Share

Bab 3

Penulis: Crystal K
Rumah aman itu berada di sebuah bangunan tua di Kota Naya.

Aku membuka pintu itu dengan sidik jariku.

Damon duduk di sofa. Tak disangka, dia benar-benar terluka. Bahu kirinya dibalut perban secara asal-asalan. Darah sudah merembes menembus kain kasa putih itu.

"Kali ini ulah siapa?" tanyaku sambil mengeluarkan kotak P3K.

"Anak ingusan dari Keluarga Kastan," gerutunya. "Merasa bisa mengusik wilayahku."

Aku menggunting kemejanya. Pelurunya hanya menggores tulang belikatnya. Tidak dalam, tetapi tetap perlu dijahit.

Otot Damon menegang saat jarum menembus kulitnya. Rasa sakit selalu membuatnya lebih berbahaya, seperti hewan terluka. Dua belas jahitan kemudian, saat aku hendak membalut lukanya, dia menarikku ke pangkuannya, membungkam mulutku dengan ciuman kasar. Setiap dorongan adalah klaim. Milikku. Milikku. Milikku.

Namun, yang kurasakan hanya lelah.

Setelah selesai, dia memelukku, dagunya bertumpu di bahuku. Jarinya memainkan cincin Hati Sisila di jari manisku.

Cincin garnet merah darah itu sudah berusia ratusan tahun, simbol Nyonya Keluarga Vindaya.

Dua tahun lalu, setelah aku menerima peluru yang seharusnya menembus jantungnya, dia berlutut dan memasangkan cincin itu ke jariku dengan tangannya sendiri.

"Kamu melindungi jantungku, Nora," katanya saat itu. "Sekarang, biarkan cincin ini melindungimu."

Aku pikir itu berarti dia menerimaku. Bahwa akhirnya aku bisa berdiri di sisinya, selamanya.

"Kedatangan Bianca hari ini itu atas inisiatifnya sendiri, tapi kamu menanganinya dengan baik," katanya akhirnya. "Besok malam, saat makan malam keluarga, dia akan duduk di sebelahku."

"Aku tahu." Aku memejamkan mata.

Dia terdiam. Jarinya melepaskan cincin itu dan nadanya berubah sedingin es. "Lepaskan cincin itu dan kembalikan ke ruang kerjaku."

Jantungku seakan-akan berhenti. "Kenapa?"

"Bianca nggak akan suka melihatmu memakainya."

Dia melepaskanku dan berdiri, menatapku dari atas. "Cincin itu melambangkan Keluarga Vindaya. Itu milik ratu masa depan keluarga ini. Bukan kamu."

Malam berikutnya, kediaman Keluarga Vindaya bercahaya seperti istana.

Aku tidak melepasnya.

Hati Sisila masih melingkar di jari manisku. Sebuah pembangkangan terakhir secara diam-diam. Mengenakan gaun malam hitam sederhana, aku berdiri di sudut ruang makan.

Dulu aku duduk di sisi kanan Damon, dihormati oleh para pengawal lama keluarga. Malam ini, kursi itu milik Bianca.

"Untuk calon Nyonya Keluarga Vindaya!" seru seorang senior bernama Marcel sambil mengangkat gelas.

Bianca tersenyum anggun.

"Terima kasih atas restu kalian semua," katanya manja. "Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga nama Keluarga Vindaya."

"Tapi bisnis pelayaran setelah pernikahan itulah hadiah sesungguhnya," kata Anton, salah satu wakil bos, di sela isapan cerutunya. "Keluarga Elora menguasai 40 persen pelabuhan Pantai Timur."

"Tepat sekali. Kesepakatan ini akan melipatgandakan kekuatan kita."

"Kalian boleh menyimpan gadis itu," ujar Sebastian, pria tua lainnya, sambil melirikku dengan jijik. "Dia berguna. Cantik dan cocok untuk urusan kotor."

Tawa rendah bergema di ruangan.

Pipiku terasa panas, tetapi wajahku tetap datar. Semua mata beralih ke Damon, menunggu reaksinya.

"Kalian terlalu baik," katanya terkekeh. "Dia cuma hewan peliharaan. Nggak akan mengganggu Bianca."

Saat itulah pandangan para pria tua itu tertuju pada cincin di jariku.

Bianca melangkah lebih dekat ke Damon. Dia mengelus tangan Damon dan berbicara manja, "Sayang, aku dengar Keluarga Vindaya punya pusaka yang diwariskan selama seratus tahun. Hati Sisila. Katanya hanya ratu sejati yang boleh memakainya. Aku boleh melihatnya malam ini?"

Pandangan Damon beralih dari aku ke Bianca.

Kemudian, dia berdiri dan berjalan menghampiriku. Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengulurkan tangan, sorot matanya menyuruhku melepaskannya sendiri.

Tanganku gemetar. Cincin itu terasa seperti menyatu dengan dagingku. Tidak mau bergerak. Aku menatapnya, permohonan terakhir yang hanya terucap lewat mata.

