LOGINDi balik jendela kaca besar, panorama cakrawala kota terbentang luas.Harvis telah pulih dengan sangat baik. Dia mengenakan pakaian rumahan yang nyaman. Wajahnya tampak segar seperti biasa, sorot matanya masih memancarkan kelembutan yang khas.Dibandingkan tiga tahun lalu, kini dia terlihat jauh lebih dewasa."Silakan duduk," kata Harvis. "Mau minum apa? Teh, kopi, atau jus?""Biar aku ambil sendiri." Brielle tidak ingin merepotkannya. Dia kemudian membawa dua gelas air hangat dan kembali duduk.Tatapannya penuh perhatian saat mengamati Harvis. "Gimana keadaanmu? Masih sakit?""Jauh lebih baik. Hanya lukanya mulai terasa gatal karena sedang tumbuh jaringan baru." Harvis tersenyum sambil menggenggam gelasnya. "Jangan khawatir. Dokter bilang pemulihanku berjalan sangat baik."Mendengar itu, Brielle pun merasa lega.Tak lama kemudian, ponsel Harvis berdering. Ternyata telepon dari pengacaranya. Setelah menyelesaikan panggilan itu, dia menoleh kepada Brielle."Vonis untuk Faye kemungkinan
Tetap saja, dia terlalu gegabah. Padahal dia sudah berkali-kali mengingatkan dirinya untuk melangkah perlahan.Namun barusan, saat melihat Brielle memejamkan mata, dengan sudut mata yang berkilau oleh cairan obat sehingga membuatnya tampak begitu rapuh, kebanggaannya atas akal sehat dan pengendalian dirinya seketika runtuh.Yang dia inginkan hanyalah mendekati Brielle dan menyentuhnya, meski hanya dengan sentuhan yang sangat ringan.Kini, dia justru mulai menyesal. Kenapa tadi dia tidak memastikan lebih dulu apakah Brielle masih merasa jijik padanya atau masih menolaknya?Dia bisa merasakan setiap perubahan emosi Brielle terhadap dirinya. Dari rasa benci dan penolakan sebelum perceraian, lalu kebencian setelah mereka resmi bercerai, hingga setahun yang lalu ketika tatapan Brielle akhirnya kembali tenang.Tak ada lagi kebencian, tak ada lagi keluhan. Yang tersisa hanyalah sikap acuh tak acuh. Ekspresi itu jauh lebih membuatnya gelisah daripada kebencian. Seolah dirinya benar-benar telah
Detak jantung Brielle terasa semakin jelas di tengah gelap dan sunyi. Dia dapat dengan jelas merasakan bahwa Raka belum juga menjauh.Napas pria itu masih menyelubunginya, membawa tekanan samar yang sulit diabaikan. Dia bahkan bisa membayangkan Raka sedang membungkuk menatapnya.Karena kedua matanya dipenuhi cairan obat, rasa perih dan tidak nyaman masih terasa. Dia menahannya dan tidak membuka mata.Tak lama kemudian, dia merasakan sisa cairan obat mengalir keluar dari sudut matanya. Entah mengapa, hal itu membuatnya sedikit malu. Rasanya dia seperti sedang menangis.Saat itulah, ujung jari yang hangat menyeka perlahan sisa cairan obat yang mengalir di sudut matanya. Tubuh Brielle sontak bergetar pelan."Bisa tolong ambilkan tisu?" Dia ingin melakukannya sendiri. Namun, pria itu tidak menanggapi permintaannya.Saat Brielle hampir tidak sanggup lagi menahan diri untuk tidak membuka mata, dia tiba-tiba merasakan sentuhan yang luar biasa lembut di sudut matanya.Kali ini ... sepertinya b
"Sayang sekali. Padahal kamu itu tulang punggung teknis di tim kita. Kalau kamu pulang untuk mengurus keluarga, entah kapan bisa kembali lagi ke dunia kerja?""Siapa yang tahu? Kadang aku berpikir, kenapa perempuan selalu harus memilih antara keluarga atau karier? Yang paling nggak adil, yang dikorbankan hampir selalu karier perempuan.""Benar. Seolah-olah perempuan memang harus mengalah demi keluarga dan anak. Kenapa bukan laki-laki saja yang berhenti kerja untuk mengasuh anak? Andai suamiku mau mengurus anak, aku juga nggak ingin melepaskan karierku.""Menjadi perempuan memang sulit. Menyeimbangkan keluarga dan karier bukan perkara mudah."Brielle berdiri di balik sudut lorong. Perasaannya mendadak menjadi rumit.Belakangan ini, Raka memang banyak membantunya, terutama dalam mengurus Anya. Karena terlalu sibuk dengan penelitian, dia memang jarang memikirkan hal itu. Di alam bawah sadarnya, dia selalu menganggap semua itu adalah tanggung jawab Raka sebagai seorang ayah.Namun, setelah
