Share

Bab 1036

Author: Ayesha
"Kamu nggak merasa aku ikut campur terlalu jauh?" Siria bertanya balik.

Jay terdiam beberapa detik. Reaksi Siria jelas bukan marah padanya. Bahkan dia malah mengusulkan untuk mengantar Devina pulang bersama. Hal itu benar-benar di luar dugaannya.

"Siria, kamu benar-benar ... nggak marah sama aku?" Jay kembali memastikan. Bagaimanapun juga, pemandangan di bar tadi mungkin saja membuatnya salah paham.

Ekspresi Siria tetap tenang, matanya tampak jernih dan sadar.

"Kenapa aku harus marah? Kamu dan B
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Iin Iin
jangan iba sama Devina Jay, dia tuh wanita licik..
goodnovel comment avatar
Suryat
semoga sja itu bukan si jay
goodnovel comment avatar
yeni rain
kurasa bisa raka atau asisten raka yg dtang
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1080

    'Lihatlah, Raka. Kamu sudah bersusah payah mengatur agar Brielle ikut terlibat, ingin menggunakan kontrak ini untuk membuktikan keterikatanmu, ingin memperjelas hubungan kita. Tapi hasilnya? Brielle sama sekali nggak peduli!'Sudut bibir Devina kuasa tersenyum. Akhirnya, dia menatap Raka dengan nada mengejek. "Raka, lihat? Meskipun kamu meletakkan bukti hubungan kita di atas meja, dia tetap nggak mau melirik sekali pun. Ngapain juga kamu sok perhatian sendiri?"Raka tiba-tiba menoleh. Matanya menatap dengan tajam sebagai peringatan. "Perhatikan ucapanmu."Devina mengangkat bahu, menunjukkan ekspresi polos. "Aku cuma bicara jujur."Setelah itu, dia menoleh ke Smith. "Doktor, bisa aku bicara dengan Raka secara pribadi?"Smith menatap Raka. Raka tidak memberikan jawaban, tetapi Smith tetap ingin memberi mereka ruang untuk bicara pribadi. Dia pun berdiri dan meninggalkan ruangan.Begitu pintu ruang rapat tertutup, Devina menggeser kursinya, mencoba mendekat ke Raka. Suaranya lembut saat be

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1079

    Smith mengambil tiga salinan kontrak dari samping. Salah satunya diserahkan ke depan Brielle, satu lagi diberikan kepada Devina."Bu Devina, harap tenang. Bukan maksud kami menyulitkan, tapi klausul kontrak ini mengikat kedua belah pihak. Ini adalah klausul yang dulu kamu sendiri ajukan dan bersikeras untuk dimasukkan."Brielle secara refleks meraih kontrak dan mulai membolak-balikkannya. Baru dua halaman dibuka, pandangan yang panas dan mendesak langsung tertuju padanya dari kursi utama.Raka hampir seketika duduk tegak. Matanya terkunci pada jari-jari Brielle yang membolak-balikkan kontrak. Dia seolah-olah sedang menunggu dengan penuh konsentrasi.Sementara itu, Devina menatap kontrak di depannya. Wajahnya langsung memerah. Dia menoleh ke arah Brielle yang sedang membolak-balikkan kontrak. Jantungnya berdebar kencang.Dia tak pernah menyangka, suatu hari kontrak itu akan berada di tangan Brielle, dan Brielle sendiri yang membacanya.Brielle jelas tidak tertarik pada kontrak ini. Deng

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1078

    Saat Smith keluar untuk menelepon, dia melihat Brielle berdiri di lorong. Namun, dia sudah menekan nomor Raka."Halo, Pak Raka, bisa datang ke laboratorium sebentar? Bu Devina menuntut untuk membatalkan kontrak, dia bilang ingin bertemu denganmu.""Baik, aku akan menyuruhnya menunggu di sini." Setelah Smith mendapat respons dari sana, dia menoleh ke Brielle. "Brielle, Bu Devina ada di dalam. Dia ingin membicarakan soal pembatalan kontrak."Brielle mengangguk, menoleh ke Raline. "Kamu kembali ke kamar untuk istirahat saja. Nggak usah ikut campur urusan di sini."Raline menggigit bibir merahnya. Dia benar-benar ingin masuk dan menegur Devina, tetapi perkataan Brielle membuatnya tidak bisa menolak. Jadi, dia menahan emosinya dan berbalik pergi.Dua puluh menit kemudian, sosok Raka melangkah masuk dari lobi laboratorium. Dia mengenakan setelan gelap yang pas. Langkahnya mantap, wajahnya dingin, memancarkan aura wibawa seorang penguasa.Smith menyambutnya. "Pak Raka, Bu Devina ada di dalam.

