Partager

Bab 3

Auteur: Mira
Aku tidak bertanya kepada Andi siapa Tante Lia yang sedang meneleponnya itu.

Dia pun tidak menjelaskan apa pun.

Keesokan harinya, calon mertuaku, Bu Tina, mengajakku mencoba gaun pengantin. Saat aku tiba di toko, Sinta sudah duduk di sofa dengan selendang gaun pengantin putih yang membalut tubuhnya.

Bu Tina tersenyum sambil melambaikan tangan, "Nola sudah datang. Cepat lihat, Sinta punya selera yang bagus, dia sudah memilihkan beberapa set untukmu."

Aku memandangi deretan gaun pengantin di rak, semuanya berpotongan pinggang tinggi dengan ekor pendek, serta garis bahu yang sangat sempit.

Aku berkata dengan tenang, "Gaun-gaun ini kurang cocok untukku."

Senyum Bu Tina sedikit memudar, lalu menasihati, "Seorang perempuan yang akan menikah, mendengarkan orang yang lebih tua dan berpengalaman itu tidak pernah salah. Sinta sudah menghadiri banyak acara pernikahan, jadi dia lebih mengerti daripada kau."

Sinta berdiri dan mengambilkan satu gaun untukku, lalu berkata sambil tersenyum, "Yang ini cantik. Andi pasti akan menyukainya."

Aku bertanya, "Kenapa aku harus mengikuti seleranya saat menikah?"

Cangkir teh di tangan Bu Tina berhenti di udara. Dia berkata dengan nada lebih serius, "Nola, dalam hubungan suami istri, jangan terlalu mempermasalahkan hal kecil. Andi itu sibuk, kau harus lebih memakluminya."

Sinta menambahkan dengan suara pelan, "Andi memang suka gaya yang bersih dan sederhana. Kalau kau pakai yang terlalu mencolok, dia mungkin tidak akan terbiasa."

Pegawai toko membawakan gaun pengantin itu ke ruang ganti, sementara aku tetap berdiri diam.

Bu Tina akhirnya mengernyitkan dahi, "Anak ini, kenapa semakin lama semakin keras kepala? Mulai dari lukisan, pajangan, sampai hari ini masalah gaun pengantin, semuanya kau tidak suka."

Aku menatapnya, lalu bertanya, "Apa Tante tahu kalau lukisan itu sudah diganti?"

Bu Tina terdiam sejenak, lalu menjawab, "Sinta sudah memberitahuku, lukisan itu memang sudah agak usang, dan tidak cocok digantung di rumah pernikahan."

Aku mengangguk, "Itu dilukis oleh ibuku."

Suasana mendadak menjadi hening.

Sinta segera berkata dengan mata berkaca-kaca, "Nola, aku benar-benar tidak tahu. Kalau aku tahu, aku pasti tidak akan menyarankan untuk mengganti lukisan itu."

Bu Tina pun melunakkan nada suaranya, "Itu hanya salah paham saja, tapi Andi juga hanya ingin rumah pernikahan kalian terlihat lebih bagus. Jangan terus mempermasalahkan hal itu."

Tiba-tiba, aku merasa semuanya menjadi tidak berarti.

Mereka semua tahu aku diperlakukan tidak adil.

Tetapi, mereka jauh lebih takut kalau Sinta yang merasa dirugikan.

Saat Andi membuka pintu dan melangkah masuk, Bu Tina seolah melihat penyelamat. Dia langsung berkata, "Andi, kau datang tepat waktu. Nola bersikeras gaun pengantin ini tidak cocok."

Andi melirik sekilas ke arah rak itu lalu bertanya, "Dipilih oleh Sinta?"

Sinta mengangguk dan menjelaskan, "Aku hanya memberikan beberapa saran."

"Kalau begitu, pilih saja dari beberapa set ini." Andi berjalan ke arahku. Dia merapikan rambut yang jatuh di bahuku sambil berkata.

"Nola, jangan membuat semua orang jadi menunggumu."

Aku mengangkat pandanganku dan bertanya, "Kalau aku tidak mau memakainya, bagaimana?"

Tangannya terhenti sejenak. Dengan suara rendah, dia menjawab, "Pernikahan ini bukan hanya urusanmu sendiri."

Aku tersenyum tipis, "Rumah pernikahan bukan milikku, gaun pengantin juga bukan milikku, lalu pernikahan ini sebenarnya milik siapa?"

Andi menatapku, tatapannya mengandung peringatan, lalu berkata, "Di sini ada orang lain, jangan bicara sembarangan."

Sinta membujuk dengan suara pelan, "Nola, jangan salah paham, Andi hanya ingin pernikahan ini berjalan lancar."

Aku berbalik masuk ke ruang ganti tanpa berkata apa-apa lagi.

Saat pegawai toko membantuku menaikkan resleting, ponselku bergetar. Itu adalah pesan dari desainer.

