Share

Bab 794

Auteur: Ayesha
Brielle mengerutkan kening dan memanggil putrinya, "Anya, kita harus pulang."

Jakun Raka bergerak naik turun. Reaksi Brielle sudah cukup menjelaskan bahwa dia tidak membutuhkan hadiah dari Raka.

"Papa kali ini lupa. Nanti Papa ganti hadiahnya buat Mama, ya," kata Raka. Setelah itu, dia menggendong putrinya dan berjalan ke bagasi, lalu membukanya. Di dalamnya tampak sebuah kotak balok mainan berwarna pink.

"Wah!" seru Anya kegirangan. "Aku suka hadiah ini."

Melihat putrinya menyukainya, alis Raka
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (3)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
jiah....ada yg cemburu brielle dpt buket bunga dan hadiah...yg satu lg malah kesenengan dpt hadiah pulpen...lgs berseri2 muka Lambert....
goodnovel comment avatar
Suryat
bisa jadi hadiah itu dati si jay
goodnovel comment avatar
Mardiana Suprianingsih
akh gak ngerti deh ama sikap si raka, kalau cuma sekedar kontrak donor darah, masak sih sampai begitu perhatiannya ke si iblis devina. bikin naik darah aja. ngapain pake kasih" hadiah segala.
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1004

    Devina juga tidak sungkan. Setelah Jay menyuapinya menghabiskan semangkuk bubur itu, dia menyeka sudut bibirnya lalu bersandar di sofa. Dengan suara pelan dia bergumam, "Terima kasih, Jay. Untung masih ada kamu di sisiku."Devina memejamkan mata setengah, seluruh tubuhnya meringkuk di dalam selimut. Dia tampak sangat rapuh dan membuat orang merasa iba.Melihat kondisinya, Jay semakin yakin akan satu hal di dalam hatinya. Hubungan antara Devina dan Raka pasti sedang bermasalah."Devina, katakan padaku, gimana sebenarnya sikap Raka padamu sekarang?" tanya Jay dengan khawatir.Devina perlahan membuka matanya. Sudut matanya tampak berkaca-kaca. Dia menatap Jay dengan tatapan bingung dan sedih. Lalu dia menghela napas pelan, suaranya penuh kesedihan."Jay, menurutmu ... kalau seseorang sudah berusaha selama 10 tahun tapi tetap nggak mendapatkan apa yang dia inginkan, apakah ... seharusnya dia menyerah?"Hati Jay tiba-tiba terasa berat. "Devina, kamu dan Raka ...."Devina tersenyum getir, la

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1003

    Wajah Devina tiba-tiba menjadi semakin pucat. Dia menatap Jay. Meskipun pria itu masih tersenyum cerah dengan tatapan lembut, dia tahu ada sesuatu yang sudah berubah. Dan semua ini terjadi sejak kemunculan Siria.Jay merasa sedikit canggung ditatap dengan mata penuh perasaan seperti itu. Dia menggaruk bagian belakang kepalanya, lalu berkata, "Devina, ada apa denganmu hari ini? Kenapa kamu terlihat sedih sekali? Apa terjadi sesuatu antara kamu dan Raka?"Pada saat itu, pelayan datang membawa semangkuk bubur bergizi. Dia meletakkannya di meja depan sofa, lalu berkata kepada Devina, "Nona Devina, buburnya sudah siap.""Baik, letakkan di sini," kata Devina. Setelah itu dia bangkit ingin mengambil bubur tersebut, tetapi tiba-tiba dia mengeluarkan rintih kesakitan."Ada apa?" tanya Jay dengan khawatir.Devina duduk kembali. Lalu dia mengangkat sedikit bagian lengan di tempat bekas pengambilan darah, memperlihatkan luka yang baru saja berdarah. Kulitnya yang putih tampak dipenuhi memar kebiru

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1002

    "Baik, aku akan datang ke sana," jawab Jay dari seberang telepon.Freyna membawa selimut, lalu menyelimutkannya. Dia duduk sambil mengamati wajah Devina. Tadi pagi wajah Devina masih segar dan merona, tetapi sekarang wanita yang duduk di depannya tampak pucat pasi. Penampilan Devina benar-benar seperti orang yang tiba-tiba kehilangan seluruh darahnya.Freyna berpikir dalam hati, 'Devina diambil darah lagi? Padahal jarak dari pengambilan darah terakhir bahkan belum sampai seminggu.'Freyna membawa segelas air hangat. "Minum air sedikit."Ketika Devina mengangkat lengannya, dia langsung mendesis kesakitan. Pada saat yang sama, bagian bawah sweter putihnya mulai ternoda merah.Freyna buru-buru berkata, "Devina, di sini berdarah."Devina panik, lalu segera menggulung lengan bajunya. Benar saja, bekas tusukan jarum itu kembali berdarah. Dia berkata kepada Freyna, "Ambil kotak obat, cepat."Freyna langsung pergi mengambil kotak obat tanpa banyak bicara. Dia mengeluarkan kapas penahan darah u

