แชร์

Bab 990

ผู้เขียน: Ayesha
"Oh, Raka memang sengaja berpesan padaku dan ibunya supaya nggak memberitahumu. Dia khawatir kamu merasa terbebani," kata Emily lagi.

Seketika, perasaan yang sulit diungkapkan bergolak di dadanya. Terkejut, lalu berubah menjadi kebingungan.

Raka ternyata membuat keputusan seperti itu dan menyembunyikannya darinya sampai sekarang.

"Nenek ...." Suara Brielle terdengar agak serak. "Soal ini, apa ayahku tahu itu keputusan Raka sendiri?"

Emily mengangguk. "Semua prosedur donasi diurus sendiri oleh Ra
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 991

    Raka menatap mata Brielle yang jernih seperti air di bawah cahaya lampu, lalu mengangguk. "Mm.""Kenapa nggak pernah memberitahuku?" Brielle tetap menatap lurus ke arahnya. Nada suaranya bukan menyalahkan, lebih ke ingin tahu."Ke rumahku saja. Aku akan memberitahumu semua yang ingin kamu ketahui." Suara Raka terdengar rendah. Jelas, topik seperti ini tidak ingin dia bahas di lorong.Brielle memalingkan wajahnya. Rautnya penuh penolakan dan rasa tidak suka.Tatapan Raka mengunci dirinya. "Selain Raline dan aku, nggak pernah ada orang lain yang masuk ke rumah itu."Dia mengatakan itu agar Brielle tahu Devina tidak pernah menginjakkan kaki ke sana."Tadi aku juga sudah bilang, aku dan dia ...."Brielle mengangkat kepala dan memotong ucapannya dengan dingin, "Urusan kalian bukan topik yang ingin kubahas. Aku hanya ingin bicara tentang urusan ayahku dengan kamu."Raka terdiam sejenak, menatapnya dengan sorot mata membara. "Oke. Ke rumahku. Semua yang ingin kamu tahu akan kuceritakan."Sete

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 990

    "Oh, Raka memang sengaja berpesan padaku dan ibunya supaya nggak memberitahumu. Dia khawatir kamu merasa terbebani," kata Emily lagi.Seketika, perasaan yang sulit diungkapkan bergolak di dadanya. Terkejut, lalu berubah menjadi kebingungan.Raka ternyata membuat keputusan seperti itu dan menyembunyikannya darinya sampai sekarang."Nenek ...." Suara Brielle terdengar agak serak. "Soal ini, apa ayahku tahu itu keputusan Raka sendiri?"Emily mengangguk. "Semua prosedur donasi diurus sendiri oleh Raka."Hati Brielle terasa seperti tertusuk jarum. Raka tidak pernah menyebutkannya sedikit pun."Brie, kamu nggak perlu merasa terbebani. Sudah bertahun-tahun berlalu, keluarga kami sudah lama nggak mempersoalkan hal itu lagi. Nenek hanya sekadar menyinggungnya," ujar Emily.Namun, di matanya tersirat sedikit ketidakberdayaan. Kalau saja cucunya tidak menyimpan semuanya dalam hati, dia juga tak perlu mengungkit hal ini agar Brielle memahaminya."Kamu duduk sebentar, Nenek pergi lihat makanan suda

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 989

    Rumah Keluarga Pramudita memang terasa agak sepi, tetapi segala sesuatu tampak mewah dan megah. Para pelayan membersihkannya hingga tidak ada setitik debu pun.Anya bermain sendiri, sementara Emily dan Brielle duduk di sofa sambil minum teh."Aku bilang ingin jenguk Meira, tapi Raka selalu bilang jangan repot-repot. Aduh! Sebenarnya sakit apa? Sudah selama ini masih belum pulang juga." Jelas, Emily masih tidak tahu kebenarannya.Brielle menghibur dengan lembut, "Nenek, jangan terlalu khawatir. Tingkat medis sekarang sudah maju. Bibi pasti nggak apa-apa."Emily memandang Brielle, lalu tersenyum. "Di depanku 'kan duduk seorang genius medis! Aku nggak khawatir kok. Cuma berharap rumah ini lebih ramai."Setelah berkata begitu, Emily bertanya lagi, "Akhir-akhir ini kamu sibuk apa? Masih di laboratorium yang dulu?""Ya, masih," jawab Brielle, tanpa sadar ikut menyembunyikan beberapa hal. Usia Emily sudah lanjut. Dia memang tak tahan menerima terlalu banyak guncangan."Kalian anak muda memang

