Share

Bab 148

Penulis: Ayesha
Devina dan adik perempuan Jay terlihat seperti teman dekat. Keduanya berjalan sambil mengobrol dan memasuki gerbang agrowisata.

Di mata Brielle, sekilas tampak rasa kesal. Namun, dia tahu Devina adalah "kesayangan" di lingkaran pergaulan Raka. Jay dan Lambert sama-sama bersikap baik padanya. Di setiap acara penting, mereka pun selalu mengajaknya.

"Bibi Devina juga datang?" Anya menatap Devina dengan terkejut.

Devina membungkuk sedikit. "Ya! Senang nggak lihat Bibi?"

"Senang," jawab Anya sambil t
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
Raka ni...nyari penyakit..ngajak anak istri eh ga tau nya ada si pelakor jg
goodnovel comment avatar
RaHmi
dicerita ini anakny benar2 syg sm mamany...klw di cerita satu lagi anakny malah benar2 syg pula sama sipelakor...
goodnovel comment avatar
Renadwijo
Sayang deh sm Anya...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1525

    Keesokan paginya, suasana hati Anya sedang buruk. Dia tidak ingin pulang. Dia masih ingin terus bermain.Alhasil, ketiga orang dewasa itu pun bergantian membujuk si kecil.Setelah mereka naik ke pesawat, Anya akhirnya mau pulang karena teringat ingin bertemu kuda poni kesayangannya. Suasana hatinya pun kembali membaik.Tiga jam kemudian, Brielle tiba di rumah. Sementara itu, Anya diantar ke rumah Keluarga Pramudita.Liburan kali ini benar-benar membuat Brielle bisa mengosongkan pikirannya sejenak. Saat kembali bekerja, dia pun merasa jauh lebih segar dan ringan.Hari Senin, Brielle kembali menenggelamkan diri dalam pekerjaannya.Sementara itu, Raka juga terus memantau perkembangan proyek renovasi, ditambah dengan mengurus pekerjaan di kantor.Kali ini, bukan hanya dua unit rumah mereka yang direnovasi. Satu vila besar lain di kompleks yang sama juga sedang direnovasi untuk ditempati anggota Keluarga Pramudita.Rabu pagi, Brielle menerima pesan dari Harvis. Harvis mengajaknya bertemu sa

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1524

    [ Ayo. Aku tunggu di lobi. ]Raka segera membalas pesannya.[ Oke, aku turun. ]Brielle pun menjawab dengan lugas.Tadi Raka tidak melihat fenomena air mata biru di kejauhan. Saat ini, dia mengira Brielle benar-benar ingin berjalan-jalan.Di lobi vila, Brielle sudah turun. Raka juga sudah menunggunya."Ayo," kata Brielle.Setelah selesai berbicara, dia langsung melangkah cepat ke depan, seolah terburu-buru ingin segera keluar.Raka pun segera menyusul langkahnya. Mereka melewati dek observasi sepanjang hampir 100 meter hingga tiba di pantai.Saat itulah Raka juga melihat fenomena ombak berwarna biru itu. Barulah dia mengerti mengapa Brielle mengajaknya ke luar. Ternyata Brielle mengajaknya sebagai teman untuk melihat pemandangan air mata biru.Benar saja, Brielle langsung berlari menuju bibir pantai. Di bawah sinar bulan, gaun panjangnya berkibar tertiup angin, membuatnya terlihat seperti bidadari yang turun ke bumi.Raka mengikuti di belakangnya. Untuk sesaat, dia sampai terpaku beber

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1523

    Melihat Raka baru saja selesai mandi, Brielle tahu pria itu pasti tidak akan bisa bersiap secepat itu.Dia pun langsung berkata, "Aku turun duluan."Melihat wanita itu melangkah pergi dengan tergesa-gesa, sudut bibir Raka sedikit terangkat. Seulas senyum melintas di bibirnya.Saat tiba di lobi lantai satu, Brielle melihat Gavin sedang memeluk laptop dan menyapanya, "Selamat pagi, Bu Brielle.""Selamat pagi." Brielle membalas dengan sebuah senyuman, lalu berjalan menuju pantai.Baru sekitar pukul 10 pagi, Raka akhirnya datang ke pantai. Dia sudah mengenakan setelan olahraga berwarna abu-abu muda. Senyum tipis yang nyaris tak terlihat menghiasi sudut bibirnya, menandakan suasana hatinya sedang sangat baik."Papa!" Anya berlari menghampirinya seperti seekor burung kecil.Raka langsung mengangkat putrinya dengan kedua tangan, lalu memutarnya satu kali di udara. Tawa renyah Anya terdengar hingga jauh.Brielle duduk di bawah payung pantai. Mendengar tawa putrinya, tanpa sadar sudut bibirnya

