ログインMalam itu sebenarnya Raka juga tidak minum banyak. Seingatnya, Raka hanya minum dua gelas anggur merah. Namun, apa pun maksud perkataannya, Brielle tidak ingin menanggapi apa pun sekarang. Dia mengernyit lalu berkata, "Sudah malam. Kamu pulang saja dulu."Brielle membuka pintu.Tiba-tiba Gaga berlari keluar dan berputar-putar dengan riang di sekitar kaki mereka. Raka mengusap kepala Gaga, lalu mengangkat kepala menatap Brielle."Gaga kubawa turun dulu."Brielle benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Namun melihat Gaga seolah mengerti, bahkan dengan antusias terus mengitari Raka, dia hanya mengangguk.Keesokan paginya.Brielle pergi menjenguk Harvis. Kondisi lukanya sudah pulih dengan baik dan keadaan mentalnya juga telah kembali seperti biasa. Bahkan asistennya membawa pekerjaan ke ruang rawatnya.Brielle sebenarnya ingin membujuknya untuk beristirahat, tetapi dia tahu seperti apa sikap Harvis terhadap pekerjaan. Harvis selalu mengejar kesempurnaan. Kalau hanya diminta beristirahat
"Harvis kali ini mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkanku. Budi itu terlalu besar. Aku butuh waktu untuk memikirkan cara terbaik membalasnya, tapi jelas bukan dengan cara yang kamu maksud."Sorot mata Raka seketika berbinar. "Aku mengerti."Ternyata memang dirinya terlalu larut dalam pikirannya sendiri dan terlalu tergesa-gesa mendesak Brielle dengan pertanyaan itu.Mereka masuk ke dalam lift. Brielle menekan tombol lantai 28, sementara Raka tidak menekan tombol lantai 27. Brielle pun mengulurkan tangan dan menekannya untuknya."Di rumahmu masih ada obat tidur? Beri aku satu strip lagi," tanya Raka tiba-tiba.Brielle menoleh menatapnya, matanya dipenuhi keterkejutan. "Strip yang kuberikan waktu itu sudah kamu habiskan?"Mata Raka dipenuhi senyum. "Kenapa? Memangnya ada masalah?""Menurutku kamu jangan minum obat tidur lagi, lebih baik pergi periksa ke dokter. Kondisimu sudah cukup serius. Aku sudah pernah bilang, obat tidur nggak boleh dikonsumsi berlebihan."Brielle benar-benar t
Anya juga memberikan kartu ucapan ulang tahun yang dibuatnya sendiri kepada Raka. Raka melihat tulisan tangan putrinya yang ditulis dengan sungguh-sungguh.[ Papa, selamat ulang tahun. Aku akan selalu, selalu mencintaimu! ]Mata Raka langsung memerah.Melihat putri kecilnya, dia baru benar-benar menyadari bahwa Anya telah tumbuh besar. Dia bukan lagi anak kecil yang setiap saat harus digendong dan dibujuk olehnya.Raka mengusap lembut puncak kepala putrinya dan berkata, "Terima kasih, sayangnya Papa."Setelah lewat pukul sembilan, Brielle juga harus pulang. Halaman rumah malam ini dihias dengan sangat indah dan Anya masih belum ingin pulang. Brielle pun mengizinkannya tetap tinggal, lalu membawa tasnya dan keluar lebih dulu.Baru saja melangkah keluar, dia mendengar suara langkah kaki dari belakang. Saat menoleh, dia melihat Raka membawa kantong hadiah dan menyusulnya."Boleh nebeng mobilmu?" tanya Raka sambil tersenyum. Lalu dia menambahkan, "Aku minum alkohol malam ini."Brielle meng
Kini, melihat pemandangan di hadapannya, dia akhirnya mengerti. Semua yang telah dia lakukan adalah demi saat seperti ini. Agar keluarganya dapat hidup tenang, bahagia, dan tanpa kekhawatiran."Kak, kok melamun sih? Ini ulang tahunmu, 'kan? Cepat ke sini!" Raline melambaikan tangannya sambil memanggil Raka."Raka, kami tinggal menunggumu." Emily juga melambaikan tangan kepadanya.Raka pun tersadar. Senyum lembut perlahan muncul di matanya. Dia melangkah maju, lalu berjalan menuju cahaya hangat yang seakan memang menyala untuk dirinya."Papa!" Anya turun dari kursinya, lalu berlari menghampiri seperti seekor burung kecil yang riang.Raka langsung mengangkat putrinya ke dalam pelukan, lalu menggendongnya menuju meja makan dan mendudukkannya di samping Brielle. Setelah itu, dia duduk di kursi yang berada tepat di seberang Brielle. Tatapannya secara alami tertuju pada wanita itu.Brielle mengangkat kepala menatapnya. Kali ini, dia tidak menghindari pandangan Raka. Dengan suara pelan, dia b
