Pagi ini, tepat satu hari setelah Laura terbaring lemas tak sadarkan diri.
Kepala terasa sakit, bahkan tubuh pun juga tak ingin lepas dari ranjang empuk yang sedang ia tempati.Perlahan Laura membuka mata dengan tangan kanan terus memegangi sisi kepalanya. Merintis kesakitan, mencoba memperjelas penglihatan yang buram.Begitu terkejut Laura saat menyadari bahwa ia sedang berada di sebuah kamar mewah.Bingung? Tentu saja, iya. Bahkan rasa takut pun ikut menyertai. Laura terdiam bisu dengan detak jantung tak beraturan."Di mana ini? Bagaimana aku bisa ---"Baru saja hendak melanjutkan perkataannya, tiba-tiba suara seorang wanita lain mengagetkan Laura."Selamat pagi, Nona. Baguslah kalau Anda sudah sadar. Ini saya bawakan sarapan dan teh hangat untuk Anda. Jika butuh sesuatu, Nona bisa panggil saya," ucap seorang pelayan cantik yang perkiraan usianya tidak jauh di bawah Laura.Seketika, tubuh Laura semakin lemas. Ia mencoba mengingat semuanya.Tapi di kondisi panik seperti ini, tentu saja sulit baginya untuk berpikir jernih."Tempat apa ini? Kenapa aku bisa ada di sini? Siapa yang membawaku?"Laura terus melontarkan pertanyaan dengan air mata yang sedang ia tahan di ujung kelopak mata. Belum saatnya untuk menangis karena ia masih berharap bahwa ini hanyalah mimpi."Nona sedang ada di rumah Tuan Leon. Kemarin pagi, beberapa anak buah dari Tuan Leon membawa Anda ke sini."Mendengar itu, pikiran Laura semakin tak karuan.Sejak kecil ia jarang sekali keluar rumah. Dirinya takut untuk bertemu orang baru, apalagi sampai berkenalan dan menjalin hubungan dengan mereka.Namun, sekarang dia malah dibawa ke tempat yang sama sekali tak terpikir di benaknya. Bahkan oleh orang yang tidak ia kenal sama sekali."Leon? Siapa dia? Apa tujuannya membawaku ke sini? Di mana Devano? Apa Devano baik-baik saja?" lagi-lagi Laura terus melontarkan pertanyaan yang tak cukup satu.Ia sangat takut jika dirinya di bawa untuk hal-hal yang tidak benar.Ditambah lagi kekhawatiran akan keadaan kekasihnya yang membuat hati Laura tak bisa terkondisikan."Maaf, Nona! Saya hanya menjalankan tugas saya saja sebagai pelayan rumah. Jadi ... saya tidak tahu-menahu tentang pria bernama Devano yang Anda maksud," kata si pelayan bernama Angel.Merasa sudah tidak beres, Laura bersikeras bangkit dari kasur walaupun tubuhnya masih terasa sakit.Tak sengaja dirinya malah menyenggol pundak Angel dan menumpahkan semua makanan serta minuman yang ada di genggamannya. Bahkan teh hangat itu juga membasahi baju Laura.Dengan sedikit perasaan bersalah, Laura tetap bersikeras melarikan diri tanpa meminta maaf pada Angel.Saat membuka pintu dan berhasil keluar, tiba-tiba dirinya menabrak tubuh seorang pria tampan yang jauh lebih tinggi darinya, kurang lebih sekitar 180cm.Tubuhnya tegap, berkulit putih cerah, dengan kemeja yang lengannya digulung sampai siku.Laura terdiam, kakinya tak bisa bergerak dalam sekejap. Biasanya ia hanya mengagumi pria tampan yang ada di film-film saja.Tapi saat takdir mempertemukannya dengan pangeran tampan ini, Laura malah tak tertarik sama sekali. Terutama karena dirinya sudah dipenuhi rasa takut lebih dulu."Ma---maaf, Tuan. Tadi saya tidak sengaja menumpahkan teh hangat ke baju Nona. Sekali lagi saya benar-benar minta maaf sebesar-besarnya."Angel terus-menerus menyampaikan perasaan