MasukBrielle tertegun sejenak, lalu menerima botol air itu dan mulai minum. Setelah latihan barusan, dia mulai merasa olahraga ini tidak semembosankan yang dibayangkan.Mereka berdua berjalan ke area istirahat di dekat sana. Seorang pelayan datang mengantarkan minuman dingin dan sepiring buah potong.Melihat ekspresi Brielle yang tampak lebih santai, Raka berkata dengan santai, "Dari pihak kamar dagang, ada satu kuota untuk mengikuti konferensi pertukaran riset internasional di Negara Madagasa. Acaranya bulan depan.""Temanya berkaitan dengan perkembangan mutakhir di bidang ilmu saraf. Pak Elliot sudah bantu mengajukan berkas pendaftaranmu. Kamu bisa ikut."Brielle memang sedang memperhatikan konferensi itu. Karena itu, saat mendengar bahwa Elliot telah membantu mengajukan kuota untuknya, dia benar-benar terkejut sekaligus senang."Benarkah? Kalau begitu aku harus berterima kasih padanya."Raka mengangkat sudut bibirnya. "Ini cuma karena pihak investor optimis terhadap prospek proyek ini, j
Brielle mengabaikan pujiannya. "Ayo berangkat."Sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak berbicara.Setelah tiba di lapangan golf, suasananya begitu tenang dan asri. Hamparan rumput hijau membentang luas sejauh mata memandang, membuat siapa pun yang menginjaknya merasa segar dan rileks.Brielle pun merasakan hal yang sama. Sudah lama dia tidak melihat padang rumput sehijau ini. Tanpa sadar, suasana hatinya menjadi lebih rileks dan nyaman."Masih ingat gerakan yang diajari Lambert waktu itu?" tanya Raka tiba-tiba.Brielle mengingat kembali kejadian saat bermain golf sebelumnya. Saat itu, Lambert hanya mengajarinya cara memegang stik dan mengayunkannya. Namun sekarang, semuanya sudah terlupakan.Raka menyipitkan mata sambil tersenyum. "Hari ini aku yang akan ajari kamu.""Boleh nggak kalau aku nggak belajar?" tanya Brielle sambil mendongak."Karena sudah datang, kenapa nggak sekalian belajar? Setidaknya biar nggak sia-sia," bujuk Raka.Brielle berpikir sejenak. Karena ini adalah harga y
"Nggak perlu berterima kasih." Brielle berjalan menuju pintu. Namun, tiba-tiba dia merasa perlu menegaskannya sekali lagi dengan kata-kata yang lebih berat."Mungkin sekarang kamu nggak nyesal, tapi belum tentu di masa depan nggak bakal nyesal. Toh hidupmu adalah milikmu sendiri. Kalau kamu menghabiskan waktu dan energimu untukku ...." Dia berhenti sejenak, lalu menyimpulkan dengan tiga kata, "Itu sangat bodoh."Raka menyipitkan mata sambil tersenyum. "Kamu sendiri yang bilang hidupku milikku sendiri. Kalau begitu, bukankah aku berhak menentukan gimana aku ingin menghabiskan waktu dan energiku?"Brielle langsung terdiam. Memang benar, Raka berhak menentukan jalan hidupnya, sama seperti dirinya yang berhak menentukan hidupnya sendiri."Besok masih libur?" tanya Raka tiba-tiba dengan suara rendah.Brielle mengernyit menatapnya. "Ada perlu apa?""Besok temani aku main golf.""Aku nggak bisa main golf." Brielle memang tidak tertarik dengan olahraga itu."Aku bisa ajari kamu." Raka mengangk
Ekspresi Brielle yang tiba-tiba menjadi serius membuat Raka tertegun sesaat. Tak lama kemudian, dia bergeser ke samping memberi jalan."Kita bicara di dalam."Brielle ragu sejenak, tetapi akhirnya tetap melangkah masuk ke rumahnya. Ruang tamu yang luas dan terang itu diterangi sinar matahari yang masuk dari luar, tetapi tetap terasa dingin.Raka meletakkan obat di atas meja, lalu pergi mengambilkan minuman untuk Brielle. "Mau kopi, teh, atau air hangat?""Kopi." Brielle mendongak dan menjawab. Dia ingin pikirannya lebih jernih.Raka kembali dengan secangkir kopi dan segelas air hangat. Setelah duduk, dia memandang Brielle dengan tenang, menunggu wanita itu memulai pembicaraan terlebih dahulu.Brielle mengangkat cangkir kopi dan menyesapnya sedikit. Dalam hati, dia menyusun kata-kata yang ingin disampaikan.Kemudian, dia mengangkat kepala. "Ada beberapa hal yang kurasa lebih baik kita bicarakan dengan jelas. Seharusnya ini baik untuk kita berdua ... atau lebih tepatnya ... untukmu."Rak