"Sudahlah, jangan asal bicara. Ayo, temani aku beli pena untuknya," kata Brielle sambil menarik tangan Syahira.Syahira tidak melanjutkan godaannya. Meski dia tidak mengatakannya, Brielle sebenarnya juga tahu. Raka sudah melakukan begitu banyak hal. Tujuannya sudah sangat jelas."Ayo. Tapi kamu yakin mau kasih dia pena?""Ya." Brielle mengangguk dengan mantap. "Aku sudah yakin.""Pena juga boleh sih. Siapa tahu Raka malah berpikir suatu hari nanti dia akan pakai pena itu untuk menandatangani surat rujuk kalian."Makin dipikirkan, tebakan Syahira makin tidak masuk akal.Brielle meliriknya. "Syahira.""Ya, ya, aku nggak akan bercanda lagi. Ayo, di depan ada toko Montblanc." Kali ini Syahira benar-benar berhenti menggodanya.Setelah membeli pena itu, Brielle menemani Syahira berkeliling toko pakaian anak. Brielle juga membeli tiga set pakaian untuk bayi Syahira.Pukul 3 sore, Brielle pulang ke rumah. Dia tidak berniat datang terlalu awal ke rumah Keluarga Pramudita. Dia baru berangkat set
Tatapan Raka seketika menjadi makin dalam.Brielle mengenakan pakaian kasual dengan warna-warna lembut yang membuat sosoknya memancarkan aura wanita yang anggun dan cocok menjadi istri serta ibu dalam sebuah keluarga.Tak lama kemudian, Lastri pulang. Ketika melihat Brielle sudah berada di rumah, dia tersenyum."Nyonya, silakan duduk dulu. Sebentar lagi aku buatkan pangsit untuk kalian.""Bi Lastri, ada yang bisa kubantu?" tanya Brielle."Nggak usah. Masih belum terlalu malam, aku masih sanggup mengerjakannya sendiri."Lastri sama sekali tidak ingin mengganggu kebersamaan keluarga kecil mereka. Setelah masuk ke dapur, dia bahkan menutup pintu.Brielle duduk di samping putrinya tanpa mengganggu Anya yang sedang berkonsentrasi berpikir.Saat itu, Raka menoleh kepadanya. "Lusa malam ... apa kamu ada waktu?"Brielle langsung mengerti apa yang dia maksud. Itu hari ulang tahun Raka. "Ada," jawab Brielle pelan.Anya mengangkat kepala dan memandang ayahnya dengan heran. "Papa, kenapa Papa ngga
Setelah itu, Madeline mengirimkan data kelompok pertama para peserta uji kepada Brielle. Saat melihat daftar itu, Brielle menemukan satu nama yang membuatnya tertegun. Melisa, ibu dari dua anak yang pernah dia temui sebelumnya, wanita yang waktu itu begitu putus asa.Brielle masih ingat betapa dia d
Keesokan harinya pukul satu siang, Brielle sedang merapikan laporan data di ruang kerjanya ketika seorang perawat mengetuk pintu kantornya."Dokter Brielle, Dokter Karyo memanggil Anda ke ruang rapat di lantai atas."Brielle mengangguk. "Baik, saya segera ke sana."Meskipun Brielle sebenarnya adalah
Setelah Faye selesai beres-beres, dia menggigit bibir merahnya. "Brielle, suatu hari aku pasti akan mengalahkanmu."Brielle bukan satu-satunya orang yang tak tergantikan di laboratorium. Masih ada dirinya.Setelahnya, Madeline mendengar dari asisten bahwa Raka datang tadi. Dia kira-kira bisa menebak
[ Sepertinya Raka sedang kena masalah. ]Brielle tertegun sejenak, lalu membuka tautan yang dikirim. Judul berita itu sangat mencolok.[ Grup Pramudita membantu Grup Datau untuk melantai di bursa, diduga terlibat suap terhadap lembaga pengawas. ]Brielle mengerutkan kening. Dalam hati, dia hanya bis







