Share

Bab 962

Author: Ayesha
"Pendonor itu nggak ingin diganggu." Raka menolak permintaan ibunya dengan nada tenang.

"Kak, kita juga nggak akan menyulitkannya. Kita cuma ingin berterima kasih saja, nggak boleh juga?" Raline juga sangat penasaran dan berharap bisa mengetahui informasi tentang orang itu.

Raka memandang ibu dan adiknya. Inilah alasan dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak ingin keduanya terlibat dan menanggung beban perasaan yang tidak perlu terhadap Devina.

"Yang paling penting sekarang adalah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 967

    Brielle berdiri agak di belakang, membolak-balik map rekam medis di tangannya sambil mencatat data.Setelah Meira selesai menjawab pertanyaan Smith, pandangannya beralih pada Brielle. Di matanya bercampur dua emosi. Rasa terima kasih dan penyesalan yang mendalam.Setelah Smith memberi beberapa pesan pengingat ...."Dokter, boleh aku bicara beberapa patah kata dengan Bu Brielle?" tanya Meira.Smith mengangguk, melirik Brielle. Brielle pun berjalan mendekat dengan alami. Meira berusaha duduk lebih tegak. Raline segera menghampiri untuk membantunya."Brielle, aku ...." Suara Meira tersendat, matanya sontak memerah. "Keluarga Pramudita telah berbuat salah padamu. Seharusnya aku nggak memperlakukanmu seperti itu dulu. Aku ... minta maaf."Brielle mendengarkan tanpa banyak menunjukkan emosi. Setelah terdiam beberapa detik, dia berkata, "Istirahatlah dengan baik. Yang lain nggak penting."Nada suaranya tenang, tanpa kebencian, juga tanpa keharuan. Namun, justru reaksi seperti itu yang membuat

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 966

    Brielle akhirnya menatap Smith dan berkata, "Berdasarkan data, antibodi Devina menghasilkan mekanisme kerja ganda, penekanan dari luar dan aktivasi dari dalam.""Luar biasa, luar biasa! Brielle, kamu benar-benar genius." Smith mendorong kacamatanya dengan bersemangat. "Ini bukan sekadar pengobatan, ini menghidupkan kembali sistem pertahanan pasien sendiri. Inilah yang benar-benar mengatasi gejala sekaligus akar masalah!""Bisa dipahami seperti itu." Brielle mengangguk. "Ini adalah jalur pemikiran terapi yang benar-benar baru. Nggak lagi sepenuhnya bergantung pada donor eksternal, sel punca, dan infus jangka panjang, tapi dengan mengaktifkan potensi imun pasien sendiri untuk mencapai tujuan pengendalian bahkan penyembuhan.""Kapan bisa mulai digunakan?" Suara Raka terdengar rendah, tetapi bergetar karena terlalu antusias.Brielle terdiam sejenak. "Saat ini masih tahap penemuan awal. Perlu banyak penelitian untuk mengevaluasi stabilitas dan keamanannya. Aku hanya menemukan satu arah yang

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 965

    Setelah mengatakan itu, Raka membuka pintu kursi penumpang depan mobil Brielle dengan sangat alami dan berkata kepadanya, "Ayo, kita pergi."Brielle berkata kepada Lambert, "Kalau begitu, kami pergi dulu." Setelah itu, dia membungkuk dan masuk ke kursi pengemudi.Lambert melihat mobil Brielle melaju masuk ke arus lalu lintas. Dia berdiri di tempat. Sinar matahari pagi membuat bayangannya memanjang. Ekspresi tenang yang dia pertahankan akhirnya memperlihatkan sedikit kepahitan.Seolah-olah ada tangan besar tak kasatmata yang mencengkeram jantungnya dan memadamkan secercah harapan yang lemah itu.Atas bantuan sahabat baiknya, dia menyimpan rasa terima kasih. Namun, di balik rasa terima kasih itu, bercampur kepedihan yang sulit diungkapkan.Beberapa batas tiba-tiba tampak begitu jelas membentang di sana. Beberapa orang memang ditakdirkan hanya bisa dipandang dari jauh.Lambert berbalik, berjalan menuju mobilnya sendiri. Punggungnya yang tampak kesepian justru membawa kelegaan karena tak p

