แชร์

Bab 675

ผู้เขียน: Ayesha
Harvis berkata, "Kalau Brielle nggak ikut juga nggak masalah. Aku akan buat notulen rapat dan serahkan ke dia."

Jared tertegun sejenak, lalu tidak memaksa lagi. "Baik, kalau begitu Brielle nggak perlu ikut."

Siang hari, Brielle memesan satu keranjang buah dan sebuket bunga di pusat perbelanjaan seberang MD, lalu membawanya menuju RSU Adam.

Setibanya di lantai rawat inap, Brielle berdiri di depan kamar Niro dan mengetuk pintu. Sesosok wanita berpenampilan anggun membuka pintu dari dalam.

"Oh! Bri
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (10)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
wah...brielle ada saingan nih...tp brielle sih mmg ga ngejar niro jd santai aja dia
goodnovel comment avatar
Suryat
kyknya Qiora suka sm lambert..
goodnovel comment avatar
Kitachan 13
ga bisa banyak..di blok ..tetap baca besok di sini ya
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1208

    "Apa? Kenapa dia melakukan ini? Kapan Keluarga Datau pernah menyinggungnya?" Flora juga terkejut dan tidak percaya."Aku ini bahkan menganggapnya calon menantu, tapi dia justru menusuk dari belakang seperti ini." Dada Declan naik turun dengan hebat. Mengingat bagaimana dulu dia menghormati dan menjilat Raka, kini yang tersisa hanya kebencian dan amarah.Kalau dipikir-pikir, sejak dulu Raka membantunya go public, lalu membantunya mengurus investasi luar negeri, setiap langkah seperti jebakan yang dirancang rapi. Dari awal sampai akhir, semuanya adalah bagian dari rencananya, hanya untuk membuat Grup Datau bangkrut."Bagaimana bisa Pak Raka melakukan ini? Bukankah dia dan Devina ...." Mata Flora memancarkan amarah besar. "Jangan-jangan semua ini disuruh oleh gadis sialan itu, Devina?"Baru saat itu Declan teringat pada putrinya, anak haramnya, orang yang dulu menjadi penghubung antara Keluarga Datau dan Raka.Declan langsung mengambil jaketnya dan keluar. Dia harus menanyakan semuanya de

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1207

    Di rumah Keluarga Datau.Declan duduk di sofa, dalam semalam seolah-olah menua sepuluh tahun. Rambutnya berantakan, matanya cekung, sebatang rokok terselip di mulutnya, sementara sorot matanya dipenuhi amarah dan ketidakrelaan.Flora turun dari lantai dua. Sampai sekarang dia masih belum bisa menerima kenyataan. Bagaimana mungkin perusahaan yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba jatuh ke jurang kehancuran?Declan sedang menelepon. Begitu panggilan tersambung, dia langsung merendahkan sikapnya dan memohon, "Halo! Akhirnya kamu angkat juga. Bisa nggak kasih aku dana talangan jangka pendek? Begitu perusahaanku pulih, pasti langsung aku kembalikan.""Maaf sekali, kali ini aku benar-benar nggak bisa bantu.""Demi hubungan kita ....""Maaf ya, Pak Declan."Telepon langsung ditutup.Brak! Declan menggebrak meja dan meraung, "Dasar sekumpulan pengkhianat! Dulu sok akrab panggil saudara, sekarang satu per satu nggak angkat telepon atau bilang nggak punya uang! Sialan!"Dia masih ingat beberapa b

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1206

    Setelah keluar dari laboratorium, Brielle kembali ke kantor. Cherlina menjulurkan kepala masuk. "Kak Brielle, tadi kamu lihat Pak Raka nggak?"Gerakan Brielle yang hendak minum air sempat terhenti, "Dia sempat ke sini?""Ya, setengah jam yang lalu dia masuk ke ruang laboratorium, sekitar 20 menit baru keluar. Mungkin kalian lagi sibuk semua," kata Cherlina.Brielle sama sekali tidak menyadarinya. Namun, Raka memperhatikan perkembangan eksperimen itu sepenuhnya karena dia juga memikul tekanan, tekanan dari negara.Hari ini ada kabar baik dari perkembangan eksperimen. Brielle melirik waktu, sudah pukul 3.30 sore, sementara dia masih harus pergi ke laboratorium Derrick untuk rapat. Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Raka.[ Malam ini aku ada rapat, kamu sempat jaga Anya? ][ Fokus kerja saja, Anya biar aku yang urus. ]Balasan singkat dan lugas, gaya khas Raka.Melihat pesan itu, hati Brielle sedikit lega. Terlepas dari bagaimana masa lalu mereka, dalam hal menjaga anak, Ra

