Share

Bab 438

Penulis: Ayesha
Niro memang sempat menanyakan hal itu secara pribadi dan ternyata pertemuan Raka kali ini memang sudah dijadwalkan sebelumnya, hanya saja waktunya benar-benar kebetulan. Seolah Raka sengaja memilih datang tepat di saat Brielle berada di sini. Mungkinkah ....

"Paman Niro, ayo makan! Aku lapar," kata Anya sambil menggandeng tangannya.

"Baik, ayo. Paman traktir kamu dan Mama makan yang enak," jawab Niro sambil tersenyum.

Begitu mereka bertiga keluar dari ruang istirahat, mereka langsung berpapasan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (9)
goodnovel comment avatar
Hellen Flora Simanjorang
...si j4lang-kung
goodnovel comment avatar
Dyah Wiryastini
Raka tambah kebakaran jenggot
goodnovel comment avatar
Suryat
Niro dan Brie gak mungkin sejauh itu raka.. gak kyk kamu dan si jalang yg selalu nempel kyk perangko..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1112

    "Devina, jangan main trik denganku. Jelaskan padaku, atas dasar apa kamu bisa mendapat saham itu." Faye sudah begitu marah sampai kehilangan kendali. Sikap sopannya yang biasa benar-benar lenyap, yang tersisa hanya kebencian karena hartanya dirampas.Di seberang sana, nada suara Devina menjadi sedikit dingin. "Faye, karena kamu mau tahu, aku akan beri tahu. Itu hadiah dari Raka untukku dan Ayah juga menyetujuinya."Faye membelalakkan matanya dengan tidak percaya. "Apa katamu?""Faye, aku tahu ini sulit kamu terima, tapi ini adalah kompensasi yang Raka berikan padaku," lanjut Devina. "Juga ... uang perpisahan darinya."Kepala Faye kembali berdengung. Devina dan Raka sudah putus? Pantas saja tadi Raka begitu dingin padanya. Jadi, Devina memang tidak mampu lagi mengikat Raka. Namun, menggunakan 13% saham perusahaan sebagai uang perpisahan jelas merugikan dirinya. Bagaimana mungkin dia tidak marah?"Devina, kamu masih punya rasa malu atau nggak? Kamu putus dengan Raka, atas dasar apa kamu

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1111

    Saat rapat berlangsung, Faye duduk di barisan paling belakang. Dia diam-diam menatap ke arah Raka yang duduk di kursi utama. Melihat ekspresinya yang fokus mendengarkan laporan, tidak sekali pun melirik ke arahnya.Seorang elite bisnis seperti Raka, bagaimana bisa tertarik pada Brielle? Saat tahun pertama kuliah, Brielle belum punya pencapaian akademik apa pun, bahkan dulu dia sampai putus kuliah demi cintanya pada Raka.Di dalam rapat, laporan Harvis sangat mengesankan. Beberapa kali Raka bahkan menunjukkan ekspresi puas. Faye memandang Harvis, hatinya semakin tidak rela. Dia sudah berada di sisi Harvis selama dua setengah tahun, tetapi tetap saja tidak pernah mendapat sedikit pun perhatian darinya.Setelah rapat selesai, Faye sengaja menunggu di sudut koridor, berharap Raka akan memperhatikannya dan menyapa lebih dulu. Namun, Raka berjalan bersama Jared melewatinya, bahkan sekilas pun tidak melirik ke arahnya dan langkahnya juga tidak berhenti sedetik pun.Faye berdiri di koridor, me

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1110

    Keesokan paginya.Saat Brielle keluar mengemudi, dia memperhatikan mobil Zakie mengikuti di belakang. Brielle tidak menolak perlindungan ini. Meskipun dia juga bisa menyewa pengawal sendiri, pengawal Raka sudah lama mengikutinya, jadi dari segi tanggung jawab dan kemampuan, mereka sangat bisa diandalkan.Meira sedang menjalani pengobatan obat baru dan Brielle juga tidak punya waktu maupun energi untuk mengurus keamanan sendiri.Siang hari, Brielle menyempatkan diri melakukan panggilan video dengan Harvis untuk membahas beberapa proyek sipil. Saat ini, pengembangan proyek sipil Grup Pramudita sudah jauh melampaui standar perusahaan lain. Dengan dukungan teori dari proyek BCI, kualitas produknya juga kelas satu.Brielle mengagumi ketajaman Raka dalam menilai orang dan arah investasi. Sebagai sosok yang memimpin Grup Pramudita hingga terus berkembang kuat, Raka memang punya keberanian dan kemampuan itu.Saat itu, Harvis berkata, "Aku harus pergi rapat dulu, Pak Raka sudah datang."Brielle

