Mag-log in'Lihatlah, Raka. Kamu sudah bersusah payah mengatur agar Brielle ikut terlibat, ingin menggunakan kontrak ini untuk membuktikan keterikatanmu, ingin memperjelas hubungan kita. Tapi hasilnya? Brielle sama sekali nggak peduli!'Sudut bibir Devina kuasa tersenyum. Akhirnya, dia menatap Raka dengan nada mengejek. "Raka, lihat? Meskipun kamu meletakkan bukti hubungan kita di atas meja, dia tetap nggak mau melirik sekali pun. Ngapain juga kamu sok perhatian sendiri?"Raka tiba-tiba menoleh. Matanya menatap dengan tajam sebagai peringatan. "Perhatikan ucapanmu."Devina mengangkat bahu, menunjukkan ekspresi polos. "Aku cuma bicara jujur."Setelah itu, dia menoleh ke Smith. "Doktor, bisa aku bicara dengan Raka secara pribadi?"Smith menatap Raka. Raka tidak memberikan jawaban, tetapi Smith tetap ingin memberi mereka ruang untuk bicara pribadi. Dia pun berdiri dan meninggalkan ruangan.Begitu pintu ruang rapat tertutup, Devina menggeser kursinya, mencoba mendekat ke Raka. Suaranya lembut saat be
Smith mengambil tiga salinan kontrak dari samping. Salah satunya diserahkan ke depan Brielle, satu lagi diberikan kepada Devina."Bu Devina, harap tenang. Bukan maksud kami menyulitkan, tapi klausul kontrak ini mengikat kedua belah pihak. Ini adalah klausul yang dulu kamu sendiri ajukan dan bersikeras untuk dimasukkan."Brielle secara refleks meraih kontrak dan mulai membolak-balikkannya. Baru dua halaman dibuka, pandangan yang panas dan mendesak langsung tertuju padanya dari kursi utama.Raka hampir seketika duduk tegak. Matanya terkunci pada jari-jari Brielle yang membolak-balikkan kontrak. Dia seolah-olah sedang menunggu dengan penuh konsentrasi.Sementara itu, Devina menatap kontrak di depannya. Wajahnya langsung memerah. Dia menoleh ke arah Brielle yang sedang membolak-balikkan kontrak. Jantungnya berdebar kencang.Dia tak pernah menyangka, suatu hari kontrak itu akan berada di tangan Brielle, dan Brielle sendiri yang membacanya.Brielle jelas tidak tertarik pada kontrak ini. Deng
Saat Smith keluar untuk menelepon, dia melihat Brielle berdiri di lorong. Namun, dia sudah menekan nomor Raka."Halo, Pak Raka, bisa datang ke laboratorium sebentar? Bu Devina menuntut untuk membatalkan kontrak, dia bilang ingin bertemu denganmu.""Baik, aku akan menyuruhnya menunggu di sini." Setelah Smith mendapat respons dari sana, dia menoleh ke Brielle. "Brielle, Bu Devina ada di dalam. Dia ingin membicarakan soal pembatalan kontrak."Brielle mengangguk, menoleh ke Raline. "Kamu kembali ke kamar untuk istirahat saja. Nggak usah ikut campur urusan di sini."Raline menggigit bibir merahnya. Dia benar-benar ingin masuk dan menegur Devina, tetapi perkataan Brielle membuatnya tidak bisa menolak. Jadi, dia menahan emosinya dan berbalik pergi.Dua puluh menit kemudian, sosok Raka melangkah masuk dari lobi laboratorium. Dia mengenakan setelan gelap yang pas. Langkahnya mantap, wajahnya dingin, memancarkan aura wibawa seorang penguasa.Smith menyambutnya. "Pak Raka, Bu Devina ada di dalam.
