MasukEntah sejak kapan, tatapan mabuk di mata Raka sudah menghilang. Yang tersisa hanyalah keseriusan yang belum pernah Brielle lihat sebelumnya. Dia baru saja hendak mengatakan sesuatu lagi.Namun tepat saat itu, lift berbunyi.Ding.Lift telah tiba di lantai tujuan.Percakapan mereka pun terputus.Brielle melangkah keluar lebih dulu. Raka mengikuti dari belakang. Sesampainya di depan pintu kamar, Brielle hendak membuka pintu dengan kartu akses. Tiba-tiba suara rendah Raka terdengar dari belakangnya, "Selamat malam."Meski Brielle tidak menjawab pertanyaannya tadi, jelas suasana hati Raka sedang sangat baik. Bahkan bisa dikatakan cukup bahagia.Brielle menjawab dengan sopan dan pelan, "Selamat malam.""Pesawat berangkat pukul sepuluh besok pagi," timpal Raka. Maksudnya jelas. Brielle tidak perlu memikirkan perjalanan pulang sendiri. Dia bisa kembali dengan jet pribadinya.Brielle membuka pintu, lalu masuk ke dalam kamar.Setelah pintu tertutup, sudut bibir Raka perlahan terangkat. Kemudian
Brielle merasakan seseorang masuk ke ruang teh. Dia mengangkat kepala, dan seketika pandangannya bertemu dengan Raka. Hanya dari satu tatapan itu saja, Brielle langsung mengerti. Niro pasti sudah memberitahukan keputusan mereka kepadanya.Raka tidak langsung berjalan ke arahnya. Dia lebih dulu menghampiri Faisal dan berbincang beberapa saat. Dibanding sebelumnya, dia tampak jauh lebih tenang dan sadar. Tanpa terasa, waktu menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh malam.Acara minum teh pun mendekati akhir.Setelah menerima sebuah panggilan telepon penting, Faisal meminta maaf kepada semua tamu. "Maaf semuanya. Ada keadaan darurat yang harus segera aku tangani. Malam ini kita akhiri sampai di sini. Kalau ada kekurangan dalam penyambutan kami, mohon dimaklumi."Semua orang menyatakan pengertian mereka. Jelas terlihat bahwa Faisal benar-benar memiliki urusan mendesak. Dia memanggil putranya, "Niro, tolong bantu aku antarin tamu."Kemudian, dia secara khusus menghampiri Brielle dan Raka.
Namun, Brielle sebenarnya sudah memahami sebagian alasannya. Dia mengangkat kepala dan menatap ke arah Raka. Kebetulan Raka juga sedang memandangnya. Saat mata mereka bertemu, Brielle melihat emosi yang tidak dapat dia pahami di dalam sorot matanya.Pada saat itu, Faisal berdiri dan berkata, "Di ruang teh sudah disiapkan teh. Ayo kita pindah ke sana dan menikmati beberapa cangkir bersama."Semua orang pun ikut berdiri dan bergerak menuju ruang teh. Saat Raka hendak bangun, Niro tiba-tiba menepuk bahunya dan duduk di sampingnya. "Pak Raka, boleh ngobrol sebentar?"Raka mengangguk. Brielle yang berdiri memandang kedua pria itu sejenak, lalu mengikuti Zondi dan yang lainnya menuju ruang teh.Setelah sebagian besar tamu pergi, Niro menuangkan secangkir teh untuk Raka. Ekspresinya tampak serius dan tulus. "Pak Raka, kali ini aku bisa sadar kembali berkat teknologi proyek antarmuka BCI milik perusahaanmu dan cip yang berhasil dibawa kembali tepat waktu."Dia menatap Raka dengan penuh rasa te
Brielle mengikuti Niro melewati lorong menuju ruang kerjanya. Di dalam ruangan yang luas itu, sebuah lemari pajangan besar yang memenuhi satu sisi dinding langsung menarik perhatian. Di dalamnya tersusun rapi berbagai piala, medali, dan sertifikat penghargaan."Semua ini kamu yang dapatkan?" tanya Brielle dengan takjub.Niro tersenyum tipis. "Sebagian besar, ya. Tapi ada juga yang didapat ayahku saat masih muda."Brielle berhenti di depan sebuah medali yang terlihat sangat mencolok. Dia memperhatikannya dengan saksama. Itu adalah Medali Jasa Kelas Satu.Niro yang berdiri di sampingnya menjelaskan dengan tenang, "Aku mendapatkannya lima tahun lalu dalam sebuah misi perbatasan." Dia tersenyum tipis seolah sedang mengenang sesuatu.Saat itu. dia hampir tidak bisa kembali hidup-hidup. Untungnya rekan-rekan setimnya tidak pernah menyerah padanya.Sama seperti kali ini. Dia rela mempertaruhkan nyawanya demi membawa anggota timnya pulang. Tidak meninggalkan siapa pun. Tidak menyerah pada siap