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1109

    Saat makan malam, Brielle tidak terlalu berselera. Dia makan sangat sedikit.Raka melihatnya menghabiskan setengah piring nasi dan langsung meletakkan sendoknya. Di matanya pun terlintas sedikit kesuraman. Dia ikut meletakkan sendok, seolah-olah tidak berniat melanjutkan makan."Tuan Raka, nasinya masih ada, makan lagi ya," ujar Lastri."Nggak, aku sudah kenyang." Raka melambaikan tangan.Kebetulan Anya juga meletakkan sendoknya. Dengan butiran nasi masih menempel di sudut bibir, dia berkata, "Papa, aku sudah selesai."Raka mengambil tisu dan menyeka mulut kecilnya. "Mau Papa temani kamu main lagi?""Mau!" Anya mengangguk cepat.Brielle berdiri. "Aku ke ruang kerja dulu."Lastri melihat Brielle juga makan sangat sedikit. Apa karena hari ini Raka ada di sini, jadi memengaruhi selera makannya?Sebenarnya bukan itu alasannya. Brielle memang sengaja hanya makan sedikit karbohidrat di malam hari, karena rasa lapar bisa membuat pikirannya lebih jernih.Di depan laptop, Brielle sedang mengeti

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1108

    Setelah hening beberapa detik di seberang, terdengar suara rendah Raka. "Ngapain sungkan-sungkan sama aku?""Sudah ya." Brielle langsung menutup telepon.Saat itu, Zakie juga sudah berjalan sampai ke jendela mobilnya. Brielle menurunkan kaca. Zakie berkata dengan wajah penuh rasa bersalah, "Bu Brielle, maaf ya, apa kami tadi bikin kaget?""Lumayan." Brielle mengangguk jujur."Pak Raka khawatir dengan keselamatanmu, jadi kami diminta melindungimu secara diam-diam selama sebulan. Karena takut kamu kepikiran, beliau nggak memberi tahu dari awal," lanjut Zakie. "Pak Raka juga nggak ingin kejadian dua tahun lalu terulang lagi."Brielle tertegun. "Dua tahun lalu ... kalian juga yang melindungiku?"Zakie mengangguk. "Ya. Waktu itu kami dengar Bu Brielle diadang orang suruhan Rinald dari pabrik kimia. Pak Raka langsung menugaskan kami melindungi secara diam-diam sampai Rinald dipenjara dan dipastikan nggak ada ancaman lagi."Brielle benar-benar terkejut. Dia ingat setelah kejadian menegangkan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1107

    Dengan kelicikan dan cara bermain yang dimiliki Brielle saat masih berusia 20-an, jelas dia bukan tandingan Devina. Bahkan bisa jadi dia akan dihancurkan habis-habisan oleh berbagai tipu daya Devina."Terima kasih sudah memberitahuku semua ini," kata Raline sambil mengangguk pada Shindy, lalu dia menambahkan, "Lihat tas ini, kamu suka nggak?"Shindy mengambil tas itu dan langsung terkejut. Matanya berbinar. "Ini nggak bisa dibeli di dalam negeri.""Harus punya koneksi untuk mendapatkannya," jawab Raline.Shindy berpikir, hanya orang dengan status seperti Raline yang bisa mendapatkan barang edisi terbatas yang asli.Setelah Shindy pergi membawa tas itu, Raline duduk sendiri di kafe, menenangkan perasaannya sebelum akhirnya bangkit dan pergi.Meskipun tahu menggali masa lalu Devina hanya akan membuatnya semakin marah dan tersiksa, Raline tetap bersikeras. Dia ingin mengungkap semuanya, ingin tahu seberapa rendah Devina sebenarnya bisa bertindak.Pukul 4.30 sore, mobil Brielle keluar dari

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 311

    Brielle mengambil kunci mobil sambil mencari kendaraannya. Di tempat parkir bawah jembatan yang remang-remang, sebuah Porsche Cayenne putih menyalakan lampu hazard. Niro berputar ke kursi penumpang, membuka pintu lalu naik ke dalam. Kedua kakinya yang panjang terasa agak canggung, jadi dia kembali m

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 345

    Brielle kembali ke ruang kerja, lalu menyalakan komputer untuk memeriksa data eksperimen. Meskipun tubuhnya masih agak lemah, tetapi bekerja bisa membuatnya sementara lupa pada semua hal yang membuat hatinya gelisah.Tidak lama kemudian, Syahira mengirim pesan menanyakan tentang Chiva. Dia baru saja

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 322

    Malam itu, Anya tetap bermalam di rumah Keluarga Pramudita. Brielle berpikir, wajar saja putrinya senang berada di sana, karena anak kecil memang menyukai suasana meriah saat hari raya.Beberapa hari terakhir dia hampir terus berada di laboratorium. Rumahnya bahkan belum ditempeli hiasan tahun baru,

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 353

    Brielle masih duduk di ruang istirahat butik hingga sekitar pukul enam sore, barulah dia berangkat menuju aula hotel yang tak jauh dari sana.Setelah menyerahkan mobilnya pada petugas valet, tubuh anggunnya melangkah masuk ke lobi. Gaun panjang hijau zamrud yang membalut tubuhnya sempurna, menonjolk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status