Share

Bab 3

Author: Tasya
Saat sedang membereskan barang-barang, ponselku tiba-tiba berdering nyaring.

Masuk telepon dari Sakha. "Safira, buka pintunya. Kamu bahkan sudah ganti kata sandinya. Apa maksudmu?"

Aku terdiam sejenak sebelum menjawab pelan, "Nggak ada maksud apa-apa, Sakha. Kita putus saja."

Namun, orang di seberang telepon seolah tidak mendengar ucapanku. Amarah yang ditahannya terdengar jelas.

"Winna masih ingat kamu pernah bilang ingin makan di restoran ini. Karena kamu nggak datang, dia sampai sengaja bungkusin makanan buatmu. Eh, kamu malah marah dan nggak mau buka pintu."

"Safira, berhentilah cari gara-gara!"

Aku tidak tahu apakah dia memang tidak mendengar saat aku mengatakan ingin putus, atau sudah terbiasa menganggap ucapanku itu hanya bagian dari ulahku semata.

Baru saja aku hendak mengulanginya, dia sudah lebih dulu menutup telepon.

Aku tersenyum pahit mengejek diri sendiri.

Salahku juga. Semua orang tahu betapa besar cintaku pada Sakha. Sampai-sampai dia sendiri pun tidak percaya kalau aku benar-benar akan meninggalkannya.

Keesokan harinya, saat pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli berbagai keperluan rumah baru, aku berbelok melewati sebuah rak dan tanpa sengaja berpapasan dengan dua orang.

Sakha membawa beberapa kantong belanja, sementara Winna berjalan di sampingnya.

Begitu melihatku, senyum di wajah mereka berdua langsung membeku.

"Safira, jangan salah paham. Kak Sakha cuma nemanin aku belanja. Dia khawatir aku nggak sanggup bawa semua barang ini sendirian."

Sambil menjelaskan, Winna melangkah menghampiri dan hendak menggenggam tanganku.

Namun Sakha langsung menariknya menjauh.

"Buat apa jelasin ke dia? Soal kejadian kemarin saja dia belum minta maaf."

"Winna, kamu terlalu manjain dia. Makanya dia jadi nggak tahu diri."

Winna menatapku dengan wajah penuh rasa bersalah, tetapi pada akhirnya tetap mengikuti Sakha menuju kasir.

Aku hanya memandangi punggung mereka yang makin menjauh. Rasanya seperti ada lubang besar yang menganga di dalam dadaku.

Sakha tidak pernah mau menemaniku berbelanja atau membeli keperluan rumah. Katanya kegiatan seperti itu melelahkan dan merepotkan.

"Kalau ada yang dibutuhkan, tinggal pesan antar saja. Buat apa capek-capek keluar?"

Namun sekarang, dia rela membawakan begitu banyak barang belanjaan untuk Winna tanpa mengeluh sedikit pun.

Setelah keluar dari pusat perbelanjaan, Sakha memasukkan semua barang ke bagasi mobil.

Winna sudah duduk di kursi penumpang depan. Dia menurunkan kaca jendela lalu melambaikan tangan kepadaku.

Sakha berkata dengan nada yang begitu tenang, seolah semuanya wajar saja. "Naiklah. Sekalian aku antar kalian pulang."

Tatapanku tanpa sadar jatuh pada stiker bertuliskan "Khusus untuk Pacar" yang menempel di kursi penumpang depan. Melihat itu, Sakha langsung mengernyit tidak sabar.

"Pinggang Winna lagi sakit. Kursi depan lebih lega, jadi kamu duduk di belakang saja."

Lihatlah. Dia mengingat semua kebiasaan Winna. Dia ingat pinggang Winna bermasalah. Dia juga ingat setiap kali datang bulan, Winna selalu kesakitan.

Namun dia tidak pernah mengingat cedera lama di pinggangku akibat terlalu sering mengangkat barang berat saat pindahan.

Hidungku terasa perih. Aku menahan sesak di dada sebelum berkata pelan, "Nggak usah. Kita nggak searah."

