Share

Bab 144

Author: Ayesha
"Faye, kamu nggak apa-apa, 'kan?" Cherlina bertanya dengan penuh perhatian. Bukan cuma dirinya yang merasa tidak puas, hati Faye juga pasti lebih kesal. Bagaimanapun, dia adalah orang yang paling tidak berharap Brielle bisa lulus ujian itu.

"Ujian saja, nggak bisa dijadikan patokan. Masih harus dilihat dari praktik langsung. Nilai ini cuma bisa membuktikan kalau Brielle sudah benar-benar melakukan persiapan," ujar Thoriq, berusaha menenangkan Faye.

"Iya! Nilai itu apa sih? Siapa di antara kita yang bukan lulus dengan susah payah?" tambah Cherlina, meski sebenarnya dia sendiri hanya lulus dengan nilai pas-pasan.

Faye meletakkan iPad, lalu berdiri dan diam-diam keluar dari ruang rapat.

"Cherlina, cepat ikuti dia. Mungkin kali ini Faye benar-benar terpukul," Thoriq memberi isyarat dengan matanya.

Cherlina segera menyusul keluar. Faye langsung menuju kantor Brielle. Belakangan ini Brielle memang sedang sibuk melakukan eksperimen di sana.

Namun begitu sampai di depan pintu kantor Brielle, F
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 715

    Niro bersikeras mengantar Brielle sampai ke depan pintu rumahnya sebelum pergi. Brielle sempat ingin mengajaknya masuk untuk minum teh, tetapi malah ditolak olehnya.Sudah terlalu larut. Niro paham betul soal menjaga batas. Meski dia memang menginginkannya, Niro tidak mau meninggalkan kesan buruk di mata Brielle. Sikapnya yang penuh etika dan tahu diri benar-benar meninggalkan kesan yang sangat baik bagi Brielle."Mama!" Anya langsung berlari memeluknya dan mengangkat wajah mungilnya yang imut sambil berkata, "Mama, aku nggak makan banyak biskuit kok! Cuma satu bungkus kecil saja.""Mm, Mama tahu kamu pasti menepati janji," ujar Brielle sambil berlutut dan mengecup pipi kecilnya.Di samping, Lastri ikut tersenyum. Di bawah didikan Brielle, Anya memang semakin hari semakin mengerti dan patuh. Hanya wajahnya saja yang masih sangat mirip ayahnya, sementara sifatnya semakin lama semakin mirip Brielle.Sepanjang malam, Brielle sempat merasa tegang karena khawatir Raka akan tiba-tiba muncul

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 714

    Keindahan Brielle memang berbeda. Dia bukan tipe wanita ambisius yang agresif. Kelembutannya bagaikan bunga yang tenang, tetapi menyimpan ketajaman. Dia memiliki sebuah kekuatan yang bahkan membuat para pria terpukau.Sejak bertemu dengannya, pandangan Niro seolah tak bisa lagi berpaling. Selama Brielle belum menikah lagi dengan orang lain, Niro akan memperjuangkannya sampai akhir.Sepanjang perjalanan, Brielle berbincang dengannya tentang prinsip dasar riset BCI. Suasananya terasa menyenangkan. Bagi Niro, momen itu justru sangat menggetarkan hati."Temanmu tinggal di kompleks mana? Aku antar dulu," kata Brielle."Nggak perlu. Aku antar kamu dulu, nanti baru keluar lagi dari kompleksmu," Niro tetap bersikeras.Area parkir bawah tanah Cloudwave Residence pun tampak mewah dan terang. Brielle mengarahkan Niro untuk memarkir mobil di tempat parkir unitnya.Niro turun lebih dulu. Brielle baru hendak melepas sabuk pengaman ketika dari sudut matanya dia melihat sebuah sosok yang tinggi dan ra