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1001

    Brielle mengangkat kepala dan meliriknya sekilas. "Kalau ini urusan pekerjaan, kamu bisa langsung ngomong. Kalau urusan pribadi, aku sangat sibuk dan nggak punya waktu untuk mendengarnya."Kata-kata Raka langsung tertahan di tenggorokannya. Dia menyipitkan mata menatap wanita yang duduk di depan meja kerja itu. Brielle bahkan tidak menatapnya dengan serius, seolah apa pun yang ingin dia katakan sama sekali tidak menarik bagi Brielle."Sepuluh tahun lalu, aku menandatangani sebuah perjanjian dengannya. Aku menyediakan sumber daya dan dana untuknya, dan dia menjadi donor terarah yang bisa kugunakan ...."Gerakan mengetik Brielle berhenti sejenak. Dia langsung memotong, "Sekarang yang kupedulikan hanya data eksperimen dan evaluasi keamanan reagen. Kalau kamu nggak ada urusan pekerjaan, jangan buang-buang waktuku."Setelah berkata demikian, pandangannya kembali tertuju pada layar. Lalu Brielle menambahkan, "Pernikahan yang dikhianati nggak ada artinya dibanding masa depanku yang cerah."Ra

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1000

    Devina memandang punggung Raka yang pergi dengan tegas. Di matanya bergolak kebencian dan keengganan yang begitu kuat.Smith memberi isyarat kepada para perawat agar semuanya keluar.Rambut Devina yang sebelumnya ditata rapi kini terurai berantakan. Riasannya pun sedikit luntur oleh air mata. Dibandingkan dengan keanggunan yang selalu dia jaga, saat ini dia tampak sangat kacau.Smith menarik selembar tisu dan menyerahkannya kepadanya. "Bu Devina, aku minta maaf karena kamu harus mengalami ini. Tapi mohon pahami, penelitian ini menyangkut keselamatan keluarga Pak Raka."Devina tiba-tiba mengangkat kepala. Matanya dipenuhi amarah. "Kalian anggap aku apa? Bank darah berjalan? Sepuluh tahun lalu seperti ini, sepuluh tahun kemudian masih seperti ini."Smith membenarkan kacamatanya dan menatapnya dengan tenang. "Bu Devina, detail transaksi sepuluh tahun lalu itu aku memang nggak sepenuhnya tahu. Tapi sejauh yang kuketahui, Pak Raka memperlakukanmu dengan adil. Ini bukan pemanfaatan sepihak."

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 999

    Pada saat itu, sebuah tangan besar dengan ruas-ruas jari yang tegas terulur, menahan lengan Devina yang sedang diambil darahnya dengan mantap. Tekanannya tidak besar, tetapi mengandung kekuatan yang tak bisa dibantah."Jangan bergerak." Suara Raka terdengar rendah dan dingin.Tangan Devina yang lain segera mencengkeram lengan Raka. Saat dia mendongak, wajahnya sudah penuh jejak air mata. Suaranya gemetar dan penuh keluhan. "Raka, hentikan saja, terlalu sakit. Jangan ambil lagi ya? Pasti masih ada cara lain ...."Alis Raka berkerut erat. Dia berkata dengan suara berat, "Kamu pikir ini main-main? Jangan gerak sembarangan.""Tapi aku benar-benar takut. Hentikan saja, boleh?" Suara Devina bercampur dengan tangisan, berusaha menggunakan air mata untuk mendapatkan belas kasihan pria di hadapannya.Ekspresi Raka tidak berubah sedikit pun. Dia bahkan tidak menunduk dan hanya berkata kepada perawat, "Lanjutkan."Kata itu seperti pisau yang seketika menembus semua kepura-puraan dan khayalan Devi

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 62

    "Mm!" Anya mengangguk pelan. Saat itu, dia melihat sosok tinggi besar berjalan ke arah mereka. Matanya kembali memerah. "Papa!"Raka berjongkok dan memegang bahu kecil putrinya, tatapannya penuh perhatian. "Anya, kamu nggak terluka, 'kan?"Anya menggeleng. "Nggak, Papa."Raka mengusap kepala anaknya

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 48

    "Brielle, aku tetap mau kasih kamu peringatan baik-baik. Tempat ini adalah laboratorium medis untuk menyelamatkan nyawa, bukan tempat kamu pamer latar belakang keluarga.""Aku memang mengagumi ayahmu, tapi kamu nggak akan pernah jadi seperti dia." Faye tersenyum sinis, bibir merahnya sedikit tersung

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 61

    Kepala Brielle langsung terasa berdengung. Tanpa ragu sedikit pun, dia berkata, "Baik, Bu. Aku akan segera ke sana."Setelah menutup telepon, Brielle langsung menyerahkan naskah yang dipegangnya ke Harvis dan berkata dengan cemas, "Kak Harvis, ada masalah di sekolah anakku. Aku harus segera ke sana

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 28

    Brielle tertegun. Di dalam ruang VIP duduk tujuh hingga delapan orang, ada pria dan wanita. Di posisi utama, Raka duduk dengan postur santai.Dia mengenakan setelan jas formal, sementara di sampingnya duduk Devina dengan gaun malam merah anggur yang sangat seksi. Di bawah cahaya lampu, mereka terlih

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status