[Bu Nola, lukisan bunga begonia yang Anda tanyakan sebelumnya, saya sudah mencarinya.]

[Pak Andi bilang kalau lukisan itu tidak perlu disimpan. Bu Sinta tidak menyukai bingkai lukisan lama itu, jadi sudah disuruh untuk dikirim ke gudang.]

Di bawah pesan itu masih ada satu foto.

Di sudut gudang, lukisan bunga begonia milik ibuku bersandar di dinding, kanvasnya terlipat, dan sudut-sudutnya berdebu.

Aku menatap foto itu, dadaku perlahan terasa dingin.

Pegawai toko bertanya kepadaku, "Bu Nola, apa resletingnya terlalu ketat?"

Aku menjawab, "Sedikit."

Saat aku berjalan keluar, Andi mengangkat pandangannya.

Dia tampak puas, nada suaranya pun sedikit melunak, lalu berkata, "Yang ini lumayan."

Sinta justru terdiam, jari-jarinya menggenggam erat selendang di tangannya.

Bu Tina tersenyum dan berkata, "Kalau Sinta menikah, kira-kira juga akan terlihat seperti ini."

Wajah Andi sedikit berubah, langsung menyela, "Ibu."

Bu Tina menyadari perkataannya yang kurang tepat, lalu menutupi mulutnya dengan cangkir teh. Dia berdeham dan berkata, "Ibu hanya asal bicara."

Aku melihat ke arah cermin.

Di cermin, aku mengenakan gaun pengantin pilihan Sinta dan berdiri di samping Andi, seperti sebuah foto lama yang wajahnya diganti secara sementara.

Dari celah pintu ruang ganti terlihat setengah bagian sebuah map dokumen.

Aku membungkuk untuk mengambilnya, dan melihat di sampulnya tertulis: [Rencana Prosesi Pernikahan.]

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Bunga Begonia Tak Tergantikan   Bab 9

    Saat Andi kembali datang ke rumahku, lukisan bunga begonia sudah kembali tergantung di dinding.Dimas baru saja pergi, dan di depan pintu masih ada pot bunga begonia yang baru diganti.Aku membuka pintu, Andi berdiri di bawah anak tangga tanpa membawa hadiah maupun berkas apa pun.Dia berkata, "Aku datang untuk meminta maaf."Aku tidak mengizinkannya masuk, "Katakan saja."Andi menatap lukisan itu, dengan suara serak, dia berkata, "Soal lukisan, soal rumah pernikahan, soal Sinta, dan soal aku yang selama ini menganggap pengorbananmu sebagai sesuatu yang wajar ... semuanya adalah salahku."Aku mendengarkan dengan tenang, tanpa ada gejolak apa pun di dalam hati.Dia mengeluarkan cincin pertunangan itu dari sakunya, di bagian dalam cincin masih tampak goresan tipis, lalu berkata lirih, "Aku sudah meminta orang untuk memperbaikinya, tapi bekasnya tetap tidak bisa hilang."Aku berkata, "Sesuatu yang pernah rusak memang akan selalu meninggalkan bekas."Mata Andi sedikit memerah, "Nola, aku s

  • Bunga Begonia Tak Tergantikan   Bab 8

    Pukul tiga sore, Andi memasuki ruang rapat bersama timnya.Saat melihatku duduk di kursi utama, langkahnya jelas terhenti sejenak.Aku berdiri seperti saat menyambut rekan bisnis biasa, "Pak Andi, silakan duduk."Pandangan Andi tertuju pada kartu identitas kerjaku.Dulu dia pernah berkata bahwa setelah menikah, aku tidak perlu bekerja sekeras ini karena Keluarga Fuwasa mampu menghidupiku.Saat itu aku menganggapnya hanya sebagai bentuk perhatian dan kasih sayangnya kepadaku.Setelah presentasi proyek dimulai, aku mendorong dokumen proposal ke hadapannya."Ini adalah anggaran dan jadwal pengerjaan yang sudah kami sesuaikan. Kalau Pak Andi tidak keberatan, maka perjanjian tambahannya sudah dapat ditandatangani minggu depan."Andi membuka dua halaman, lalu bertanya, "Kau yang bertanggung jawab?"Aku menjawab, "Iya."Dia menatapku, lalu berkata, "Kondisimu sekarang tidak stabil, ganti dengan orang lain untuk berkoordinasi denganku."Ruang rapat menjadi sunyi.Aku tersenyum tipis dan menang

