Share

Bab 115

Author: Ayesha
"Kak, bisakah kamu bantu aku menjelaskannya pada Pak Raka?" mohon Faye.

Devina langsung mengiakan. "Tenang saja. Aku tahu kamu hebat, kamu pasti nggak kalah dari Brielle."

Setelah menutup telepon, Devina menghela napas. Ayahnya Brielle sudah meninggal, Brielle tidak mungkin akan terus menonjol meskipun memiliki beberapa formula dari ayahnya.

Devina yang merasa jauh lebih tenang pun kembali ke kursinya, lalu menatap Raka. Namun, dia melihat ekspresi Raka tetap datar, seolah-olah tidak menganggap
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Lianzzah
nanyain nya baik baik.. kalou mau' ajak plng bareng...bkn kaya gitu nanya nya..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1392

    Setelah itu, para anggota tim kembali bergantian datang untuk bersulang dengan Harvis.Bagaimanapun juga, dia adalah pemimpin tim sekaligus salah satu kontributor terbesar proyek ini.Harvis jelas tidak pandai menolak. Sambil tersenyum, dia terus melayani ajakan bersulang satu demi satu. Ditambah lagi, dia memang tidak terlalu kuat minum alkohol dan wajahnya mudah memerah. Tak lama kemudian, pipinya mulai terlihat kemerahan.Saat melihat masih ada orang yang hendak datang untuk bersulang, Brielle teringat bahwa kemampuan minum Harvis jelas tidak sebaik Raka yang duduk di seberang. Dia pun tersenyum kepada rekan yang hendak mengangkat gelas dan berkata, "Sudahlah, jangan paksa Kak Harvis lagi."Kalimat itu belum sempat diproses oleh Harvis. Namun, jari-jari pria di seberang yang sedang menggenggam gelas anggur langsung menegang.Tatapan dalam Raka terkunci pada wajah Brielle. Dia melihat senyum lembut di wajah wanita itu saat membela Harvis dan membantunya menolak minuman, seperti seora

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1391

    Tatapan Raka menyapu kerumunan orang, lalu berhenti tepat pada Brielle yang duduk di ujung kiri meja panjang dekat jendela. Rambut panjangnya tergerai, senyum tipis menghiasi bibirnya, dan ekspresinya tampak sangat rileks. Di bawah cahaya lampu bernuansa hangat, seluruh dirinya seolah diselimuti lapisan cahaya lembut.Raka memandangnya selama beberapa detik sebelum akhirnya melangkah ke arahnya."Pak Raka sudah datang, ya." Seorang karyawan paruh baya menjadi orang pertama yang menyadarinya dan segera berdiri menyambut.Tak lama kemudian, seluruh karyawan yang duduk di meja panjang itu ikut berdiri menyambut sang bos besar.Kecuali Brielle.Brielle tampak sedikit terkejut. Dia sama sekali tidak tahu bahwa Raka akan datang."Pak Raka, silakan cari tempat duduk." Harvis berdiri dan menyapanya, lalu menoleh kepada Gavin. "Pak Gavin, silakan duduk juga."Gavin tersenyum dan mengangguk sebelum menarik sebuah kursi dan duduk.Di seberang Brielle ada satu kursi kosong. Di sebelahnya duduk Har

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1390

    "Brielle, kamu datang." Melihatnya, Harvis tersenyum dan berdiri untuk menyambutnya."Wah! Profesor Brielle sudah datang!" sapa beberapa anggota tim Harvis dengan antusias.Brielle tersenyum sambil melambaikan tangan. "Jangan panggil aku begitu. Panggil nama saja.""Kalau yang lebih muda panggil Kak Brielle, yang lebih tua cukup panggil namanya," kata Harvis sambil tersenyum.Para anggota tim yang belum pernah bertemu Brielle pun berdatangan memperkenalkan diri. Brielle juga menyapa mereka satu per satu. Suasananya santai dan menyenangkan.Semuanya adalah teman serta rekan kerja yang sudah akrab. Topik pembicaraan pun berpusat pada keberhasilan proyek mereka, sehingga tawa terus terdengar tanpa henti.Pada saat itu, seorang rekan kerja pria melihat sekeliling dengan penasaran dan menyadari ada satu anggota tim yang tidak hadir, Faye. Dia segera mengirim pesan kepada Faye.[ Faye, kenapa kamu nggak datang ke acara makan bersama? ][ Malam ini ada acara makan bersama? Kok aku nggak tahu?

