LOGINLambert kembali mengangguk, memberi salam ke Harvis. Setelah berbalik, dia sama sekali tidak melirik ke arah Raline lagi.Raline terpaku di tempat. Wajahnya memerah karena malu. Temannya pun menarik lengannya dengan canggung."Raline, aku sudah kenyang. Gimana kalau kita pergi saja?"Raline menoleh dan melotot ke arah Brielle. Kenapa Brielle bisa mendapatkan seluruh perhatian dan perlindungan Lambert?Brielle sendiri juga sudah selesai makan. Dia berkata kepada Harvis, "Ayo, kita balik."Harvis mengangguk. Saat keduanya berdiri dan pergi, mereka melewati meja Raline. Raline menatap Brielle dengan sorot mata penuh kebencian. Namun, Brielle bahkan tidak meliriknya sedikit pun.Dibandingkan berdebat atau saling memaki, pengabaian total seperti ini justru jauh lebih efektif daripada reaksi apa pun.Benar saja, Raline sampai terengah-engah menahan emosi. Dadanya naik turun. Temannya buru-buru menenangkannya, "Raline, sudah, sudah, jangan marah."Saat ini, Raline benar-benar ingin bertengkar
"Nggak ada pilihan, soalnya anaknya ada di tangannya. Dia juga menuntut kakakku membelikan kalung edisi terbatas yang dibuat khusus. Entah kakakku berutang apa padanya di kehidupan sebelumnya, sampai di kehidupan ini dia terus membayangi dan melekat pada kakakku."Tangan Brielle yang memegang gelas air sedikit mengencang. Restoran tidak terlalu ramai, para pengunjung lain makan dengan tenang, sehingga setiap kata Raline terdengar jelas sampai ke meja Brielle.Harvis sudah hampir tidak tahan mendengarnya dan hendak berdiri, tetapi Brielle memanggilnya, "Kak Harvis, jangan hiraukan dia."Harvis mengerutkan kening. "Dia benar-benar keterlaluan.""Nggak apa-apa, toh ucapannya nggak bisa melukaiku." Brielle tersenyum tipis. "Orang yang nggak bisa melihat kenyataan justru adalah orang yang paling menyedihkan."Kalimat itu kebetulan juga sampai ke telinga Raline. Dia langsung menggertakkan gigi dan menatap Brielle. "Ada orang yang di permukaan berpura-pura suci, tapi entah sudah berapa banyak
Keesokan paginya, Brielle menggandeng tangan putrinya dan turun ke lantai bawah. Baru sampai di basemen, tampak sesosok pria jangkung dan tampan bersandar di salah satu pilar."Papa." Anya berlari menghampiri dengan gembira.Raka menyipitkan mata sambil tersenyum menatap putrinya. "Papa antar kamu ke sekolah.""Oke!" Anya mengangguk senang, lalu menoleh ke ibunya dan bertanya, "Mama ikut antar aku ke sekolah juga?"Brielle menyerahkan tas sekolah kepadanya. "Mama nggak ikut, Mama harus kerja.""Oke. Dah, Mama." Anya mengangguk dengan patuh.Brielle merasakan ada tatapan dalam yang mengarah padanya, tetapi dia otomatis mengabaikannya. Dia membuka pintu mobil, duduk, lalu mengemudi pergi."Papa, ayo kita berangkat!" Anya mengayun-ayunkan tangan besar ayahnya sambil mendesak.Raka menarik kembali pandangannya, membuka pintu kursi belakang, dan membiarkan putrinya masuk, lalu mengantarnya ke sekolah.Pukul 11 siang, Brielle menerima telepon dari Derrick, yang memintanya bersama Harvis data
Tatapan Raka tertahan di wajahnya selama beberapa detik, tetapi dia tidak langsung menjawab.Lampu dinding berwarna kuning redup di ruang tamu memahat garis-garis dingin dan tegas di wajahnya. Bayangan bulu matanya menutupi emosi di balik matanya, membuat orang tak bisa menebak apa yang sedang dia pikirkan.Namun, Raline tak mau menyerah dan kembali mendesak, "Kak, jawab dong!"Saat mengajukan pertanyaan itu, Raline diam-diam mengepalkan telapak tangannya. Sebenarnya dia takut mendengar jawaban kakaknya, tetapi di saat yang sama dia tak kuasa menahan diri untuk memancing sesuatu keluar dari mulutnya."Ini nggak ada hubungannya denganmu," jawab Raka dengan dingin, tanpa sedikit pun emosi.Jawaban yang tidak mengiakan maupun menampik itu membuat Raline tertegun beberapa detik. Kakaknya memang tidak mengaku, tetapi juga tidak menyangkal! Jangan-jangan kakaknya benar-benar ...."Besok kamu pindah." Raka melemparkan satu kalimat dengan nada perintah khas yang selalu dia gunakan.Raka masuk
Raka memejamkan mata sambil beristirahat, lalu berkata dengan nada datar, "Taruh saja di meja.""Kak, setidaknya jelaskan, kenapa kamu beli rumah di bawah apartemen Brielle? Kamu melakukannya demi Anya atau demi ...."Wajah Raka langsung menjadi suram. "Jangan ikut campur urusanku. Urus saja dirimu sendiri."Setelah berkata demikian, Raka bangkit hendak pergi. Raline segera mencengkeram lengannya. "Kak, apa kamu masih mencintai Brielle?"Tubuh Raka seketika menegang selama beberapa detik. Punggungnya kaku seperti senar yang ditarik hingga tegang."Jawab aku!" desak Raline. "Sebenarnya kalian bercerai itu karena dia yang nggak mau kamu atau kamu yang nggak mau dia?"Di mata Raka bergejolak emosi yang rumit. Dia menarik kembali lengannya. "Ada hal-hal yang kamu nggak akan mengerti."Dengan suara berat, dia meneruskan, "Besok aku akan belikan kamu rumah baru. Pindah dari sini."Raline terkejut, lalu mendengus. "Kenapa? Aku suka kompleks ini. Aku nggak mau pindah ke mana pun.""Kamu masih
Larut malam menjelang dini hari, Raline mengantar Devina pulang untuk beristirahat. Saat dia menopang pergelangan tangan Devina, tiba-tiba jarinya meraba dua bekas lipatan yang tidak rata. Tanpa sadar, Raline membalik pergelangan tangan Devina dan melihatnya.Di pergelangan tangan kiri Devina, ternyata ada empat atau lima bekas sayatan, seperti ....Devina segera menarik kembali tangannya, menutup bagian bekas sayatan itu, lalu berkata kepada Raline, "Raline, terima kasih untuk malam ini.""Kak Devina, ini ...." Raline menatapnya dengan kaget. Apakah itu percobaan bunuh diri?"Waktu masih muda aku terlalu bodoh. Dulu tekanan ujian seni besar, aku juga sempat depresi, jadi tanpa sadar melakukan hal-hal konyol." Devina menghela napas.Hati Raline seketika mencelos. Namun, barusan dia melihat jelas ada satu bekas di pergelangan tangan Devina yang terlihat masih baru, sama sekali tidak seperti bekas lama bertahun-tahun lalu."Kak Devina, seberat apa pun tekanannya, kamu nggak boleh melakuk







