LOGINSejak saat itu, Devina menjalani kehidupan mewah yang selama ini dia impikan. Dia menikmati kemewahan yang dibangun oleh uang Raka, juga menikmati waktu singkat setiap setengah tahun, di mana dia bisa memiliki Raka.Dia masuk ke lingkaran Raka, mengenal teman-temannya, dan muncul di berbagai kesempatan dengan identitas sebagai pasangannya.Dia tahu, selama waktunya cukup lama, jarak antara Brielle dan Raka akan semakin besar. Dia akan memiliki kesempatan.Pada tahun ketika putri Raka lahir, Devina hampir melewati tahun itu dalam penderitaan. Namun, pada tahun yang sama, dia juga mengetahui sebuah kabar.Penyakit Meira memiliki kemungkinan bersifat genetik. Devina pun menjadi keberadaan yang lebih penting bagi Raka.Taruhannya menjadi lebih besar. Dia menerima kenyataan yang tidak bisa diubah dan terus menyesuaikan rencananya. Ketika Raka membawa putrinya ke luar negeri, dia memainkan peran sebagai seorang bibi dengan baik.Ketika Raka tidak berada di luar negeri, dia terus mendekati Me
Devina pernah diam-diam menjual darahnya beberapa kali, hanya untuk menukar sepasang sepatu yang enggan dibelikan ibunya. Namun tak disangka, karena hal itu dia malah dilirik oleh sebuah laboratorium, yang kemudian menawarkan harga sangat tinggi agar dia bersedia mendonorkan darah secara berkala.Tentu saja dia menolak. Dia tidak akan mempertaruhkan nyawanya sendiri.Setelah menolak tawaran donasi dengan bayaran tinggi dari Doktor Smith, dia berlari keluar dari kantor. Tanpa sengaja, dia menabrak seseorang. Saat dia menutup bagian tubuh yang sakit karena benturan itu dan mengangkat kepala, dia langsung terpaku.Dia bisa mendengar dengan jelas detak jantungnya yang berdetak liar.Raka yang saat itu berusia 20 tahun, membantunya berdiri dengan sopan. Dengan suara rendah dan agak dingin, dia berkata, "Maaf."Setelah itu, dia berbalik dan masuk ke kantor di belakangnya.Saat Devina hendak pergi, dia tiba-tiba mendengar percakapan antara Raka dan Doktor Smith. Saat itulah dia mengetahui bah
Di seberang telepon terdengar suara Smith yang bergetar karena terlalu bersemangat. "Hebat sekali, Brielle! Ini benar-benar sebuah terobosan bersejarah. Ini berarti kita akhirnya sepenuhnya terbebas dari ketergantungan pada satu donor saja.""Iya, dan hasilnya bahkan lebih baik," timpal Brielle. Suaranya terdengar lega dan dipenuhi rasa gembira seolah beban besar akhirnya terangkat.Di sisi lain, Smith juga sangat bersemangat. Selama bertahun-tahun dia mencurahkan seluruh tenaga untuk membangun laboratorium ini. Tak disangka, pada akhirnya malah Brielle yang menghasilkan terobosan paling luar biasa. Jawabannya sebenarnya selalu ada di sana, hanya saja dia tidak memiliki bakat untuk menemukannya, sedangkan Brielle akhirnya berhasil menemukan jawabannya."Aku akan segera merapikan datanya dan langsung kasih penjelasan ke Pak Raka," kata Smith tidak sabar.Brielle teringat pada wajah Raka saat baru saja pergi tadi. Wajah yang penuh kelelahan, dengan mata yang memerah karena bergadang. Kal
"Baik, Mama. Papa akan temani aku," kata Anya sambil mengangguk dengan patuh.Brielle berbalik dan pergi. Saat ini dia membutuhkan sedikit ruang pribadi untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau.Raka mengangkat tangan dan merapikan rambutnya yang tebal. Dia sebenarnya tidak terlalu peduli pada penampilannya, tetapi rambut yang tiba-tiba beruban seperti ini tetap membuatnya sedikit terkejut."Papa, kenapa rambut Papa tiba-tiba jadi putih?" tanya Anya dengan polos."Mungkin karena akhir-akhir ini Papa terlalu banyak mikir," jawab Raka dengan nada santai."Papa, apa pun yang terjadi, aku tetap mencintai Papa," kata Anya dengan suara lantang.Hati Raka langsung tersentuh oleh kata-kata putrinya yang polos dan hangat itu. Dia berjongkok dan mencium pipi anaknya. "Benar-benar anak Papa yang baik."Saat itu Lastri keluar sambil membawa sup. Ketika tanpa sengaja melihat Raka di bawah cahaya lampu, dia tertegun beberapa detik. Namun, dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya merasa sedikit
