Beranda / Rumah Tangga / Bukan Suami Pilihanku / 5 | Pria yang Dia Cintai

Share

5 | Pria yang Dia Cintai

Penulis: Rish Alra
last update Tanggal publikasi: 2024-04-29 09:43:08

"Kamu harus tahu, aku tidak menyukaimu!"

Chelsea berdiri di depannya, masih mengenakan gaun pengantin. Dia sangat tidak sabar untuk menegaskan semuanya pada Roan supaya pria itu tidak terlalu berharap.

Tapi Roan terlihat sangat tenang dan sedikit acuh. Dia menanggapi ucapan Chelsea tanpa emosi, "Aku tahu."

"Ada pria lain yang aku cintai."

Chelsea tak merasa bersalah saat mengakui hal itu. Dia memperhatikan reaksi Roan. Tapi pria itu tak menunjukkan emosi apapun.

Dia tampak melepas dasi dari kerahnya. Dia mendengarkan semua ucapan Chelsea tapi tidak terlalu menanggapi.

"Aku ingin membuat kesepakatan."

Roan menghela napas. Dia menatap Chelsea dan bertanya, "Tidakkah kamu lelah?"

Roan saja sudah menahan kantuk sejak tadi. Dia mengikuti acara pernikahan ini sepanjang hari. Dia tidak bisa beranjak dari podium, menerima setiap ucapan selamat dari para tamu. Roan juga kesulitan mencari waktu untuk mengisi perutnya. Dan kini, Chelsea justru malah mencecarnya dengan tidak sabar. Mereka bahkan baru selesai. Mereka baru bisa beristirahat.

"Jika ingin membicarakan sesuatu, kita bisa membicarakannya besok."

Roan melenggang ke kamar mandi setelah berhasil melepas dasinya. Dia membiarkan dua kancing teratasnya terbuka. Dia sudah kegerahan dan lengket karena keringat. Dia ingin segera merasakan segarnya air. Penampilannya tampak berantakan, tidak seperti biasanya.

Tapi Chelsea yang melihatnya justru terpana. Pria itu terlihat lebih tampan. Bahkan, sejak pria itu melayangkan tatapan kesal tadi, Chelsea dibuat tertegun.

Setelah Roan sepenuhnya masuk ke kamar mandi, Chelsea membenamkan wajahnya di bantal dan memekik frustasi. Bagaimana bisa dia terpesona pada suaminya itu?

****

Roan selesai mandi dalam lima menit, dia melihat Chelsea juga sudah berganti pakaian dan tampak lebih segar. Dia sepertinya menggunakan kamar mandi di kamar lain karena tak ingin menunggu Roan selesai.

Diam-diam, Chelsea memperhatikan Roan dari bayangan cermin sembari mengenakan perawatan kulitnya. Saat Roan melirik ke arahnya, Chelsea akan berpura-pura tidak melihatnya.

Chelsea mungkin tidak tahu, tapi Roan sadar jika perempuan itu memperhatikannya sejak tadi. Roan tak ingin mengungkitnya.

"Aku akan tidur di karpet." Roan melihat permadani berukuran sedang di kamar itu. Sepertinya itu cukup untuk tubuhnya.

Mendengar hal itu, Chelsea terperangah. Dia membanting produk perawatan kulitnya dan berjalan mendekati Roan.

"Apa maksudmu? Kamu menolak tidur denganku?" tanya Chelsea marah.

Roan terkejut. Dia tidak tahu jika Chelsea akan marah hanya karena dia berkata akan tidur di karpet. Bukankah perempuan itu tidak menyukainya? Seharusnya, dia juga tak ingin mereka tidur bersama, kan?

"Apa ... kamu mau melakukan itu?" Roan bertanya hati-hati.

Wajah Chelsea seketika memerah padam. Dia menjauh, dan memalingkan wajah dengan kesal. "Bu-bukan itu!"

Dia memelankan suaranya, tidak seperti sebelumnya. Chelsea kini sedikit malu. Karena ucapannya yang ambigu, Roan jadi salah paham terhadapnya.

"Aku hanya merasa jika kamu menolakku. Aku merasa harga diriku terluka." Chelsea berusaha menjelaskan. "Bukan berarti aku ingin melakukan 'itu'. Tapi, bukankah terlalu kejam membiarkan aku tidur sendiri di malam pertama pernikahan kita?"

Roan meliriknya. Dia mencoba mengerti perkataan Chelsea. Perempuan itu mungkin hanya tersinggung.

