Share

Bab 114

Author: Ayesha
"Papa, itu papaku," bisik Anya dengan gembira.

Harvis menempelkan jarinya ke bibir mengisyaratkan untuk diam. "Biarkan papamu memberikan penghargaan pada mamamu dulu ya."

Anya menganggukkan kepalanya dengan penuh pengertian, lalu menatap ke arah papa mamanya di atas panggung dengan bahagia.

Sementara itu, Brielle tentu saja menyembunyikan semua emosinya.

Begitu juga dengan Raka. Saat ini, wajah tampannya dihiasi dengan senyum penuh kagum, lalu mengulurkan tangannya pada Brielle. "Selamat."

Brielle tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk menjabat telapak tangan Raka yang besar selama beberapa detik baru melepaskannya.

Begitu seorang pelayan mendekat, Raka mengambil piala emas di atas nampannya dan menyerahkannya pada Brielle. Setelah Brielle menerima piala itu dengan alami, dia berdiri di samping Brielle dan keduanya pun menghadap ke kamera sambil tersenyum. Fotografer pun mengabadikan momen itu.

"Terima kasih pada Pak Raka yang sudah menyerahkan piala kepada Nona Brielle. Selanjutnya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Lianzzah
aduh mbaaa kalo nga tau apa apa nga ush kmn larinya mbaa... heran deh
goodnovel comment avatar
Renadwijo
sombongnya km dev...km bhkn ga ada seujung kuku dibanding Brielle..Km ngabisin harta Raka, minta dukungan, koneksi & uang Raka....Brielle usaha sndiri tnpa dukungan & koneksi suami.Tnpa uangnya..Brielle bhkn membuat Raka mkin kaya dg hasil penelitiannya..saham perusahaan Raka naik trs berkat Brie
goodnovel comment avatar
Jihan Dwi Annisa
syirik banget si Devina..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 707

    Devina memang sangat menyukai berlian. Meski sekilas dia tampak tidak terlalu suka, dalam hatinya dia benar-benar menyukai berlian. Kalung tadi jelas-jelas edisi terbatas. Dia yakin, pada jamuan amal istri wali kota hari Sabtu nanti, kalung itu akan menjadi salah satu pusat perhatian di seluruh ruangan."Tolong sampaikan terima kasihku pada kakakmu," katanya dengan nada dibuat-buat anggun."Tenang saja. Lihat saja kapan kakakku yang bodoh itu menyadarinya. Biar dia menyesal," dengus Raline. Dia benar-benar yakin kalung itu memang ditujukan untuk Devina.Apalagi setelah mendengar langsung kisah cinta Devina dan kakaknya, Raline semakin percaya bahwa Devina adalah satu-satunya wanita yang pernah benar-benar dicintai kakaknya.Sedangkan Brielle, untungnya sekarang sudah bercerai. Kalau tidak, bukankah hidup kakaknya akan terbuang sia-sia jika terikat seumur hidup dengan Brielle?Sore hari, Raline menghubungi seorang teman dan memanggil desainer untuk datang ke Cloudwave Residence untuk me

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 706

    Brielle melangkah ke arah lift dan menjawab singkat, "Ya."Raka mengikutinya masuk ke dalam lift. Jari-jarinya yang panjang menekan tombol lantai 27. Suasana di dalam lift terasa mencekam. Begitu tiba di lantai 27, Raka melangkah keluar lebih dulu.Brielle kembali ke apartemennya untuk merapikan barang-barang, lalu bersiap berangkat ke laboratorium. Namun saat dia menenteng tas dan keluar, Raka malaj berdiri di depan pintu rumahnya. Di tangannya, dia menggenggam sebuah kotak beludru panjang berwarna biru tua. Dia menatap Brielle dan menyodorkan kotak itu."Sebagai hadiah ulang tahun pengganti untukmu," ucapnya dengan suara rendah.Brielle mundur setengah langkah, tatapannya dingin. "Aku sudah bilang aku nggak butuh hadiah darimu.""Ini hadiah kedewasaan untuk Anya," kata Raka. Tatapannya menjadi lebih dalam.Brielle memalingkan wajah. "Tunggu saja sampai dia dewasa, baru berikan padanya." Setelah berkata demikian, dia melangkah melewatinya hendak pergi.Namun, Raka tiba-tiba mengulurka