"Pak Faisal terlalu memuji. Ini memang sudah menjadi tanggung jawabku," jawab Raka dengan sopan.Tiba-tiba, Niro berdiri. Wajah tampannya dipenuhi rasa haru dan kegembiraan."Terima kasih kepada semua yang telah datang hari ini. Kalian semua adalah penyelamat hidupku. Tanpa kalian, mungkin aku nggak akan pernah bisa bangun lagi." Dia mengangkat gelasnya dan berkata, "Aku bersulang untuk kalian semua."Semua orang serempak mengangkat gelas dan menerima ungkapan terima kasih dari Niro.Setelah itu, pandangan Niro menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti pada Brielle. Mata mereka saling bertemu sesaat. Kemudian, Faisal juga mengangkat gelasnya dan berkata kepada semua yang hadir, "Selain itu, aku juga ingin mengumumkan sebuah kabar baik."Jantung Raka seketika terasa berat. Jari-jarinya yang menggenggam gelas tanpa sadar mengencang.Apakah akhirnya dia akan mendengar kabar yang paling tidak ingin dia dengar?Seluruh ruangan terdiam. Semua orang mendengarkan dengan saksama. Briell
Tanpa diduga, tebakannya ternyata benar. Saat Brielle membuka pintu kamarnya dengan kartu akses, Raka juga sedang membuka pintu kamar di sebelahnya. Dia tampak sedikit terkejut, lalu menatap Brielle."Aku di kamar sebelah. Kalau ada apa-apa, hubungi aku kapan saja.""Terima kasih," jawab Brielle dengan sopan.Alis Raka sedikit berkerut. Seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya dia menelannya kembali.Benar. Memang seharusnya mereka lebih sopan satu sama lain. Bagaimanapun, tidak lama lagi Brielle akan menjadi Nyonya Harmawan. Di masa depan, mereka bukan hanya perlu bersikap sopan, bahkan juga harus menjaga jarak yang pantas.Brielle menutup pintu kamar dan mengembuskan napas pelan. Sebenarnya, dia sedikit gugup dengan perjalanan ke Kyoza kali ini. Dia bukan orang yang menyukai acara sosial atau pertemuan formal.Menurutnya, Keluarga Harmawan tidak perlu berterima kasih secara berlebihan. Dia merasa apa yang dilakukannya hanyalah hal yang wajar.Namun dari pengaturan yang d
Thoriq tertegun sejenak. Dia langsung teringat pada Brielle. Dia juga mengikuti perkembangan dunia riset dan nama Brielle kini benar-benar sedang berada di puncak. Konon bahkan pejabat negara pernah memanggilnya secara khusus. Perlakuan seperti itu jelas belum pernah didapatkan Faye."Maaf, aku seha
Karena sudah meminta Raka menjaga putrinya, rasanya tidak pantas jika Brielle bersikap terlalu dingin. Dia segera mengangguk. "Iya, aku tahu.""Gavin sudah menunggumu di parkiran bawah. Biar dia yang mengantarmu ke bandara," tambah Raka. Tadi dia memang sudah menelepon Gavin. Demi bisa siap dipanggi
Brielle menatap mata Niro yang tulus. Kata-kata penolakan sudah sampai di bibirnya, tetapi akhirnya dia telan kembali. Dia memang tidak ingin terus merepotkan siapa pun, tetapi kebaikan Niro selalu membuat orang sulit menolaknya dengan tegas karena takut malah melukai perasaannya."Kalau memang ngga
Yang tersisa tadi sudah dimakan oleh Niro. Jelas terlihat bahwa kedua pria itu sama-sama tidak menyukai bihun atau mi. Mereka lebih suka roti kukus putih besar.Brielle mengambil setengah roti kukus yang tadi sudah dia gigit beberapa kali dari kotak makan. Dia merobek bagian yang sudah dia gigit, la







