FAZER LOGINSaat itu, ponsel Brielle berdering. Dia mengambilnya dan melihat bahwa itu adalah nomor tak dikenal, tetapi berasal dari kota yang sama.Brielle mengerutkan kening, lalu berjalan ke balkon untuk menjawabnya."Halo, siapa ini?" tanyanya dengan sopan terlebih dahulu."Brielle, ini aku. Bisa ngobrol sebentar?" Dari ujung telepon terdengar suara Devina yang sedikit bernada provokatif.Brielle sebenarnya tidak menyangka Devina masih punya keberanian untuk meneleponnya. Setiap kali menelepon, dia juga cukup pintar dengan mengganti nomor, karena nomor lamanya sudah masuk daftar blokir Brielle."Nggak ada yang ingin kubicarakan denganmu." Brielle mendengus dingin, tidak ingin membuang waktu berbicara omong kosong dengannya.Namun, Devina tetap berbicara seolah-olah tidak peduli."Brielle, kamu benar-benar percaya aku dan Raka sama sekali nggak punya hubungan apa-apa? Masih ingat hari konserku di dalam negeri? Kalau saja kamu nggak tiba-tiba masuk ke ruang istirahatku dan mengganggu kesenangan
Lambert sesekali mengambilkan makanan untuk Brielle, tetapi dia selalu menggunakan sendok saji yang ada di samping. Saat melihat Brielle dengan senang hati memakan makanan yang dia ambilkan, suasana hatinya juga tanpa sadar menjadi sedikit lebih baik.Mereka selesai makan sekitar pukul 8 malam, lalu keluar setelah membayar. Begitu keluar dari aula restoran, Lambert memperhatikan bahwa meja Raka sudah dibereskan. Raka sudah pergi.Brielle juga melirik sekilas. Keduanya keluar dari restoran, lalu berjalan kaki kembali ke kompleks perumahan.Saat melewati zebra cross di lampu lalu lintas, Brielle baru saja melangkah ketika sebuah sepeda listrik yang melanggar aturan melaju melewati depan mereka. Lambert secara refleks melangkah maju, memegang pergelangan tangan Brielle, dan melindunginya ke sisi yang lebih jauh dari arus kendaraan, sekaligus menuntunnya menyeberangi zebra cross.Brielle tertegun sejenak. Lampu hijau untuk pejalan kaki di seberang hanya tersisa sembilan detik. Dia membiark
Gavin segera tersadar. Dari reaksi Brielle dan Lambert barusan, sepertinya makan malam ini ditraktir oleh Brielle. Sedangkan hubungan Brielle dengan Raka ....Gavin merasa dirinya tadi terlalu banyak bicara. Dia segera memusatkan perhatian dan mulai melaporkan pekerjaan yang ada di tangannya.Yang ada di tangannya adalah perkembangan salah satu proyek akuisisi penting Grup Pramudita baru-baru ini. Dia mulai melaporkannya dengan runtut dan jelas.Dia sedang menatap data-data itu, tidak menyadari bahwa pandangan atasannya sama sekali tidak tertuju pada angka-angka yang dia tunjuk. Tatapan bosnya yang dalam justru tertuju pada lorong yang mengarah ke ruang privat, sementara ujung jarinya tanpa sadar mengusap dinding gelas."Jadi, saat ini harga yang ditawarkan pihak lawan masih relatif tinggi. Setelah evaluasi dari departemen proyek, mereka menilai masih ada sekitar 10% ruang untuk negosiasi harga ...."Ketika Gavin mengatakan ini, dia berhenti sejenak menunggu instruksi atasannya. Namun,
"Brielle." Lambert menatapnya dengan hangat. Melihat mata ibunya yang memerah, dia meletakkan jaket, lalu duduk di sampingnya. Savana segera bertanya dengan cemas, "Lambert, gimana situasinya?""Mereka kekeuh sekali. Aku sudah menunjuk pengacara dan bersiap menempuh jalur hukum." Lambert menggosok pelipisnya. Perusahaannya baru saja melewati masa sulit, sekarang muncul masalah baru lagi dalam kehidupan pribadinya.Brielle berkata dengan tulus kepada Lambert, "Kalau ada yang bisa aku bantu, jangan ragu untuk ngomong."Walaupun Brielle tidak tahu apakah dirinya benar-benar bisa membantu, jika ada yang membutuhkan bantuannya, dia pasti akan berusaha sebaik mungkin.Lambert menatap Brielle dengan penuh syukur. "Terima kasih."Pada saat yang sama, dia juga tidak ingin Brielle terlalu mengkhawatirkannya. "Aku sudah bicara sama seorang pengacara otoritatif yang menangani sengketa hak asuh internasional. Dia bilang, peluang kita sangat besar, hanya saja perlu waktu untuk menjalani prosedurnya.
