MasukMemikirkan bahwa saat ini Brielle mungkin sedang membaca berita tentang dirinya dan membayangkan ekspresi sinis wanita itu, rasa pantang menyerah dalam hati Devina kembali menyala.Devina tiba-tiba menghapus air matanya, lalu berlari menuju cermin besar di lantai satu. Dia menatap dirinya sendiri di dalam cermin. Meski terlihat sedikit lebih lelah dan kuyu, dia tetap cantik.Dia masih memiliki modal. Dia masih memiliki wajah ini dan tubuh ini.Akhirnya, seseorang muncul dalam benaknya.Saat menghadiri festival lampion di Kyoza beberapa waktu lalu, seorang pengembang properti pernah menyuruh orang menyerahkan kartu namanya dan mengundangnya makan malam.Saat itu, Devina menolaknya dengan halus. Namun, dia bisa melihat dengan jelas bahwa pria kaya itu sangat tertarik padanya. Meski usianya sudah lebih dari 50 tahun, sekarang Devina tidak lagi berada dalam posisi untuk memilih. Dia sangat membutuhkan seseorang yang bisa membantunya menangani badai opini publik di internet.Bagi orang-oran
Faye segera menambahkan balasan lagi:[ Dia cuma nempel terus sama Raka dan mengandalkan pemasaran yang agresif. Selama bertahun-tahun dia memaksakan diri mengaitkan namanya dengan Raka. ]Seseorang langsung membalas:[ Kalau begitu, bukannya selama ini dia memanfaatkan ketenaran Raka untuk menaikkan status dirinya sendiri? Pintar sekali cari muka! ]Faye membaca dan membalas komentar satu demi satu. Bagi dirinya, ini bisa dianggap sebagai salah satu kabar paling menyenangkan dalam beberapa waktu terakhir.Sementara itu, Devina juga terus memantau perkembangan situasi di internet. Dia melihat opini publik sudah sepenuhnya berbalik melawannya. Kolom komentar di akun media sosialnya juga telah dikuasai berbagai ejekan dan hinaan.Meskipun masih ada sejumlah kecil penggemar yang membelanya, semakin banyak orang yang membongkar berbagai informasi baru, semakin banyak pula pendukungnya yang memilih diam.Melihat situasi yang semakin tak terkendali, Devina merasakan tubuhnya gemetar. Citra y
Untuk pertama kalinya, Devina benar-benar merasakan apa artinya sebatang kara. Berita-berita negatif di internet datang bertubi-tubi seperti gelombang pasang yang menelannya tanpa ampun. Para netizen yang gemar bergosip terus berdatangan untuk ikut meramaikan.Tentu saja, di antara mereka ada Syahira, yang selama ini paling rajin mengikuti segala kabar tentang Devina. Bahkan, dia termasuk golongan yang paling bersemangat menyimak drama tersebut. Saat itu juga, dia langsung meneruskan tautan berita itu kepada Brielle.[ Brielle, cepat lihat! Ini benar-benar kabar yang bikin puas. ]Saat itu Brielle sedang menulis laporan dan belum sempat membuka tautan tersebut.[ Memangnya kabar apa yang bikin puas? ][ Syahira: Devina dan manajernya lagi saling serang di internet! Dan manajernya benar-benar nggak kasih ampun. Dia turun langsung membongkar sifat asli Devina. Rasanya puas banget! ]Brielle membuka tautan itu. Benar saja, dia melihat tulisan panjang yang berisi tuduhan dari manajer Devin
Sisi sebenarnya tidak membutuhkan ucapan terima kasih darinya. Dia hanya ingin ponselnya kembali dengan selamat. Bagaimanapun, itu adalah ponsel baru yang baru saja dibelinya dan sangat dia sayangi."Kak Devina, kalau begitu aku pergi dulu ya!"Sisi segera kabur.Dari nada pertengkaran yang baru saja didengarnya, dia bisa merasakan bahwa hubungan Freyna dan Devina benar-benar sudah hancur.Begitu Sisi pergi, tubuh Devina sedikit limbung. Dadanya bergerak naik turun dengan hebat. Di kepalanya terus bergema kalimat yang sama, "Tanpa Raka, kamu bukan siapa-siapa."Selama ini dia tidak pernah mau mengakuinya. Namun, kata-kata Freyna memang adalah kenyataan. Orang yang bermain piano lebih baik darinya sangat banyak. Namun, yang bisa setenar dirinya hanya segelintir orang.Segala hal yang pernah dimilikinya, ketenaran, status, dan pujian dari banyak orang, semuanya tidak lepas dari pengaruh Raka.Saat Freyna mencarikan sumber daya, kontrak iklan, dan berbagai peluang kerja untuknya, nama Rak