bersalahnya dihadapan sang majikan sembari membungkukkan tubuh berulang kali.Dalam hati, Laura sedikit terkejut. Semua ini adalah salahnya. Dia yang menyenggol pundak Angel hingga minuman tersebut tumpah. Tapi justru Angel yang malah minta maaf dan mengatakan bahwa itu merupakan ulahnya sendiri."Tidak apa-apa, aku tidak akan marah. Ini bukan salahmu, dan juga bukan salah dia. Lebih baik sekarang kamu kembali melanjutkan pekerjaanmu saja dan jangan terlalu dipikirkan," kata Leon dengan tangan kanan yang sedang merangkul jas miliknya.Lantunan kalimat bernada lembut terus berkeliaran di telinga Laura. Ini adalah pertama kalinya ia mendengar suara pria selembut itu.Walaupun Leon tak tersenyum sama sekali, tapi Laura bisa menebak bahwa dia adalah lelaki yang penuh kelembutan."Apa! Dia memanggilnya dengan sebutan Tuan? Jangan-jangan dia adalah pria bernama Leon yang dimaksud oleh pelayan tadi," gumam batin Laura penuh rasa penasaran.Tak disangka, Leon malah meletakkan salah satu telapak tangannya di atas kepala Laura dan mengelus pelan rambut indahnya."Lebih baik sekarang kamu ganti baju terlebih dahulu. Aku sudah membelikan pakaian yang baru untukmu. Semoga kamu suka," ujar Leon yang membuat Laura hampir kehilangan akal.Tapi setelah mengingat bahwa dia dibawa secara tiba-tiba dan menganggap Leon adalah orang asing baginya, tentu Laura masih bersikeras untuk pergi.Laura mengatakan kalau ia ingin mencari Devano, yaitu kekasihnya selama ini.Tak menanggapi, Leon hanya diam dan memberikan sebuah paper bag berisi sejumlah pakaian wanita yang baru ia beli berdasarkan rekomendasi dari Angel."Aku tau apa tujuan kamu membawaku ke sini," seru Laura dengan maksud menakut-nakuti Leon. Seolah-olah rencana yang sudah Leon buat telah diketahui oleh Laura lebih dulu.Leon menarik napas pelan, lalu berkata, "Tentu saja kamu tau, karena kamu sendiri yang memutuskan untuk tinggal di sini bersamaku."Dalam sekejap, ucapan Leon membuat Laura merasa sedang dimanipulasi.Ia berpikir apa mungkin ia telah hilang ingatan, atau Leon hanya mengatakan kebohongan dan membalikkan fakta.Namun, Laura sadar bahwa ia tidak mungkin kehilangan ingatannya karena dia masih mengingat jelas semua kejadian di hari kemarin. Terutama saat terakhir kali dirinya melihat Devano."Aku tidak mengerti sama sekali dengan apa yang kamu katakan. Bahkan aku juga tidak mengenal dirimu. Apapun tujuanmu, tolong izinkan aku terlebih dahulu untuk bertemu kekasihku, Devano. Aku sangat ingin melihat kondisinya sekarang," pinta Laura dengan mata berbinar. Berharap Leon mengabulkan permohonannya.Leon yang sama sekali tidak tau tentang Devano, tentu tak merespon permohonan Laura. Dia mengira bahwa itu hanyalah alasan Laura agar bisa kabur dari tanggung jawabnya."Launa, aku sama sekali tak ingin memarahi apalagi berkata kasar padamu. Jadi tolong jangan bersandiwara lagi dan selesaikan saja tugasmu sekarang. Cepat ganti bajumu, karena kita akan menemui Nenek."Dalam sekejap, Laura dibuat heran oleh dirinya sendiri. Ia ragu harus menganggap Leon sebagai orang jahat atau baik.Sikap yang Leon tunjukkan bagaikan malaikat tak bersayap. Tapi dengan membawa seseorang secara tiba-tiba, Laura menganggap itu adalah perbuatan tak pantas.Meski bagaimana pun juga, ia masih menganggap Leon sebagai orang asing yang tidak bisa dipercayai sepenuhnya."Namaku bukan Launa! Aku adalah Laura," jelas Laura yang mencoba untuk menegaskan nada bicaranya walau sedikit ragu.Leon menatap Laura tajam.Ia semakin yakin kalau Laura ingin lari dari tanggung jawab yang seharusnya sudah dilaksanakan sejak beberapa hari lalu. Hanya saja ia tidak pernah datang dan malah membawa pergi uang 5 miliar yang telah Leon berikan.Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Leon memilih untuk mengikuti alur permainannya saja dan berkata bahwa ia akan membawa Laura kepada pria yang dimaksud, asalkan Laura mau memenuhi tugasnya terlebih dahulu dan bertemu dengan sang nenek.Beberapa hari kemudian, Leon dan Laura memutuskan untuk menggelar acara pernikahan mereka setelah melakukan pertunangan.Namun, di hari yang bahagia ini Laura terlihat begitu sedih. Ia tak menyangka jika orang tuanya masih belum ditemukan sampai saat ini, bahkan saat dirinya hendak menempuh hidup baru dengan pria pilihannya.Di ruang rias pengantin, Laura sedang menatap dirinya di depan cermin.Balutan gaun itu terlihat sangat indah, tapi tidak dengan hatinya. Meski merasa ada goresan kebahagiaan, namun luka tetap menyertai."Bagaimana bisa aku menikah tanpa kehadiran orang tuaku?" tanya Laura dalam hati.Tapi tiba-tiba matanya membelalak saat melihat sosok wanita dari pantulan cermin. Wanita itu tengah berdiri di belakangnya, dan ternyata itulah adalah Manda.Laura menolah karena tidak percaya. Ia pikir ini hanya halusinasi saja. Tapi ternyata ini adalah kenyataan. Tidak lama kemudian Erik dan Launa ikut masuk ke ruangan yang sama. Kali ini sebuah keluarga yang utuh berkumpul di sat
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kini sudah memasuki bulan keempat setelah takdir kembali mempertemukan Leon dengan Laura.Selama beberapa waktu tersebut, mereka sering menghabiskan waktu bersama. Bahkan Leon juga sering menjemput Laura dari minimarket tempatnya bekerja dan mengantarkan dia pulang ke kontrakannya.Di pagi yang cerah ini, Leon dan Laura telah membuat janji untuk saling bertemu di sebuah kafe yang sangat sepi.Kafe ini jarang sekali dikunjungi oleh para pengunjung dan biasa di datangi oleh orang-orang tertentu saja. Selain karena harga menu-menunya yang mahal, ketersediaan tempat duduk di kafe tersebut juga sangat terbatas. Sehingga orang-orang yang tidak menyukai keramaian akan sangat menyukai tempat ini.Laura terlihat tengah menunggu Leon sendirian. Ekor matanya tak henti melirik ke sana dan kemari, mencari sosok pria yang selama ini masih ia kagumi sepenuh hati.Tak disangka ternyata Vincent ada di kafe itu juga. Melihat ada Laura di sana, tentu Vincent sanga
Dua hari kemudian, Leon membulatkan tekad untuk datang ke minimarket tempat Laura bekerja.Melihat Leon datang ke sana, tubuh Laura grogi tak karuan."Leon. Untuk apa dia datang ke sini?" tanya Laura dalam hati. Ia benar-benar sangat gugup."Laura, apa kau punya waktu?" Tanpa basa-basi Leon langsung bertanya ke intinya."Hah!! Maksudmu?""Apa yang punya waktu untuk menemaniku makan siang sekarang?"Seketika Laura merasa seperti tersambar petir. Bagaimana bisa Leon tiba-tiba datang dan mengajaknya makan bersama seperti dulu lagi."Ma---maaf, Leon. Aku tidak bisa karena masih ada kerjaan," balas Laura yang tidak berani menatap mata lawan bicaranya.Mendadak, dari dalam keluarlah seorang wanita bernama Fira.Fira adalah karyawan baru juga di sana. Ia baru mulai bekerja kemarin hari."Bukankah sekarang sudah masuk waktu istirahatmu, Laura?" tanya Fira yang sebelumnya tidak sengaja mendengar percakapan mereka."Ta---tapi bagaimana bisa aku meninggalkanmu sendirian di sini?""Tidak apa-apa
