LOGINBesok adalah hari terakhir dari seluruh rangkaian konferensi. Setelah mandi, Brielle duduk di tengah keheningan malam.Berbagai kenangan masa lalu berputar jelas di benaknya, seperti film yang diputar tanpa henti. Banyak hal yang dulu tidak mampu dia pahami, kini akhirnya menjadi terang.Saat itu, ketika menyatakan perasaannya kepada Raka, sebenarnya dia hanya ingin mengungkapkan isi hatinya. Dia tidak pernah meminta Raka untuk segera menikahinya. Namun, justru Raka yang bersikeras ingin menikah.Brielle masih ingat hari ketika dirinya pergi menemui ayahnya seperti anak yang baru saja melakukan kesalahan besar. Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya, dia menceritakan semuanya kepada Adam.Awalnya dia mengira akan dimarahi habis-habisan. Bagaimanapun, dia tahu betapa besar harapan ayahnya terhadap dirinya.Adam selalu berharap dia bisa menjadi sosok hebat seperti dirinya. Namun setelah mendengarkan semuanya, Adam hanya terdiam beberapa saat, lalu berkata singkat bahwa keputusan itu h
Raka bergabung dalam proyek BCI. Teknologi intinya diserahkan kepada pihak militer, sementara yang dia pegang hanya proyek untuk penggunaan sipil.Semua itu menunjukkan bahwa Raka adalah sosok yang berpandangan jauh ke depan dan memiliki visi yang besar.Di hadapan pencapaiannya, tak seorang pun lagi bisa menyalahkannya begitu saja. Dia manusia, bukan dewa. Manusia pasti melakukan kesalahan dan memiliki emosi.Cinta dan tanggung jawab, perhitungan dan perlindungan, semua itu berpadu secara kontradiktif dalam diri pria ini.Sejak awal, pernikahan mereka memang telah terjalin dengan terlalu banyak faktor yang rumit, memikul terlalu banyak beban yang berat.Bagaimana mungkin hubungan seperti itu bisa langsung menghasilkan kebahagiaan yang sempurna?Kini, takdir mereka bagaikan gulungan benang yang kusut. Malam ini, satu per satu simpulnya akhirnya mulai terurai."Jadi ... alasan utama kamu menggelontorkan begitu banyak dana untuk penelitian leukemia adalah untuk menyelamatkanku?" Mata Bri
Raka tidak memberi Brielle kesempatan untuk berbicara. Dia melanjutkan, "Tapi saat itu, bagiku perasaan adalah sebuah kemewahan, bahkan beban. Saat kamu menyatakan perasaanmu, sebenarnya aku sangat bahagia. Tapi setelah mempertimbangkan semua, kesimpulanku saat itu adalah aku ingin menolakmu.""Aku berharap saat itu kamu menolakku." Brielle mengalihkan pandangannya dan berkata dengan getir.Namun, Raka tetap menatapnya tanpa berpaling. Suaranya menjadi makin rendah. "Tapi kemudian ayahmu mencariku. Dia nggak memaksaku. Dia hanya memberitahuku tentang kondisi ibumu. Dia berharap aku bisa menyediakan laboratorium untuknya agar dia dapat menyelesaikan penelitian itu."Tatapan Brielle kembali tertuju padanya. "Terus kamu ....""Aku setuju. Aku setuju menginvestasikan 200 triliun untuk membangun laboratorium, membantu ayahmu menyelesaikan penelitiannya, sekaligus menciptakan fondasi bagi penelitian penyakit darah ibuku di masa depan."Raka menghela napas pelan, lalu menunduk dengan rasa ber
Raka mengangguk tanpa menyangkal. Brielle memejamkan mata. Wajahnya pucat pasi. Terlalu banyak hal yang kini bercampur aduk di benaknya.Akhirnya, dia membuka mata dan menatap kedua mata pria yang dalam itu, lalu bertanya lagi, "Laboratorium di Negara Danmark itu ... sebenarnya kamu bangun untuk siapa? Untuk penyakit ibumu atau ... untuk penelitian ayahku?"Sorot mata Raka memperlihatkan kilatan emosi yang rumit, seolah dia sudah menduga pertanyaan itu akan muncul.Raka berjongkok di hadapan Brielle. Dalam posisi itu, dia menatap Brielle dari bawah. Brielle duduk di kursi, menatapnya lekat-lekat, ingin mendengar jawaban yang paling jujur.Dengan suara rendah, Raka akhirnya berkata, "Awalnya aku hanya punya keinginan untuk membangun laboratorium. Aku sempat membicarakannya dengan ayahmu dan minta pendapatnya.""Saat itu ayahku baru saja meninggal. Tiga hari setelah aku menanyakan hal itu kepadanya, aku mengalami kecelakaan dan koma."Apa yang terjadi setelah Raka koma, Brielle jauh lebi
