Mag-log in"Mama sudah di rumah," jawab Brielle."Kalau begitu, Mama makan sama kami, 'kan?""Mama ....""Mama, ayo dong, ayolah!" Anya buru-buru merengek dengan manja, takut ibunya akan menolak.Hati Brielle langsung melunak."Baiklah, Mama ikut.""Kalau begitu, Mama turun ke parkiran ya! Papa jemput Mama," ujar Anya.Brielle juga ingin menemani putrinya keluar untuk bersantai sejenak. Setelah memberi tahu Lastri, dia pun turun. Saat tiba di area parkir, mobil Raka kebetulan baru saja berhenti di tempatnya.Jendela mobil turun. Anya melambaikan tangan kecilnya dengan gembira. "Mama, cepat!"Melihat putrinya yang begitu tidak sabar, Brielle tersenyum sambil menggeleng, lalu membuka pintu mobil dan masuk.Baru saja duduk, Raka menoleh ke arahnya. "Mau makan apa? Western food atau chinese food?""Terserah. Kamu yang pilih saja," jawab Brielle dengan tenang."Oke, aku yang atur."Tak lama kemudian, mobil Raka berhenti di depan sebuah restoran barat. Begitu turun dari mobil, Anya menggenggam tangan B
Saat Brielle masih mengamatinya, Raka sudah berjalan ke hadapan mereka. Kebetulan, dia menangkap tatapan Brielle yang sedang memperhatikan pengikat lengan kemejanya.Sudut bibirnya sedikit terangkat, nyaris tak terlihat."Jangan dilihat terus," ujarnya dengan suara rendah. "Kamu yang belikan."Kalimat itu membuat napas Brielle sedikit tertahan. Untuk sesaat, dia tidak tahu harus menjawab apa.Justru Syahira yang berada di sampingnya memperlihatkan ekspresi seolah-olah sedang menonton pertunjukan menarik. Dia segera mencari alasan untuk pergi."Brielle, aku ke toilet dulu. Kalian ngobrol saja." Tanpa menunggu reaksi Brielle, dia langsung kabur.Raka menambahkan penjelasan, "Kemejanya kurang pas. Pakai pengikat lengan jadi lebih cocok."Brielle memalingkan wajah. Dulu setelah mereka menikah, ukuran pakaian, selera, hingga warna pakaian Raka hampir semuanya diurus sendiri oleh Brielle.Namun, dia juga tidak percaya kalau sekarang Raka sampai tidak bisa mendapatkan kemeja yang pas.Brielle
"Mm." Brielle mengangguk pelan, sedikit tidak nyaman saat menghindari tatapan pria itu.Raka menangkap sorot matanya yang mengelak. Senyuman tipis muncul di matanya. Dia tidak ingin terus menekan, jadi dia berbalik dan pergi berbicara dengan manajer mengenai beberapa urusan.Brielle berjalan keluar. Syahira menghampirinya sambil membawa segelas sampanye. "Masih ada waktu. Minum sedikit untuk basahi tenggorokan."Brielle menerimanya. Baru saja menyesap sedikit, Syahira berkata, "Tadi aku lihat Raka sudah datang."Brielle mengangguk. "Mm."Tepat pukul 2 siang, acara peluncuran resmi dimulai.Setelah pembawa acara memberikan sambutan pembuka singkat, Raka bangkit dari kursinya dengan anggun dan tenang, lalu berjalan menuju podium.Di bawah sorotan lampu, posturnya tampak tegap. Setelan jas yang dikenakannya semakin menonjolkan aura elegan dan dinginnya. Sebagai ketua kamar dagang, pidatonya bernas, ringkas, dan penuh visi.Setelah pidato Raka selesai, pembawa acara berkata dengan penuh se
Sore harinya, Raka mengirim pesan kepada Brielle. Dia harus pergi ke Kyoza. Jika Brielle tidak punya waktu, dia akan meminta Raline menjemput Anya.Tentu saja Brielle punya waktu. Saat ini tugas serah terima proyek tidak terlalu berat, sehingga dia bisa pulang dan pergi kerja tepat waktu.Sore itu, Brielle tiba di taman kanak-kanak. Meskipun Anya sudah bersekolah seharian, energinya masih melimpah. Saat guru mengantarnya ke hadapan Brielle, gadis kecil itu langsung berlari menghampiri dengan lincah.Brielle memeluknya, lalu menggandengnya menuju mobil. Baru saja duduk di dalam mobil, si kecil sudah tak sabar melapor, "Mama, tadi pagi aku sudah bilang ke Papa! Aku bilang Mama muji Papa."Gerakan Brielle yang hendak menyalakan mobil langsung terhenti. Senyuman di wajahnya pun sedikit membeku.Dia tidak menyangka putrinya akan menceritakan ucapan yang dia lontarkan sembarangan semalam kepada Raka.Meskipun sebenarnya bukan masalah besar, Brielle tidak ingin putrinya melakukan hal seperti