Roan sebenarnya tetap ingin menolak, tapi dia tak sampai hati jika harus melukai Chelsea. Bagaimana pun, perempuan itu kini adalah istrinya. Roan tidak mungkin menyakitinya saat mereka baru saja sah menjadi suami istri.

"Baiklah." Roan mengangguk, menyetujuinya. "Aku akan tidur di ranjang, bersamamu."

Chelsea menyembunyikan wajahnya yang memerah. Dia mencoba bersikap tenang meski sebenarnya cukup gugup.

"Aku berjanji tidak akan menyentuhmu."

Itulah yang ingin dia dengar. Pria itu sangat tahu diri. Chelsea seharusnya senang. Tapi, kenapa dia justru merasa kesal?

Saat Roan berbaring di ranjang, menyamping ke arah kanan. Seolah sengaja akan memunggunginya sepanjang malam, Chelsea pun mendelik jengkel.

"Suami macam apa dia?!" batin Chelsea menjerit.

****

Chelsea dibuat kesal di pagi hari karena Roan meninggalkannya untuk bangun lebih awal. Seharusnya pria itu membangunkannya, bukan? Meski Chelsea tidak terlambat, rasanya dia tetap tidak terima dengan sikap Roan yang seakan tidak memperdulikannya.

Untuk memperbaiki moodnya yang buruk, Chelsea meminta Roan untuk menemaninya berbelanja. Mereka masih cuti, jadi mereka memiliki cukup banyak waktu untuk bersenang-senang.

Mereka berdua pergi ke sebuah Mall setelah selesai sarapan.

Chelsea menyeret Roan ke berbagai toko. Dari mulai toko baju, tas, hingga sepatu.

Roan sampai pusing melihat bagaimana lincahnya istrinya ini bergerak melihat berbagai barang yang menarik di matanya.

Tapi, di tengah kegiatan itu, Chelsea tiba-tiba membeku. Dia menemukan seseorang yang dia kenal di Mall itu. Lalu tanpa ragu memanggilnya, "Tristan!"

Roan menoleh, melihat siapa yang dipanggil Chelsea. Dia ingat jika dia telah mendengar nama itu sebelumnya.

"Chelsea?" Tristan terkejut melihat keberadaan pacarnya itu. Dia hanya terpaku di tempat, sementara Chelsea berlari ke arahnya.

"Tristan, aku sangat senang kita bisa bertemu di sini."

"Oh, ya?" Tristan tertawa kecil dengan kaku. Pandangannya lalu menemukan pria lain yang tampaknya bersama Chelsea sebelumnya. Dia juga berjalan mendekat. "Kamu dengan dia? Siapa dia?"

Saat Tristan bertanya seperti itu, Chelsea menegang. Dia hampir lupa jika saat ini Roan bersamanya.

"Aku Roan." Roan dengan senang hati mengulurkan tangannya. "Suami Chelsea."

Baik Chelsea maupun Tristan terkejut mendengar pengakuan Roan yang berani.

"Kau?" Tristan terkekeh sinis. Kini pandangannya menjadi sangat tidak bersahabat. "Jangan bercanda! Gadis ini adalah pacarku!"

Dia tanpa segan merangkul Chelsea di depannya. Roan yang melihat itu merasa tidak nyaman. Saat istrinya sendiri justru berada di pelukan pria lain. Tapi, dia tak bisa berbuat banyak karena Chelsea sendiri seolah tidak menolak.

"Tapi kami sudah menikah. Janji suci yang kami ucapkan di hadapan Tuhan juga bukan sebuah lelucon," balas Roan. Dia menatap Chelsea dan bertanya, "Benar 'kan, istriku?"

Chelsea menjadi sangat malu. Perlahan, dia menjauh dari Tristan, melepaskan tangan pria itu dari bahunya. Tapi, Tristan yang tidak terima justru memeluk Chelsea semakin erat.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bukan Suami Pilihanku   52 | Kabar Buruk

