เข้าสู่ระบบMobil melaju kencang. Di sepanjang jalan, Raka menelepon beberapa pihak. Dia langsung menghubungi jajaran tinggi pemerintah kota, meminta agar proses penanganan anjing-anjing yang ditangkap semalam dihentikan sementara.Siapa sangka, orang terkaya di Kota Amadeus akan mengerahkan kekuasaan dan sumber daya sebesar itu hanya demi seekor anjing.Mobil Zakie mengerem mendadak, berhenti di depan sebuah halaman tua di pinggiran kota. Tempat itu adalah lokasi penampungan sementara. Tanpa menunggu Zakie membukakan pintu, Raka sudah mendorong pintu mobil dan turun, melangkah cepat masuk ke dalam.Beberapa petugas yang sedang duduk minum teh di dalam langsung terpaku melihatnya.Melihat pria dengan setelan jas mahal dan wajah dingin itu, mereka sejenak tidak tahu harus bagaimana bereaksi.Penanggung jawab lokasi itu langsung teringat pada panggilan telepon yang diterimanya 20 menit lalu. Katanya ada seorang pengusaha kaya yang kehilangan anjing, kemungkinan ada di tempat penampungan ini.Tak dis
Anya mengenakan tas sekolah kecil di punggungnya. Sepasang matanya yang besar berkedip-kedip melihat ayah dan ibunya. Meski masih kecil, dia sudah mulai peka membaca situasi.Dia mendongak dan bertanya, "Ma, tadi Mama mau bilang apa ke Papa?"Brielle mengusap kepalanya. "Mama mau ke Kyoza untuk rapat. Kamu ikut Papa dulu, ya?""Baik! Nanti Mama bawakan aku oleh-oleh dari Kyoza?" Anya bertanya penuh harap."Iya, pasti." Brielle mengangguk.Sejak kecil, Anya memang termasuk anak dengan kebutuhan tinggi. Setelah mulai mengenali orang, dia sangat menolak orang asing dan hanya mau dekat dengan ayah dan ibunya. Dulu sempat ada tiga pengasuh di rumah, tapi akhirnya diberhentikan oleh Brielle.Kalau sedang rewel, bahkan Lastri pun tidak bisa menggendongnya. Itu sebabnya Brielle dan Raka selalu turun tangan sendiri dalam segala hal untuk putri mereka. Brielle juga terbiasa secara mental, bahwa dia belum bisa benar-benar mempercayakan anaknya pada siapa pun selain Raka.Setelah Raka membawa Anya
Harapan Brielle kembali pupus. Rasa kecewa langsung menyelimuti hatinya. Dari belakang, Raka berkata dengan lembut, "Kita lanjut cari ke depan."Mereka kembali menyusuri area itu sekali lagi, lalu berputar kembali ke titik awal. Tetap tidak ada kabar sama sekali. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Raka melirik jam tangannya, lalu berkata pada Brielle, "Kamu pulang dulu, temani Anya istirahat. Aku yang lanjut cari."Jam segini, Anya memang sudah waktunya tidur. Apalagi hari ini baru hari Selasa, besok dia masih harus sekolah."Baik." Brielle mengangguk, lalu berjalan ke mobilnya dan masuk ke garasi.Sesampainya di rumah, Anya masih menunggunya di sofa. Dengan penasaran dia bertanya, "Mama, Papa nggak pulang bareng Mama?"Lastri menatap Brielle di samping. Brielle sedikit menggeleng, lalu berkata pada Anya, "Temani Mama ke atas. Mama mandi dulu, nanti Mama bacakan cerita."Anya berkedip sedikit bingung, lalu bertanya, "Ma, kenapa aku nggak lihat Gaga? Dia ke
Di seberang telepon terdiam beberapa detik, lalu kembali dengan nada tenang seperti biasa, "Kamu naik dulu, aku yang turun cari."Brielle menoleh ke Lastri yang terlihat kelelahan. "Bi Lastri, kamu pulang dulu, jaga Anya. Kami lanjut cari."Sejak Gaga hilang, Lastri sudah bolak-balik entah berapa kali dan berjalan hampir satu jam. Wajahnya terlihat cemas, lelah, dan haus. Brielle juga tidak tega."Baik, Nyonya, saya naik dulu jaga Anya." Setelah berkata demikian, Lastri berjalan menuju gerbang kompleks.Tidak sampai lima menit, sosok Raka sudah muncul di pintu masuk kompleks. Dia berjalan cepat ke arah taman kecil di seberang. Zakie dan Brielle sudah menyisir area sekitar dan kembali ke titik awal.Raka berjalan ke sisi Brielle, pandangannya menyapu wajahnya yang penuh cemas, lalu bertanya dengan suara rendah, "Tepatnya hilang di mana?"Brielle menunjuk ke satu arah, "Kata Bi Lastri, dia lari ke sana.""Pak Raka, orang kami sudah menyisir dengan mobil di sekitar sini. Kalau ada kabar a
