ВойтиDi tengah kerumunan, meskipun Raka sangat sopan dan beretika, tidak banyak orang yang benar-benar berani mengambil inisiatif untuk mendekat dan berbicara dengannya. Auranya yang mengintimidasi terlalu kuat.Di antara para tamu paruh baya, ketampanan dan auranya semakin menonjol. Walaupun masih muda, dia memiliki kekayaan yang besar sebagai penopang di belakangnya.Para pria dan wanita di sekitarnya tanpa sadar mengarahkan pandangan pada Raka dengan penuh hormat sekaligus antusias.Terutama para wanita muda dari kalangan atas, mereka sudah lama mencari tahu segala tentang Raka secara detail. Mereka hanya berharap bisa dilirik Raka malam ini.Saat ini, Rendy baru saja selesai berbicara dengan Devina. Dia berjalan mendekat ke arah Raka sambil tersenyum. "Pak Raka, sepertinya hubungan Bu Brielle dengan Keluarga Harmawan cukup dekat ya."Ekspresi Raka tidak berubah, tetapi suaranya sedikit lebih dingin. "Urusan pribadiku nggak perlu kamu campuri, Pak Rendy.""Aku hanya merasa itu nggak adil
Brielle menemani Agnes berkeliling bersosialisasi dengan beberapa istri tokoh berpengaruh. Saat mengangkat kepala tanpa sengaja, dia melihat sosok Devina. Devina sedang berada di sisi Rendy, sambil menggandeng lengannya dan berbisik mesra, seperti pasangan dengan perbedaan usia.Brielle langsung mengerti. Devina telah menemukan pendukung baru dan sikap Rendy saat pemilihan di asosiasi bisnis sebelumnya menunjukkan jelas bahwa dia tidak puas dengan jabatan Raka.Pendekatan Devina padanya jelas penuh tujuan.Di pertengahan acara, sebagai tuan rumah, Raka naik ke panggung untuk memberikan sambutan. Saat berdiri di bawah sorotan lampu, rambut peraknya memantulkan kilau dingin, sama sekali tidak mengurangi aura kuatnya."Terima kasih atas kehadiran kalian malam ini. Sebagai ketua baru asosiasi bisnis, aku akan terus berkomitmen mendorong perkembangan bisnis dan inovasi teknologi, serta mendukung talenta-talenta unggul ...."Brielle sedang menunduk sambil menyesap sampanye. Di sampingnya, Ye
Tatapan Raka sejak tadi tertuju pada Brielle dan suaranya pun melembut, "Soal tadi, jangan salah paham."Yessy langsung memahami situasi dan mundur selangkah. "Kak Brielle, aku mau lihat keadaan ibuku dulu. Kalian ngobrol saja."Di teras hanya tersisa mereka berdua. Angin malam berembus pelan, tapi Brielle tidak punya apa pun untuk dikatakan pada Raka. Dia berbalik dan berniat pergi. Dari belakang, terdengar suara rendah dengan nada memohon, "Brielle, kita bisa ....""Pak Raka." Brielle menoleh, tatapannya yang jernih menatap Raka dengan tenang. "Ada batas yang sebaiknya tidak dilanggar."Sapaan itu langsung membuat dada Raka terasa sesak. Tiba-tiba rasa sakit tajam menjalar dari jantungnya. Dia refleks berpegangan pada pagar, kedua matanya terpejam di balik kacamata berbingkai emas, alisnya mengerut karena menahan sakit.Brielle sudah berbalik ingin pergi, tetapi tetap mendengar gerakan di belakangnya. Dia tak bisa menahan diri untuk menoleh lagi dan langkahnya pun terhenti."Kamu ken
Raka hanya sedikit memiringkan wajahnya. Di bawah cahaya lampu, tatapan Raka yang dingin menyapu ke arah Devina, sorot matanya tampak jelas sedang kesal karena diganggu."Ada apa?"Devina tertawa getir, suaranya penuh ejekan pada diri sendiri, "Aku sudah menemanimu sepuluh tahun, mendonorkan darah untuk ibumu selama sepuluh tahun. Pada akhirnya, kamu bahkan nggak mau menatapku dengan serius? Aku hanya ingin tahu, sebenarnya aku kalah dari dia di mana?"Raka akhirnya menoleh menatapnya. Tatapannya begitu tajam. "Kamu nggak layak dibandingkan sama dia."Devina tertawa sinis. "Kejam sekali! Tapi aku sudah nggak peduli lagi dengan cintamu. Meskipun meninggalkan kamu, tetap akan ada orang yang mencintaiku dan menyayangiku. Aku akan hidup dengan baik."Raka sama sekali tidak berniat menanggapi.Devina tersenyum pahit. "Kamu nggak penasaran kenapa aku bersama Rendy?""Itu pilihanmu, nggak ada hubungannya denganku." Suara Raka tidak menunjukkan emosi apa pun.Devina menatap profil wajahnya den