    Roan berjalan cepat menyebrangi jalan. Dia terpaksa berhenti di tengah perjalanan ketika istrinya meminta dibelikan kue yang pernah dia berikan tempo hari. Roan tentu tidak akan menolak mengabulkannya. Dia justru senang karena Chelsea sudah kembali meminta sesuatu. Tampaknya, istrinya itu sudah kembali ceria."Sayang, mau kubelikan kue yang mana?" Roan menunjukkan kue yang berjajar si etalase lewat Videocall yang tersambung di handphonenya. Chelsea yang melihat itu seketika berbinar."Yang berhiaskan strawberry itu sepertinya enak, Roan. Dan aku ingin yang coklat itu juga," balas Chelsea, mengatakan apa yang ia inginkan."Tolong bungkus keduanya," pinta Roan, pada pelayan toko."Ada lagi?" Roan bertanya pada istrinya, sembari memperhatikan pelayan toko membungkus pesanan miliknya. "Selagi aku masih di sini.""Aku rasa tidak. Aku hanya ingin kamu cepat pulang.""Baiklah." Roan tersenyum kecil, mendengar nada manja istrinya. Dia jadi tidak sabar untuk memeluk istrinya itu ketika tiba di

  • Bukan Suami Pilihanku   51 | Jalan Buntu

    Dua minggu telah berlalu, namun Roan tidak pernah berhenti mencari keberadaan Tristan. Meski telah mengerahkan pasukan orang-orang kepercayaannya, bahkan menyewa tenaga ahli yang sudah berpengalaman dalam melacak jejak seseorang, keberadaan pria itu tetap sulit ditemukan. Seolah-olah Tristan benar-benar hilang ditelan bumi, tanpa meninggalkan satu jejak pun yang bisa diikuti."Kenapa dunia seolah-olah berpihak padanya?" gerutu Roan dalam hati, perasaannya terasa tidak terima dan penuh kekesalan.Pria itu jelas orang yang jahat. Dia telah menyakiti istrinya, membuatnya trauma. Tapi mengapa dia bisa mendapatkan keberuntungan seperti ini? Bahkan ayah mertuanya pun belum berhasil menemukan sedikit informasi pun tentang keberadaannya. Mereka benar-benar berada dalam keadaan buntu, tidak tahu harus berbuat apa lagi.Meskipun pencarian yang dilakukan belum membuahkan hasil yang diharapkan, Roan sama sekali tidak berputus asa. Dia memilih untuk mengalihkan fokus perhatiannya sepenuhnya untuk

  • Bukan Suami Pilihanku   50 | Berunding

    Roan bergegas karena merasa ada sesuatu yang terjadi saat mertuanya tiba-tiba meminta untuk bertemu secara pribadi dengannya. Roan khawatir jika ada masalah serius yang sedang terjadi.Dia masuk ke ruang kerja Argan setelah sekretaris pria itu membukakan pintu untuknya. Roan melihat ayah mertuanya yang tengah berdiri melihat pemandangan di luar jendela.Saat Roan melangkah masuk mendekatinya, pria itu berbalik, menyadari kedatangannya."Kamu datang dengan cepat," ucap Argan. Pria itu memberikan intruksi pada Roan untuk duduk di kursi. Sementara dirinya menduduki kursi kerja miliknya. Mereka kini saling berhadapan satu sama lain, hanya dibatasi dengan meja besar saja."Ada apa, Ayah?" Roan bertanya, khawatir. "Apa terjadi sesuatu?""Ya, aku tidak mungkin memanggilmu ke sini untuk sesuatu yang tidak penting." Argan tampak berat mengungkapkannya. Pria itu mengambil waktu sesaat untuk menarik napas panjang. "Tahanan itu ... dia berhasil melarikan diri."Roan terkejut.Ini bukan kabar yang

  • Bukan Suami Pilihanku   49 | Tahanan yang Melarikan Diri

    Terseok-seok melewati gang sempit, Tristan perlu usaha keras untuk melarikan diri dari penjagaan yang ketat. Tubuh babak belurnya tak membuat keinginan melarikan dirinya pudar. Dia hanya ingin lepas dari tangan anak buah Argan.Pria itu membuang ludah bercampur darah ke tanah. Lalu mengelap mulutnya dengan punggung tangan. Ekspresi wajahnya menggelap, bibirnya berdesis penuh amarah, "keparat!"Pandangannya menyiratkan dendam membara. Kejadian hari ini membuat Tristan semakin membenci Argan dan keluarganya.Tunggu saja, Tristan akan pastikan satu keluarga itu merasakan balasan berkali-kali lipat."Tristan!" Seseorang datang menghampirinya.Tristan menatap orang di depannya. Dia menoyor kepala orang itu dengan tenaganya yang lemah."Kau terlambat, bodoh!" seru Tristan.Sam berdecak kesal. Dia sudah cepat-cepat datang demi menjemput temannya itu. Tapi yang ia dapatkan malah makian."Tidak tahu diri! Sudah bagus aku ke sini menolongmu.""Aku hampir mati di tangan pria sialan itu!""Salahm

