首頁 / Romansa / Bukan Wanita Penjual Cinta / Bab 12. Rencana Siska

分享

Bab 12. Rencana Siska

作者: Agniya14
last update publish date: 2026-09-01 13:23:54

Sebuah kafe, Siska duduk berhadapan dengan Diana, mama Brian yang tampil glamor dengan balutan busana sutra dan perhiasan berlian yang berkilau di lehernya.

​Setelah pelayan menyajikan dua cangkir teh teh chamomile hangat dan beberapa kudapan, Siska sengaja menghela napas panjang, memasang raut wajah muram.

​Diana yang menyadari perubahan ekspresi calon menantunya itu segera meletakkan cangkir porselennya. "Ada apa, Siska? Dari tadi Tante perhatikan kamu gelisah begitu. Ada masalah di kantor a
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Bukan Wanita Penjual Cinta    Bab 19. Ke Kantor Mama

    Sejak Jumat malam, suasana di dalam unit apartemen sederhana milik Amara terasa lebih hangat. Di dalam kamar, Aira duduk bersila di atas tempat tidur dengan kedua tangan mungilnya memeluk boneka kelinci kesayangannya.Amara baru saja selesai merapikan beberapa lembar draf kertas di mejanya sebelum melangkah mendekati ranjang sang putri. Ia menyisir rambut hitam Aira yang halus dengan jemarinya, menyunggingkan senyum lembut yang menenangkan."Sayang, besok hari Sabtu ... Mama harus masuk kantor sebentar, ya," bisik Amara halus.Mata bundar Aira berbinar seketika. "Lho? Hari Sabtu Ibu kerja lagi? Berarti Aira ditinggal di rumah?"Amara menggeleng pelan, lalu mencubit gemas pipi mungil putrinya. "Nggak, dong. Besok Aira ikut Mama ke kantor. Mau?""Beneran, Ma?!" pekik Aira kegirangan. Anak kecil itu mendadak melompat duduk tegak, melupakan rasa kantuknya. "Aira boleh ikut ke tempat kerja Mama yang banyak gambar perhiasan cantiknya itu?!""Boleh, Sayang," kekeh Amara melihat antusiasme bu

  • Bukan Wanita Penjual Cinta    Bab 18. Dua Minggu

    Malam harinya, di dalam kamar, Aira sudah lelap terbuai mimpi. Amara baru saja menyeduh segelas teh hangat dan bersiap melanjutkan draf perhiasan pesanan Siska di meja kerjanya ketika layar ponselnya menyala, menampilkan nama Naren.Amara menggeser tombol hijau di layar lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya."Halo, Ren?" panggil Amara lembut, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi."Halo, Ra! Belum tidur, kan?" Suara Naren terdengar dari seberang telepon, selalu membawa kehangatan tersendiri di tengah kelelahan Amara."Belum. Ini baru mau lanjut corat-coret draf lagi. Kamu sendiri baru selesai kerja?""Iya, baru banget menutup laptop. Capek banget minggu ini, Ra." Naren terkekeh pelan. "Nah, makanya aku telepon kamu sekarang. Akhir pekan ini kan Sabtu-Minggu, aku mau ngajak kamu sama Aira jalan-jalan. Aira kemarin bilang ke aku kalau dia mau banget ke kebun binatang, terus makan es krim yang corak pelangi itu. Gimana kalau hari Sabtu besok kita berangkat pagi-pagi?"Amara meng

  • Bukan Wanita Penjual Cinta    Bab 17. Calon Istri Direktur

    "Aku tidak menjebakmu, Brian! Aku cuma mempertahankan hakku!" jerit Siska, air mata emosinya mulai menetes. "Kamu pikir aku tidak tahu?! Sejak Amara kembali, kamu tidak pernah menatapku lagi! Kamu selalu memikirkan wanita itu! Aku ini calon istrimu, Brian! Tapi kamu malah memperlakukan aku seperti sampah cuma gara-gara wanita sialan itu!""Cukup, Siska!" potong Brian dingin, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah. "Jangan bawa-bawa nama orang lain untuk menutupi tingkah lakumu yang melampaui batas.""Kenapa? Kamu takut Amara sakit hati melihat kita mesra?!" cecar Siska penuh kecemburuan yang membakar. "Kamu takut dia makin membencimu?! Ingat, Brian! Dia itu mantan istri yang sudah membuangmu saat kamu sekarat dulu! Kenapa kamu masih membela dia di depanku?!"Kata-kata Siska menusuk saraf sensitif Brian, rasa muak Brian pada tingkah Siska jauh lebih mendominasi saat ini. Brian merapikan jasnya yang sedikit kusut, memutar tubuhnya dan menunjuk pintu keluar dengan tegas."Keluar