Pekerjaan mereka sekarang hanya tinggal mengolah dan menyusun data, bukan bagian yang terlalu krusial.Meskipun pembimbingnya setiap hari menanyakan perkembangan dengan cemas, penelitian memang bukan sesuatu yang bisa selesai dalam satu dua hari. Mereka juga harus siap menghadapi proses jangka panjang.Brielle meraih tas dan jaketnya, lalu berlari keluar dari laboratorium. Dia masuk ke mobil, lalu langsung melaju ke arah rumah. Di belakangnya, dua mobil SUV hitam segera mengikuti.Brielle teringat bahwa Gaga memang agak penakut. Kalau bertemu anjing yang lebih besar biasanya dia akan takut. Namun, dia juga tahu Gaga sudah sangat familier dengan lingkungan sekitar, seharusnya tidak mudah tersesat.Selama tidak terjadi hal lain, seperti kecelakaan, atau ... ditemukan orang yang berniat jahat lalu dibawa pergi ....Brielle tidak berani melanjutkan pikirannya. Lebih baik cepat pulang dan mencarinya.Dia mengemudi hingga sampai di gerbang kompleks. Dari kejauhan dia melihat Lastri berdiri d
Devina segera menunjukkan wajah penuh keluhan, "Tapi di kontrak ada klausulnya, Winston. Kalau aku hamil, Raka masih bisa memaksaku donor darah, itu nggak baik untuk anak. Aku nggak mau anak kita sampai nggak bisa dipertahankan."Winston memang memilih Devina untuk melahirkan anaknya karena dia melihat kecerdasan dan kemampuannya. Menurutnya, wanita yang punya ambisi belum tentu buruk.Setelah menimbang beberapa detik, Winston merangkul Devina dan berkata, "Jangan takut, urusan ini serahkan padaku. Sehebat apa pun Raka, dia nggak mungkin bertindak semaunya. Aku akan cari tim pengacara terbaik untuk meneliti kontrak itu. Bagaimanapun caranya, aku akan membantumu lepas darinya."Di mata Devina sempat terlintas kegelisahan, teringat klausul tambahan dalam kontrak itu. Namun dia berpikir, di mata Winston, dia pasti sudah dianggap pernah tidur dengan Raka, jadi masa lalunya pun tidak akan dipedulikan.Kalau begitu, biarkan tim pengacara Winston berhadapan langsung dengan tim pengacara Raka.
Brielle merasa agak bersalah. "Maaf, Kak Harvis. Keputusan ini agak mendadak, jadi belum sempat memberi kabar kepadamu."Harvis menghela napas. Dia juga tahu bekerja di laboratorium Raka memang sedikit mengekang bagi Brielle."Aku tahu. Aku juga mengerti perasaanmu. Hanya saja ... aku sulit melepas
Raka mendongak menatap Brielle yang tampak tak senang. Dia mengangkat putrinya lalu berkata, "Ayo kita ke bawah untuk kepang rambut, ya?""Oke!" jawab Anya dengan suara imut. Ketika melihat ibunya, dia berseru gembira, "Mama, lihat, Papa sudah pulang."Di depan putrinya, Brielle tidak bisa berkata a
Saat itu, terdengar ketukan dari luar pintu. Setelah Madeline mengatakan "masuk", Brielle masuk sambil membawa berkas.Faye langsung menoleh. Kilatan cemburu menyala di dalamnya.Brielle melihatnya dan jelas tertegun sesaat. "Bu Madeline, nanti aku datang lagi.""Brielle, masuk saja." Madeline berka
Sepanjang perjalanan, suasana terasa ringan. Hampir seluruh percakapan mereka berkisar pada topik tentang anak-anak.Sesampainya di depan rumah Brielle, Lambert turun dari mobil dan mengambil koper Brielle dari bagasi, lalu berkata, "Sampai jumpa besok di sekolah.""Baik, terima kasih. Hati-hati di