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1522

    Raka tidak mengatakan apa pun. Dia hanya diam-diam kembali berdiri di sisi Brielle. Cahaya api unggun yang menari di kejauhan membuat sorot matanya tampak makin dalam.Kali ini, dia tak lagi menghalangi pandangan Brielle. Pada akhirnya, tatapannya tertuju pada buket bunga yang dipeluk Brielle. Seolah dari sanalah dia memperoleh sedikit penghiburan."Dulu kamu jarang mengidolakan artis." Raka menunduk menatapnya.Brielle sedikit tertegun. Memang benar. Dahulu, hampir seluruh hidupnya dipenuhi oleh Raka dan putri mereka. Dia bahkan tidak punya waktu ataupun keinginan untuk mengidolakan selebritas."Orang pasti berubah," jawab Brielle. "Dulu aku nggak punya waktu, juga nggak punya suasana hati untuk itu."Hati Raka terasa seperti ditusuk jarum. Dia teringat, dahulu ketika beberapa foto dirinya menghadiri forum bisnis beredar di internet, banyak netizen perempuan meninggalkan komentar di bawahnya.Malam itu, ketika dia pulang ke rumah, Brielle langsung melingkarkan kedua tangan di lehernya

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1521

    Raline menggandeng Anya menuju sebuah kios yang menjual bunga. Mawar-mawar yang dibungkus dengan kertas warna-warni itu tetap tampak segar dan indah meski di bawah langit malam.Dia membeli satu buket, lalu menarik Anya mendekat dan berbisik, "Anya, kasih bunga ini ke Papa, terus suruh Papa kasih ke Mama."Anya langsung mengangguk. Sambil memeluk buket bunga itu, dia berlari menghampiri Raka bak burung kecil yang riang. Dia mendongakkan wajah mungilnya dan berkata, "Papa, ini buat Papa."Raka sedikit terkejut melihat buket bunga di tangan putrinya. Tak lama kemudian, dia melihat Raline yang berdiri tidak jauh dari sana tersenyum penuh kelicikan sambil menggerakkan bibir tanpa suara. 'Kasih ... ke ... Kak Brielle.'"Terima kasih, Sayang." Raka menerima buket bunga itu. Tatapannya dipenuhi senyuman, bercampur sedikit rasa tak berdaya sekaligus kasih sayang.Tentu saja dia mengerti maksud adiknya. Dia menunduk melihat buket bunga di tangannya, lalu mengalihkan pandangan ke arah Brielle ya

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1520

    Namun, waktu telah berlalu. Segalanya sudah berubah. Kini, Brielle menyukainya atau tidak, rasanya sudah tidak lagi berarti. Terlebih lagi, tato itu pernah menjadi sesuatu yang membuatnya sangat menderita.Permukaan air kolam bergoyang pelan, sementara sinar matahari terasa sedikit menyilaukan. Tatapan Raka tetap terkunci padanya, seolah masih menunggu jawabannya.Bulu matanya yang lebat dipenuhi butiran air, bagai deretan kipas kecil, membuat sorot matanya tampak makin dalam bak lautan."Yang penting kamu suka." Brielle menundukkan pandangannya. Jawabannya tetap sama seperti tadi. Cahaya di mata Raka sedikit meredup.Raka tahu Brielle sedang menghindari pertanyaannya, jadi dia tidak memaksanya untuk menjawab. Dia hanya tersenyum tipis, lalu berkata dengan suara rendah, "Aku suka."Dua kata itu diucapkan dengan pelan tetapi jelas, mengandung keyakinan yang tak perlu diragukan lagi.Brielle tetap menunduk sambil menggerakkan air dengan ujung jarinya. Raka mengambilkan pelampungnya, meny

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 779

    Raline menggigit bibirnya. Air mata terus mengalir. Dia sama sekali tidak menyangka dua kalimat yang diucapkannya dengan sembarangan justru memicu kemarahan kakaknya sebesar itu.Sepertinya Anya telah menceritakan hal ini kepada Brielle, lalu Brielle mencari kakaknya untuk membuat keributan. Itulah

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 783

    Lambert tersenyum. "Boleh. Kalau rekomendasi darimu, aku pasti harus mencobanya."Brielle menarik kembali pandangannya dan menatap ke depan sambil memberi arahan, "Belok kiri di depan."Sebelum mobil Lambert melaju, sebuah Maybach hitam melintas di depan mobil mereka. Itu adalah mobil Raka."Raka ha

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 731

    Ruang kantor eksekutif Grup Pramudita.Raka berdiri di depan jendela kaca besar, memandang seluruh kota dari ketinggian.Gavin mengetuk pintu lalu masuk, menyerahkan sebuah berkas. "Pak Raka, dana hasil pencairan opsi saham sudah seluruhnya masuk. Setelah dipotong denda, laba bersihnya delapan trili

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 750

    Suasana hati Brielle sangat baik, begitu pula Lambert. Dia sebisa mungkin tidak memberi tekanan pada Brielle, menjaga suasana tetap ringan dan menyenangkan.Pada saat yang sama, beberapa kali ketika dia memotret anak-anak, dia sengaja memasukkan Brielle ke dalam bingkai. Di bawah lensa kamera, senyu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status