  • Bukan Suami Pilihanku   48 | Pelukan Rindu

    Chelsea memeluk Roan cukup lama. Setelah tiba di rumah dan selepas ia membersihkan diri yang tidak memakan waktu sebentar, Chelsea mendekap tubuh suaminya dengan erat.Roan sudah menegur dan meminta Chelsea melepaskan pelukannya. Bukan tak suka atau tak menginginkannya. Tapi mereka memiliki banyak hal yang harus dilakukan."Sayang!" Roan menegur sekali lagi. Dia sudah hampir menyerah untuk bicara pada istrinya.Namun, jawaban Chelsea masih sama. Perempuan itu tetap menggelengkan kepalanya. Tak ingin menuruti permintaan Roan."Biarkan seperti ini," rengek Chelsea. Dia mendongak, menatap Roan yang lebih tinggi darinya. "Aku masih merindukanmu."Roan terkekeh gemas. Dia mencubit puncuk hidung istrinya itu dan berceletuk, "ternyata kau itu sangat manja, ya?""Seharusnya, kamu sudah tahu itu," tanggap Chelsea. "Bukankah sikapku memang seperti ini? Apa kamu tidak memperhatikan?""Emm, tidak juga." Roan berusaha mengingat saat pertama kali dia mengenal Chelsea. Sejujurnya, ia memang tak meng

  • Bukan Suami Pilihanku   47 | Pulang

    Roan meregangkan tangannya setelah ia merasa puas melampiaskan amarah yang sejak tadi berusaha ia tahan. Kini, orang yang baru saja menjadi pelampiasan amarahnya itu tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Kondisinya mengenaskan. Wajahnya babak belur dan berlumuran darah. Giginya ada yang copot karena Roan yang memukulnya terlalu keras. Roan juga menendang perut korbannya itu hingga dia memuntahkan darah. Sepertinya, kondisinya sangat buruk setelah Roan menghajarnya kali ini."Ini mungkin akan menimbulkan masalah untukku. Tapi aku tidak peduli," gumam Roan. Dia terlalu berlebihan menghukum Tristan. Tapi Roan tak menyesal sedikit pun. Jika dia tak menerima peringatan dari ayah mertuanya, Roan akan memilih untuk membunuh pria ini."Sepertinya tidak akan, Tuan." Bodyguard Argan yang menemani Roan di sisinya menyahut. Dia berpendapat, "kau melakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Saya rasa, Tuan Besar justru akan senang dengan tindakanmu ini."Pria itu berjongkok, memeriksa napas dan na

  • Bukan Suami Pilihanku   42 | Putusnya Hubungan

    Chelsea sampai di lantai dimana kamar Tristan berada. Dia menghitung setiap kamar, mencari nomor yang diberitahukan padanya sebelumnya. Tidak butuh waktu lama, Chelsea akhirnya menemukannya. Bibirnya tertarik ke atas. Ini semakin menegangkan dan membuatnya tak sabar.Chelsea memasukkan kunci di tanga

  • Bukan Suami Pilihanku   34 | Sesuatu yang Diinginkan Setiap Pria

    Roan menemui Chelsea di kamar. Istrinya pamit lebih awal dari yang lain. Dia berkata ingin segera beristirahat. Tidak ada yang menghalanginya karena semua tahu jika Chelsea baru saja mengalami kecelakaan.Roan sebenarnya cukup bersyukur. Karena tidak lama setelah istrinya pergi, kekasih dari istrinya

  • Bukan Suami Pilihanku   33 | Kunjungan Tak Diharapkan

    Chelsea terduduk, dia menangis tersedu-sedu. Perasaannya sangat kacau, tepat setelah ia mendengar penuturan pria itu terhadapnya.Dia tak merendahkannya. Dia tak mencela kekurangannya. Dia tak menurunkan harga dirinya.Roan justru memujinya. Dia menempatkan Chelsea pada posisi yang istimewa. Dia membu

  • Bukan Suami Pilihanku   32 | Pengakuan Roan

    Roan membawa Chelsea ke kamar karena ia tak bisa berhenti menangis. Istrinya itu juga tak mau melepas pelukannya. Sehingga terpaksa Roan membawanya ke kamar, berharap dia bisa sedikit tenang.Roan menurunkan istrinya itu dengan hati-hati di tepi ranjang. Kedua tangan istrinya masih melingkar di leher

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status