LOGINNamun, Ignas tidak akan berhenti menyelidiki segala hal di balik dana yayasan kamar dagang itu.Bagaimanapun juga, dia masih belum memenuhi ambisinya untuk menjadi posisi ketua kamar dagang. Selama masih hidup, dia harus duduk di kursi itu setidaknya sekali untuk memuaskan dirinya.Terlebih lagi, dia sangat tidak puas terhadap Raka yang jelas-jelas merupakan juniornya itu.Kegagalan dalam persaingan sebelumnya sudah membuatnya malu dan hari ini Raka sama sekali tidak memberinya ruang untuk menjaga harga diri. Dendam lama dan baru bercampur menjadi satu, bagaimana mungkin dia rela melepaskannya begitu saja?Orang lain mungkin tidak mampu menggoyahkan posisi Raka, tetapi Ignas tidak takut.Saat itu, Devina yang berada di sampingnya melihat sosok Brielle berjalan menuju toilet. Dia pun berkata, "Ignas, aku ke toilet sebentar."Brielle keluar dari bilik toilet, sementara Devina sedang mencuci tangan. Melalui cermin, dia memandang Brielle. "Hari ini Bu Brielle benar-benar hebat ya."Semua p
Setelah Brielle mengobrol dengan Raju selama belasan menit, Raka berjalan menghampiri.Dia memberi salam hormat kepada profesor tua itu, lalu berkata kepada Brielle, "Profesor Brielle, maaf ganggu sebentar. Ada beberapa rekan dari luar negeri yang ingin kenalan denganmu. Bisa ikut denganku sebentar?"Brielle menoleh pada profesor tua itu. Sang profesor melambaikan tangan dengan ramah. "Pergilah, pergilah! Urusan utama lebih penting."Brielle mengangguk, lalu berdiri dan mengikuti Raka menuju kelompok tamu lain di aula jamuan.Begitu Raka berjalan mendekat, seorang pria yang tampak elegan langsung menyambutnya dengan hangat. "Pak Raka.""Pak Elliot, izinkan saya memperkenalkan. Ini Profesor Brielle." Raka memperkenalkan sambil tersenyum."Profesor Brielle, senang bertemu denganmu. Akhirnya, kita bisa bertemu langsung." Tatapan Elliot kepada Brielle penuh apresiasi dan kekaguman.Di sela-sela percakapan dengan Elliot, beberapa kenalan lain juga datang menyapa.Raka sedikit memiringkan k
Devina sudah menghabiskan begitu banyak tipu daya dan usaha untuk memisahkan mereka, bahkan mengorbankan sepuluh tahun masa mudanya. Mungkinkah pada akhirnya semua itu tetap berakhir sia-sia?Melihat tatapan Raka yang dalam dan teguh terus tertuju pada wajah Brielle, hati Devina terasa sangat sakit.Postur Raka yang sedikit membungkuk itu memperlihatkan kesabaran dan perhatian yang jarang sekali terlihat darinya. Sementara Brielle sedikit mendongak, ekspresinya tenang dan serius.Di antara mereka berdua ... seolah-olah benar-benar sudah tidak ada lagi kebencian.Devina menggigit bibir merahnya dengan perih. Dia sudah mengorbankan begitu banyak, bahkan pada akhirnya dia harus menyerahkan diri pada pria tua seperti Ignas.Kenapa sekarang Brielle masih bisa kembali ke sisi Raka dengan mudah? Bahkan mendapatkan perlindungan dan pembelaan yang jauh lebih besar daripada dulu?"Lihat apa? Masih kepikiran mantan pacarmu itu?" Ignas tiba-tiba mencubit pinggangnya.Devina menarik kembali pandang
Ignas tertawa canggung dua kali, berusaha menyelamatkan harga dirinya."Aku cuma tanya sekilas. Bagaimanapun juga, dana sebesar itu memang harus ditangani dengan hati-hati."Sorot mata dingin Raka menatap wajah Ignas lekat-lekat. "Kalau tanpa bukti apa pun, hanya berdasarkan dugaan pribadi lalu mempertanyakan keputusan kamar dagang, itu bukan hanya bentuk ketidakpercayaan terhadapku sebagai ketua, tapi juga penghinaan terhadap seluruh ahli penilai. Kuharap Pak Ignas tahu batas."Wajah Ignas langsung menjadi masam. Usianya sudah lebih dari 60 tahun, tetapi sekarang malah diajari di tempat umum oleh bocah yang bahkan belum genap 30 tahun. Hal ini benar-benar membuatnya kehilangan martabat.Sebelum dia sempat membalas, Raka kembali melirik dengan dingin. "Kalau Pak Ignas terus buat tuduhan tanpa dasar dan menyebarkan pernyataan yang nggak benar, kamar dagang akan mempertahankan hak untuk menempuh jalur hukum."Suara Raka tidak keras, tetapi tegas dan penuh tekanan. Tatapan orang-orang di
