LOGIN"Aku yang pesan makanan untukmu," kata Raka, lalu menambahkan, "Aku pesan bubur ayam suwir dari tempat favoritmu."Brielle menatapnya dengan mata yang jernih dan tenang, lalu menolak. "Nggak perlu. Dulu mungkin aku suka, sekarang belum tentu masih cocok di lidahku."Gerakan Raka terhenti. Ada kilasan redup yang jelas di matanya. Dia terdiam beberapa detik, lalu bertanya dengan suara rendah, "Kalau sekarang, kamu suka makan apa? Aku suruh orang antar."Brielle menggeleng. "Makanan nutrisi dari rumah sakit saja sudah cukup."Raka menatap sisi wajah Brielle yang tenang. Memang dia sudah punya selera baru, kebiasaan baru, dan ... kehidupan yang baru."Baiklah." Akhirnya, Raka hanya menjawab singkat.Ruang rawat itu hening selama belasan detik. Raka melirik arlojinya. "Aku pulang dulu. Gavin ada di luar, kalau ada apa-apa langsung hubungi dia.""Nggak usah, suruh dia pulang istirahat saja. Kalau ada apa-apa, aku bisa panggil perawat." Brielle juga tidak ingin merepotkan Gavin."Aku suruh di
Brielle juga tidak menyangka, eksperimen bahkan belum benar-benar dimulai, tetapi dia sudah harus dirawat di rumah sakit. Luka di lengannya sudah dijahit, setengah lengannya dibalut rapat. Dia juga sudah berganti dengan pakaian pasien yang lebih nyaman.Brielle berbaring di ranjang. Rasa sakit ditambah kehilangan darah membuatnya sedikit kelelahan.Raka duduk di kursi di samping tempat tidurnya, menatap wajah pucatnya dengan sorot mata yang rumit."Jangan beri tahu Anya," kata Brielle.Raka mengangguk. "Ya." Kemudian, dia bertanya dengan suara rendah, "Ini bukan pertama kalinya kamu dicakar monyet, 'kan?"Brielle tertegun. Bagaimana Raka tahu sebelumnya dia pernah terluka seperti ini?Ada kilasan rasa bersalah di mata Raka. "Ke depannya aku akan minta mereka untuk lebih berhati-hati."Brielle tidak ingin membahas hal itu lebih jauh. Dia ingin beristirahat, jadi dia berkata kepada pria di kursi itu, "Kamu pulang saja. Di sini ada perawat yang jaga."Raka hanya mengubah posisi duduknya,
Brielle membungkuk, mulai memasang sensor di tubuh monyet itu. Dia fokus menatap layar di samping, sama sekali tidak menyadari bahwa monyet di meja eksperimen tiba-tiba membuka mata. Saat dia tersadar, lengannya sudah dicakar, meninggalkan beberapa luka dalam hingga berdarah.Darah seketika membasahi setengah lengan jas lab putihnya. Rowan dan Zondi di sampingnya langsung terkejut. Namun, begitu sadar, mereka segera menahan monyet yang dosis anestesinya kurang itu agar tidak melukai siapa-siapa lagi.Untungnya, tak lama kemudian efek anestesi kembali bekerja. Monyet itu kehilangan agresivitasnya dan dibawa kembali ke dalam kandang oleh Zondi.Rowan segera berlari ke luar, lalu kembali lagi membawa kotak P3K."Profesor Brielle, harus segera suntik tetanus dan vaksin rabies," kata Rowan.Brielle menahan rasa sakit, melepas jas labnya dan menggulung lengan bajunya. Di bagian tengah lengannya tampak beberapa luka cakaran serius dengan darah yang terus mengalir."Aku bantu balut dulu, terus
Raline sebenarnya sangat ingin memanggilnya "kakak ipar" lagi, tetapi dia khawatir Brielle akan tidak senang, jadi dia tidak berani sembarangan memanggil.Raline berjongkok, lalu menjelaskan kepada Anya dengan lembut, "Walaupun sekarang mamamu dan kakakku sudah berpisah, di hatiku dia tetap orang yang sangat dekat, jadi aku panggil dia kakak juga sama saja."Anya mengangguk setengah paham. "Oh, begitu ya!"Brielle menatap Raline dengan penuh rasa terima kasih. Dalam setengah tahun ini, Raline memang banyak berubah. Tidak lagi menjadi gadis manja dan egois seperti dulu, melainkan sudah belajar memahami dan menghargai orang lain.Tiba-tiba, Anya teringat sesuatu. Dia menarik Brielle. "Mama, sini lihat! Bibi kasih aku gitar, nanti dia bakal jemput aku buat belajar gitar."Brielle sedikit tertegun, tidak menyangka Raline juga bisa bermain musik.Raline ikut masuk ke ruang kerja. Di sana ada sebuah gitar klasik kecil yang terlihat sangat indah, jelas dibuat khusus untuk anak-anak."Aku dulu
