LOGINWaktu itu, Freyna yang datang lebih awal untuk menjemput di bandara juga berhasil mengambil foto-foto itu dengan sempurna. Devina langsung menyerahkannya ke media. Dia tidak tahu apakah Brielle melihatnya atau tidak, hanya saja foto-foto itu baru tayang setengah hari sudah ditemukan Gavin, lalu dia menelepon media dan meminta foto-foto itu diturunkan.Namun dia merasa, Brielle yang begitu memperhatikan setiap gerak-geriknya bersama Raka pasti sudah melihatnya.Tentu saja Devina tidak tahu, saat itu Brielle sudah menyewa detektif pribadi untuk memotret adegan itu dan mengirimkannya padanya. Semua itu menjadi bukti yang membuat Brielle semakin mantap memutuskan untuk bercerai.Devina benar-benar menyesal dulu dia tidak sedikit lebih berani. Kalau saja dia mencampurkan sesuatu ke dalam air minum Raka lalu mengirim Gavin pergi sejauh mungkin, mungkin dia dan Raka sudah lama tidur bersama.Asal mereka melakukannya sekali saja, dia tidak percaya Raka bisa menolaknya untuk kedua kali dan keti
Raka berdiri tanpa ekspresi. "Nggak apa-apa."Gavin sangat paham, bosnya membuat kontrak baru itu justru untuk menghindari berhadapan langsung dengan Ignas dan sengaja mengurangi risiko. Bagaimanapun, Ignas juga tokoh besar di dunia teknologi. Meskipun Grup Pramudita sudah punya fondasi yang kuat, mereka tetap tidak ingin menambah musuh.Apalagi sampai harus membuat dua perusahaan besar saling berkonflik hanya karena Devina.Saat Raka hampir keluar dari ruang rapat, dia menoleh dan memberi perintah, "Kirim orang untuk cek kondisi pajak Ignas."Gavin langsung mengerti. Bosnya tidak pernah bertarung tanpa persiapan. Dalam banyak hal, dia selalu memilih menyerang lebih dulu. Kalau Ignas benar-benar bersikeras membela Devina, maka konflik dengan Grup Pramudita tidak akan terhindarkan.Sementara itu, Devina sudah duduk di dalam mobil. Dia hanya terdiam. Freyna yang duduk di sampingnya juga tidak berani bertanya. Dia hanya melihat Devina terus mencengkeram jari-jarinya, menggertakkan gigi, j
Devina langsung berdiri. "Jangan harap, aku nggak akan pernah menandatangani kontrak seperti ini."Gavin di sampingnya menjelaskan, "Bu Devina, sebaiknya Anda melihat kontrak baru ini dengan teliti. Ini justru lebih menguntungkan bagi Anda."Devina mencibir. "Menguntungkan bagiku?" Tatapannya penuh kebencian menatap wajah tampan Raka. "Sepuluh tahun ini aku sudah mencurahkan begitu banyak perasaan untukmu. Apa yang aku dapatkan? Kamu bahkan nggak pernah menyentuhku.""Raka, bisa saja kalau mau aku tanda tangan. Aku punya dua syarat, lihat saja kamu berani setuju atau nggak. Pertama, temani aku tidur selama satu tahun. Kedua, seumur hidup nggak boleh bertemu Brielle lagi, apalagi menikah kembali dengannya."Gavin di sampingnya langsung terbatuk kecil dengan canggung. "Bu Devina, tolong jaga sikap."Tatapan Raka seketika membeku. Suasana ruang rapat menjadi mencekam."Kenapa? Nggak mau? Aku nggak minta hadiah juga nggak apa-apa, aku juga bisa tetap donor darah untukmu, asalkan kamu memen
Tak lama kemudian, suara Gavin terdengar dengan nada sopan yang formal. "Bu Devina, silakan naik."Devina menoleh dan melotot ke arah resepsionis. "Perlu kamu cek lagi identitasku?"Resepsionis itu menoleh, lalu melihat rekannya memberi isyarat. Dia segera tersenyum dan mempersilakan Devina. "Bu Devina, maaf, silakan lewat sini."Devina kembali mengenakan kacamata hitamnya. Dagunya terangkat dan melangkah dengan angkuh menuju lift pribadi milik Raka. Perasaan itu seolah-olah dia sudah sangat terbiasa.Di sampingnya, resepsionis itu diam-diam bergumam dalam hati. 'Jelas-jelas minggu lalu Pak Gavin sudah kirim email bahwa Devina nggak boleh lagi naik ke kantor eksekutif. Apa sekarang Pak Raka kembali berbaikan dengannya?''Apakah dia masih kandidat calon nyonya besar?'Memikirkan itu, resepsionis itu diam-diam melirik Devina. Dengan dandanan yang rapi, dia memang tipe wanita yang mudah menarik perhatian pria.Belakangan ini, gosip di perusahaan sudah beredar dalam berbagai versi. Katanya