Brielle kembali dibuat terdiam oleh ucapannya. Dia memang benar-benar lupa. Belakangan ini pikirannya sepenuhnya dipenuhi pekerjaan di laboratorium sehingga dia tidak punya waktu memikirkan hal lain."Aku ...."Brielle membuka mulut ingin menjelaskan, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.Raka justru berkata dengan nada santai, "Sudahlah. Selama Dokter Brielle nggak merasa rambutku jelek, sebenarnya nggak diobati juga nggka masalah."Maksudnya jelas. Dia tidak peduli dengan pandangan orang lain. Satu-satunya yang dia pedulikan hanyalah pendapat Brielle.Brielle mengangkat cangkir tehnya, lalu mendengus pelan. "Selama nggak memengaruhi kesehatanmu, sebenarnya diobati atau nggak juga nggak ada bedanya."Raka tersenyum tipis. Dia juga tahu kapan harus berhenti menggoda. Dia kembali mengangkat sendok dan mengambil makanan."Renovasi bagian utama vila hampir selesai. Desain interiornya juga sudah dikirim desainer dalam beberapa versi. Kalau malam nanti kamu sempat, kita tentukan bersama.
"Nggak ada yang nggak bisa kukatakan."Tatapan Raka sedikit meredup saat melanjutkan, "Penyebabnya sebenarnya nggak rumit."Brielle kembali mengangkat pandangan menatapnya.Raka sedikit membungkukkan tubuhnya hingga tatapan mereka sejajar. Matanya yang dalam tertuju pada Brielle saat dia mengucapkan setiap kata dengan jelas."Karena kamu."Brielle terpaku. Jari-jarinya yang menggenggam cangkir teh tanpa sadar mengencang. Dia sama sekali tidak menyangka Raka akan mengatakan alasannya seterus terang itu. Namun, Brielle tidak merasa hal itu ada hubungannya dengan dirinya.Raka juga menyadari bahwa ucapannya tadi mungkin membuat Brielle merasa tertekan dan tidak nyaman. Dia pun tersenyum tipis."Tapi sebenarnya bukan salahmu. Saat itu tekanan mentalku terlalu besar, aku juga kurang beristirahat. Rambutku memutih karena terlalu banyak beban pikiran."Raka menyesap teh. Jakunnya bergerak naik turun."Waktu kamu diculik itu, syukurlah Niro datang tepat waktu untuk menyelamatkanmu. Dia menahan
Telepon dari Frederick masuk, menanyakan apakah Brielle bisa meluangkan waktu sore ini untuk datang ke Hotel Muse menghadiri rapat.Brielle melirik jam, lalu membalas, "Bisa nggak rapatnya dijadwalkan malam saja?""Baik, Bu Brielle. Saya atur mulai pukul tujuh malam. Anda bisa makan malam di Hotel M
Setelah menutup telepon, Niro tersenyum. "Nenek sudah lama menanti kedatanganmu di rumah. Sepertinya dia sudah menyiapkan banyak makanan enak untuk menyambutmu."Kemudian, mereka memasuki kompleks perumahan bergaya villa. Niro mengajak Brielle masuk ke rumah dua lantai dengan halaman kecil di depann
Padahal rekan satu timnya sama sekali tidak tinggal di sana. Niro sengaja menyebut alamat itu, supaya bisa menemani Brielle lebih lama di jalan, sekaligus memastikan dia sampai dekat rumah dengan aman.Niro lalu menghentikan sebuah taksi dan pulang ke rumah.Brielle pulang dengan membawa piala. Begi
"Hmm!" Anya berkata dengan polos, "Bibi Devina bilang lain kali mau ajak aku ke taman bermain."Lampu merah menyala, Brielle menghentikan mobilnya. Kemudian, dia menoleh dan menatap putrinya dengan serius, "Anya, lain kali kalau ada orang kasih kamu hadiah, kamu harus tanya Mama dulu. Ngerti?""Tapi