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 713

    Di seberang sana, panggilan itu baru tersambung beberapa saat kemudian. Devina tidak menunggu Raka berbicara lebih jauh, dia terengah-engah berkata, "Raka, aku hampir pingsan. Tolong aku. Di toilet."Brielle baru saja kembali ke tempat duduknya ketika dia melihat Raka bangkit dari kursinya. Pada saat yang sama, Niro menyerahkan ponsel Brielle yang layarnya menyala.Brielle mengambilnya. Ternyata panggilan dari Lastri. Dia segera keluar dari aula menuju lorong samping yang lebih tenang untuk menjawab."Mama, aku boleh makan sedikit biskuit?" tanya Anya di seberang sana.Brielle tahu Lastri pasti akan memberinya camilan, tetapi Anya selalu meminta izin lebih dulu. Dia tersenyum tipis. "Boleh. Dua keping saja, ya.""Baik, Mama. Aku sayang Mama."Brielle mendengar langkah kaki tergesa di belakangnya, seolah seseorang sedang berlari. Dia refleks menoleh dan melihat dari arah toilet, Raka sedang menggendong Devina dengan langkah cepat ke arahnya.Brielle mendongak dan tatapannya langsung ber

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 712

    Sambil berbicara, Devina buru-buru berkata, "Aku ke toilet sebentar."Saat Devina berdiri, tubuhnya terasa goyah. Dia meninggalkan tempat duduknya dengan satu tangan mengangkat gaun malam berwarna sampanye, tangan lainnya mencengkeram kalung itu dengan erat. Keanggunan yang seharusnya dia miliki lenyap seketika.Seperti seseorang yang melarikan diri dengan panik.Pada saat bersamaan, Brielle juga bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah toilet.Devina nyaris berlari masuk ke toilet. Di depan cermin, wajahnya tampak pucat pasi. Dia berusaha membuka kalung itu, tetapi karena tangannya gemetar, pengaitnya tak kunjung terlepas.Saat itu, seorang tamu wanita datang mencuci tangan dan bertanya, "Nona, perlu bantuan?""Terima kasih, mohon bantuannya," jawab Devina sambil berusaha menenangkan diri dan memaksakan senyum.Wanita itu mendekat dan membantu melepaskan kalungnya, bahkan tak lupa memuji, "Kalungnya cantik sekali.""Terima kasih," jawab Devina dengan suara kaku.Setelah tamu wanita

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 711

    Tak lama kemudian, penampilan pertama dimulai dan seluruh aula pun menjadi hening.Saat memasuki penampilan ketiga, pembawa acara naik ke panggung. "Selanjutnya, mari kita sambut pianis ternama, Nona Devina, yang akan membawakan karya terkenalnya."Di tengah gemuruh tepuk tangan, Devina melangkah naik ke panggung dengan anggun. Dia duduk di depan piano yang berada di tengah panggung, lalu pandangannya menyapu ke arah penonton, tepat ke arah Raka.Dia menarik napas dalam-dalam. Jemari rampingnya mulai menekan tuts piano, alunan nada indah pun mengalir memenuhi aula.Sejak awal, Devina memang bukan sekadar hiasan. Kemampuannya dalam bermain piano memang patut diakui. Sejak mengenal Raka, dia berusaha keras menjadikan dirinya wanita yang pantas berdiri di sisi Raka.Dia bergadang berlatih piano, memaksa dirinya terus berkembang. Semua itu karena Raka bagaikan sosok yang tinggi tak terjangkau baginya.Di bawah sorotan lampu, gaun sampanye yang dikenakannya berpadu dengan kilau berlian mera

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 710

    Di seberang sana, Jay malah balik bertanya, "Kenapa kamu jadi tertarik sekali sama dia?""Cemburu, ya? Aku cuma melihat dia bersama Brielle, jadi penasaran saja," balas Devina. Setelah itu, dia kembali mengirim sebuah foto lain, memperlihatkan Brielle duduk berdampingan dengan pria tersebut."Aku nggak kenal orang ini," jawab Jay apa adanya."Kalau begitu, kirimkan ke Lambert. Tanya dia kenal nggak," lanjut Devina."Itu kurang pantas, 'kan? Bisa melukai perasaan Lambert," Jay sedikit ragu."Justru bagus supaya Lambert bisa melihat dengan jelas seperti apa Brielle sebenarnya. Itu demi kebaikannya," balas Devina. Di dalam hatinya, dia memang tidak pernah berhenti berusaha menyingkirkan Brielle dari lingkaran pergaulan Raka.Di seberang sana, Jay seolah setuju dengan pendapatnya. "Baiklah, aku kirim ke dia dan tanyakan."Devina pun tersenyum tipis. Tepat pada saat itu, suara dari pengeras terdengar lantang di seluruh aula, "Hadirin sekalian, mari kita sambut dengan tepuk tangan meriah keh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status