Harvis terdiam sejenak, lalu berkata pelan, "Tapi pilihanmu waktu itu juga karena kamu ingin bertanggung jawab pada keluarga dan anakmu.""Kalau dipikir-pikir, itu cuma pengorbanan yang membuat diri sendiri terharu saja." Brielle tersenyum pahit."Jadi, Raka memilih bersikap ambigu dengan Devina, juga demi memastikan Devina bersedia mendonorkan darah untuk ibunya, begitu?" tanya Harvis dengan suara rendah, sorot matanya penuh selidik.Brielle menggigit bibirnya, terdiam beberapa detik sebelum berkata, "Itu pilihan dia. Aku bisa memahami keinginannya menyelamatkan ibunya. Tapi kalau waktu itu dia memilih jujur, aku pasti akan menghadapinya bersama dia."Harvis menatap Brielle. "Kalau begitu, Devina pasti menginginkan posisi sebagai Nyonya Pramudita."Brielle mengangkat kepala menatap Harvis, untuk sejenak, tak bisa menjawabnya.Kalau saat itu Raka jujur padanya dan Devina datang dengan kemungkinan untuk menyembuhkan penyakit genetik anak mereka, itu akan menjadi akhir yang berbeda. Dia
"Profesor Brielle, selamat pagi," sapa seorang asisten wanita.Brielle tersadar dari lamunannya, lalu membalas dengan senyuman sopan. Dia berjalan perlahan menuju gedung laboratorium, menyingkirkan potongan-potongan kenangan yang sengaja dia kubur, dan kembali masuk ke mode kerja.Pagi itu, Brielle mengadakan rapat dengan Rowan, membahas persiapan putaran eksperimen berikutnya. Demi mempercepat progres, penelitian mereka kini sudah melangkah lebih jauh dengan pendekatan yang cukup berani.Saat makan siang di kantin, Brielle baru saja duduk bersama Rowan, ketika Harvis datang membawa nampan dan berkata, "Profesor Rowan, boleh aku bicara sebentar dengan Profesor Brielle?"Rowan langsung berdiri, membawa nampannya ke meja lain. Brielle menatap Harvis dengan sedikit heran. "Kak Harvis, ada hal penting?"Setelah duduk, Harvis menatapnya dengan mata yang dalam. "Brie, tiba-tiba aku sadar aku pernah melakukan satu kesalahan dan aku merasa bersalah."Brielle sedikit tertegun. "Maksudmu apa?"H
"Ya, kami harus kembali ke kota dulu," jawab Jared."Ada masalah di perusahaan?" tanya Brielle."Bukan," Jared menggeleng. "Seorang teman dekat Pak Raka masuk ICU. Dia ingin segera pulang untuk memastikan keadaannya."Dari nada suara dan reaksi Raka saat tadi menelpon, dia bisa menebak bahwa satu-sa
Meira tadi hanya sempat melihat sekilas cucunya, tapi sampai sekarang bayangan itu masih teringat jelas di benaknya. Dia mengeluarkan ponsel dan menekan nomor putranya."Raka, tadi di sekolah aku melihat Brielle dan Anya. Bisakah kamu minta dia mengantar Anya ke rumah malam ini untuk makan malam ber
Brielle menatap Raka sekilas, lalu melangkah melewatinya sambil memeluk berkas di pelukannya.Saat Brielle sedang berbincang dengan Madeline, Raka mengetuk pintu dan masuk. Madeline sedikit terkejut. "Raka? Kenapa kamu datang ke sini?""Aku datang untuk mengetahui perkembangan proyek," jawab Raka. H
Brielle semula mengira Devina tidak datang, tetapi ternyata wanita itu hadir sebagai salah satu pengiring pengantin wanita.Devina jelas juga melihat Brielle. Saat pandangannya melintas ke arah Lambert yang duduk di sisi Brielle, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman samar yang sulit ditebak.