Saat itu, sebuah tangan menyodorkan tisu kepadanya. Brielle mengulurkan tangan menerimanya, lalu memejamkan mata. Dia berusaha menerima kenyataan ini.Kematian ayahnya ... terjadi karena dirinya.Raka tiba-tiba membungkuk sedikit dan menepuk pelan bahunya. "Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Kematian ayahmu bukan karena kamu, Brielle. Ayahmu melakukan semua itu karena dia terlalu mencintaimu. Dia rela melakukan semuanya demi dirimu."Air mata Brielle mengalir dari sela-sela jarinya, menetes satu demi satu ke lantai. Dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.Pada saat itu, kedua bahunya digenggam oleh sepasang tangan. Dia mengangkat wajahnya yang penuh air mata dan menatap mata Raka."Kamu boleh bersedih, boleh merindukannya, boleh menyesal. Tapi satu hal yang nggak boleh kamu lakukan adalah memikul seluruh kesalahan ini sendirian. Ayahmu nggak ingin melihatmu seperti ini."Suara Raka terdengar rendah dan penuh ketenangan. Namun, air mata Brielle tetap mengalir tanpa henti.Jika b
Beberapa kali dalam rekaman itu, Raka terlihat duduk di kursi laboratorium milik Adam sambil memperhatikan Adam yang sibuk bekerja. Pada akhirnya, dia selalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Dari sudut pandang kamera, Adam tampak agak dingin dan tidak terlalu peduli, bahkan terkesan kurang menghargai menantunya. Namun, semua itu tidak pernah sekalipun diceritakan Raka kepadanya.Brielle menarik napas panjang. Baru saja dia mendongak untuk menahan air mata yang kembali menggenang di sudut matanya, dia seolah melihat sosok yang sangat dikenalnya.Matanya yang bengkak karena menangis masih diselimuti lapisan tipis air mata. Namun, dia tetap bisa melihatnya dengan jelas.Di atas hamparan rumput yang diterangi cahaya senja, entah sejak kapan telah berdiri sosok tinggi dan familier. Dari ujung lapangan, pria itu berjalan selangkah demi selangkah ke arahnya.Itu Raka. Jasnya disampirkan di lengannya. Dia mengenakan kemeja berwarna gelap. Meskipun tampak lelah karena perjalanan jauh,
Brielle menatap tajam, malas menanggapi. "Provokasimu nggak ada gunanya untukku."Devina menyeringai meremehkan. "Brielle, kamu sok apa sih? Benar-benar mengira dirimu hebat sekali?"Brielle memilih diam.Wajah Devina sedikit kaku. "Kamu nggak mungkin masih berpikir bisa memengaruhi hubunganku denga
Kasus pencurian data eksperimen MD sudah berlalu satu minggu. Brielle beberapa kali bertemu Faye di laboratorium. Tatapan menghindar Faye jelas menunjukkan rasa bersalah di hatinya.Thoriq menggunakan karier akademisnya untuk menebus kesalahan Faye. Seharusnya masalah ini tidak berakhir begitu saja.
Brielle kembali dan memasukkan hadiah dari Raka ke dalam tasnya. Kedua gadis kecil itu sudah ribut minta kue ulang tahun. Di hadapan mereka ada kue enam tingkat yang sangat indah, itu pesanan Syahira.Saat lilin dikeluarkan, wajah Brielle memanas. Syahira ternyata memilihkan lilin angka 18 untuknya.
Madeline menerima undangan dari laboratorium Chiva. Mereka akan mengumumkan sebuah terobosan baru pada pukul tiga sore ini.Brielle, Faye, dan Harvis sama-sama dipanggilnya untuk menghadiri acara tersebut.Faye dan Harvis pulang dari MD bersama. Saat berada di kantin, suasana hati Faye tampak cukup







