แชร์

Bab 102

ผู้เขียน: Ayesha
Tak lama setelah Devina pergi, dari luar terdengar suara seorang wanita yang terdengar cemas bertanya, "Permisi, apakah Nona Devina ada di sini?"

Brielle menoleh ke arah pintu. Seorang gadis berdiri di sana sambil memeluk sebuket besar bunga mawar. Sepertinya menyadari suasana di dalam ruangan tidak begitu baik, gadis itu buru-buru tersenyum dan berkata, "Maaf, mengganggu."

Setelah itu, dia pun pergi sambil tetap memeluk buket mawar tersebut.

Brielle tidak perlu menebak untuk tahu siapa pengirim
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (4)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
sukur dah Anya jg ga mau disana...mmg punya laki bego ga bs diandalkan....asik2 selingkuh...malah berduaan sama pelakor diruang istirahat...ga salah sih brielle minta pisah...jgn nyesel aja nanti
goodnovel comment avatar
Lianzzah
mm emang enak pinter.. anak mama ya'
goodnovel comment avatar
Noor Natifah
syukurlah, Anya juga pengen keluar.....
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1515

    "Dua barang antik yang kubeli dari balai lelang. Nenek pasti suka," kata Raka.Brielle sedikit tertegun.Kalau barang yang diperoleh melalui balai lelang, nilainya pasti bukan jumlah yang kecil. Menurutnya, hadiah itu benar-benar menunjukkan ketulusan hati.Namun ketika teringat Raka memberikan hadiah bernilai puluhan miliar, sementara dia hanya mengajaknya makan sekali, rasanya Raka benar-benar rugi."Aku tetap akan mentransfer uang ...."Brielle tidak menyangka tanpa sadar telah berutang budi sebesar ini kepadanya. Raka meliriknya melalui kaca spion, lalu tersenyum sambil menggeleng. "Kalau kamu masih merasa nggak enak hati, ajak saja aku makan beberapa kali lagi."Brielle terdiam sejenak. Nada bicara Raka terdengar seperti bercanda, tetapi juga menyiratkan kesungguhan. Jelas sekali dia sedang memberi Brielle jalan keluar.Brielle menggigit bibirnya pelan. Dia tahu, kalau terus berdebat, hasilnya juga tidak akan berubah. Malah hanya akan membuatnya terlihat terlalu kaku. Dia menunduk

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1514

    Ucapan itu langsung membuat Raka tertawa geli sekaligus merasa tak berdaya."Haruskah kita menghitung semuanya sejelas ini?"Brielle menggigit bibirnya pelan. Bukannya dia tidak tahu Raka tidak kekurangan uang, tetapi dia juga tidak bisa menerima kebaikan Raka begitu saja. Selama tiga tahun terakhir, dia sudah terbiasa bersikap seperti itu. Dalam segala hal, tanpa sadar dia selalu ingin menjaga batas yang jelas."Bukan ingin menghitung semuanya, aku hanya nggak ingin membuatmu mengeluarkan biaya. Lagian, ini hadiah ulang tahun untuk Nenek," jawab Brielle dengan suara tegas.Raka melangkah mendekat dua langkah, memperpendek jarak di antara mereka.Tubuhnya yang tinggi menjulang membuat cahaya lampu di belakangnya memantulkan bayangan samar yang seolah menyelimuti Brielle."Jadi kamu benar-benar ingin menghitung semuanya sejelas itu?" Suaranya terdengar semakin rendah.Brielle mengangkat kepala dan menatap matanya. Sesaat dia tidak menemukan alasan untuk membalas. Namun tetap saja, membe

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1513

    Ucapan polos Anya itu menimbulkan riak di hati semua orang yang berada di ruang VIP.Ketiga orang yang duduk di sana serempak mengalihkan pandangan kepada Brielle dan Raka.Wajah Brielle langsung memerah. Kulitnya memang putih, sehingga rona merah di pipinya tampak semakin jelas di balik gaun berwarna sampanye yang dikenakannya.Raka tertawa pelan. Dia berjongkok, lalu mengusap kepala kecil putrinya. "Benarkah?""Iya! Mama cantik sekali, Papa ganteng sekali." Anya lalu bertanya dengan rasa penasaran, "Kalau begitu, kapan Papa dan Mama akan menikah lagi?"Begitu kalimat itu keluar, semua orang kembali terdiam."Anya," kata Brielle akhirnya. Dia berusaha mengalihkan rasa penasaran putrinya. "Lapar nggak? Temani Mama makan, ya."Raline melirik kakaknya, lalu diam-diam memberi isyarat menyemangati dengan tangannya.Raka hanya memperlihatkan senyum tak berdaya tetapi penuh kasih sayang. Dia berkata kepada putrinya, "Mama sudah lapar. Kita temani Mama makan dulu, ya?""Baik!" Anya mengangguk