Kesabaran Damon pun habis. Dia meraih tanganku dan merenggut cincin itu dari jariku. Ukurannya pas. Kulit di buku jariku terkelupas, meninggalkan garis merah berdarah.

Dia bahkan tidak melirik lukaku. Dia hanya membawa cincin itu, kembali ke kursinya, dan menyeka darahku dari permata itu dengan serbetnya. Seolah-olah aku itu kotoran.

Kemudian, dengan sepenuh hati, dia memasangkan Hati Sisila ke jari Bianca.

"Sekarang, cincin ini kembali ke pemiliknya yang sejati."

Bianca mengangkat tangannya, menatapku dengan kemenangan mutlak.

Aku menggenggam jariku yang berdarah, menyaksikan cincin itu berkilau di tangan wanita lain.

Lima tahun keyakinanku, medali yang kudapat dengan mempertaruhkan nyawaku, berubah menjadi lelucon.

Aku tidak menangis. Aku tidak runtuh. Di tengah perayaan, aku mengambil segelas sampanye dan melangkah perlahan ke arah Damon.

Saat semua orang menatap dalam keheningan terkejut, aku mengangkat gelasku dan tersenyum. Suaraku tenang.

"Selamat, Bos. Dan untukmu juga, Bu Bianca. Selamat atas ... pusaka turunan yang begitu bermakna."

Aku meneguk sampanye itu dalam sekali minum, meletakkan gelas kosong dengan lembut di meja, lalu berbalik pergi.

Saat aku hampir mencapai pintu, Marco, asisten Damon, menghentikanku. "Bu Nora," katanya pelan. "Bos ingin kamu mengantarnya dan Bu Bianca kembali ke kediaman Keluarga Elora setelah makan malam."

Aku menatap Marco, wajahku datar.

"Mobil yang mana?"

"Maserati merah, Bu."

Aku mengangguk. Hewan peliharaan yang baik tahu kapan dia sedang dihukum.

Kamu mungkin tidak akan mengingat ini besok, Damon. Namun, aku akan mengingatnya. Setelah aku mengantarkan hadiah terakhirmu, aku akan pergi selamanya.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 9

    Sudut Pandang Nora:Aku tahu siapa pengirimnya.Tidak ada orang lain yang pernah melihat lukisan aslinya dari jarak sedekat itu. Tidak ada orang lain yang tahu apa arti lukisan itu bagiku.Aku tidak membakarnya. Sebaliknya, aku menyimpannya dengan hati-hati, bukan karena aku terharu, melainkan karena itu adalah sebuah pengingat.Tak peduli sesempurna apa pun salinannya, itu tak akan pernah menjadi yang asli. Sama seperti kami. Kami tak akan pernah bisa kembali.Selama setahun berikutnya, hadiah-hadiah itu terus berdatangan. Perhiasan, lukisan-lukisan ternama, barang antik, bahkan sebuah galeri seni utuh.Masing-masing bernilai fantastis. Masing-masing kukirim kembali tanpa pernah dibuka. Yang tak bisa kukembalikan, kubakar.Di taman, aku membuat api unggun dari surat-suratnya. Api menerangi langit malam. Sebuah kremasi bagi gadis yang dulu pernah menjadi diriku."Membakar masa lalu lagi?" tanya Liam, memelukku dari belakang."Nggak," jawabku sambil menyandarkan tubuh ke dadanya. "Aku c

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 8

    Sudut Pandang Damon:"Damon!" Bianca berlari keluar. "Kamu ... kamu akhirnya datang. Aku tahu kamu nggak akan membiarkan perempuan jalang itu ...."Dia mengenakan jubah sutra putih, rambutnya berantakan. Jelas baru bangun dari tempat tidur.Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya mengangkat pistol dan mengarahkannya tepat ke kepalanya."Berlutut.""Apa?" Bianca terpaku di tempat. "Damon, kamu gila?""Aku bilang, berlutut!"Letusan senjata memekakkan telinga. Peluru itu hanya menggores telinganya sebelum menancap ke dinding di belakangnya.Bianca menjerit dan ambruk ke lantai."Aku tahu segalanya tentang kamu dan Viktor," kataku sambil melangkah mendekat. "Perselingkuhan tiga tahun itu. Penculikan palsu. Rencana untuk membunuh Nora.""Aku ... aku nggak tahu apa yang kamu bicarakan ....""Masih pura-pura?" Aku menyeringai dingin sambil memutar rekaman di ponselku.Suara Bianca sendiri menggema di ruang tamu."Viktor, ikuti rencana. Lebih baik kalau perempuan jalang itu mati. Tapi kalau tern

