LOGINDi seberang sana, Freyna tampak terkejut selama beberapa detik. Namun tak lama kemudian, suaranya kembali terdengar. "Devina, bahkan saudara kandung sekalipun harus jelas soal urusan uang, bukan? Bukannya sudah saatnya kita juga menghitung-hitung semuanya?"Sejak melihat tagihan itu, Devina memang sudah sangat kesal. Kini mendengar nada bicara Freyna yang begitu profesional dan tanpa perasaan, amarahnya semakin meledak.Keinginan untuk memperbaiki hubungan dengan Freyna seketika lenyap. Dia bisa mendengar dengan jelas bahwa Freyna sudah benar-benar memutuskan untuk pergi. Kalau begitu, Devina juga bukan orang yang mau dirugikan begitu saja."Kak Freyna, kamu mau hitung-hitungan sama aku? Baiklah! Kalau begitu mari kita hitung dengan benar. Selama bertahun-tahun ini, tas, perhiasan, dan barang-barang mewah yang kuberikan kepadamu kalau diuangkan nilainya nggak kurang dari dua miliar, 'kan?""Apa itu bukan uang? Lalu persentase komisi yang kuberikan kepadamu, bukankah lima persen lebih t
Akhirnya, gilirannya tiba untuk naik taksi.Baru setelah duduk di dalam mobil, Devina menghela napas lega. Dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon nomor asisten Freyna."Sisi, kamu bisa hubungi Freyna?"Asisten di seberang sana masih cukup baik kepadanya. "Kak Freyna sudah pulang ke rumah. Kak Devina, apa kamu juga sudah kembali ke dalam negeri?""Aku sudah kembali. Aku ingin ketemu dia. Tolong bantu atur janji untukku," kata Devina."Maaf, Kak Freyna bilang dia nggak ingin bertemu Kak Devina saat ini. Selain itu, dia juga bilang ....""Apa lagi yang dia katakan?""Dia bilang mulai hari ini dia bukan lagi manajermu dan nggak akan menerima pekerjaan promosi maupun urusan bisnis apa pun yang berkaitan denganmu. Kak Devina, kalian bertengkar?"Wajah Devina langsung menjadi suram.Serangkaian kejadian yang dialaminya sepanjang perjalanan sudah cukup membuat suasana hatinya buruk. Kini Freyna malah langsung berhenti bekerja begitu saja?Bahkan tidak memberitahunya terlebih dahulu."Nggak."
Dia mengenakan kemeja putih dan celana panjang formal. Rambutnya juga ditata rapi dan berkelas, seolah baru saja menyempatkan diri keluar dari sebuah rapat penting."Raka, baru pulang?" sapa Lambert.Sementara itu, Brielle melirik jam tangannya lalu berkata kepada Raka, "Tolong jaga Anya sebentar. Aku mau naik dulu."Raka mengangguk. "Baik. Pergilah, selesaikan urusanmu."Brielle lalu berkata kepada Lambert, "Kalian ngobrol saja, aku kembali dulu."Memang ada laporan penting yang harus diselesaikannya. Dia pun segera melangkah cepat menuju gedung apartemen.Lambert menarik kembali pandangannya yang mengikuti kepergian Brielle. Dari percakapan singkat dan alami yang baru saja terjadi, dia bisa melihat bahwa jarak di antara mereka berdua sudah jauh berkurang.Sikap Brielle terhadap Raka juga tidak lagi seantagonis dan sedingin dulu.Di antara mereka tampaknya telah terbentuk keseimbangan baru. Keseimbangan itu dibangun atas dasar membesarkan putri mereka bersama, serta perhatian dan duku
Freyna dan Devina sebenarnya sudah lama tidak terikat kontrak apa pun. Alasan dia tetap berada di sisi Devina, pertama karena melihat nilai yang dimilikinya, dan kedua karena persahabatan mereka yang telah terjalin selama bertahun-tahun.Mulai hari ini, dia akan benar-benar meninggalkan sosok Devina.....Di dalam negeri, pukul tujuh malam.Brielle menemani Anya turun ke taman bermain untuk bermain. Saat itu, Brielle masih tenggelam dalam pikirannya ketika suara Anya tiba-tiba terdengar penuh kegembiraan, "Vivian!"Brielle segera mengangkat kepala dan melihat Vivian berada di dekat perosotan. Tak lama kemudian, dia juga menoleh dan melihat Lambert sedang menelepon di area tempat para orang tua berkumpul.Brielle juga tidak menyangka akan bertemu mereka di sini secara kebetulan. Saat ini, Lambert pun sudah melihatnya dan langsung berjalan menghampirinya."Brielle, lama nggak ketemu." Lambert tersenyum kepadanya.Brielle mengangguk. "Iya. Sibuk?""Lumayan," jawab Lambert singkat.Tiba-ti
