganmu jauh lebih tangguh darimu. Aku akan mulai menghitung. Kalau kamu nggak memilih, aku yang memilih. Mereka berdua jatuh."

"Satu!"

Napasku seakan-akan berhenti.

"Dua!"

Senyum gila penuh kemenangan merekah di wajah Bianca. Aku bisa melihat semuanya di kepalaku. Damon yang di seberang sana, moncong pistol Viktor di kepalanya, dan pisau Bianca dan seluruh keluarganya di punggungnya.

Dia terjebak. Tak ada jalan keluar.

Secercah harapanku yang menyedihkan itu pun akhirnya menjadi abu.

"Aku memilih Bianca."

Kata-kata itu keluar tepat sebelum Viktor menyebut "tiga". Suara Damon mantap tetapi patah, seperti suara orang yang sudah kalah.

"Bagus." Viktor menyeringai. "Pilihan yang bijak."

Bianca menatapku dengan jijik.

Viktor mengangkat pistolnya, membidik tali di atas kepalaku.

"Jangan!" teriak Damon dari ponsel, kepanikan yang belum pernah kudengar. "Tunggu! Aku akan tambah lagi! Viktor!"

"Maaf. Permainan selesai," kata Viktor, lalu menarik pelatuk.

Dor!

Peluru itu merobek tali dan menggores lenganku. Rasa perih menyengat bercampur dengan sensasi jatuh yang membuatku mual.

Kemudian, air dingin menelanku utuh-utuh. Aku tenggelam. Paru-paruku serasa terbakar. Pandanganku mulai mengabur.

'Lebih baik begini,' pikirku.

Damon. Sekarang kita impas.

Tepat saat aku hendak menyerah, sebuah tangan kuat meraihku. Seseorang menarikku ke atas. Begitu kepalaku menembus permukaan, aku terengah-engah menghirup udara.

"Nggak apa-apa. Kamu aman sekarang." Sebuah suara beraksen Rasia berbisik di telingaku.

Ternyata itu Liam. Dia menepati janjinya.

Perahu motor membelah ombak. Aku meringkuk di kabin, basah kuyup dan berdarah.

Namun, bukan luka di lenganku yang paling menyakitkan, melainkan hatiku. Hati yang berdetak untuk Damon selama lima tahun perlahan sekarat.

"Menangislah," kata Liam sambil menyelimuti bahuku dengan handuk. "Itu akan membuatmu lebih lega."

"Aku nggak akan menangis untuknya," kataku, suaraku serak. "Dia nggak layak."

Namun, aku tetap menangis.

Dokter pribadi Liam membersihkan lukaku. Peluru itu merobek tepat di bekas luka yang kudapat saat pertama kali menyelamatkan Damon.

Aku mengambil pisau bedah dari nampan di sampingku dan mengarahkannya ke luka itu.

"Apa yang kamu lakukan?" Liam mencengkeram pergelangan tanganku.

"Mengeluarkannya dari dalam diriku," kataku dingin. "Dia memasang pelacak di tubuhku dua tahun lalu."

"Lakukan satu hal untukku," kataku pada Liam, mataku tenang dan mati. "Letakkan ini di meja kerja Damon. Pengingat hari jadi kami. Hari kami bertemu. Hari yang sudah lama dia lupakan."

"Mulai malam ini," tambahku. "Nora sudah mati."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 9

    Sudut Pandang Nora:Aku tahu siapa pengirimnya.Tidak ada orang lain yang pernah melihat lukisan aslinya dari jarak sedekat itu. Tidak ada orang lain yang tahu apa arti lukisan itu bagiku.Aku tidak membakarnya. Sebaliknya, aku menyimpannya dengan hati-hati, bukan karena aku terharu, melainkan karena itu adalah sebuah pengingat.Tak peduli sesempurna apa pun salinannya, itu tak akan pernah menjadi yang asli. Sama seperti kami. Kami tak akan pernah bisa kembali.Selama setahun berikutnya, hadiah-hadiah itu terus berdatangan. Perhiasan, lukisan-lukisan ternama, barang antik, bahkan sebuah galeri seni utuh.Masing-masing bernilai fantastis. Masing-masing kukirim kembali tanpa pernah dibuka. Yang tak bisa kukembalikan, kubakar.Di taman, aku membuat api unggun dari surat-suratnya. Api menerangi langit malam. Sebuah kremasi bagi gadis yang dulu pernah menjadi diriku."Membakar masa lalu lagi?" tanya Liam, memelukku dari belakang."Nggak," jawabku sambil menyandarkan tubuh ke dadanya. "Aku c

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 8

    Sudut Pandang Damon:"Damon!" Bianca berlari keluar. "Kamu ... kamu akhirnya datang. Aku tahu kamu nggak akan membiarkan perempuan jalang itu ...."Dia mengenakan jubah sutra putih, rambutnya berantakan. Jelas baru bangun dari tempat tidur.Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya mengangkat pistol dan mengarahkannya tepat ke kepalanya."Berlutut.""Apa?" Bianca terpaku di tempat. "Damon, kamu gila?""Aku bilang, berlutut!"Letusan senjata memekakkan telinga. Peluru itu hanya menggores telinganya sebelum menancap ke dinding di belakangnya.Bianca menjerit dan ambruk ke lantai."Aku tahu segalanya tentang kamu dan Viktor," kataku sambil melangkah mendekat. "Perselingkuhan tiga tahun itu. Penculikan palsu. Rencana untuk membunuh Nora.""Aku ... aku nggak tahu apa yang kamu bicarakan ....""Masih pura-pura?" Aku menyeringai dingin sambil memutar rekaman di ponselku.Suara Bianca sendiri menggema di ruang tamu."Viktor, ikuti rencana. Lebih baik kalau perempuan jalang itu mati. Tapi kalau tern