Vincent mengantarkan Laura pulang ke kontrakannya."Jangan tidur terlalu malam," pesan Vincent sambil mengacak pelan rambut Laura."I---iya," jawabnya gugup.Tak ingin berlama-lama lagi, Vincent langsung bergegas untuk meninggalkan tempat."Baiklah, aku pergi dulu.""Hati-hati, Vincent. Jangan terlalu kencang bawa mobilnya." "Tenang saja, Nona Cantik," balas Vincent sambil meledek Laura.Setelah beberapa menit berlalu, kini ia sudah sampai di apartemennya dan bergegas meraih sebuah sofa untuk mengistirahatkan diri di atas sana.Vincent membuka jas yang dia pakai dan melemparkannya ke atas sofa yang sama.Kemudian ia duduk dengan mata terpejam, sambil mengingat semua moment yang lalui hari ini."Laura Zara. Gadis yang cukup menarik bagiku. Dia cantik, baik, tidak matre, bahkan dia juga lebih menarik dibandingkan gadis lain.""Entah siapa pria beruntung yang Laura maksud tadi, tapi yang jelas aku sangat iri padanya karena bisa mendapatkan hati Laura."Cring, cring ....Tiba-tiba dering
Laura dan Vincent tengah menikmati kebersamaan di sebuah pasar malam yang tidak jauh dari kontrakan Laura.Saat dirinya sedang membereskan rumah, tiba-tiba Vincent datang dan mengajak Laura untuk menikmati udara malam di luar.Tentu Laura tak bisa menolak. Bagaimana pun juga semua Vincent sudah sangat berjasa untuknya."Kau mau makan apa?" tanya Vincent pada Laura."Terserah kau saja," balas Laura. Ya, balasan yang biasa dipakai oleh sejuta kaum hawa."Bagaimana kalau bakso saja. Apa kau suka bakso?" tanya Vincent lagi.Laura mengangguk kecil.Dengan segera Vincent menggandeng tangan Laura dan menuntunnya ke sebuah kedai bakso paling ramai yang ada di sana."Apa sebelumnya kau sudah pernah ke pasar malam?" tanya Laura basa-basi.Vincent menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis."Belum. Ini adalah pertama kalinya.""Orang kaya sepertimu pasti selalu makan di tempat ya mewah. Iya, 'kan? Apa kau tidak merasa risih jika makan di tempat sederhana seperti ini?" Laura sedikit ragu dan
Tok, tok, tok!!Leon mendengar suara ketukan pintu dari bilik kamar."Masuk!" ujar Leon tegas."Permisi, Tuan Leon. Di bawah ada Nona Laura yang datang dan sedang menunggu Tuan," jelas Angel."Apa!! Laura?" Leon tak percaya mendengarnya.Namun, seketika ketidakpercayaannya itu dipatahkan oleh anggukan Angel."Baiklah, saya akan segera turun."Saat sedang menuruni anak tangga, Leon memang melihat sosok wanita yang tengah menunggu dirinya."Laura," panggil Leon pelan.Wanita tersebut menoleh santai. Kemudian ia tersenyum melihat bahwa Leon sudah berada tepat dibelakangnya."Ada yang mau aku bicarakan padamu," ujar wanita itu.Sampai saat ini Leon masih tak curiga sama sekali. Ia belum sadar bahwa orang yang ada di hadapannya bukanlah Laura melainkan Launa. Benar, wanita yang akhir-akhir sedang ia cari untuk meminta pertanggung jawaban."Tapi aku tidak mau kita membicarakannya di sini karena takut di dengar oleh para pelayanmu," jelas Launa sambil melirik ke sana kemarin.Leon yang masi