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1205

    Faye kembali ke dalam mobil, pikirannya masih kosong. Mengingat keberaniannya tadi memanggil Raka "kakak ipar" di depan umum, kini semuanya berubah menjadi rasa malu yang tak tertahankan.Tatapan dingin Raka masih terbayang di benaknya, seperti kutukan yang tak bisa dihapus, membuat rasa malunya semakin menjadi-jadi.Bagaimana sebenarnya Devina menjaga hubungan dengan Raka? Bukankah saham Grup Pramudita di Grup Datau juga diberikan kepadanya? Bukankah itu juga bentuk cinta?Apalagi, 6 triliun bagi Raka sama sekali bukan angka besar.Baru sekarang Faye menyadari, hubungan Raka dan Devina benar-benar sudah sampai di ujung jalan. Artinya, mimpi Devina menjadi Nyonya Pramudita benar-benar sudah hancur.Kesadaran ini justru seperti suntikan penenang dalam dirinya, membuatnya sedikit merasa lega.Dulu, saat mengetahui hubungan Raka dan Devina, dia memang sangat iri. Memikirkan seorang anak haram justru memiliki kehidupan yang lebih baik darinya, dia sama sekali tidak rela.Baru saja tadi, si

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1204

    Faye yang masih hendak memohon tiba-tiba mendengar sekelompok orang berjalan dari arah lobi lift. Dia langsung mengangkat kepala dan menoleh.Terlihat sekelompok pria berjas mengelilingi seorang pria muda dengan aura kuat yang berjalan di tengah. Sosok pria itu tegap, rambut putihnya sangat mencolok. Kalau bukan Raka, siapa lagi?Raka sedikit menoleh mendengarkan pria di sampingnya berbicara. Tatapannya tajam, langkahnya mantap.Jantung Faye langsung berdegup kencang. Hampir tanpa berpikir, dia berlari ke arah Raka dan berteriak, "Kakak Ipar!"Panggilan itu begitu keras dan mendadak, langsung memecah suasana tertib di lobi. Semua orang berhenti dan menatap gadis yang berteriak itu dengan heran.Langkah Raka terhenti. Dia menoleh ke arah wanita yang berlari dari depan resepsionis. Tatapannya yang dalam dan dingin tertuju pada Faye, seperti pisau tajam tanpa sedikit pun kehangatan.Tubuh Faye langsung merinding karena tatapannya, tetapi dia tetap memaksakan diri berbicara, "Kak Raka, tol

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1203

    Faye menggigit bibirnya erat-erat. Dia berjalan menuju toilet untuk menenangkan diri. Baru saja masuk ke bilik, dia mendengar rekan-rekan kantor masuk."Kalian lihat berita tentang Grup Datau? Katanya Keluarga Datau sudah mau bangkrut.""Dari dulu juga sudah banyak kabar buruk tentang mereka, aku saja heran mereka bisa sampai go public.""Bukan cuma bangkrut, di berita katanya bisa terkait masalah ekonomi serius, mungkin ada yang sampai masuk penjara.""Gelar putri kaya Faye itu sudah nggak bakal bertahan lagi, lihat saja dulu dia betapa sombongnya.""Dulu posisinya tinggi sekali, tapi sekarang? Hah, asal nggak terlilit utang saja sudah bagus."Di dalam bilik, Faye menahan emosinya sekuat tenaga. Dulu orang-orang ini selalu mengagumi dan menjilatnya, sekarang justru menghinanya saat dia jatuh. Bahkan untuk keluar membantah mereka pun dia tidak punya keberanian.Setelah masuk ke mobil, Faye menelepon Devina. Meskipun membenci Devina karena mengambil saham perusahaan, sekarang perusahaan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 374

    Wajah Brielle jelas menunjukkan penolakan. "Aku sudah ada janji malam ini.""Belakangan ini kesehatan Nenek nggak terlalu baik dan dia terus-menerus ingin bertemu denganmu," kata Raka pelan. Mendengar nama Emily, hati Brielle pun melunak sedikit.Sejak pertama kali bertemu dengan Emily, Brielle sela

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 363

    Suara berat dan berkarisma tiba-tiba terdengar mengarah pada Brielle. "Bu Brielle, apa ada pendapat yang ingin disampaikan?"Brielle mendongak, sedikit terkejut karena Raka tiba-tiba memanggilnya. Dengan nada datar, dia menjawab, "Nggak ada."Tatapan Raka agak meredup. Namun, tak lama kemudian dia t

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 359

    Brielle menunduk sopan pada Thomas. "Dulu aku hanya mempublikasikan sebagian teori dasarnya."Thomas segera menimpali dengan antusias, "Bu Brielle, ke depannya kita harus berbincang lebih banyak. Aku dan timku juga sedang meneliti bidang yang sama. Kami mengikuti jejakmu."Brielle tersenyum hangat d

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 399

    Jari-jari lentik Brielle bergerak di atas layar, menjelaskan detail teknis dengan profesional dan tenang.Raka bersandar di kursinya. Pandangannya perlahan beralih dari data di layar menuju wajah Brielle yang serius dan fokus."Rencana ini ...," gumam Raka pelan setelah berpikir sejenak. "Butuh tamb

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status