LOGINDevina juga tidak sungkan. Setelah Jay menyuapinya menghabiskan semangkuk bubur itu, dia menyeka sudut bibirnya lalu bersandar di sofa. Dengan suara pelan dia bergumam, "Terima kasih, Jay. Untung masih ada kamu di sisiku."Devina memejamkan mata setengah, seluruh tubuhnya meringkuk di dalam selimut. Dia tampak sangat rapuh dan membuat orang merasa iba.Melihat kondisinya, Jay semakin yakin akan satu hal di dalam hatinya. Hubungan antara Devina dan Raka pasti sedang bermasalah."Devina, katakan padaku, gimana sebenarnya sikap Raka padamu sekarang?" tanya Jay dengan khawatir.Devina perlahan membuka matanya. Sudut matanya tampak berkaca-kaca. Dia menatap Jay dengan tatapan bingung dan sedih. Lalu dia menghela napas pelan, suaranya penuh kesedihan."Jay, menurutmu ... kalau seseorang sudah berusaha selama 10 tahun tapi tetap nggak mendapatkan apa yang dia inginkan, apakah ... seharusnya dia menyerah?"Hati Jay tiba-tiba terasa berat. "Devina, kamu dan Raka ...."Devina tersenyum getir, la
Wajah Devina tiba-tiba menjadi semakin pucat. Dia menatap Jay. Meskipun pria itu masih tersenyum cerah dengan tatapan lembut, dia tahu ada sesuatu yang sudah berubah. Dan semua ini terjadi sejak kemunculan Siria.Jay merasa sedikit canggung ditatap dengan mata penuh perasaan seperti itu. Dia menggaruk bagian belakang kepalanya, lalu berkata, "Devina, ada apa denganmu hari ini? Kenapa kamu terlihat sedih sekali? Apa terjadi sesuatu antara kamu dan Raka?"Pada saat itu, pelayan datang membawa semangkuk bubur bergizi. Dia meletakkannya di meja depan sofa, lalu berkata kepada Devina, "Nona Devina, buburnya sudah siap.""Baik, letakkan di sini," kata Devina. Setelah itu dia bangkit ingin mengambil bubur tersebut, tetapi tiba-tiba dia mengeluarkan rintih kesakitan."Ada apa?" tanya Jay dengan khawatir.Devina duduk kembali. Lalu dia mengangkat sedikit bagian lengan di tempat bekas pengambilan darah, memperlihatkan luka yang baru saja berdarah. Kulitnya yang putih tampak dipenuhi memar kebiru
"Baik, aku akan datang ke sana," jawab Jay dari seberang telepon.Freyna membawa selimut, lalu menyelimutkannya. Dia duduk sambil mengamati wajah Devina. Tadi pagi wajah Devina masih segar dan merona, tetapi sekarang wanita yang duduk di depannya tampak pucat pasi. Penampilan Devina benar-benar seperti orang yang tiba-tiba kehilangan seluruh darahnya.Freyna berpikir dalam hati, 'Devina diambil darah lagi? Padahal jarak dari pengambilan darah terakhir bahkan belum sampai seminggu.'Freyna membawa segelas air hangat. "Minum air sedikit."Ketika Devina mengangkat lengannya, dia langsung mendesis kesakitan. Pada saat yang sama, bagian bawah sweter putihnya mulai ternoda merah.Freyna buru-buru berkata, "Devina, di sini berdarah."Devina panik, lalu segera menggulung lengan bajunya. Benar saja, bekas tusukan jarum itu kembali berdarah. Dia berkata kepada Freyna, "Ambil kotak obat, cepat."Freyna langsung pergi mengambil kotak obat tanpa banyak bicara. Dia mengeluarkan kapas penahan darah u
Brielle mengangkat kepala dan meliriknya sekilas. "Kalau ini urusan pekerjaan, kamu bisa langsung ngomong. Kalau urusan pribadi, aku sangat sibuk dan nggak punya waktu untuk mendengarnya."Kata-kata Raka langsung tertahan di tenggorokannya. Dia menyipitkan mata menatap wanita yang duduk di depan meja kerja itu. Brielle bahkan tidak menatapnya dengan serius, seolah apa pun yang ingin dia katakan sama sekali tidak menarik bagi Brielle."Sepuluh tahun lalu, aku menandatangani sebuah perjanjian dengannya. Aku menyediakan sumber daya dan dana untuknya, dan dia menjadi donor terarah yang bisa kugunakan ...."Gerakan mengetik Brielle berhenti sejenak. Dia langsung memotong, "Sekarang yang kupedulikan hanya data eksperimen dan evaluasi keamanan reagen. Kalau kamu nggak ada urusan pekerjaan, jangan buang-buang waktuku."Setelah berkata demikian, pandangannya kembali tertuju pada layar. Lalu Brielle menambahkan, "Pernikahan yang dikhianati nggak ada artinya dibanding masa depanku yang cerah."Ra