Brielle menoleh menatapnya. Walaupun dia tidak yakin apakah Raka benar-benar sedang flu, yang pasti dia memang tidak ingin menjemput anak bersama dengan Raka."Nggak perlu. Kamu pulang saja," tolak Brielle dengan datar.Tatapan mata Raka yang dalam sedikit meredup. Namun, dia tidak langsung pergi. Dia hanya mundur dua langkah sambil bersandar pada badan mobil, dan pandangannya tetap tertuju pada sisi wajah Brielle.Brielle bisa merasakan tatapannya. Beberapa detik kemudian, Brielle menoleh dan menatapnya dengan tajam.Ditatap seperti itu oleh Brielle, seulas senyum melintas di mata Raka. Barulah dia membuka pintu mobil, lalu membungkuk masuk ke dalam dan menyalakan mobil untuk pergi.Brielle merapikan rambut panjangnya. Bagaimanapun juga, suasana hatinya sedikit terpengaruh.Saat itu, gerbang sekolah sudah dibuka. Brielle berjalan menuju pintu sekolah bersama para orang tua lain. Ketika Anya keluar, kepalanya tertunduk seolah-olah sedang mengalami pukulan besar. Brielle segera berjongk
Madeline sedang berbicara dengan beberapa mahasiswa muda. Ketika mendengar suara Brielle, dia terkejut menoleh, lalu wajahnya langsung dipenuhi kegembiraan."Brielle, kenapa kamu kembali?"Madeline mengatakan beberapa hal kepada para mahasiswa itu, lalu berjalan ke arah mereka. Brielle memperhatikan wajahnya. Sepertinya pemulihan setelah operasinya berjalan cukup baik."Bu Madeline, kalau begitu kalian lanjut mengobrol. Aku kembali ke laboratorium dulu," kata Harvis dengan sopan.Setelah Harvis pergi, Madeline memperhatikan Brielle dengan saksama lalu bertanya pelan, "Brielle, gimana keadaanmu belakangan ini? Anakmu baik-baik saja?"Brielle teringat kejadian pingsan dan dirawat di rumah sakit sebelumnya. Tentu saja dia hanya menyampaikan kabar baik, "Aku baik-baik saja. Bu Madeline sendiri gimana? Gimana pemulihan tubuh Ibu?""Semua indikator sudah mencapai standar. Sekarang timku juga sudah dibubarkan. Setiap minggu aku hanya datang beberapa kali ke kampus untuk mengajar," kata Madeli
Brielle kembali tertidur dalam kondisi setengah sadar. Dia samar-samar merasakan ada tangan yang menyentuh lembut wajahnya. Dia tak punya tenaga untuk mengusirnya, hanya mengernyit dengan kesal.Di dekat telinganya, terdengar suara helaan napas panjang yang penuh ketidakberdayaan.Pagi hari, Brielle
Faye sebenarnya tidak pernah berniat mencuri hasil kerja Brielle, tetapi dia tahu begitu dia mengungkapkan kebenaran, orang tuanya pasti akan kecewa padanya. Namun ....Sejak kecil, Faye selalu diperlakukan sebelah mata oleh keluarganya karena dia bukan anak laki-laki. Ayahnya pun sering bersikap di
Keesokan sore, barulah Syahira mengantar Brielle dan Anya pulang. Anya yang bermain sepuasnya terlihat sangat gembira. Dia melompat-lompat sambil berseru, "Papa, Papa, aku pulang!"Brielle awalnya mengira Raka tidak ada di rumah. Namun, suara langkah dari lantai dua membuatnya menoleh. Raka berjalan
Harvis mengangkat kepala, sorot matanya penuh dengan pergulatan batin. Brielle berkedip, justru semakin penasaran menatapnya.Genggaman erat di tangan Harvis akhirnya mengendur. Dia menarik napas panjang dan berkata, "brie, sebaiknya ... aku kasih tahu kamu lain waktu saja."Namun, rasa ingin tahu B