Kali ini, Harvis merasa perlu menyadarkan Brielle.Ucapan Harvis bagaikan sebuah kerikil yang jatuh ke permukaan danau di hati Brielle. Jemarinya yang menggenggam cangkir sedikit mengencang. Bulu matanya yang panjang terkulai, menutupi emosi di balik sorot matanya.Bagaimana mungkin dia tidak merasakannya?Awalnya Raka berinvestasi di laboratorium tanpa memperhitungkan biaya, lalu sekarang pria itu perlahan-lahan terlibat dalam setiap aspek kehidupannya. Banyak hal sudah melampaui batas sewajarnya.Brielle menghela napas pelan, lalu menatap Harvis dengan tatapan yang jernih dan tenang. "Kak Harvis, aku tahu apa yang harus kulakukan."Harvis ikut menghela napas. "Sebenarnya aku juga nggak seharusnya ikut campur. Aku cuma mengatakan beberapa hal sebagai seorang teman.""Aku tahu apa maksudnya, tapi mengetahui dan cara menanggapi adalah dua hal yang jauh berbeda." Brielle menoleh ke luar jendela."Aku berterima kasih atas dukungannya dalam karierku. Demi Anya, aku juga bersedia menjaga hu
Saat pintu lift menuju lantai 27 menutup, Raka mengucapkan satu kalimat kepada Brielle, "Terima kasih."Brielle memandangi pintu lift yang telah tertutup. Hatinya bukannya tanpa gejolak sama sekali. Dia bisa merasakan permintaan maaf dan sikap mengalah dari Raka.Namun, luka masa lalu terlalu dalam. Banyak hal telah kehilangan kesempatan untuk diulang kembali.Misalnya cinta Brielle kepadanya, antusiasmenya terhadapnya, serta hati yang sejak lama telah padam untuknya.Mereka bisa menjadi teman, bisa menjadi rekan, bisa menjadi investor dan pihak yang menerima investasi. Namun, satu hal yang mustahil adalah menjadi suami istri lagi.Setelah kembali ke rumah, Brielle memberi tahu Lastri untuk tidak menyiapkan makan siangnya. Setelah itu, dia naik ke lantai atas untuk bekerja.Pukul 11.30 siang, Brielle menerima pesan dari Harvis. Dia turun ke lantai bawah. Ketika sedang memikirkan pekerjaan, tiba-tiba dia melihat sosok yang dikenalnya berjalan dari arah depan. Itu adalah Savana, ibu Lamb
"Aku rasa dia nggak punya latar belakang pendidikan yang layak. Seseorang yang bahkan nggak lulus kuliah, mana mungkin bisa racik obat khusus? Kalau publik tahu, bisa-bisa jadi takut minum obatnya!""Benar juga sih. Faye memang lebih cocok mewakili laboratorium kita."Kedua wanita itu keluar sambil
Devina menatap Brielle. "Brielle, kalung malam ini untukmu saja. Kamu jangan marah ya?"Brielle termangu sesaat, lalu menatap mata Devina yang penuh senyuman licik dan perhitungan."Kamu boleh ambil sesukamu semua barang yang nggak aku inginkan." Selesai berbicara, Brielle melirik ke arah pria di si
"Baik, Pak Raka. Karena sudah disetujui, aku akan suruh bagian keuangan transfer dananya," kata manajer departemen investasi.Seorang rekan kerja di sampingnya mendorong kacamata ke atas dan memberanikan diri bertanya, "Pak Raka, kasus hukum Perusahaan Horizon belum ada keputusan. Apa perusahaan kit
"Nek, nggak usah. Aku ....""Raka, kamu dengar nggak?" Emily langsung memerintahkan cucunya."Dengar," jawab Raka yang sedang menemani Anya.Emily pun terlihat puas dengan jawaban itu. Dia berpaling ke Brielle dan berkata, "Kalau dia nggak mau belikan, biar Nenek yang belikan untukmu."Brielle terma