Winna buru-buru mengulurkan tangan hendak melepas sabuk pengamannya. "Safira, kenapa ngomong gitu? Kamu masih marah, ya? Kalau kamu memang ingin duduk di kursi depan, aku turun saja."

Namun Sakha lebih dulu menahan tangannya, lalu mendengus sinis.

"Kalau memang nggak searah, ya sudah. Kita pergi saja."

Begitu kalimat itu selesai diucapkan, mobil langsung melaju meninggalkanku.

Di hadapanku, Sakha seolah tak pernah punya sedikit pun kesabaran.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Prioritas   Bab 9

    Sejak saat itu, hubunganku dengan mereka benar-benar berakhir.Aku tak perlu lagi menebak-nebak hubungan mereka, juga tak perlu terus terjebak dalam pergulatan batin yang menguras diriku.Hidup kembali tenang, dan aku mulai mencurahkan seluruh tenagaku pada pekerjaan.Proyek yang kuselesaikan sebelumnya berhasil melewati tahap serah terima dengan sangat baik. Klien pun merasa sangat puas.Perusahaan memberiku bonus sebagai bentuk penghargaan. Jumlahnya bahkan jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.Setelah rapat selesai, atasan menatapku sambil tersenyum."Di kantor cabang sedang ada posisi supervisor yang kosong. Safira, kamu tertarik nggak?"Aku tertegun sejenak, belum langsung memahami maksudnya."Bukan sekarang. Keputusannya baru akan dibuat setelah Tahun Baru," kata atasan sambil melambaikan tangan. "Pikirkan dulu baik-baik. Nggak perlu buru-buru menjawab."Pengakuan yang kudapat dari pekerjaanku memberiku rasa tenang dan kepuasan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Saat p

  • Bukan Prioritas   Bab 8

    Setelah hari itu, Sakha tidak pernah lagi menghubungiku ataupun datang mencariku.Aku dengar dia mengajukan diri untuk penugasan ke luar kota, ke sebuah kota yang jauh di wilayah utara.Seorang teman meneleponku dengan nada takjub."Katanya dia sendiri yang ngajuin permohonan itu. Sudah berapa orang mencoba bujuk dia, tapi dia tetap nggak mau berubah pikiran. Padahal begitu banyak proyek yang sedang dia tangani, semuanya langsung ditinggalin begitu saja. Safira ... apa ini karena kamu?"Aku tidak menjawab. Aku hanya tersenyum tipis lalu mengalihkan pembicaraan.Ada hubungannya atau tidak, semua itu sudah tidak penting lagi.Mulai sekarang kami akan menjalani hidup masing-masing di tempat yang berbeda, tanpa saling berkaitan lagi. Mungkin memang itulah akhir terbaik bagi kami.Tak lama kemudian, aku juga mendengar kabar tentang Winna.Tidak lama setelah aku putus dengan Sakha, dia menyatakan perasaannya kepada pria itu.Namun Sakha justru bersikap sangat dingin, bahkan terus terang berk

  • Bukan Prioritas   Bab 7

    Setibanya kembali di Kota Naraya, baru saja pesawat mendarat, aku langsung menerima telepon dari rekan kerjaku."Halo, Kak Safira. Syukurlah akhirnya Kakak ngangkat telepon.""Ada orang yang mengaku sebagai pacar Kakak. Dia sudah duduk di ruang tamu sejak pagi dan tetap nggak mau pergi meski sudah kami bujuk berkali-kali."Setibanya di kantor, Sakha masih duduk di ruang tamu.Baru beberapa hari tidak bertemu, dia sudah tampak jauh lebih kuyu.Kemejanya kusut, dagunya dipenuhi janggut tipis yang mulai tumbuh, dan lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas.Begitu melihatku, dia langsung berdiri. Sorot matanya seketika berbinar."Safira ... kamu sudah pulang."Demi menghindari keributan di kantor, aku mengajaknya ke sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari sana.Setelah kami duduk berhadapan, Sakha akhirnya membuka percakapan dengan suara pelan."Safira, kamu pindah rumah. Kenapa nggak ngabarin aku?"Aku memotong ucapannya dengan tenang, "Sakha, kita sudah putus.""Putus?" Dia meng