Di seberang sana, Freyna tampak terkejut selama beberapa detik. Namun tak lama kemudian, suaranya kembali terdengar. "Devina, bahkan saudara kandung sekalipun harus jelas soal urusan uang, bukan? Bukannya sudah saatnya kita juga menghitung-hitung semuanya?"Sejak melihat tagihan itu, Devina memang sudah sangat kesal. Kini mendengar nada bicara Freyna yang begitu profesional dan tanpa perasaan, amarahnya semakin meledak.Keinginan untuk memperbaiki hubungan dengan Freyna seketika lenyap. Dia bisa mendengar dengan jelas bahwa Freyna sudah benar-benar memutuskan untuk pergi. Kalau begitu, Devina juga bukan orang yang mau dirugikan begitu saja."Kak Freyna, kamu mau hitung-hitungan sama aku? Baiklah! Kalau begitu mari kita hitung dengan benar. Selama bertahun-tahun ini, tas, perhiasan, dan barang-barang mewah yang kuberikan kepadamu kalau diuangkan nilainya nggak kurang dari dua miliar, 'kan?""Apa itu bukan uang? Lalu persentase komisi yang kuberikan kepadamu, bukankah lima persen lebih t
Akhirnya, gilirannya tiba untuk naik taksi.Baru setelah duduk di dalam mobil, Devina menghela napas lega. Dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon nomor asisten Freyna."Sisi, kamu bisa hubungi Freyna?"Asisten di seberang sana masih cukup baik kepadanya. "Kak Freyna sudah pulang ke rumah. Kak Devina, apa kamu juga sudah kembali ke dalam negeri?""Aku sudah kembali. Aku ingin ketemu dia. Tolong bantu atur janji untukku," kata Devina."Maaf, Kak Freyna bilang dia nggak ingin bertemu Kak Devina saat ini. Selain itu, dia juga bilang ....""Apa lagi yang dia katakan?""Dia bilang mulai hari ini dia bukan lagi manajermu dan nggak akan menerima pekerjaan promosi maupun urusan bisnis apa pun yang berkaitan denganmu. Kak Devina, kalian bertengkar?"Wajah Devina langsung menjadi suram.Serangkaian kejadian yang dialaminya sepanjang perjalanan sudah cukup membuat suasana hatinya buruk. Kini Freyna malah langsung berhenti bekerja begitu saja?Bahkan tidak memberitahunya terlebih dahulu."Nggak."
Jari-jari lentik Brielle bergerak di atas layar, menjelaskan detail teknis dengan profesional dan tenang.Raka bersandar di kursinya. Pandangannya perlahan beralih dari data di layar menuju wajah Brielle yang serius dan fokus."Rencana ini ...," gumam Raka pelan setelah berpikir sejenak. "Butuh tamb
Telepon dari Raka masuk, suara beratnya terdengar di seberang, "Baik, aku ke sana.""Barangnya aku taruh di laci meja kantor. Ambil sendiri saja," jawab Brielle singkat sebelum menutup panggilan.Sementara itu, Devina baru naik ke mobil ketika ponselnya berdering menunjukkan panggilan dari Raline. D
Telepon dari Frederick masuk, menanyakan apakah Brielle bisa meluangkan waktu sore ini untuk datang ke Hotel Muse menghadiri rapat.Brielle melirik jam, lalu membalas, "Bisa nggak rapatnya dijadwalkan malam saja?""Baik, Bu Brielle. Saya atur mulai pukul tujuh malam. Anda bisa makan malam di Hotel M
Brielle melirik jam tangan dan berkata pelan, "Nenek, sudah cukup malam. Aku harus mengantar Anya pulang."Emily menepuk tangannya dengan lembut. "Jangan buru-buru, Nenek ada hadiah untukmu." Dia lalu mengambil sebuah kotak kayu berukir indah dari tas di sampingnya. "Ini gelang giok yang sengaja Nen







