Se connecterDevina memandang punggung Raka yang pergi dengan tegas. Di matanya bergolak kebencian dan keengganan yang begitu kuat.Smith memberi isyarat kepada para perawat agar semuanya keluar.Rambut Devina yang sebelumnya ditata rapi kini terurai berantakan. Riasannya pun sedikit luntur oleh air mata. Dibandingkan dengan keanggunan yang selalu dia jaga, saat ini dia tampak sangat kacau.Smith menarik selembar tisu dan menyerahkannya kepadanya. "Bu Devina, aku minta maaf karena kamu harus mengalami ini. Tapi mohon pahami, penelitian ini menyangkut keselamatan keluarga Pak Raka."Devina tiba-tiba mengangkat kepala. Matanya dipenuhi amarah. "Kalian anggap aku apa? Bank darah berjalan? Sepuluh tahun lalu seperti ini, sepuluh tahun kemudian masih seperti ini."Smith membenarkan kacamatanya dan menatapnya dengan tenang. "Bu Devina, detail transaksi sepuluh tahun lalu itu aku memang nggak sepenuhnya tahu. Tapi sejauh yang kuketahui, Pak Raka memperlakukanmu dengan adil. Ini bukan pemanfaatan sepihak."
Pada saat itu, sebuah tangan besar dengan ruas-ruas jari yang tegas terulur, menahan lengan Devina yang sedang diambil darahnya dengan mantap. Tekanannya tidak besar, tetapi mengandung kekuatan yang tak bisa dibantah."Jangan bergerak." Suara Raka terdengar rendah dan dingin.Tangan Devina yang lain segera mencengkeram lengan Raka. Saat dia mendongak, wajahnya sudah penuh jejak air mata. Suaranya gemetar dan penuh keluhan. "Raka, hentikan saja, terlalu sakit. Jangan ambil lagi ya? Pasti masih ada cara lain ...."Alis Raka berkerut erat. Dia berkata dengan suara berat, "Kamu pikir ini main-main? Jangan gerak sembarangan.""Tapi aku benar-benar takut. Hentikan saja, boleh?" Suara Devina bercampur dengan tangisan, berusaha menggunakan air mata untuk mendapatkan belas kasihan pria di hadapannya.Ekspresi Raka tidak berubah sedikit pun. Dia bahkan tidak menunduk dan hanya berkata kepada perawat, "Lanjutkan."Kata itu seperti pisau yang seketika menembus semua kepura-puraan dan khayalan Devi
Saat cahaya fajar pertama menyinari ruangan, Brielle mengusap matanya yang perih karena lelah, lalu sekali lagi memastikan data terbaru Raline. Semuanya stabil.Smith menyuruhnya beristirahat sebentar. Brielle mengangguk, membuka pintu ruang istirahat yang telah disiapkan untuknya. Dia berbaring di sofa dan segera terlelap.Sekitar pukul 8 pagi, Smith melaporkan perkembangan di sini kepada Raka."Aku akan datang sebentar lagi. Di mana Brielle?" tanya Raka dengan suara rendah."Dia tidur di ruang istirahat," jawab Smith."Kalian sudah bekerja keras.""Sudah seharusnya." Nada suara Smith terdengar bersemangat. "Kami sudah menunggu momen ini terlalu lama. Tapi kapan Bu Devina bisa sampai?""Sebelum jam 9.""Oke. Kali ini mungkin dia harus sedikit bekerja keras," ujar Smith."Dia akan siap." Suara Raka mengandung ketegasan yang tak terbantahkan.Pukul 8.50 pagi, mobil Devina berhenti di depan. Manajernya, Freyna, hendak turun bersamanya, tetapi Devina berkata kepadanya, "Kamu pulang saja."
Brielle mendengarkan dengan tenang tanpa menyatakan pendapat.Smith tiba-tiba berkata, "Brielle, ketika dia mengatakan akan menanggung semua konsekuensi, itu bukan sekadar kata-kata kosong. Dia selalu seperti itu.""Dia menyerahkan harapan terbesarnya kepadamu. Dan aku percaya, setelah mempertimbangkan segalanya, kamulah orang yang paling layak untuk dipercayainya."Brielle menundukkan pandangannya. Bukankah dia juga enggan menanggung risiko sebesar ini? Namun, justru pada saat seperti ini, dia semakin tidak ingin putrinya kelak menanggung penyakit seperti itu.Jadi, menyelamatkan ibu dan anak keluarga Raka sama saja dengan menyelamatkan putrinya sendiri."Aku mengerti, Doktor." Brielle menarik napas dalam-dalam. Tatapannya menjadi fokus. "Kita akan berhasil."Saat Brielle mendorong pintu dan keluar, dia tepat berpapasan dengan Raka. Dia mundur selangkah. Raka pun membeku sejenak, menatapnya.Brielle berkata kepadanya, "Aku akan pergi melakukan beberapa persiapan dulu. Tolong bantu adi
Di sampingnya, Gavin melihat keadaan itu dan menghampiri dengan cemas. "Pak Raka."Hal yang paling ditakuti Raka akhirnya tetap terjadi. Kebenaran itu memberi pukulan besar bagi ibunya. Bagi tubuhnya yang memang sudah lemah, itu tentu bersifat fatal.Satu jam kemudian, pintu ruang rawat kembali terbuka. Dokter keluar dengan ekspresi serius. "Pak Raka, emosi pasien terlalu berlebihan hingga menyebabkan gangguan fungsi jantung dan paru. Kami sudah memberikan obat untuk menstabilkannya sementara. Tapi jangan sampai beliau menerima rangsangan apa pun lagi."Raka mengangguk dan mengantar dokter pergi dengan pandangannya sebelum melangkah masuk ke ruangan.Di luar jendela kaca, Gavin menghela napas. Beban yang dipikul bosnya terlalu banyak. Pasti sangat lelah. Jika dia berada di posisi Raka, mungkin dirinya sudah lama tumbang.Setelah kembali ke laboratorium, Smith segera mengadakan rapat. Dia dan Brielle membahas teori yang diajukan Brielle itu. "Brielle, kita nggak bisa menunggu lagi. Kita
Dalam perjalanan pulang, Raline terdiam cukup lama. Akhirnya, dia berkata kepada Brielle, "Kak Brielle, jadikan saja aku bahan penelitianmu! Selama kamu bisa mengembangkan obat untuk menyembuhkan penyakit Ibu, mau ambil berapa tabung darah dariku juga nggak masalah."Brielle melirik Raline di kursi penumpang depan. Sepertinya kejadian semalam benar-benar membuatnya ketakutan."Penelitian medis bukan hal yang sederhana. Bukan dengan mengambil beberapa tabung darah, lalu langsung bisa menemukan obat.""Tapi ... tapi Ibu nggak bisa nunggu." Air mata Raline kembali mengalir.Brielle tidak berkata apa-apa lagi, juga tidak mematahkan semangatnya. Dalam hal seperti ini, yang terpenting adalah tetap tenang.Di laboratorium, Brielle masuk dan mulai bekerja. Penyakit Meira memang tidak bisa ditunda lagi. Teori yang dia dapatkan sebelumnya masih membutuhkan berbagai pengujian eksperimen. Dia hanya bisa berusaha sebaik mungkin.Di rumah sakit, setelah satu kali penanganan darurat, kondisi Meira me