Kalimat itu membuat pria yang baru saja berbalik itu menjadi agak murung. Seorang pelayan lewat di samping Raka. Dia pun mengulurkan tangan untuk mengambil segelas wiski dari nampan, lalu berjalan ke tengah ruangan."Kak Brielle, kita bertemu lagi." Yessy tersenyum. Usianya tiga tahun lebih muda daripada Brielle, terlihat lebih ceria dan lincah."Bu Yessy.""Panggil saja aku Yessy."Kedatangan Agnes langsung menarik perhatian beberapa nyonya dari keluarga kaya. Seketika, banyak orang datang menyapa. Agnes pun sibuk bersosialisasi. Dia menoleh pada putrinya. "Kamu ngobrol dulu sama Brielle, nanti Ibu nyusul."Brielle dan Yessy berjalan ke tempat yang agak tenang. Brielle terus menahan pertanyaan di dalam hatinya dan akhirnya tetap tidak bisa menahan diri."Yessy, akhir-akhir ini Niro pernah menghubungi keluarga?"Yessy menggeleng. Ada sedikit kekhawatiran di matanya. "Belum ada kabar. Tapi jangan khawatir, dia selalu seperti ini kalau lagi menjalankan tugas. Kamu kangen dia ya?"Yessy t
Jamuan bisnis diadakan di sebuah hotel bintang tujuh milik kamar dagang.Lampu-lampu terlihat gemerlap. Jalan di depan hotel pun sudah ditutup. Hanya tamu yang membawa kartu undangan yang boleh memasuki area malam ini.Mobil Brielle memasuki area tersebut. Setelah menyerahkan mobil kepada petugas keamanan untuk diparkirkan, dia pun melangkah menuju aula.Gaun putih sederhana yang dia kenakan berpotongan pas di pinggang dan dipadukan dengan sepatu hak tinggi, membuatnya tampak anggun, rapi, dan tetap berwibawa.Saat itu, di pintu masuk lobi, Devina mengenakan gaun panjang berwarna merah anggur dengan punggung terbuka. Dia menggandeng lengan Ignas saat melangkah masuk. Seketika, mereka menarik perhatian seluruh ruangan.Tatapan Devina langsung terkunci pada pria yang berada di tengah ruangan. Raka sedang berbincang dengan beberapa tokoh senior di kamar dagang. Saat menyadari ada tamu datang, dia mengangkat pandangannya, melihat tepat saat Ignas dan Devina mendekat. Tatapannya sedikit ter
Brielle memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, lalu berjalan menuju pantai tempat kedua orang itu sedang bermain pasir."Mama, lihat, ini istana yang Papa buat untuk aku," kata Anya sambil menunjuk sebuah kastel pasir kecil."Ya!" Brielle tersenyum pada putrinya. Mumpung jarang bisa membawa putr
Dalam proses peluncuran obat baru ini, seluruh penelitian tim dihentikan sementara untuk fokus sepenuhnya pada proyek tersebut. Sekarang setelah uji coba mulai stabil, Madeline memutuskan untuk mengambil alih pengawasan utama, agar Brielle bisa mengembangkan kemampuannya dan masuk ke topik penelitia
Setelah itu, Madeline mengirimkan data kelompok pertama para peserta uji kepada Brielle. Saat melihat daftar itu, Brielle menemukan satu nama yang membuatnya tertegun. Melisa, ibu dari dua anak yang pernah dia temui sebelumnya, wanita yang waktu itu begitu putus asa.Brielle masih ingat betapa dia d
Keesokan harinya pukul satu siang, Brielle sedang merapikan laporan data di ruang kerjanya ketika seorang perawat mengetuk pintu kantornya."Dokter Brielle, Dokter Karyo memanggil Anda ke ruang rapat di lantai atas."Brielle mengangguk. "Baik, saya segera ke sana."Meskipun Brielle sebenarnya adalah







