Share

Bab 789

Author: Ayesha
Brielle juga memahami maksud Madeline. Dia ragu sejenak. Alisnya tanpa sadar kembali berkerut.

"Aku boleh mempertimbangkannya dulu?" tanya Brielle.

"Aku sarankan kamu naik ke panggung untuk berpidato. Grup Pramudita mendirikan yayasan ini untuk membantu pengobatan pasien leukemia di masa depan, maknanya sangat besar."

"Baik. Setelah aku mempertimbangkannya, aku akan membalas mereka," ujar Brielle.

Pada saat yang sama, Raka berdiri di depan jendela kaca besar ruang kantornya. Di belakangnya, Gavi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
semangat brielle....maju aja pidato...tunjukan kemampuan dan bakatmu yg luar biasa itu....si Lambert mulai kepo nih..terpengaruh oleh kata2 Raline dan Raka
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1513

    Ucapan polos Anya itu menimbulkan riak di hati semua orang yang berada di ruang VIP.Ketiga orang yang duduk di sana serempak mengalihkan pandangan kepada Brielle dan Raka.Wajah Brielle langsung memerah. Kulitnya memang putih, sehingga rona merah di pipinya tampak semakin jelas di balik gaun berwarna sampanye yang dikenakannya.Raka tertawa pelan. Dia berjongkok, lalu mengusap kepala kecil putrinya. "Benarkah?""Iya! Mama cantik sekali, Papa ganteng sekali." Anya lalu bertanya dengan rasa penasaran, "Kalau begitu, kapan Papa dan Mama akan menikah lagi?"Begitu kalimat itu keluar, semua orang kembali terdiam."Anya," kata Brielle akhirnya. Dia berusaha mengalihkan rasa penasaran putrinya. "Lapar nggak? Temani Mama makan, ya."Raline melirik kakaknya, lalu diam-diam memberi isyarat menyemangati dengan tangannya.Raka hanya memperlihatkan senyum tak berdaya tetapi penuh kasih sayang. Dia berkata kepada putrinya, "Mama sudah lapar. Kita temani Mama makan dulu, ya?""Baik!" Anya mengangguk

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1512

    Saat itu, sebuah tangan mengambil tasnya, lalu mengulurkan lengannya kepada Brielle."Perlu pegangan?"Brielle awalnya ingin berkata tidak perlu, tetapi urung mengucapkannya. Dia pun mengulurkan tangan dan menggenggam lengan Raka sebagai tumpuan.Gerakan sederhana itu membuat jantung Raka berdebar kencang, lalu segera dipenuhi rasa bahagia yang luar biasa. Dia sedikit mengencangkan lengannya. Saat ini, dia sama sekali tidak peduli apakah mereka akan terlambat atau tidak. Dia justru berharap jarak menuju mobilnya bisa sedikit lebih jauh.Namun, jaraknya hanya sekitar 15 meter, dan mereka pun tiba di samping mobil.Dengan sopan, Raka membukakan pintu mobil. Brielle sedikit membungkuk untuk masuk ke dalam, sementara tangan Raka yang semula melindungi kepalanya dari kusen pintu perlahan ditarik kembali.Pada saat yang sama, dia menyerahkan tas Brielle kepadanya. Brielle menerimanya, lalu melirik waktu. Hari sudah hampir pukul tujuh malam. Langit benar-benar gelap dan lampu-lampu kota baru

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1511

    Brielle terus melihat isi pesan itu. Ternyata Raka sempat bertanya apakah dia perlu menjemputnya, lalu memutuskan untuk datang sendiri. Saat ini dia juga hampir tiba.[ Brielle: Nggak usah, aku nyetir sendiri ke sana. ]Brielle menunggu beberapa saat, tetapi tidak mendapat balasan dari Raka. Dia pun mengambil tasnya dan keluar.Begitu melangkah keluar dari lobi gedung laboratorium, sosok pria tinggi yang disinari cahaya matahari senja sudah berdiri di luar.Siapa lagi kalau bukan Raka?Staf resepsionis segera menghampiri untuk menyambutnya, "Pak Raka, Anda sudah datang.""Aku datang untuk menjemput Dokter Brielle," jawab Raka dengan senang hati. Tatapannya tertuju pada Brielle saat dia bertanya penuh perhatian, "Sudah selesai?""Ya, baru saja selesai." Brielle mengangguk, lalu berkata dengan sedikit rasa bersalah, "Maaf, aku lupa melihat waktu."Raka hanya tersenyum."Nggak apa-apa. Pekerjaan lebih penting. Ayo."Begitu mereka berdua pergi, area resepsionis langsung ramai oleh obrolan.