Raka membungkuk dan menggendong putrinya, lalu mengulurkan tangan ke arah Brielle. "Kasih aku tasnya. Aku yang antar Anya ke sekolah."Brielle refleks menolak. "Nggak perlu repot-repot. Aku ....""Nggak repot." Raka memotong ucapannya dengan lembut, tetapi juga tidak memberi ruang untuk ditolak. "Kamu sarapan saja yang benar, lalu pergi ke laboratorium.""Mama, biar Papa yang antar aku ya. Aku mau pergi ke sekolah bareng Papa." Anya menatap Brielle dengan mata berbinar. Wajah kecilnya penuh harap.Melihat mata besar putrinya yang berkilau, kata-kata penolakan yang sudah sampai di bibir Brielle berputar sejenak, lalu dia telan kembali."Bilang dadah ke Mama," kata Raka kepada putrinya."Dadah, Mama!" Anya melambaikan tangan dengan gembira.Sementara itu, Gaga masuk ke rumah, mengibaskan ekornya dengan riang ke arah Brielle. Brielle melotot padanya. Dia merasa Raka sedang menggerogoti batasan yang dia tetapkan sedikit demi sedikit. Terutama saat putrinya terlihat semakin bergantung pada
[ Kalau begitu, nanti setelah kamu balik, aku traktir makan. ]Brielle membalas.[ Oke, tunggu aku pulang. ]Balasan Niro pun langsung masuk.Brielle kembali ke ruang kerja, meletakkan ponsel di samping, lalu membuka email di komputer untuk membacanya. Senin depan, Meira akan mulai datang untuk menerima suntikan obat. Kondisinya cukup serius, sehingga perlu dievaluasi melalui berbagai data.Sekitar pukul 7 malam, Lastri naik dan berkata, "Nyonya, makan malam sudah siap.""Bi Lastri, tolong panggil Anya ya," kata Brielle. Dia sendiri tidak turun.Lastri tersenyum. "Baik."Setelah berkata demikian, dia masih berdiri di depan pintu seolah-olah ingin mengatakan sesuatu.Brielle mengangkat kepala menatapnya. Dia bisa menebak apa yang ingin Lastri katakan. Dia mengerutkan kening dan berujar, "Nggak perlu mengundangnya."Senyuman Lastri sempat membeku, lalu dia mengangguk. "Baik."Lima menit kemudian, suara Anya terdengar dari ruang tamu di bawah. Brielle pun bangkit dan turun untuk menemani
"Heh."Devina menatap dirinya di cermin dan mengeluarkan tawa yang penuh ejekan pada diri sendiri, tapi juga terasa konyol. Namun, dia tidak menyesal. Karena dia sudah mendapatkan jauh lebih banyak dari yang dulu dia dambakan.Uang, sumber daya, pamor, semua itu diberikan oleh Raka. Selama sepuluh tahun ini, selain tidak mendapatkan dirinya, Devina sudah memperoleh semua yang dia inginkan.Kalau begitu, dia akan menunggu dan melihat dengan jelas bagaimana Brielle akan menikah dengan pria lain dengan membawa serta putri dari Raka. Akan tetapi, sepertinya kandidatnya bukan Lambert, melainkan perwira yang bernama Niro itu.Membayangkan Brielle mengenakan gaun pengantin dan menikah dengan pria lain, sementara Raka hanya bisa menyaksikannya ... pada saat itu, ekspresi seperti apa yang akan muncul di wajah Raka? Tidak rela atau sakit hati? Penyesalan atau mati rasa?Devina merasa tidak sabar untuk melihatnya."Saat hari itu tiba, aku pasti akan datang memberi ucapan selamat, Brielle. Mendoak
Kepala sekolah dan para guru yang berada di samping pun diam-diam menghela napas lega. Untungnya, ayah Bobby adalah orang yang tahu diri dan peka terhadap situasi."Biasanya aku suruh kamu didik anak dengan baik, tapi kamu malah sibuk main mahjong setiap hari! Lihat sekarang, anak nggak tahu sopan s
Beberapa kali saat bermain bola, pandangan Raka tanpa sadar terus melirik ke arah sofa tempat Brielle tadi duduk. Selesai menangani email-nya, Brielle naik ke atas dan baru turun lagi menjelang waktu makan malam.Masakan Lastri hari itu sangat lezat. Anya pun tampak lahap menyantap hidangan yang sel
"Soal investasi, aku memang nggak ikut campur." Brielle tersenyum pasrah."Penilaiannya tajam juga," komentar Harvis sambil memuji.Brielle tidak terkejut jika mengingat sepak terjang Raka di dunia bisnis selama beberapa tahun terakhir. Sejak mengambil alih perusahaan, dia terus memperluas wilayah k
Jantung Brielle mencelos. Saat menengadah, dia langsung melihat sosok yang tinggi tegap dan tenang milik Raka sedang berjalan di belakang putrinya.Saat sedikit menarik napas lega, dari kerumunan kembali muncul sosok Raline yang bergandengan dengan Devina. Keduanya sedang berbincang dan tertawa deng