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1077

    Raka membungkuk dan menggendong putrinya, lalu mengulurkan tangan ke arah Brielle. "Kasih aku tasnya. Aku yang antar Anya ke sekolah."Brielle refleks menolak. "Nggak perlu repot-repot. Aku ....""Nggak repot." Raka memotong ucapannya dengan lembut, tetapi juga tidak memberi ruang untuk ditolak. "Kamu sarapan saja yang benar, lalu pergi ke laboratorium.""Mama, biar Papa yang antar aku ya. Aku mau pergi ke sekolah bareng Papa." Anya menatap Brielle dengan mata berbinar. Wajah kecilnya penuh harap.Melihat mata besar putrinya yang berkilau, kata-kata penolakan yang sudah sampai di bibir Brielle berputar sejenak, lalu dia telan kembali."Bilang dadah ke Mama," kata Raka kepada putrinya."Dadah, Mama!" Anya melambaikan tangan dengan gembira.Sementara itu, Gaga masuk ke rumah, mengibaskan ekornya dengan riang ke arah Brielle. Brielle melotot padanya. Dia merasa Raka sedang menggerogoti batasan yang dia tetapkan sedikit demi sedikit. Terutama saat putrinya terlihat semakin bergantung pada

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1076

    [ Kalau begitu, nanti setelah kamu balik, aku traktir makan. ]Brielle membalas.[ Oke, tunggu aku pulang. ]Balasan Niro pun langsung masuk.Brielle kembali ke ruang kerja, meletakkan ponsel di samping, lalu membuka email di komputer untuk membacanya. Senin depan, Meira akan mulai datang untuk menerima suntikan obat. Kondisinya cukup serius, sehingga perlu dievaluasi melalui berbagai data.Sekitar pukul 7 malam, Lastri naik dan berkata, "Nyonya, makan malam sudah siap.""Bi Lastri, tolong panggil Anya ya," kata Brielle. Dia sendiri tidak turun.Lastri tersenyum. "Baik."Setelah berkata demikian, dia masih berdiri di depan pintu seolah-olah ingin mengatakan sesuatu.Brielle mengangkat kepala menatapnya. Dia bisa menebak apa yang ingin Lastri katakan. Dia mengerutkan kening dan berujar, "Nggak perlu mengundangnya."Senyuman Lastri sempat membeku, lalu dia mengangguk. "Baik."Lima menit kemudian, suara Anya terdengar dari ruang tamu di bawah. Brielle pun bangkit dan turun untuk menemani

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1075

    "Heh."Devina menatap dirinya di cermin dan mengeluarkan tawa yang penuh ejekan pada diri sendiri, tapi juga terasa konyol. Namun, dia tidak menyesal. Karena dia sudah mendapatkan jauh lebih banyak dari yang dulu dia dambakan.Uang, sumber daya, pamor, semua itu diberikan oleh Raka. Selama sepuluh tahun ini, selain tidak mendapatkan dirinya, Devina sudah memperoleh semua yang dia inginkan.Kalau begitu, dia akan menunggu dan melihat dengan jelas bagaimana Brielle akan menikah dengan pria lain dengan membawa serta putri dari Raka. Akan tetapi, sepertinya kandidatnya bukan Lambert, melainkan perwira yang bernama Niro itu.Membayangkan Brielle mengenakan gaun pengantin dan menikah dengan pria lain, sementara Raka hanya bisa menyaksikannya ... pada saat itu, ekspresi seperti apa yang akan muncul di wajah Raka? Tidak rela atau sakit hati? Penyesalan atau mati rasa?Devina merasa tidak sabar untuk melihatnya."Saat hari itu tiba, aku pasti akan datang memberi ucapan selamat, Brielle. Mendoak

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 58

    Brielle tertawa dingin. "Kenapa? Harusnya aku yang tanya, kamu ke mana saja beberapa hari ini?"Raka mengusap pelipisnya. "Ke rumah sakit.""Raka, kalau kamu memang sudah nggak mau terusin pernikahan ini, kita bisa cerai," ujar Brielle dengan nada marah yang disengaja.Raka menyipitkan matanya menat

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 105

    Brielle sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata tegas, "Faye, meskipun kamu nggak suka aku, tolong jaga ucapanmu. Hubunganku dengan Kak Harvis murni urusan pekerjaan, bukan hubungan nggak pantas seperti yang kamu tuduhkan."Selesai bicara, dia berbalik untuk pergi."Aku dengar kamu punya ana

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 73

    Saat berjalan di lingkungan Universitas Kedokteran, Faye sering dikelilingi oleh adik-adik kelas. Beberapa bahkan memintanya tanda tangannya. Faye merasa agak canggung, tetapi perasaan dipuja dan dihormati itu tetap menyenangkan baginya.Hanya saja, setiap kali ditanya bagaimana dia menemukan formul

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 42

    Raline benar-benar mulai panik. "Anya, Anya, Bibi minta maaf ya. Bibi juga minta maaf ke Mama kamu, boleh ya? Maaf ya ...."Anya tampaknya tidak menyangka bibinya akan minta maaf dengan begitu rendah hati. Dia berkedip menatap Raline, lalu akhirnya mengangguk pelan. Raline pun menghela napas lega. N

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status