Devina berpura-pura malu dan menurunkan suaranya. "Malam itu kakakmu sangat bersemangat, bahkan bilang aku lebih mengerti dia dibanding Brielle ....""Diam." Raline menggertakkan gigi dan menatapnya tajam. "Devina, kamu benar-benar membuatku muak.""Muak?" Devina tertawa ringan. "Dulu waktu kamu berharap aku jadi kakak iparmu, kenapa nggak merasa muak?"Saat itu pegawai menyerahkan kotak hadiah. Raline menerimanya lalu berbalik pergi.Devina menatap punggung Raline yang menjauh. Mood belanjanya langsung hilang. Sebaliknya, dia teringat ada satu hal yang harus segera dia urus, yaitu soal meminta hadiah dari Raka. Tidak mungkin dia menyia-nyiakan hadiah bernilai miliaran begitu saja."Nggak jadi belanja, temani aku ke Grup Pramudita," kata Devina pada Freyna."Devina, mau ngapain kamu ke sana?" Freyna sedikit terkejut. Bukankah Raka sudah tidak mau menemuinya?"Tentu saja untuk menemui Raka." Devina mengeluarkan kacamata hitam dan memakainya, menutupi ambisi dan keserakahan di matanya.S
Devina tiba-tiba merasa bosan. Ignas tidak punya waktu menemaninya, tapi memberinya sebuah kartu kredit untuk berbelanja. Batasnya tidak disebutkan, jadi sayang kalau tidak dimanfaatkan.Devina menghubungi Freyna untuk membawa mobil van menjemputnya. Mereka berdua menuju pusat perbelanjaan paling mewah di pusat kota. Di perjalanan, Freyna sudah mengecek bahwa tas edisi terbatas yang diincar Devina sudah resmi dijual.Sorot mata Devina langsung dipenuhi ambisi. Begitu turun dari mobil, mereka berdua langsung menuju butik mewah itu.Dengan sepatu hak tinggi, Devina melangkah masuk ke dalam toko. Sekilas saja, dia langsung melihat tas itu dipajang di posisi paling mencolok. Matanya berbinar. Tepat saat itu, terdengar langkah kaki dari belakang. Dia langsung menoleh, karena jelas banyak orang yang datang demi tas tersebut.Saat melihat siapa yang datang, mata Devina sempat terkejut, lalu dia segera menampilkan senyum khasnya. "Lama nggak ketemu, Raline."Raline datang bersama seorang teman
Makan malam berakhir dalam suasana yang menyenangkan.Dengan sikap seorang gentleman, Lambert menarikkan kursi untuk Brielle, sementara dua anak kecil itu berpegangan tangan sambil melompat-lompat riang di depan mereka. Di bawah cahaya lampu restoran yang lembut, bayangan keempatnya terlihat begitu
Setelah menutup telepon, Niro tersenyum. "Nenek sudah lama menanti kedatanganmu di rumah. Sepertinya dia sudah menyiapkan banyak makanan enak untuk menyambutmu."Kemudian, mereka memasuki kompleks perumahan bergaya villa. Niro mengajak Brielle masuk ke rumah dua lantai dengan halaman kecil di depann
Lambert tersenyum tipis. "Itu berarti aku nggak salah memperkenalkan orang."Brielle ikut tersenyum, lalu berdiri sambil berkata, "Aku ke belakang sebentar. Mau suruh orang siapkan sedikit makanan, kamu duduk dulu."Setelah Brielle pergi, Lambert menatap pemandangan di luar jendela sambil memikirkan
"Wah! Mama, lihat ke sana ... ada kembang api lagi!"Brielle menempelkan pipinya pada wajah kecil Anya sambil tersenyum. "Indah sekali."Pukul sepuluh malam, setelah berhasil menidurkan putrinya, Brielle duduk di sofa dengan piyama yang nyaman sambil membuka majalah medis untuk dibaca.Tiba-tiba, po