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1510

    "Ayahmu cuma diskusi denganku soal penelitiannya. Aku juga nggak banyak tanya. Lagi pula, dengan pengaruh ayahmu saat itu, bukan hal yang sulit baginya untuk mendapat pendanaan."Setelah berkata demikian, Derrick kembali melanjutkan, "Kurasa alasan ayahmu menyetujui kamu keluar dari universitas dan menikah dengan Raka saat itu juga karena beliau berpikir, kalau suatu hari nanti benar-benar terjadi sesuatu padamu, Raka akan meneruskan penelitian itu untuk menyelamatkanmu. Namanya kalian suami istri ""Mungkin perkataanku ini terdengar kurang enak didengar, tapi sebagai orang tua, mereka selalu ingin menyiapkan jalan terbaik untuk masa depan anaknya."Mendengar itu, mata Brielle kembali memanas. Dia bisa membayangkan kecemasan dan pengorbanan ayahnya saat itu."Bisa dibilang, ayahmu telah mencarikanmu keluarga yang bisa menjadi tempatmu bersandar di masa depan," ucap Derrick dengan jujur.Brielle menarik napas pelan. "Aku ngerti niat baik ayahku.""Itu sebabnya, ketika aku dengar kalian

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1509

    Keesokan pagi, Raka meluangkan waktu untuk menemani putri dan keluarganya, karena malam itu adalah perayaan ulang tahun Emily.Sementara itu, Brielle masih harus bekerja, sehingga pagi-pagi sekali dia sudah berangkat ke laboratorium.Ferdian datang lebih awal untuk melakukan berbagai persiapan di laboratorium. Zondi juga merupakan asisten yang sangat bertanggung jawab."Brielle, siang nanti kita harus pergi ke laboratorium Profesor Derrick." Zondi mengingatkannya.Brielle teringat bahwa dia memang sudah membuat janji dengan Derrick untuk membahas analisis data. Dalam penelitian kali ini, laboratorium Derrick juga bersedia memberikan dukungan.Pukul 10 pagi, Brielle dan Zondi tiba di bekas Laboratorium Kasih, yang kini telah menjadi Laboratorium Rine milik Derrick.Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, Brielle memasuki ruang rapat Derrick. "Brielle, kamu sudah datang. Ayo duduk."Derrick berdiri menyambutnya dengan senyuman hangat.Di samping mereka, Ferdian tampak begitu bersemangat

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1508

    Lastri segera membawakan sepiring buah yang sudah dipotong, meletakkannya di atas meja, lalu kembali ke kamarnya.Kini, hanya mereka berdua yang tersisa di ruang tamu.Raka mengambil sepotong apel dan memasukkannya ke mulut, lalu bertanya kepada Brielle, "Besok Nenek ingin merayakan ulang tahunnya sedikit lebih meriah. Kamu sudah punya gaun yang cocok belum? Apa akan ada tamu lain juga?"Brielle mengangkat kepala dan bertanya. Dia mengira mungkin kerabat jauh Keluarga Pramudita juga akan diundang.Raka menggeleng. "Tahun ini Nenek nggak berniat mengundang orang luar. Cuma keluarga kita saja."Setelah itu, dia menambahkan, "Soal gaunmu, biar aku yang atur."Brielle menggeleng. "Nggak perlu. Aku akan urus sendiri."Karena hanya makan bersama keluarga, dia cukup berdandan sedikit lebih rapi, tidak perlu terlalu berlebihan.Brielle mengambil sebutir anggur dan mulai mengupas kulitnya."Tadi sudah pamitan dengan Niro?" tanya Raka tiba-tiba."Sudah," jawab Brielle dengan tenang.Raka tidak m

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 465

    Cherlina akhirnya mengumumkan jawabannya, "Devina juga datang, tadi dia kelihatan sedang ngobrol dengan Faye!"Brielle berpikir sejenak, lalu mengangguk pelan. Dia tidak terkejut. Kalau penelitiannya benar-benar bisa menyelamatkan nyawa Devina, wajar saja dia datang untuk mendengarkan langsung lapor

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 495

    Begitu Lambert berjalan mendekat, Syahira langsung tersenyum. "Pak Lambert, kamu bisa main golf nggak?" tanyanya santai.Lambert mengangguk ringan dengan percaya diri. "Bisa.""Pas banget! Ajarin Brielle, dong! Dari tadi satu bola pun belum ada yang kena," kata Syahira sambil menahan tawa.Wajah Bri

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 481

    Tak lama kemudian, Anya datang dengan membawakan kue. Jay menerima kue itu dan tersenyum padanya. "Terima kasih, Anya."Brielle membawa putrinya naik ke mobil, lalu akhirnya dia mengerti maksud Jay. Sekarang dia tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.Sesampainya di rumah, Lastri membantu Anya me

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 464

    "Lambert punya seseorang yang dia sukai?" Meira mengerutkan alis. "Tapi bukankah ibu Lambert bilang putranya sedang nggak menjalin hubungan apa pun? Nggak punya pacar?""Orang yang Lambert sukai itu bukan dari keluarga terpandang mana pun," ujar Raline dengan mata yang mulai basah. "Dia menyukai Bri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status