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 705

    Raline ikut terpengaruh oleh kisah pertemuan yang begitu romantis itu. Dia tersenyum dan berkata, "Ternyata kalian punya kenangan yang seindah itu. Sepertinya kakakku jatuh cinta pada pandangan pertama.""Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Raline penasaran."Lalu?" Devina berkata dengan sedikit malu. "Kami sering pergi berkencan. Dia membawaku ke berbagai tempat, memberiku bunga yang paling aku sukai, dan sering menjemputku di akademi seni sepulang kuliah."Raline tidak menyangka kakaknya ternyata juga punya caranya sendiri dalam mengejar wanita. Namun, semua hal romantis itu sama sekali tidak pernah dia lakukan pada Brielle.Lagi pula, untuk seorang gadis yang dengan sukarela mendekat tanpa pamrih, cukup dengan satu lirikan dari kakaknya saja, gadis itu sudah bisa bahagia seharian."Jadi kamu lihat, sedingin apa pun seorang pria, tetap bisa tersentuh oleh ketulusan. Aku yakin Lambert juga akan tersentuh olehmu.""Tapi, aku harus mulai dari mana?" tanya Raline."Kamu bisa menciptakan s

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 704

    Jay mengulurkan tangan dan menepuk bahu Lambert, lalu bertanya dengan penasaran, "Tadi kalian ngobrol apa?""Nggak ada apa-apa, cuma ngobrol santai," jawab Lambert sambil menoleh ke arah Raka.Raka mengangkat alisnya. "Iya, cuma ngobrol santai."Jay menatap mereka berdua sejenak. Entah kenapa, dia merasa agak sulit memercayainya."Ngomong-ngomong, ceritakan rencana proyek pulaumu. Apa kata dewan direksi?" Lambert beralih bertanya pada Jay.Jay mengusap pelipisnya dengan pusing. "Orang-orang tua itu cuma fokus sama keuntungan jangka pendek, agak susah dihadapi."Mereka bertiga terus membahas pengembangan pulau itu. Tanpa terasa, waktu berlalu hingga hampir pukul dua siang. Ketika Raka dan Lambert harus kembali ke perusahaan untuk menghadiri rapat, barulah pembicaraan berakhir.Sore hari, Brielle pulang ke rumah dan melihat hadiah yang kembali dikirim oleh Niro. Kecil, anggun, dan indah. Pesan Niro masuk pukul setengah tujuh.[ Sudah sampai rumah? Suka hadiahnya? ][ Brielle: Suka, terim

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 703

    Raka tiba di restoran, Jay dan Lambert sudah menunggu di ruang privat."Raka sudah datang," ujar Jay sambil mengangkat alis.Raka membuka kancing jasnya lalu duduk. Dia bertukar pandang dengan Lambert sebagai salam singkat.Pelayan mulai menghidangkan makanan satu per satu. Jay segera mengangkat topik proyek pulau miliknya, meminta dua sahabatnya memberi masukan, sambil menyerahkan proposal yang sengaja dia bawa."Risiko proyek ini nggak kecil," kata Raka sambil membalik halaman proposal. "Apakah kajian lingkungan sudah dilakukan?"Lambert juga sedang membaca. "Ekosistem setempat kelihatannya cukup rapuh."Jay mendengarkan diskusi mereka dari samping. Dalam urusan bisnis, pandangan kedua sahabatnya memang selalu lebih tajam dibanding dirinya. Oleh karena itu, dia bersedia mendengar dan menerima saran mereka.Tak lama kemudian, ponsel Jay berdering. Setelah membaca isinya, dia berkata agak tak berdaya, "Sekelompok orang tua itu memang sulit sekali dihadapi.""Orang-orang dewan direksi?"

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 702

    Setelah berkata demikian, dia berbalik dan melangkah menuju ruang rapat.Di ruang istirahat, setelah melepas perlengkapan pelindung, Brielle mengambil selembar tisu untuk mengusap keringat. Harvis mengangkat lengan bajunya dan mengendusnya, lalu berkata, "Baunya cukup menyengat. Nanti malam pulang, cuci dua kali."Brielle juga mengendus lengan bajunya sendiri. Tadi anestesi pada babi itu tidak sepenuhnya tepat. Saat mereka memasang kabel data di tubuhnya, babi itu sempat berguling dan bergesekan dengan tubuh Brielle. Sekarang dia pun mencium baunya.Harvis menatapnya dengan rasa iba. "Ini benar-benar bikin kamu menderita.""Nggak apa-apa. Dulu di laboratorium Paman Derrick, aku bahkan pernah diserang monyet," kata Brielle sambil memperlihatkan samar-samar bekas luka kecil di bawah lengannya.Kulitnya putih. Kalau tidak diperhatikan dengan saksama, bekas itu nyaris tak terlihat.Saat itu, pintu terbuka dan Cherlina masuk. "Brielle, Kak Harvis, Pak Jared sudah datang. Kalian diminta ke r

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status