  • Bukan Wanita Penjual Cinta    Bab 16. Memanggil Amara

    "Maksud Tante apa? Brian kenapa lagi, Tante? Jangan bikin Siska takut!"​Diana menarik napas panjang, berusaha menetralkan gemuruh di dadanya walau suaranya tetap bergetar hebat. "Brian ... dia baru saja bilang kalau dia tidak mau menikah denganmu, Siska! Dia menolak pernikahan yang tinggal satu bulan lagi ini!"​​"A-apa, Tante?!" jerit Siska, suaranya meninggi. "Brian bilang apa?! Tidak mau menikah denganku?! Gimana bisa, Tante?! Semua undangan sudah siap dicetak! Gaun pernikahan Siska sudah hampir selesai! Kenapa tiba-tiba Brian bilang begitu?!"​"Tante juga kaget setengah mati, Siska!" adu Diana sambil berjalan bolak-balik di ruang keluarga. "Tante tadi cuma tanya persiapan pernikahan kalian yang tinggal satu bulan lagi. Tapi tiba-tiba dia mengamuk! Dia bilang dari dulu dia tidak pernah setuju dijodohkan denganmu! Dia bilang pernikahan ini cuma obsesi Tante saja!"​"Kurang ajar!" geram Siska. "Ini pasti gara-gara perempuan murahan itu, kan?! Ini pasti gara-gara Amara sialan itu kem

  • Bukan Wanita Penjual Cinta    Bab 15. Tak Pernah Setuju

    "Mbak mau yang kayak gimana?" tanya Amara lurus, mencoba menggali keinginan spesifik Siska tanpa melibatkan perasaan pribadi.​Siska memutar bola matanya malas, menyunggingkan senyum sinis. "Ya sesuai dengan gambar referensi yang sudah aku kirimkan ke teleponmu semalam, Amara! Kenapa malah bikin yang bentuknya aneh begini? Kamu punya mata dan rasa seni tidak, sih?!"​Amara menahan napas sejenak, mengatupkan bibirnya rapat-rapt. "Referensi yang Mbak Siska kirim semalam adalah kombinasi gaya klasik Eropa dan modern. Draf yang saya buat ini sudah memadukan kedua unsur tersebut dengan memperhitungkan kenyamanan dan berat logamnya saat dikenakan—"​"Aku tidak butuh penjelasan teknismu yang membosankan itu!" potong Siska penuh keangkuhan, mengibaskan tangannya di udara. "Aku calon pengantinnya, dan aku katakan aku TIDAK SUKA! Aku mau kamu ulang dari awal! Bikin yang lebih megah, lebih mewah, dan bikin semua orang tahu kalau perhiasan ini harganya miliaran!"​"Baik, Mbak Siska. Saya akan bua

  • Bukan Wanita Penjual Cinta    Bab 14. Minta Revisi

    Keesokan harinya, suasana di lantai departemen desain terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Sebuah pengumuman mendadak membuat seluruh staf sigap merapikan meja dan mengumpulkan draf kerja mereka. Direktur Utama, Brian, memutuskan untuk memimpin langsung rapat koordinasi persiapan pameran Royal Diamond.​Di dalam ruang rapat utama bernuansa modern itu, sepuluh orang desainer senior beserta kepala departemen sudah duduk rapi melingkari meja kaca panjang. Amara duduk di sudut tengah, berusaha tampil setenang mungkin walau lingkaran hitam tipis di bawah matanya menyiratkan betapa berat malam yang baru saja ia lalui.​Pintu ruang rapat terbuka. Brian melangkah masuk dengan setelan jas hitam elegan, memancarkan aura kepemimpinan yang dingin dan dominan. Di belakangnya, sekretaris pribadinya membawa sebuah map berkas tebal.​"Selamat pagi, semuanya," sapa Brian singkat, mengambil posisi berdiri di ujung meja rapat.​"Selamat pagi, Pak Brian," sahut seluruh peserta rapat serempak.​Pak Pa

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status