"Ada apa? Senang lihat mantan kekasihmu?" Ignas tiba-tiba menunduk dan bertanya dengan agak kesal.Devina langsung tersadar. Ternyata rasa cemburu di dalam hatinya tanpa sadar terlihat dari tangannya yang menggenggam lengan Ignas semakin erat.Devina segera tersadar kembali, lalu memaksakan senyuman cerah nan memesona. Tubuhnya pun semakin mendekat pada Ignas hingga beberapa sentimeter. "Ignas, harusnya kamu paling tahu siapa yang ada di hatiku, 'kan?"Ignas mendengus pelan. Kebetulan dia memang sedang ingin mencari kesempatan untuk menemui Raka, jadi dia mengajak Devina berjalan ke arah mereka.Devina sedikit terkejut. Dia tidak menyangka Ignas benar-benar berjalan menghampiri Raka. Dia menarik napas dalam-dalam. Malam ini, apa pun yang terjadi, dia tidak boleh terlihat kalah di depan Raka dan Brielle."Pak Raka, Profesor Brielle, kebetulan sekali! Pas sekali kita bisa bahas soal penggalangan dana khusus itu." Ignas membuka percakapan lebih dulu. Suaranya lantang hingga menarik perhat
Mobil melaju dengan stabil menuju aula jamuan malam ini. Cahaya matahari senja di kejauhan membelah kota dengan garis-garis terang yang tegas.Brielle tidak ingin lagi mengenang masa lalu. Ke depannya, hubungan mereka akan dibangun atas dasar kerja sama yang baru.Raka juga tidak mencoba memulai topik yang lain lagi. Dia memahami Brielle. Brielle tidak ingin bernostalgia dengannya.Untuk sesaat, pemahaman itu membuat dadanya diliputi rasa sesak yang sulit dijelaskan, tetapi perasaan itu segera menghilang lagi.Tak lama kemudian, mobil tiba di hotel tempat jamuan berlangsung.Seorang pelayan maju dan membukakan pintu mobil. Raka turun lebih dulu.Seorang manajer yang melihatnya langsung bergegas menghampiri tanpa berani bersikap lalai. "Pak Raka sudah datang."Raka mengangguk tipis, lalu menunggu Brielle turun.Setelah Brielle turun dari mobil, keduanya berjalan berdampingan di atas karpet merah menuju aula jamuan yang terang benderang. Kemunculan mereka langsung menarik perhatian sekit
Ekspresi Brielle sedikit berubah, amarahnya langsung menyeruak dari dada. Apa lagi yang ingin dimainkan Raka kali ini?Raka menyipitkan matanya. "Kamu sebaiknya pertimbangkan dulu. Tentu saja, aku nggak memaksamu untuk menandatangani."Brielle hanya merasa semuanya konyol dan membuang waktu."Nggak
Lambert membalas dengan tatapan tegas, "Aku yakin."Udara seakan-akan membeku. Persahabatan 20 tahun terasa rapuh di saat itu, seolah-olah cukup disentuh sedikit saja, maka akan retak seluruhnya.Di balik bayangan, Jay dan Devina mendengar seluruh percakapan mereka. Seperti dugaan Devina, rencana Br
"Kamu ...!" seru Devina sambil menggertakkan gigi dan menatap tajam ke arah Brielle. "Brielle, teman kamu ini hebat juga ya, benar-benar sama saja kayak kamu, dua-duanya orang sejenis."Brielle tersenyum sinis. "Memangnya yang dibilang temanku salah?""Nggak salah! Tapi aku dan Raka itu saling menci
Raka belum sempat menjawab ketika Jay sudah lebih dulu memuji, "Pukulan yang bagus."Brielle merasakan lengannya mulai pegal setelah berulang kali mengayun tongkat. Saat dia mengusap lengannya pelan, Lambert menatapnya dengan perhatian. "Kenapa? Tanganmu pegal?"Brielle mengangguk ringan. "Sepertiny







