LOGINDavidson terdiam. Dia tidak ingin merespon orang mabuk.
Namun, Helena justru bergerak semakin tidak terkendali. Ia memeluk tengkuk Davidson, mencium bibir Davidson lebih liar, bahkan sampai menjulurkan lidahnya, dan itu sama sekali belum pernah Helena lakukan sebelumnya pada Davidson. Davidson menahan kedua lengan Helena, bersiap untuk memundurkan wanita itu, menjauh. Tapi, Helena menepis tangan Davidson, kembali memeluk tengkuk pria itu, dan mencium semakin liar. “Emh...” lenguh Helena pelan, menikmati apa yang dia lakukan. Sejenak Helena menghentikan ciuman bibirnya, membuat Davidson bisa sedikit bernapas lega, dan berniat memperingatkan Helena agar tidak semakin bertindak aneh di saat mabuk begini. Namun, belum juga membuka mulut, Helena sudah lebih dulu bicara. “Hemm... aku suka sekali rasa bibirmu, Paman. Manis, hangat, lembut... pokoknya suka sekali!” Davidson pun hanya bisa menghelTok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu menggema. Helena langsung bernapas lega, hampir terisak karena perasaan lega. Pintu mulai terbuka, dan Karina masuk sambil memelototkan mata pada Alex. “Alex! Kau belum tidur juga? Apa kau tidak ingat besok bekerja?” sergah Karina. Alex menoleh, jelas terganggu. “Ibu, jangan ikut campur dulu, aku—” “Tentu saja aku harus ikut campur,” potong Karina tajam. “Helena baru pulang. Biarkan dia beristirahat. Kita juga perlu bicara.” Helena memejamkan mata sejenak. Sangat bersyukur. Ternyata Karina pun bisa jadi dewa penyelamatnya. Alex menghela napas keras, gusar dan kecewa. “Baiklah… aku akan keluar sebentar lagi.” Ia menatap Helena, “Nanti aku ke sini, tidur dengan mu.” Tatapannya penuh janji dan ancaman halus. Tapi, Helena sungguh sangat tidak menginginkan hal itu sehingga dia hanya bisa bereaksi dengan diam. Alex berdiri dan keluar dari kamar, sementara Karina masih berdiri di ambang pintu, menatap Helena dengan tatapan penuh pen
Sore yang mending itu, rumah keluarga Alex terlihat tenang dari luar, lampu halaman menyala dengan kesan yang lembut, tidak ada suara gaduh, tidak ada yang mencurigakan dari luar. Namun mobil hitam milik Davidson berhenti di kejauhan, tersembunyi di bawah bayang pepohonan tinggi menjulang. Davidson tidak mematikan mesin mobilnya. Ia hanya duduk diam, tangan menggenggam setir begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Dari posisinya saat ini, ia bisa melihat sisi rumah, jendela kamar Alex yang lampunya masih menyala redup. Ia tahu Helena pasti masih ada di sana. Ia tahu Helena memutuskan tetap tinggal di rumah itu karena memberikan kesempatan untuk Alex, padahal sudah sefatal itu kesalahannya. Belum lama ini Davidson mendapatkan informasi tentang itu, dari salah satu pelayan rumah Alex. Pelayan itu merekam pembicaraan keluarga itu, lalu mengirimkan padanya.
Alex tertunduk lemah. Namun saat Helena menyebut cinta yang ia miliki terhadap Helena palsu, dia tidak mampu menahan dirinya. “Tidak. Aku tidak mencintaimu dengan Palsu, Sayang. Sumpah demi semua yang aku miliki, aku benar-benar sangat mencintai mu,” ucap Alex tegas, tapi juga masih terlihat lembut dan penuh keyakinan. Helena terdiam untuk sesaat. Kesungguhan di mata Alex bisa dia rasakan dengan jelas. Namun saat ini hatinya terlalu sakit dan kecewa. Bukan hanya pada Alex saja kekecewaan itu berasal, melainkan pada dirinya sendiri, dan situasi yang terjadi ini. Dia dan Alex sama-sama berkhianat, saling menusuk dari belakang, dan saling menikmati apa yang mereka jalani. Sudah sekacau itu hubungan pernikahan mereka, tidak ada yang perlu diselamatkan lagi. Alex langsung meraih tangan Helena, menggenggam cukup erat, menatap dengan tatapan memohon. “Sayang, apa yang terjadi padaku dan Diana bukanlah sesuatu yang serius untukku. Aku cuma... cuma menginginkan anak. Kami a
Helena membuang napas kasarnya. Sungguh, menahan diri menghadapi orang seperti Karina dan juga Diana sudah cukup membuat kesabarannya terkikis habis. “Aku tidak akan pergi sebelum aku membawa semua dokumen milikmu!” tegas Helena. Ia mengeluarkan ponselnya, mengakhiri rekaman, lalu menunjukkan kepada Karina dan Diana. “Aku sengaja merekam untuk berjaga-jaga, tapi ternyata kalian benar-benar membuat kewaspadaan ku tidak sia-sia.” Diana dan Karina menatap marah. “Apa yang kau lakukan, hah?!” Diana mencoba merebut ponsel milik Helena, tetapi dengan cepat Helena menyembunyikan ponselnya. “Percuma saja jika kalian mendapatkan ponselku. Aku sudah mengirimnya ke ponselku yang lain yang aku tinggalkan di tempat lain. Jadi... jangan coba coba menghalangiku lagi.” “Dasar sampah!” bentak Karina. Helena tersenyum miring. “Sampah?” Ia pun melangkah untuk lebih dekat dengan Helena.
Davidson terdiam. Dia tidak ingin merespon orang mabuk. Namun, Helena justru bergerak semakin tidak terkendali. Ia memeluk tengkuk Davidson, mencium bibir Davidson lebih liar, bahkan sampai menjulurkan lidahnya, dan itu sama sekali belum pernah Helena lakukan sebelumnya pada Davidson. Davidson menahan kedua lengan Helena, bersiap untuk memundurkan wanita itu, menjauh. Tapi, Helena menepis tangan Davidson, kembali memeluk tengkuk pria itu, dan mencium semakin liar. “Emh...” lenguh Helena pelan, menikmati apa yang dia lakukan. Sejenak Helena menghentikan ciuman bibirnya, membuat Davidson bisa sedikit bernapas lega, dan berniat memperingatkan Helena agar tidak semakin bertindak aneh di saat mabuk begini. Namun, belum juga membuka mulut, Helena sudah lebih dulu bicara. “Hemm... aku suka sekali rasa bibirmu, Paman. Manis, hangat, lembut... pokoknya suka sekali!” Davidson pun hanya bisa menghel
Davidson meletakkan ponselnya setelah selesai menghubungi Jonathan. Ia meminta Jonathan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di kediaman Alex, kini dia tahu semuanya, dan tidak heran jika Helena jadi seperti ini. “Helena, sekarang kau tahu kan bahwa pernikahan belum tentu menjamin kebahagiaan? Naif jika kau masih berpikir ada cinta tulus yang akan berakhir seumur hidup,” ucap Davidson pelan. Sejenak ia menatap Helena yang masih tidur, ia tidak tahu harus melakukan apa pada wanita itu, hanya saja ad sebuah rasa aneh yang terus saja membuat Davidson melakukan sesuatu yang sebelumnya akan terasa tidak masuk akal untuknya. Peduli. Davidson samai mencari tahu apa yang terjadi di rumah Alex, dan banyak hal lain sebelumnya yang sudah dia lakukan. Entah akan sampai sejauh apa, Davidson hanya berharap dia tidak akan kehilangan kontrolnya. Karena tidak