  • Bunga Begonia Tak Tergantikan   Bab 7

    Saat Dimas sedang memperbaiki lukisan itu, aku duduk di sampingnya sambil menyusun daftar hal-hal yang harus dibereskan setelah pernikahan dibatalkan.Dia berkata, "Bekas lipatannya bisa memudar, tapi tidak mungkin hilang sepenuhnya."Aku menjawab, "Tidak apa-apa kalaupun masih terlihat."Dimas mengangkat pandangannya ke arahku, lalu bertanya, "Bukannya dulu kau paling takut kalau lukisan ini sampai rusak?"Aku mengirimkan konfirmasi pengembalian dana hotel ke bagian keuangan, kemudian menjawab dengan tenang, "Dulu aku takut, karena selalu merasa masih banyak hal yang tidak boleh rusak."Dia tidak bertanya lagi.Terdengar suara ketukan dari pintu.Andi berdiri di luar, membawa sarapan di tangannya, nada suaranya terdengar jauh lebih lembut daripada kemarin, "Kau punya sakit maag, makanlah dulu sedikit."Aku menolak dengan singkat, "Tidak perlu."Dimas mengangkat kepala dari depan kanvas, "Dia sudah makan."Andi melihat semangkuk bubur di meja, tatapannya langsung menggelap, dan berkata

  • Bunga Begonia Tak Tergantikan   Bab 6

    Aku kembali ke rumah lama peninggalan ibuku dan memesan makanan.Saat bel pintu berbunyi, aku mengira itu adalah pengantar makanan.Setelah membuka pintu, tampak Andi sedang berdiri di luar sambil memeluk lukisan bunga begonia itu. Ujung lengan jasnya berdebu, dan di sudut matanya dipenuhi gurat merah karena kurang tidur.Dia berkata, "Lukisannya sudah kubawa kembali."Aku memandang lukisan itu dan berkata, "Terima kasih."Dua kata yang terdengar begitu sopan itu justru membuat raut wajahnya langsung membeku.Dia mengulurkan lukisan itu ke depan sambil berkata, "Aku sudah menyuruh orang untuk membingkai ulang, kanvasnya bisa diperbaiki, dan rumah pernikahan kita juga bisa diubah sesuai keinginanmu."Aku menerima lukisan itu, tanpa mengizinkannya masuk, lalu berkata, "Tidak usah, lukisannya akan kuperbaiki sendiri."Andi menatap jari manisku yang kini kosong dan bertanya, "Mana cincinmu?"Aku menjawab, "Sudah kuberikan padamu.""Bukan itu maksudku." Suaranya merendah, "Nola, kata-kataku

  • Bunga Begonia Tak Tergantikan   Bab 5

    Andi menghantamkan tangannya dengan keras ke tepi meja sambil berkata, "Nola, ikut aku keluar."Dia membawaku ke balkon, pintu kaca ditutup, namun tawa Tante Lia dan Sinta masih bisa terdengar dari dalam.Suaranya sangat dingin, "Apa kau harus membuatku malu hari ini?"Aku menatapnya dan berkata, "Yang malu itu kau?""Sudah kubilang, Tante Lia sedang tidak sehat." Andi memegang bahuku, kembali melanjutkan, "Apa kau harus bersikeras mempertahankan harga dirimu?"Aku bertanya, "Lalu, bagaimana denganku?"Dia terdiam sejenak.Aku menyerahkan ponselku padanya, di layarnya terpampang foto gudang sambil berkata, "Lukisan ibuku, kenapa kau bilang sudah tidak dipakai lagi?"Andi meliriknya, raut wajahnya tampak sedikit canggung dan menjawab, "Bingkainya sudah tua, aku sebenarnya sudah menyuruh orang membingkai ulang.""Lalu kenapa nama proyeknya ‘Rekonstruksi gaya rumah lama Sinta’, rencana pernikahan pakai referensinya Sinta, dan Tante Lia juga mengira rumah ini milik kalian?"Andi terdiam se

  • Bunga Begonia Tak Tergantikan   Bab 4

    [Referensi pilihan pengantin wanita: Sinta.]Aku meletakkan map itu ke tempat semula, ujung jariku berhenti sejenak di sampulnya.Andi berjalan mendekat dan bertanya, "Lihat apa?"Aku menengadah, lalu menjawab, "Susunan acara pernikahan, kenapa referensinya Sinta?"Dia melirik sekilas, raut wajahnya tidak banyak berubah, "Perencana acaranya malas, mereka menggunakan templat rencana lamanya Sinta. Aku akan suruh mereka mengubahnya."Sinta langsung berkata, "Aku memang pernah membantu mengirimkan beberapa dokumen, mungkin mereka salah paham. Nola, jangan marah ya."Aku bertanya pada Andi, "Hanya salah paham?"Kesabarannya seolah habis terkikis, lalu berkata, "Kalau bukan begitu, apa lagi? Nola, apa sekarang kau merasa seluruh dunia jadi tidak adil padamu hanya karena melihat nama Sinta?"Aku tidak bertanya lagi.Sore harinya, aku pergi ke gudang seorang diri.Petugas gudang mencari cukup lama sebelum akhirnya mengeluarkan lukisan bunga begonia itu, lalu berkata, "Asisten Pak Andi bilang

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status