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 7

    Sudut Pandang Damon:Delapan belas jam kemudian, aku berdiri di depan kediaman Keluarga Valdana di luar Moska.Salju turun tanpa henti. Suhu mencapai -20 derajat Celsius.Aku tidak merasakan dinginnya. Api di perutku cukup panas untuk melelehkan tanah beku sialan ini."Damon Vindaya," ujar salah satu penjaga Rasia dalam bahasa negaraku dengan sempurna. "Pak Liam sudah menunggumu."Alih-alih menjawab, aku hanya mengikuti mereka masuk.Tempat itu seperti benteng, kastel dari es dan batu. Aku tidak datang untuk berkeliling. Aku datang untuk merebut kembali apa yang menjadi milikku.Di aula utama, Liam duduk di sofa kulit, segelas vodka di tangannya. Rambutnya pirang, matanya biru. Setelan hitam yang dijahit sempurna membungkus tubuhnya yang proporsional.Namun, Nora tidak ada."Di mana Nora?" Aku langsung ke intinya."Pak Damon," kata Liam tenang sambil meletakkan gelasnya. "Kamu datang jauh-jauh. Nggak mau minum dulu?""Aku nggak datang untuk basa-basi." Aku menarik pistol. "Serahkan dia

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 6

    Sudut Pandang Damon:Di ruang kerjaku?Aku langsung berdiri, mataku menyapu setiap sudut ruangan."Di mana tepatnya?""Aku ... aku nggak tahu. Sinyalnya menunjukkan posisinya tepat di atasmu, Bos."Kali ini aku benar-benar membongkar seluruh ruangan. Meja kerja, lemari arsip, rak buku. Setiap jengkal kucari.Sepuluh menit kemudian, aku berdiri di depan brankas yang tersembunyi di balik panel dinding. Jariku gemetar saat memasukkan kode.Kodenya 1015. Hari ulang tahunnya.Pintu baja tebal itu terbuka tanpa suara. Isinya kosong. Uang sudah tidak ada. Berkas-berkas lenyap. Bahkan paspornya juga raib.Namun, di rak paling bawah, ada sebuah cip kecil seukuran beras, bernoda darah kering.Cip pelacak yang kutanam di bawah kulitnya. Alat kepemilikan, bukan perlindungan. Hanya dia dan aku yang tahu kode brankas ini.Artinya ...."Dia selamat," ucapku lirih.Rasa lega menghantamku begitu keras sampai lututku nyaris goyah. Kemudian, amarah menyusul.Dia bukan hanya hidup, dia sempat kembali. Ke

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 5

    Sudut pandang Damon:Aku berhasil membawa Bianca kembali. Bayarannya adalah Nora."Kerahkan semua orang!" teriakku pada Marco. "Cari Viktor!"Dua jam kemudian, kawasan dermaga berubah jadi lautan api.Satu per satu, semua markas Keluarga Kastan di Kota Yana kubakar habis.Aku mematahkan leher Viktor dengan tanganku sendiri, menatap nyawanya lenyap perlahan dari matanya.Kepuasan balas dendam itu hanya bertahan beberapa menit. Begitu asap menipis, amarah ikut memudar, menyisakan kekosongan di tempat jantungku seharusnya berada."Marco," kataku sambil menyeka darah dari tangan. "Kirim orang untuk mencari Nora.""Baik, Bos.""Pakai semua sumber daya. Rumah sakit, kamar jenazah, tim SAR." Suaraku bergetar. "Temukan dia."Hari pertama. Tidak ada apa-apa."Bos, kami sudah menyisir radius 80 kilometer sepanjang pantai," lapor Marco hati-hati. "Nggak ada tanda-tanda Bu Nora.""Terus cari.""Baik, Bos."Aku duduk di kantor dengan sebotol wiski yang tak sanggup kuminum. Setiap kali memejamkan ma

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 4

    Pesta itu berakhir hampir tengah malam."Nora, antar kami ke dermaga," kata Bianca sambil bergelayut di lengan Damon. Suaranya sarat perintah penuh kepuasan. "Aku ingin merasakan angin laut bersama Damon. Membicarakan bulan madu kami. Bertiga saja."Damon tidak membantah. Seulas kerutan melintas di wajahnya, nyaris tak terlihat. Kemudian, dia mengangguk.Tanganku gemetar menggenggam kunci mobil. "Sudah larut," kataku kaku. "Pelabuhan nggak aman.""Apa? Kamu mempertanyakan keputusanku?" Damon akhirnya menoleh padaku, matanya sedingin es. "Atau asistenku tiba-tiba nggak mampu melakukan tugas sederhana seperti menyetir?"Aku memejamkan mata, menelan kata-kata, amarah, segalanya."Aku ambil mobilnya dulu."Malam di pelabuhan sangat sunyi. Tak ada apa pun selain debur ombak yang menghantam pantai dan bunyi klakson rendah kapal kargo di kejauhan.Aku memarkir mobil dekat titik pandang, memperhatikan lewat kaca spion saat Bianca meringkuk manja di pelukan Damon."Indah sekali," katanya, senga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status