Dari kontrak baru yang disusun ini, terlihat bahwa Raka tidak akan mencampuri pernikahan maupun urusan memiliki anak dari Devina. Bahkan siapa pun pria yang ingin diandalkan Devina, selama tidak memengaruhi kontrak, itu bukan urusannya.Gavin tak bisa menahan diri untuk berpikir, jika dulu dalam transaksi antara Devina dan bosnya, Devina tidak melampaui batas ... mungkin bosnya akan memberinya kehidupan yang layak dan terjamin.Namun, saat menikmati sumber daya dan kemewahan materi, Devina malah menginginkan lebih. Dia menginginkan status sebagai Nyonya Pramudita, menginginkan hati Raka.Devina membawa kontrak baru itu dan masuk ke mobil. Dia menggenggam dokumen itu erat-erat.Dia tahu bahwa selama ke depan dia patuh dan tidak membuat masalah, Raka juga tidak akan menyusahkannya.Namun, jika dia mencoba melepaskan diri, denda pelanggaran kontrak sebesar 40 triliun serta tim hukum Grup Pramudita akan membuatnya memahami konsekuensinya.Devina menarik napas dalam-dalam, lalu berkata kepa
Tatapan Devina menunjukkan sikap mengalah."Raka, aku sudah memikirkannya matang-matang. Aku bersedia menandatangani kontrak baru. Tapi dengan syarat, kamu nggak mencampuri pernikahan dan rencanaku memiliki anak.""Setelah aku menikah dan punya anak, aku akan tetap bekerja sama dengan laboratorium dan mendonorkan darah secara berkala."Tatapan Raka yang dalam tertuju ke wajahnya selama beberapa detik. Seolah mampu melihat seluruh isi pikirannya."Gavin," panggilnya dengan tenang.Gavin yang sudah menunggu di samping segera memindahkan dokumen ke hadapan Devina. "Ini adalah kontrak baru yang merupakan tambahan dari kontrak lama. Di dalamnya telah dicantumkan secara jelas bahwa kami tidak akan mencampuri urusan pernikahan maupun kelahiran anak Anda.""Bu Devina bisa membacanya dengan saksama. Kalau tidak ada masalah, Anda bisa langsung menandatanganinya."Tatapan Devina tertuju pada kata: Donasi seumur hidup.Rasanya seperti jarum yang menusuk langsung ke jantungnya. Tangan yang berada d
Pria ini sangat pandai membaca hati orang. Dia tahu bahwa Brielle peduli pada Harvis.Brielle menghubungi nomor internal dan memberi tahu Harvis bahwa malam ini mereka akan membahasnya di rumahnya. Harvis pun menyetujuinya.Pukul 5 sore, Brielle lebih dulu menjemput putrinya untuk pulang. Di perjala
Jay mengambil segelas wiski yang sudah dituangkan di sampingnya. Dia menenggaknya dalam satu tegukan, lalu menghantamkan gelas itu ke meja. Dia menatap Raka, emosi yang terpendam bertahun-tahun bergolak di matanya."Kamu tahu nggak, betapa sakitnya hatiku saat melihat dari samping? Betapa tidak adil
Devina menggenggam tas di tangannya dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di sekeliling mereka ada banyak pramuniaga, dia memaksakan senyum dan berkata, "Terima kasih atas perhatiannya. Kami nggak terlalu menitikberatkan soal itu, jadi nggak terburu-buru.""Benarkah?" Syahira tersenyum. "Tap
Pada saat itu, pintu ruang rapat didorong terbuka. Raka masuk didampingi Gavin. Hari ini dia mengenakan setelan jas abu-abu gelap tanpa kacamata, sorot tajam di matanya sama sekali tidak disembunyikan.Namun, ketika pandangannya menyapu seluruh ruang rapat dan berhenti dua detik pada Brielle, barula