Cahaya yang sempat menyala di mata Raka kembali meredup, tertutup oleh pembuluh darah merah yang memenuhi matanya."Aku ambilkan air hangat untukmu." Dia berdiri dan berjalan ke arah meja minum, lalu menuangkan segelas air hangat untuk Brielle.Brielle tidak langsung menerimanya. Suara Raka kembali menjadi rendah seperti biasa. "Dokter menyarankan kamu harus lebih banyak minum air."Brielle akhirnya mengulurkan tangan dan mengambilnya. Setelah meneguk beberapa kali dia berkata, "Aku benar-benar sudah nggak apa-apa. Kamu bisa pergi."Raka tetap duduk di sana. "Aku akan pergi setelah kamu melakukan pemeriksaan jantung dan memastikan kamu benar-benar baik-baik saja.""Pemeriksaan jantung?" Brielle mengerutkan kening."Ya. Itu saran dokter." Raka mengangguk.Brielle menggeleng. "Nggak perlu. Aku tahu kondisi tubuhku sendiri.""Kalau memang benar begitu, kamu nggak akan pingsan sampai masuk rumah sakit," Raka mendengus pelan.Brielle terdiam."Kalau kamu nggak ingin mengalami nasib seperti
Semalam para perawat di meja jaga masih membicarakannya. Namun, hari ini dia malah melihat pria itu berubah beruban hanya dalam satu malam demi wanita yang terbaring di tempat tidur itu.Di antara rambut hitamnya yang tebal, helai-helai uban itu tampak semakin jelas. Meski tidak mengurangi ketampanannya, pemandangan itu tetap membuat orang merasa iba.Perawat itu diam-diam menyelesaikan pekerjaannya lalu keluar. Ketika dia menceritakannya kepada rekan-rekannya, semua orang terkejut. Meski mereka bekerja di rumah sakit dan sudah sering melihat berbagai tragedi manusia, kejadian rambut memutih dalam satu malam tetap jarang terjadi."Benarkah?""Benar. Karena dia terlalu tampan, semalam aku sampai melihatnya beberapa kali. Waktu itu rambutnya masih hitam semua. Tapi pagi ini waktu aku melihatnya lagi, sudah ada banyak uban di antara rambut hitamnya. Kalau tekanannya bertambah sedikit lagi, mungkin suatu hari rambutnya bisa benar-benar memutih.""Bu Brielle itu mantan istrinya, 'kan? Kalia
Devina menggigit bibirnya, memegang cangkir teh dengan ekspresi sedikit canggung. Dialah guru piano pertama Anya, tetapi sekarang Anya sama sekali tidak menyebut namanya.Melihat Anya mengangkat dagu mungilnya yang bulat, menatap Brielle dengan penuh kekaguman, Devina tak kuasa mencaci dalam hati, '
Akhir pekan, Brielle tetap tinggal di rumah. Raka pergi ke rumah Keluarga Pramudita untuk menemani Anya dan Brielle tidak ikut.Hari Senin.Setelah mengantar Anya, Brielle langsung menuju lokasi ujian di Fakultas Kedokteran. Jurusan utamanya adalah Ilmu Penyakit Dalam, tetapi ujian lulus percepatan
Namun di mata Raka, Brielle seolah tidak pernah ada. Bahkan jika Brielle menyerahkan hatinya, pria itu tetap tak akan peduli."Ayo naik! Malam ini aku yang traktir," ucap Brielle dengan lugas."Kalau begitu, aku nggak akan sungkan," jawab Syahira.Keduanya pun melangkah masuk ke dalam lift. Tepat sa
Brielle melirik sekilas tesis itu, lalu tersenyum tipis. "Menurut Profesor Madeline sendiri bagaimana?"Andai Brielle gagal lulus ujian kali ini, Madeline pasti akan mengira itu hanyalah peninggalan Adam. Namun dengan nilai yang begitu mencengangkan, dia benar-benar bisa memercayai bahwa itu adalah







![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)