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 988

    Brielle sempat terpaku beberapa detik oleh keseriusan yang nyaris obsesif di mata Raka, tetapi setelah tersadar, dia justru merasa itu ironis."Sudah selesai? Kalau sudah, minggir." Setelah berkata demikian, kali ini Brielle tidak lagi memanggil namanya. Dia langsung mengulurkan tangan dan mendorongnya. Tubuh Raka yang setinggi 1,8 meter itu dengan mudah terdorong ke samping.Bukan karena Brielle sangat kuat, melainkan karena Raka mengikuti dorongannya dan sedikit memiringkan tubuh, memberi jalan."Maaf, sudah membuang waktumu." Suara Raka rendah dan serak.Brielle hanya sedikit mengangkat kelopak matanya, bahkan tak benar-benar menatapnya. Dia berjalan lurus menuju laboratorium, menempelkan kartu akses, membuka pintu, dan masuk.Pintu kedap suara yang berat perlahan menutup di antara mereka.Raka berdiri di tempat. Emosi yang kuat ditekan olehnya, kembali tersembunyi dalam sepasang mata yang dalam dan tak terbaca, menyisakan ketenangan yang terkendali.Saat ini, dia tak boleh kehilang

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 987

    Sementara itu, Raka hanya berdiri di samping dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana panjangnya. Sosoknya tegap, tatapannya tertuju pada proses pengambilan darah. Keberadaannya lebih seperti pengawasan tanpa suara.Sepuluh menit kemudian, pintu ruang pengambilan darah terbuka. Perawat membantu Devina keluar. Wajahnya agak pucat, penampilannya rapuh. Raka keluar dengan satu tangan masih di saku."Raka, boleh aku istirahat sebentar sebelum pergi?" Devina jelas tidak berniat langsung pulang."Mobil sudah siap. Pulanglah dan istirahat di rumah," kata Raka. Setelah itu, dia melewatinya dan berjalan ke arah lain."Bu Devina, kami antar keluar ya," ujar perawat dengan lembut.Tubuh Devina yang semula tampak lemah tiba-tiba berdiri tegak. Dia berkata kepada perawat, "Nggak perlu, aku bisa keluar sendiri."Kedua perawat itu menangkap sedikit ekspresi tak suka di wajahnya, lalu mundur dua langkah dengan sadar diri.Devina membawa tasnya dan berjalan menuju lift yang mengarah ke lobi. Dia m

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 986

    Ketika salah satu perawat hendak memberi tahu Raline, dia melihat seseorang melangkah masuk. Kedua perawat itu berpandangan begitu melihatnya, lalu tersenyum menyapa, "Profesor Brielle."Setelah itu, mereka segera pergi.Raline menatap para perawat yang pergi dengan tergesa-gesa. Dia pun tak bisa menahan diri untuk berpikir bahwa Brielle pasti tahu siapa orang yang mereka maksud.Dia mencoba bertanya dengan nada menyelidik, "Kak Brielle, tadi mereka bilang Bu Devina, itu siapa?"Brielle membuka keran dan mencuci tangan dengan tenang. Dengan nada datar, dia menjawab, "Bukan Devina yang kamu kenal. Cuma gadis dengan nama yang sama. Dia datang untuk tes darah dan pemeriksaan."Raline tersenyum canggung. "Oh! Jadi kalian di sini juga melayani pasien luar?""Hanya bantuan medis," jawab Brielle dengan wajar.Raline diam-diam menghela napas lega. Syukurlah bukan Devina. Tadi dia hampir benar-benar mengira itu adalah Devina.Brielle keluar lebih dulu. Tak lama kemudian, Raline kembali ke kamar

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status