"Devina, jadi manusia harus punya hati nurani. Apa yang sudah kulakukan untukmu masih kurang?" kata Freyna dengan penuh kekecewaan. "Aku sudah mengeluarkan uang, tenaga, dan waktu untuk menemanimu sampai sejauh ini. Pernahkah aku mengeluh?"Di dalam hatinya, Freyna juga merasa sangat dirugikan. Dia pun berharap bisa mendapatkan keuntungan dari Devina di kemudian hari.Namun sampai sekarang, jangankan mendapatkan keuntungan, dia sudah menghabiskan begitu banyak uang, tenaga, dan waktu untuk mendampinginya, tetapi balasan yang diterimanya justru seperti ini?Saat ini, Devina sama sekali tidak punya energi untuk memikirkan perasaan Freyna. Dia masih tenggelam dalam kemarahan dan keputusasaannya sendiri.Dengan nada penuh keluhan, dia melanjutkan, "Di mata Ignas hanya ada putrinya itu. Semua usahaku sia-sia. Aku menahan rasa jijik dan melayaninya selama itu, tapi pada akhirnya aku nggak mendapatkan apa-apa."Devina terus meluapkan kekesalannya di depan hotel di negeri asing itu. Dia tidak
Melihat anak yang wajahnya 80% mirip dengannya itu, Ignas makin puas dan makin terharu. Makin lama dia memandang, makin bersemangat pula dirinya. Rasanya, hidupnya benar-benar berarti."Bagus, bagus sekali. Putriku ternyata begitu hebat." Dia begitu bersemangat hingga kata-katanya menjadi tidak teratur.Tanpa sadar, dia kembali menggenggam tangan putrinya. Kali ini, Yola tidak menarik tangannya."Yola, ada yang kamu inginkan? Ayah akan kasih ke kamu. Mulai sekarang, semua yang Ayah miliki adalah milikmu." Ignas sudah tidak sabar menunjukkan kasih sayangnya sebagai seorang ayah."Jurusan apa yang kamu pelajari? Apa yang kamu minati? Ayah bisa berinvestasi untukmu, mendirikan perusahaan untukmu, atau membiayai pendidikanmu lebih lanjut. Ayah bisa mengirimmu ke sekolah terbaik di dunia. Ayah akan mendukungmu sepenuhnya."Pada saat ini, di hati Ignas, Devina maupun wanita-wanita lainnya sudah tidak penting lagi. Yang terpenting hanyalah putri luar biasa yang tiba-tiba muncul dalam hidupnya
Freyna mengangkat sudut bibirnya dan tampak puas. "Tentu saja. Orang yang aku cari mana mungkin mengecewakan?"Devina kembali tenggelam dalam pikirannya. Freyna memperhatikan bahwa sejak Devina pulang ke dalam negeri kali ini, dia terlihat semakin banyak beban pikiran. Beberapa kegiatan komersial ya
Di dalam kantor Smith, suasana diliputi keheningan singkat.Mata Raka yang terpejam rapat perlahan terbuka. Di dasar matanya tersimpan emosi yang dalam. Kelelahan, pergulatan batin, hingga akhirnya mengendap menjadi ketenangan.Dia lebih paham daripada siapa pun, rencana yang dimaksud Smith itu apa.
Keselamatan hidupnya adalah tanggung jawabnya sendiri, tidak perlu melapor kepada orang luar.Mobil melaju stabil di jalan tol menuju Kyoza. Di luar jendela, deretan pohon poplar putih yang tegak lurus melintas cepat ke belakang. Langit di kejauhan sudah mulai berwarna abu-abu.Brielle bersandar di
Suaminya setampan itu dan putrinya secantik itu ... kelihatannya juga sangat kaya.Raka memang bukan figur publik. Orang biasa sulit mengenalinya sekilas, tetapi tetap mudah tertarik pada ketampanan dan aura yang dia miliki.Dengan pengaturan khusus dari staf, Anya mendapat kesempatan untuk berinter