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1512

    Saat itu, sebuah tangan mengambil tasnya, lalu mengulurkan lengannya kepada Brielle."Perlu pegangan?"Brielle awalnya ingin berkata tidak perlu, tetapi urung mengucapkannya. Dia pun mengulurkan tangan dan menggenggam lengan Raka sebagai tumpuan.Gerakan sederhana itu membuat jantung Raka berdebar kencang, lalu segera dipenuhi rasa bahagia yang luar biasa. Dia sedikit mengencangkan lengannya. Saat ini, dia sama sekali tidak peduli apakah mereka akan terlambat atau tidak. Dia justru berharap jarak menuju mobilnya bisa sedikit lebih jauh.Namun, jaraknya hanya sekitar 15 meter, dan mereka pun tiba di samping mobil.Dengan sopan, Raka membukakan pintu mobil. Brielle sedikit membungkuk untuk masuk ke dalam, sementara tangan Raka yang semula melindungi kepalanya dari kusen pintu perlahan ditarik kembali.Pada saat yang sama, dia menyerahkan tas Brielle kepadanya. Brielle menerimanya, lalu melirik waktu. Hari sudah hampir pukul tujuh malam. Langit benar-benar gelap dan lampu-lampu kota baru

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1511

    Brielle terus melihat isi pesan itu. Ternyata Raka sempat bertanya apakah dia perlu menjemputnya, lalu memutuskan untuk datang sendiri. Saat ini dia juga hampir tiba.[ Brielle: Nggak usah, aku nyetir sendiri ke sana. ]Brielle menunggu beberapa saat, tetapi tidak mendapat balasan dari Raka. Dia pun mengambil tasnya dan keluar.Begitu melangkah keluar dari lobi gedung laboratorium, sosok pria tinggi yang disinari cahaya matahari senja sudah berdiri di luar.Siapa lagi kalau bukan Raka?Staf resepsionis segera menghampiri untuk menyambutnya, "Pak Raka, Anda sudah datang.""Aku datang untuk menjemput Dokter Brielle," jawab Raka dengan senang hati. Tatapannya tertuju pada Brielle saat dia bertanya penuh perhatian, "Sudah selesai?""Ya, baru saja selesai." Brielle mengangguk, lalu berkata dengan sedikit rasa bersalah, "Maaf, aku lupa melihat waktu."Raka hanya tersenyum."Nggak apa-apa. Pekerjaan lebih penting. Ayo."Begitu mereka berdua pergi, area resepsionis langsung ramai oleh obrolan.

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1510

    "Ayahmu cuma diskusi denganku soal penelitiannya. Aku juga nggak banyak tanya. Lagi pula, dengan pengaruh ayahmu saat itu, bukan hal yang sulit baginya untuk mendapat pendanaan."Setelah berkata demikian, Derrick kembali melanjutkan, "Kurasa alasan ayahmu menyetujui kamu keluar dari universitas dan menikah dengan Raka saat itu juga karena beliau berpikir, kalau suatu hari nanti benar-benar terjadi sesuatu padamu, Raka akan meneruskan penelitian itu untuk menyelamatkanmu. Namanya kalian suami istri ""Mungkin perkataanku ini terdengar kurang enak didengar, tapi sebagai orang tua, mereka selalu ingin menyiapkan jalan terbaik untuk masa depan anaknya."Mendengar itu, mata Brielle kembali memanas. Dia bisa membayangkan kecemasan dan pengorbanan ayahnya saat itu."Bisa dibilang, ayahmu telah mencarikanmu keluarga yang bisa menjadi tempatmu bersandar di masa depan," ucap Derrick dengan jujur.Brielle menarik napas pelan. "Aku ngerti niat baik ayahku.""Itu sebabnya, ketika aku dengar kalian

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 732

    Setelah rapat berakhir, Brielle baru saja merapikan dokumen dan bersiap pergi ketika Gavin melangkah cepat mendekat. "Bu Brielle, Pak Raka meminta Anda datang ke kantornya sebentar."Brielle mengernyit. "Ada urusan apa?""Pak Raka hanya menyampaikan agar Anda datang ke sana."Brielle mengatupkan bib

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 717

    "Ke depannya, jangan sembarangan sentuh barang-barangku." Suara Raka terdengar sebagai peringatan.Meskipun tidak sampai berteriak, sejak kecil Raline belum pernah menerima ucapan keras dari kakaknya. Di telinganya, itu sama saja seperti dibentak. Rasa sedih langsung meluap. "Oke, aku nggak akan sen

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 730

    Brielle menutup pintu, lalu menelepon Frederick, menyampaikan apa yang baru saja dikatakan Raka, serta memintanya menyiapkan rencana penanganan terbaik.Di seberang sana, Frederick juga menghela napas lega. "Aku juga percaya Pak Raka pasti punya cara untuk mengatasinya.""Rapat sore dibatalkan. Kamu

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 716

    "Apa dia mengatakan sesuatu kepadamu sampai-sampai kamu sakit begini?" tanya Raline langsung.Devina tersenyum pahit. "Raline, jangan ditanya lagi. Kata-katanya cukup menyakitkan, lebih baik nggak usah diceritakan.""Aku tetap ingin dengar. Cepat kasih tahu aku." Raline benar-benar ingin tahu sejaha

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status