  • Bukan Prioritas   Bab 6

    Setelah pindah rumah, hidupku menjadi jauh lebih tenang.Dulu, demi menyesuaikan jadwal Sakha, aku selalu mengesampingkan urusanku sendiri.Dinas luar kutolak, pelatihan kutolak, bahkan acara kumpul dengan teman-teman pun selalu kutolak.Setiap kali atasan bertanya siapa yang bersedia ditugaskan ke luar kota, aku hanya menundukkan kepala dan tak pernah berani mengajukan diri.Lama-kelamaan semua orang di kantor tahu. "Yang paling penting dalam hidup Safira itu memang cuma pacarnya."Aku mengosongkan seluruh waktuku agar kapan pun Sakha memanggil, aku selalu bisa datang.Namun sekarang berbeda. Yang perlu kupikirkan hanyalah diriku sendiri. Aku tak perlu lagi memusatkan hidupku pada dirinya.Hari itu, di dalam rapat, atasan kembali bertanya, "Minggu depan ada proyek di Kota Bestara. Siapa yang bersedia berangkat?"Ruang rapat langsung hening. Semua orang menundukkan kepala, menghindari tatapan atasan.Minggu depan kebetulan bertepatan dengan Hari Valentine, jadi tak seorang pun ingin be

  • Bukan Prioritas   Bab 5

    Mendengar ucapan tetangganya, Sakha langsung terpaku.Pindah rumah?Tapi kenapa Safira tidak pernah memberitahunya?Entah kenapa, kegelisahan tiba-tiba memenuhi dada Sakha.Dia segera mengeluarkan ponsel. Dengan jemari yang sedikit gemetar, dia mengirim pesan kepada Safira.[Safira, kamu pindah rumah?]Tapi pesan itu cuma berhenti di satu centang abu-abu. Nggak pernah berubah jadi dua.Dia buru-buru menelepon, dan baru menyadari kalau nomornya juga sudah diblokir.Tiba-tiba terdengar suara pintu lift terbuka.Winna menghampiri sambil berkata lembut, "Kak Sakha, Safira masih marah, ya? Gimana kalau kamu naik dulu ke apartemenku dan istirahat sebentar?"Biasanya, dalam situasi seperti ini, Sakha selalu menganggap Safira yang kekanak-kanakan, sedangkan Winna jauh lebih pengertian.Namun hari ini, entah mengapa suara Winna justru terdengar begitu mengusik telinganya."Nggak." Sakha mengernyit. Suaranya terdengar serak. "Safira sudah pindah rumah, tapi nggak ada yang ngasih tahu aku. Kamu t

  • Bukan Prioritas   Bab 4

    Beberapa hari kemudian, Sakha kembali mengirimkan sebuah alamat kepadaku.[Ibuku ngundang kamu makan bersama. Sekalian membahas soal pernikahan kita.]Berkali-kali aku mengetik balasan, lalu menghapusnya lagi. Setelah lama ragu, akhirnya aku hanya membalas singkat.[Baik.]Meskipun kami sudah memutuskan untuk berpisah, aku tetap merasa harus menjelaskannya langsung kepada orang tuanya.Bagaimanapun juga, selama tujuh tahun berpacaran, Ibu Sakha selalu bersikap baik kepadaku.Saat memasuki ruang VIP, beliau sudah lebih dulu tiba.Kami berbasa-basi sejenak sebelum Sakha datang terlambat bersama Winna."Bu, Winna ini rekan kerja dari perusahaan sebelah, sekaligus sahabat Safira. Kebetulan restoran ini dekat dari kantor, jadi sekalian aku ajak makan bersama."Ibu Sakha berdeham pelan. Raut wajahnya jelas menunjukkan rasa tidak senang.Namun, Sakha seolah tidak menyadarinya. Dia langsung mengambil buku menu dan mulai memesan makanan.Dia memilih berbagai hidangan dan baru kusadari, semuanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status