Devina memandang punggung Raka yang pergi dengan tegas. Di matanya bergolak kebencian dan keengganan yang begitu kuat.Smith memberi isyarat kepada para perawat agar semuanya keluar.Rambut Devina yang sebelumnya ditata rapi kini terurai berantakan. Riasannya pun sedikit luntur oleh air mata. Dibandingkan dengan keanggunan yang selalu dia jaga, saat ini dia tampak sangat kacau.Smith menarik selembar tisu dan menyerahkannya kepadanya. "Bu Devina, aku minta maaf karena kamu harus mengalami ini. Tapi mohon pahami, penelitian ini menyangkut keselamatan keluarga Pak Raka."Devina tiba-tiba mengangkat kepala. Matanya dipenuhi amarah. "Kalian anggap aku apa? Bank darah berjalan? Sepuluh tahun lalu seperti ini, sepuluh tahun kemudian masih seperti ini."Smith membenarkan kacamatanya dan menatapnya dengan tenang. "Bu Devina, detail transaksi sepuluh tahun lalu itu aku memang nggak sepenuhnya tahu. Tapi sejauh yang kuketahui, Pak Raka memperlakukanmu dengan adil. Ini bukan pemanfaatan sepihak."
Pada saat itu, sebuah tangan besar dengan ruas-ruas jari yang tegas terulur, menahan lengan Devina yang sedang diambil darahnya dengan mantap. Tekanannya tidak besar, tetapi mengandung kekuatan yang tak bisa dibantah."Jangan bergerak." Suara Raka terdengar rendah dan dingin.Tangan Devina yang lain segera mencengkeram lengan Raka. Saat dia mendongak, wajahnya sudah penuh jejak air mata. Suaranya gemetar dan penuh keluhan. "Raka, hentikan saja, terlalu sakit. Jangan ambil lagi ya? Pasti masih ada cara lain ...."Alis Raka berkerut erat. Dia berkata dengan suara berat, "Kamu pikir ini main-main? Jangan gerak sembarangan.""Tapi aku benar-benar takut. Hentikan saja, boleh?" Suara Devina bercampur dengan tangisan, berusaha menggunakan air mata untuk mendapatkan belas kasihan pria di hadapannya.Ekspresi Raka tidak berubah sedikit pun. Dia bahkan tidak menunduk dan hanya berkata kepada perawat, "Lanjutkan."Kata itu seperti pisau yang seketika menembus semua kepura-puraan dan khayalan Devi
Brielle menggigit bibir, merasa dirinya benar-benar bodoh. Raka adalah tipe pria yang bertindak langsung. Asalkan Devina merindukannya, satu panggilan telepon bisa membuatnya langsung pergi menemaninya. Apa mereka masih perlu obrolan romantis di WhatsApp?Kalimat-kalimat cinta itu bisa dia ucapkan l
Brielle masuk ke arah ruang tamu sambil membawa tas. Mendengar suara mobil, Anya langsung berlari keluar dengan gembira. "Mama! Mama!"Melihat putrinya yang berlari riang, Brielle membungkuk dan tersenyum sambil memeluknya erat, lalu mencium pipinya dua kali.Di ruang tamu, Meira sedang berdiri memb
Saat itu, pintu terbuka dan Raka melangkah masuk. Dia berdiri di sisi tempat tidur dan mengulurkan tangan untuk meraba dahi Anya, lalu telapak tangannya yang besar berpindah ke dahi Brielle.Sepertinya sedang memeriksa suhu tubuh Brielle.Brielle memilih berpura-pura tertidur bersama putrinya. Tak l
Saat Brielle membuka pintu kamar, dia melihat Anya sedang berbaring di pelukan Raka, tampak seperti ayah dan anak yang hendak tidur bersama."Anya, malam ini nggak tidur sama Mama?" tanya Brielle dengan lembut."Mama, kita tidur bareng Papa saja ya!" sahut Anya, lalu bergeser semakin dekat ke dada a