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 964

    Raka melihat ketakutan di mata adiknya dan menghibur, "Jangan takut, rencana pengobatan baru sudah mendapat terobosan. Kamu akan baik-baik saja."Raline mengangguk. Dia memilih percaya pada kakaknya.Raka berjalan ke sisi tempat tidur ibunya. Meira sudah tertidur. Pada lengan yang terulur di luar selimut, terlihat jelas beberapa bercak merah gelap, seperti bekas gigitan ular berbisa.Dia merapikan sudut selimut untuk ibunya, lalu berkata kepada Raline, "Kamu pergi istirahat di hotel seberang. Aku yang jaga di sini."Raline memang sudah sangat lelah. Di luar, Gavin mengantarnya pergi."Doktor Smith, besok aku akan memindahkan ibuku ke laboratorium. Kalian lakukan lagi suntikan sel punca untuknya, tekan dulu kondisi penyakitnya.""Baik. Di sini aku masih punya cadangan sel punca. Silakan bawa Bu Meira kapan saja."Keesokan paginya, Brielle menggandeng Anya keluar rumah. Baru saja membuka pintu, dia melihat sesosok tubuh bersandar di dinding."Papa!" seru Anya dengan terkejut dan gembira.

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 963

    "Dia menjamin akan menstabilkan harga saham kita, bahkan mengatakan mungkin nilai pasar Grup Datau bisa berlipat ganda lagi." Nada suara Declan terdengar sedikit menjilat. "Devina, Raka benar-benar nggak ada duanya dalam memperlakukanmu.""Ayah, kelola perusahaan dengan baik saja. Jangan sampai terjadi masalah lagi," kata Devina dengan nada datar.Declan tersedak oleh ucapan putrinya, merasa tidak enak hati. Putri sulungnya itu jelas mengandalkan posisi Raka sebagai calon menantu masa depan untuk menceramahinya!"Tenang saja," jawab Declan singkat. Bagaimanapun juga, Devina hanyalah putri di luar nikah, belum tentu benar-benar menempatkannya sebagai ayah di hati.Namun, selama dia bisa menggenggam Raka dengan kuat, sifat putri sulungnya itu masih bisa dia toleransi.....Di laboratorium, Brielle melirik waktu. Sudah waktunya menjemput putrinya, tetapi eksperimen di tangannya belum bisa ditinggalkan. Dia mengangkat ponsel dan menelepon Raka."Halo." Terdengar suara rendah yang sedikit l

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 962

    "Pendonor itu nggak ingin diganggu." Raka menolak permintaan ibunya dengan nada tenang."Kak, kita juga nggak akan menyulitkannya. Kita cuma ingin berterima kasih saja, nggak boleh juga?" Raline juga sangat penasaran dan berharap bisa mengetahui informasi tentang orang itu.Raka memandang ibu dan adiknya. Inilah alasan dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak ingin keduanya terlibat dan menanggung beban perasaan yang tidak perlu terhadap Devina."Yang paling penting sekarang adalah mengobati penyakit. Jangan ganggu dia." Raka memotong perkataan adiknya.Hati Meira tetap penuh rasa syukur. Mendengar perkataan putranya, dia hanya bisa mengangguk dan menyimpan rasa terima kasih itu dalam hati. Kemudian, dia teringat pada Brielle dan matanya menunjukkan rasa bersalah. "Penyakitku ini benar-benar menyulitkan Brielle."Raline mengatupkan bibirnya erat-erat. Belakangan ini, dia bisa menerima kondisi penyakit itu dengan lebih tenang, sebagian besar karena kekuatan yang diberikan B

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status