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1389

    Tiga hari kemudian, hari Jumat, setelah Brielle dan tim Frans menyelesaikan sebagian proses serah terima, dia sudah mulai menantikan datangnya akhir pekan.Selain itu, dia juga memutuskan untuk mempercepat proses serah terima. Saat liburan musim panas Anya tiba nanti, dia ingin mengajak putrinya pergi berlibur ke luar negeri.Sudah dua setengah tahun berlalu, dia hampir tidak pernah benar-benar bersantai. Bahkan saat pergi bermain ski ke Negara Danmark dulu, dia tetap membawa pekerjaannya. Begitu pula beberapa kali perjalanan dinas ke Kyoza, semuanya berfokus pada pekerjaan.Saat Brielle sedang merapikan barang-barangnya dan bersiap pulang kerja, ponselnya berdering. Dia melirik layar. Ternyata Harvis yang menelepon."Halo, Kak Harvis," sapa Brielle."Brielle, malam ini ada waktu? Ada acara makan bersama," ujar Harvis dengan nada santai. Kemudian, dia menambahkan, "Zondi dan Cherlina juga ikut. Sudah lama kita nggak kumpul."Brielle sedikit tertegun. Dari nada suara Harvis, sepertinya

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1388

    Freyna meliriknya, lalu melanjutkan analisisnya, "Kalau mereka benar-benar ingin nikah lagi, Raka harus benar-benar merendahkan dirinya.""Dia harus belajar menghormati Brielle dengan sungguh-sungguh, memercayainya, menempatkannya pada posisi yang setara, atau bahkan .... Nggak, seharusnya posisi yang membuatnya memandang Brielle dengan rasa kagum.""Hanya dengan begitu Brielle mungkin akan kembali padanya."Setelah mendengarnya, Devina hanya merasa itu sangat menggelikan. Dia mencibir dingin. "Memuja Brielle ya? Orang seperti Raka mana mungkin memuja orang lain? Kamu terlalu nggak mengenalnya."Freyna berkata, "Dengan pencapaian Brielle saat ini di dunia penelitian, entah berapa banyak pria arogan yang menaruh perhatian padanya.""Kalau Raka nggak mengubah sifatnya yang selalu merasa diri sendiri benar, dia harus belajar merendahkan diri, belajar jujur, mengakui kesalahan masa lalunya. Kalau nggak, seumur hidup dia nggak bakal bisa mendapatkan Brielle kembali."Wajah Devina langsung b

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1387

    Wajah Devina semakin muram. Dia membuka mulut, ingin membantah, tetapi akhirnya menyadari bahwa apa yang dikatakan Freyna memang benar.Jika dia dan Brielle menghadiri pesta yang sama, dia pasti akan mencari cara untuk menunjukkan posisinya, menekan, menyingkirkan, dan mempermalukan Brielle.Freyna melanjutkan, "Justru karena Raka terlalu mengenalmu, dia nggak bawa Brielle masuk ke lingkaran sosialnya. Dia nggak ingin Brielle bertemu denganmu, nggak ingin Brielle merasa tersakiti atau diperlakukan nggak adil.""Dia melindungi Brielle di rumah, menjauhkannya dari gangguanmu, justru karena dia peduli pada Brielle dan nggak ingin kehilangan dia."Freyna menganalisis dengan tenang dan rasional.Ucapan itu membuat dada Devina terasa sesak. Dalam sekejap, semua kebohongan yang selama ini dia gunakan untuk menipu dirinya sendiri seolah terkoyak.Jadi selama ini, yang dia anggap sebagai "Brielle tidak pantas dibawa keluar dan tidak layak diperkenalkan kepada orang lain", ternyata adalah bentuk

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 815

    "Sepertinya hari ini kamu benar-benar jadi pusat perhatian." Suara yang bernada jelas penuh permusuhan terdengar dari belakang.Brielle melihat lewat cermin, Raline bersandar di kusen pintu dengan kedua tangan terlipat di dada. Bibir merahnya melengkung membentuk senyuman sinis.Brielle tidak menole

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 847

    Brielle menerima menu itu. Ujung jarinya sedikit menegang. Dia menunduk membalik halaman menu, sengaja menghindari keberadaan pria di sampingnya.Brielle memesan dua hidangan ringan, lalu menyerahkan menu ke Raka. Raka mengambilnya dan menambahkan empat hidangan lagi. Semuanya juga yang ringan."Rak

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 813

    Setelah Brielle menyelesaikan pidatonya, dia membungkuk memberi hormat sebagai ucapan terima kasih. Sehelai rambut jatuh ke sisi pipinya. Dia mengibaskannya dengan santai dan menyelipkannya ke belakang telinga. Senyuman tipis menghiasi sudut bibirnya.Gerakan yang tak disengaja itu justru membuat du

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 816

    Raline mendongak tajam. Matanya penuh ketidakpercayaan. "Kak, kamu menyuruhku minta maaf?"Dia mengempaskan tangan Raka. "Aku nggak merasa salah apa pun. Kenapa aku harus minta maaf? Aku nggak mau."Selesai berbicara, dia menatap Brielle dengan tajam. "Sebenarnya ramuan apa yang kamu berikan pada ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status