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 7

    Sudut Pandang Damon:Delapan belas jam kemudian, aku berdiri di depan kediaman Keluarga Valdana di luar Moska.Salju turun tanpa henti. Suhu mencapai -20 derajat Celsius.Aku tidak merasakan dinginnya. Api di perutku cukup panas untuk melelehkan tanah beku sialan ini."Damon Vindaya," ujar salah satu penjaga Rasia dalam bahasa negaraku dengan sempurna. "Pak Liam sudah menunggumu."Alih-alih menjawab, aku hanya mengikuti mereka masuk.Tempat itu seperti benteng, kastel dari es dan batu. Aku tidak datang untuk berkeliling. Aku datang untuk merebut kembali apa yang menjadi milikku.Di aula utama, Liam duduk di sofa kulit, segelas vodka di tangannya. Rambutnya pirang, matanya biru. Setelan hitam yang dijahit sempurna membungkus tubuhnya yang proporsional.Namun, Nora tidak ada."Di mana Nora?" Aku langsung ke intinya."Pak Damon," kata Liam tenang sambil meletakkan gelasnya. "Kamu datang jauh-jauh. Nggak mau minum dulu?""Aku nggak datang untuk basa-basi." Aku menarik pistol. "Serahkan dia

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 6

    Sudut Pandang Damon:Di ruang kerjaku?Aku langsung berdiri, mataku menyapu setiap sudut ruangan."Di mana tepatnya?""Aku ... aku nggak tahu. Sinyalnya menunjukkan posisinya tepat di atasmu, Bos."Kali ini aku benar-benar membongkar seluruh ruangan. Meja kerja, lemari arsip, rak buku. Setiap jengkal kucari.Sepuluh menit kemudian, aku berdiri di depan brankas yang tersembunyi di balik panel dinding. Jariku gemetar saat memasukkan kode.Kodenya 1015. Hari ulang tahunnya.Pintu baja tebal itu terbuka tanpa suara. Isinya kosong. Uang sudah tidak ada. Berkas-berkas lenyap. Bahkan paspornya juga raib.Namun, di rak paling bawah, ada sebuah cip kecil seukuran beras, bernoda darah kering.Cip pelacak yang kutanam di bawah kulitnya. Alat kepemilikan, bukan perlindungan. Hanya dia dan aku yang tahu kode brankas ini.Artinya ...."Dia selamat," ucapku lirih.Rasa lega menghantamku begitu keras sampai lututku nyaris goyah. Kemudian, amarah menyusul.Dia bukan hanya hidup, dia sempat kembali. Ke

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 5

    Sudut pandang Damon:Aku berhasil membawa Bianca kembali. Bayarannya adalah Nora."Kerahkan semua orang!" teriakku pada Marco. "Cari Viktor!"Dua jam kemudian, kawasan dermaga berubah jadi lautan api.Satu per satu, semua markas Keluarga Kastan di Kota Yana kubakar habis.Aku mematahkan leher Viktor dengan tanganku sendiri, menatap nyawanya lenyap perlahan dari matanya.Kepuasan balas dendam itu hanya bertahan beberapa menit. Begitu asap menipis, amarah ikut memudar, menyisakan kekosongan di tempat jantungku seharusnya berada."Marco," kataku sambil menyeka darah dari tangan. "Kirim orang untuk mencari Nora.""Baik, Bos.""Pakai semua sumber daya. Rumah sakit, kamar jenazah, tim SAR." Suaraku bergetar. "Temukan dia."Hari pertama. Tidak ada apa-apa."Bos, kami sudah menyisir radius 80 kilometer sepanjang pantai," lapor Marco hati-hati. "Nggak ada tanda-tanda Bu Nora.""Terus cari.""Baik, Bos."Aku duduk di kantor dengan sebotol wiski yang tak sanggup kuminum. Setiap kali memejamkan ma

  • Bukan Lagi Wanita yang Bisa Dimanipulasi   Bab 4

    Pesta itu berakhir hampir tengah malam."Nora, antar kami ke dermaga," kata Bianca sambil bergelayut di lengan Damon. Suaranya sarat perintah penuh kepuasan. "Aku ingin merasakan angin laut bersama Damon. Membicarakan bulan madu kami. Bertiga saja."Damon tidak membantah. Seulas kerutan melintas di wajahnya, nyaris tak terlihat. Kemudian, dia mengangguk.Tanganku gemetar menggenggam kunci mobil. "Sudah larut," kataku kaku. "Pelabuhan nggak aman.""Apa? Kamu mempertanyakan keputusanku?" Damon akhirnya menoleh padaku, matanya sedingin es. "Atau asistenku tiba-tiba nggak mampu melakukan tugas sederhana seperti menyetir?"Aku memejamkan mata, menelan kata-kata, amarah, segalanya."Aku ambil mobilnya dulu."Malam di pelabuhan sangat sunyi. Tak ada apa pun selain debur ombak yang menghantam pantai dan bunyi klakson rendah kapal kargo di kejauhan.Aku memarkir mobil dekat titik pandang, memperhatikan lewat kaca spion saat Bianca meringkuk manja di pelukan Damon."Indah sekali," katanya, senga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status